Cinta Dalam Diam

Cinta Dalam Diam
158. Pulang Kampung


__ADS_3

Saat jam makan siang Raka datang ke kafe untuk makan siang bersama.


"Mau makan apa ?"


"Apa saja yang kamu siapkan pasti ku makan!" Ucap Raka membuat Clara bergaya pura-pura muntah.


"Lo mesti hati-hati dengan mulut manis kaya begini, biasanya manis di awal di ahkiri pahit."


"Sialan aku tidak kaya mantan mu ya."


"Haha yang merasa sebelas dua belas sama temannya ya."


"Sudah jangan berantem, Lo mau makan apa Cla ?"


"Gw ambil sendiri makan di luar , gw juga ga mau makan di sini !"


"Kenapa ,?" tanyaku.


"Karena kalau gw makan di sini serasa jadi obat nyamuk gw." Ucap Clara membuat Raka lansung tertawa ngakak. Aku dan Clara langsung turun ke dapur untuk menyiapkan buat makan kami masing-masing.


"Ayo di makan mas garang asem ayam kampung."


"Sini aku suapi,"ucap Raka sambil menarik tanganku hingga aku terduduk di pangkuannya.


"Mas!"


"Buka mulutnya!" Dengan posisi tidak nyaman aku terpaksa menuruti kemauan Raka.


"Jangan banyak gerak tar ada yang terbangun !"


"Makanya lebih baik aku duduk sendiri."


"Tapi aku ingin menyuapi mu."


"Tapi tidak dengan aku duduk di sini juga. Aku bisa duduk sendiri."


"Biarkan begini saja sampai selesai makan." Ucap Raka yang entah mengapa menjadi aneh.


Sampai makanan habis baru aku bisa di bebaskan dari pangkuannya.


"Aku balik ke kantor, nanti pulang kerja kita ke rumah papa nenek sakit. Papa meminta kita untuk merawat nenek selama papa belum pulang dari Surabaya."


"Baiklah nanti kita bawa makanan dari kafe atau beli buah aja."


"Tidak usah bawa apa-apa, belum tentu dia mau makan."

__ADS_1


"Baiklah aku tunggu. Sana pergi hati-hati !"


"Tapi aku minta asupan nutrisi dulu." Ucap Raka yang langsung melahap bibirku , ******* dan menghisap bibir bawah dan atas bergantian. Aku yang mendapatkan serangan mendadak hanya bisa mengikuti kemauannya, sebisa mungkin aku belajar mengimbangi permainan Raka.


"Nanti malam kita teruskan yang tadi pagi ya." Bisik Raka sebelum pergi, meninggalkan aku di ruang kerja sendirian. Ucapan Raka seperti pemetik api yang langsung membuat mukaku memerah, mengingat kembali yang terjadi tadi pagi.


"Kenapa mukamu merah kaya begitu, sehabis suamimu pergi?"


"Tidak apa-apa."


"Jangan-jangan kalian habis mesum ya ?"


"Mesum , kami sudah halal ya."


"Haha sudah di akui ni suaminya,cie cie." Goda Clara membuatku hanya bisa mendengus. Tanpa memperdulikan godaan Clara aku meneruskan pekerjaanku yang tertunda, karena kedatangan Raka. Hingga mendekati adzan Magrib Raka datang dan langsung ke kafe.


"Clara sudah pulang ?"


"Iya dari tadi, mau pulang sekarang mas?"


"Sholat Maghrib dulu aja di sini, bentar lagi adzan magrib."


"Ya udah mau aku ambilkan minum sama makan padat atau ringan ?"


"Ringan saja sama kopi pahit ya!" Aku hanya mengaguk sebelum melangkah keluar. Aku kembali ke ruangan ku saat Raka sibuk dengan laptopnya, karena tidak ingin menggagu kerjanya aku memilih keluar. Sambil menunggu adzan magrib aku memilih membantu pekerjaan yang ada di kafe. Disini aku menjadi pelayan, koki atau penjaga kasir hingga adzan magrib aku kembali ke atas. Setelah sholat magrib bersama baru kami pamit kepada semua untuk pulang duluan. Mereka semua tidak tahu pernikahan kami, mereka hanya tahu aku lagi dekat dengan Raka.


"Iya mas." Aku tau ada yang menggangu pikiran Raka, aku tidak tahu karena aku yang meninggalkannya atau saat aku di bawah telah terjadi sesuatu.


"Ayo,"ucap Raka sambil mengulurkan tangannya. Kami masuk bersama dengan tangan saling menggenggam, sampai di dalam nampak ada mama Raka ,Satria, Cantika, nenek dan seorang perempuan seumuran nenek. Aku menyalami dan mencium punggung tangan mereka semua kecuali Satria dan Cantika, begitu kami masuk dan mengucapkan salam. Berbeda dengan Raka yang hanya menyalami mamanya.


"Begini Raka aku memintamu dan mama."


" Apa kamu lupa dia bukan mamamu lagi Satria, dia hanya mantan istri papamu!"


"Selama pengadilan agama belum mengeluarkan surat cerai, perempuan ini tetap mamaku Nini!"


Terlihat muka kesal Nini mendengar ucapan Satria, jadi ini Nini Satria dari pihak mama kandungnya.


"Begini Raka nenek mau pulang ke Australia."


"Lalu ada hubungan apa mengumpulkan kami di sini?"


"Papa tidak bisa pulang Untuk mengantarkan nenek pulang kampung, jadi itu tugas kita."


"Ya udah suruh antar Risma saja bereskan !"

__ADS_1


"Dia gak bisa jadwal kuliahnya lagi padat. Begitu juga aku dan istriku, jadwal kami padat. Apalagi Cantika yang hanya dokter residen."


"Aku juga tidak bisa , pekerjaanku menumpuk kamu tahu sendiri kemarin aku baru saja cuti 3 hari." Nampak nenek hanya diam menunduk , perempuan tua yang berumur hampir 80 tahun itu nampak sedih.


"Ya udah telpon papa untuk segera pulang, biar papa yang mengantar nenek. Aku rasa papa yang wajib mengantar nenek pulang kampung," ucap Raka.


"Jika tidak keberatan biarkan aku saja yang mengantarkan ibu,"ucap mama membuat Raka dan Satria langsung melotot.


"Tidak mama itu orang lain, mama hanya mantan menantu yang tidak di anggapnya." Ucap Raka tidak suka.


"Paling mamamu itu cuma mau naik pesawat, jalan-jalan ke luar negri secara gratis."


"Nini , tidak berhak ngomong begitu. Seharusnya aku dan papa berterima kasih karena sudah ada yang mau menyempatkan waktu untuk mengantarkan nenek!"


"Buat apa berterima kasih, harusnya dia yang berterima kasih bisa jalan-jalan ke luar negeri gratis."


"Jangan kan untuk jalan-jalan ke luar negeri, untuk keliling Eropa aku masih sanggup membiayai mamaku tanpa menggunakan uang menantu anda !" Ucap Raka menatap tajam kearah Nini.


"Anak ingusan sepertimu yang hanya karyawan rendahan memang memiliki gaji berapa ?" Cibir Nini sungguh membuatku geram, baru kali ini aku melihat orang tua yang tidak patut untuk di hormati.


"Nini sejak kuliah Raka sudah punya usaha salon mobil dan semenjak kerja, dia juga bermain saham. Selama ini fasilitas dariku dan papa tidak pernah di gunakan olehnya."


Nini yang mendengar penuturan Satria hanya bengong begitu juga nenek dan aku.


"Aku tidak masalah siapa yang mengantarkan aku. Aku cuma mau pulang ke kampung halaman ku dan menghabiskan sisa umurku di sana."


"Nenek apa tidak ingin melihat dan menggedong cicit, anakku dan Raka ?"


"Kalian saja baru nikah beberapa hari, paling cepat juga setahun lagi." Ucap Nenek sambil tersenyum tipis.


"Ibu akan berangkat kapan,, aku harus memberikan pengarahan kepada karyawan di butikku dulu?"


"Karyawan cuma 2 aja bangga,"ucap Nini.


"Alhamdulillah meski cuma 2 bisa memenuhi kebutuhanku, bahkan jika Rahma mau aku juga sanggup membiayai kuliahnya."


"Sombong !"


"Apa yang di katakan mama saya benar, dari pada anda yang hidup dengan mengandalkan bekas kasihan mantan menantu anda."


"Kamu !" Teriak Nini tidak terima.


"Ayo Nini kita pulang,!" ajak satria.


"Bocah ingusan jika anakku tidak sakit dan pergi meninggalkan aku duluan, kamu tidak akan pernah lahir di keluarga Rudyatmo !"

__ADS_1


"Aku lebih suka lahir dari keluarga biasa yang tidak gila harta !"


"Kia bawa suamimu pulang, Satria bawa Nini ke kamarnya !" Perintah mama tegas, membuatku langsung bangun dan menarik Raka keluar dari rumah mewah itu, tanpa berpamitan terlebih dahulu.


__ADS_2