Cinta Dalam Diam

Cinta Dalam Diam
Cara Yang Licik


__ADS_3


 


"Tante......." Ucap Alexa dengan cerianya.


"Hey sayang, gimana sudah sarapan pagi?" tanya Balqis tersenyum.


"Sudah tante." Jawab Alexa.


"Hemm wanita itu sudah pergi?" tanya Balqis hati hati.


"Sudah tante." Jawab Alexa.


"Syukurlah." Ujar Balqis lega.


"Tante gak mau keluar kamar?" tanya Axel.


"Enggak sayang, tante lebih nyaman di sini aja. Maaf ya tante gak bisa nemenin kalian main saat kalian menginap di rumah tante."


"Tenang tante, kami di sini sudah cukup puas bermain main." Ujar Alexa tertawa.


"Benarkah? Emang main apa?" tanya Balqis penasaran.


"Rahasia." Jawab Axel karena tak ingin tantenya itu kefikiran.


"Iya sudah gak papa jika memang rahasia. Yang penting kalian bahagia." Ucap Balqis tersenyum sambil mengelus kepala Alexa.


"Kehamilan tante udah berapa bulan?"


"Baru satu bulan." Jawab Balqis.


"Jadi nanti lahirannya bisa bareng sama umy dong?" ujar Alexa.


"Iya sayang tapi mungkin lebih dulu umy dari pada tante."

__ADS_1


"Kenapa bisa begitu?" tanya Alexa tak mengerti.


"Kan kehamilan tante baru jalan 4 minggu. Dan lebih dulu umy nya Alexa yang hamil."


"Oh ya ya tante. Tapi kan kita gak pernah tau kapan waktunya melahirkan bahkan prediksi dokter aja bisa salah. Bisa jadi nanti tante yang melahirkan lebih dulu tapi kemungkinan besar memang umy sih." Ujar Alexa tersenyum.


"Hehe tuh pinter." Puji Balqis.


"Tante, kami mau main dulu ya di luar." Ucap Axel.


"Luar mana sayang?" tanya Balqis.


"Depan rumah." Jawab Axel.


"Oh ya sudah tapi jangan jauh jauh ya, nanti hilang." Ucap Balqis menasehati.


"Iya tante."


Axel dan Alexa pun segera keluar dari kamar Balqis dan berjalan menuju depan rumah.


Tiba tiba mereka melihat Inez yang lagi berjalan ke arah rumahnya sambil membawa bingkisan.


"Apa itu tante?" tanya Alexa.


"Oh ini makanan khusus untuk ibu hamil. Bukankah tante kalian lagi hamil?" ujar Inez pura pura ramah. Saat pulang tadi, ia sempat istirahat sebentar dan setelah itu ia mandi lalu pergi untuk membeli makanan khusus ibu hamil. Tentu makanan itu sudah ada sesuatunya yang jika di makan bisa membuat orang keguguran.


"Iya sih tapi tumben tante baik sama tante Balqis?" tanya Axel. Ia gak mungkin bisa di bodohi oleh wanita yang otaknya sangat dangkal.


"Ya gak papa dong, bukannya itu bagus." Jawab Inez percaya diri.


"Tapi aku gak percaya tuh. Coba tante makan dulu, aku takut itu makanan sudah di kasih racun sama tante." Ujar Alexa blak blakan. Jika kemaren Inez membawa nasi dan lauk pauk, mungkin ia percaya jika nasi dan lauk pauk itu gak ada racunnya karena pelakor itu hanya ingin mencari perhatian saja dari Om Aksa. Tapi jika kini Om Aksa gak ada dan tiba tiba Inez datang sambil membawa bingkisan berupa makanan, tentu makanan itu ada racunnya. Tak mungkin Inez datang tiba tiba dan berubah 180 derajat dalam waktu singkat. Alexa sangat yakin jika Inez pasti telah merencakanan sesuatu.


"Ya tuhannnnn, mana mungkin tante setega itu." Ujar Inez.


"Tapi nyatanya memang seperti itu. Tante orang paling tega dan paling gak punya hati." Ucap Axel sinis.

__ADS_1


"Kalian terlalu dini untuk bisa menilah tante. Tante gak seburuk apa yang kalian fikirkan." Ujar Inez membela diri.


"Baiklah, aku akan percaya jika tante mau makan, makanan yang di bawa tante itu." Ucap Axel.


"Tapi kan ini buat tante kamu yang lagi hamil. Masa iya tante yang di suruh makan." Ujar Inez mencari alasan.


"Ya karena makanan itu untuk orang hamil, makanya aku ingin memastikan makanan yang di bawa tante itu bersih dan gak ada racunnya. Aku gak mau tanteku sakit dan kenapa napa gara gara aku gak bisa jaga tanteku dengan baik. Mungkin aku anak kecil tapi asal tante tau, aku ini punya IQ tinggi, dan yang pasti aku bukan anak sembarangan. Aku cukup jenius di sekolahku dan menghadapi wanita seperti tante itu juga harus pakek cara licik seperti apa yang tante lakukan. Jangan di kira, kami gak bisa membaca apa yang ada dalam fikiran tante. Bahkan kami tau betul bahwa tante telah memasukkan sesuatu dengan makanan itu." Ucap Axel dengan suara datanya yang membuat Inez takut karena rencanannya ternyata sudah ketahuan tapi ia berusaha untuk tenang dan tak terpengaruh oleh anak kecil.


"Jangan menuduh orang sembarangan tanpa ada bukti. Itu fitnah namanya." Ujar Inez.


"Benarkah? Baiklah, aku tak akan menuduh tante jika tante bersedia makanan makanan itu bahkan kami rela meminta maaf jika memang tante berhasil makan setengah dari makanan yang tante bawa itu." Ucap Axel dingin. Aura wajahnya memancarkan kebencian yang teramat dalam. Axel memang benci kepada orang yang tak punya hati dan suka menyakiti orang lain.


"Tapi tante gak bisa. Tante sudah makan tadi dan tante sudah kenyang." Jawab Inez, ingin rasanya ia langsung masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan Balqis tapi ke dua anak ini sangat menyebalkan. Ia tak ingin membuat kegaduhan hingga mengundang banyak orang. Apalagi ini di luar rumah. Yang siapa saja bisa melihatnya dengan jelas.


"Oh berarti benar dugaan aku, bahwa makanan itu sudah ada racunnya. Buktinya tante gak mau memakannya kan? Atau perlu aku lapor ke Om Aksa atas perbuatan tante ini. Emmm lebih parah lagi, jika aku lapor polisi. Lihat di sana ada CCTV, semua gerak gerik tante dan ucapan tante sudah terekam. Dan polisi bisa mengambil makanan yang tante pegang sebagai barang bukti." Ucap Axel yang tak suka di kalahkan.


"Baiklah tante mengalah, tante akan pulang. Tapi ingat kalian akan menyesal dengan semua ini."


"Kami gak takut dan kami akan menunggu balasan dari tante." Ujar Axel sinis. Inez pun pulang dengan wajah penuh amarah, lagi lagi rencanannya gagal gara gara dua bocah itu.


Setelah kepergian Inez, Axel dan Alexa pun hanya tertawa. Untunglah mereka masih ada di luar dan belum masuk ke kamar. Andai mereka ada di kamar, pasti Inez akan langsung masuk rumah dan bertemu dengan Balqis. Lebih parah lagi jika Balqis sampai makan makanan yang di bawa oleh Inez. Entah apa yang akan terjadi.


 


 


 



 


 


__ADS_1


__ADS_2