Cinta Dalam Diam

Cinta Dalam Diam
146. Rencana Pernikahan


__ADS_3

Entah berapa lama aku tidur, saat aku terbangun dan melihat kearah jam dinding sudah pukul setengah tujuh malam. Aku bergegas melaksanakan sholat magrib, sebelum melihat ponsel. Aku mencari berita terkait yang terjadi waktu makan siang tadi, sampai terdengar suara adzan isya aku belum menemukan berita yang kucari.


Mungkin papa atau Raka telah melakukan sesuatu, karena tidak mungkin adu hantam tadi siang tidak ada beritanya sama sekali.


Hanya dengan memakai jeans selutut dan kaos oblong aku keluar dari kamar, tentunya setelah selesai sholat isya.


"Ramai banget bik di ruang tamu,ada tamu ya ?"


"Tidak ada hanya keluarga Om Fino minus neng Clara, dan mas Raka serta kakak mas Raka." Aku hanya mengagukkan kepalaku sambil berjalan keluar melalui pintu samping, yang langsung ke garasi. Aku ambil helm dan langsung mengambil kunci motor Arvin .


"Bu ibu !"


"Apa sih Mbak?" Tanya Alfi saat asisten rumah tangganya berjalan tergopoh-gopoh kearahnya.


"Itu mbak Kia mau keluar pakai motor mas Arvin."


"Astaghfirullah!"


"Apa!!"


"Ya Allah Kia!" Ucap semua orang yang ada di ruang tamu, bersamaan dengan suara motor yang keluar. Rumah Fian gerbangnya tidak di jaga satpam, karena satpam merangkap tukang kebun atau sopir jadi tidak stand by di depan. Tapi pagarnya sudah di lengkapi teknologi jadi tidak akan sembarangan orang bisa membuka pagar.


"Arvin dan Raka segera ikuti Kia!"


"Iya pa."


"Pakai motor saja, Kia kan juga pakai motor."


"Iya om,ayo mas!" Arvin dan Raka segera pergi.


"Tumben Kia tidak pamit ya kalau mau pergi?"


"Kia tahu kalau pamit tidak akan bakal di ijinkan keluar sendirian. Tante dan Om tenang saja,Kia hanya butuh ketenangan." Ucap Cantika yang sedikit tahu sifat adik sepupunya itu.


"Tapi dia tadi berhalusinasi tidur di balok es yang nyaman kak! Padahal kenyataannya Kia lagi terapung di kolam renang." Ucap Fino membuat Cantika dan Satria langsung melotot.


"Apa Kia sangat tertekan dengan berita yang beredar,?" tanya Cantika.


"Sepertinya begitu,"ucap Fino.


"Itu wajar karena wajahnya terlihat jelas di berita kemarin sore. Hari ini banyak yang melihat dan memandang Kia dengan tatapan ya menurut Kia itu merendahkannya." Jelas Fian sambil menggegam tangan Alfi untuk menenangkan istrinya.

__ADS_1


"Ya Allah pasti Kia tidak nyaman,"ucap Indah mama Cantika dan Clara.


"Iya bahkan tadi ada yang sempat melakukan pelecehan verbal. Kia sempat membanting orang tersebut, sebelum orang itu di hajar oleh Raka." Jelas Fian yang tadi sudah melihat rekaman CCTV.


"Terus sekarang bagaimana,?"tanya Indah penasaran.


"Ari sudah menuntut mereka, meski Raka juga di tuntut balik olehnya. Terpaksa aku temui pimpinannya dan meminta dia untuk memecat karyawannya yang berurusan dengan hukum."


"Tumben kamu menggunakan koneksi yang kamu miliki,?" tanya Fino.


"Masalahnya ini menyangkut putriku, tapi setelah melihat yang terjadi dengan Kia tadi sore. Dan melihat betapa putriku yang tertekan, aku rasa apa yang ku lakukan tidak seberapa."


"Sadis juga kamu,?"ucap Indah.


"Pa sebaiknya sekarang papa hubungi Arvin ,apa sudah ketemu Kia?"


"Kalau sudah ketemu pasti juga menghubungi kita, kalau kita hubungi sekarang takutnya mereka lagi di jalan."


"Bener kata Fian, apalagi mereka kan menggunakan motor."


"Aku setuju Raka dulu yang menikah, lagian papa kemarin juga bilang ke wartawan kau Kia pacar Raka dan akan segera bertunangan."


"Aku rasa tidak, rencana pernikahan kami juga belum ada media yang tahu."


"Pernikahan melibatkan 2 keluarga, nanti aku akan langsung bicara dengan orang tua mu saja."


🏍️


Kia mengendarai motor Arvin berkeliling kota Jakarta dengan kecepatan yang tidak bisa dibilang sedang. Selama 2 jam berkeliling hanya sekali berhenti untuk mengisi bahan bakar. Sampai ahkirnya motor yang di Kendari Kia masuk wilayah pantai Ancol.


"Akhhhhhh!!" Teriakku dengan sangat kencang sebelum ahkirnya aku menjatuhkan tubuhku di atas pasir putih.


Bodoh amat di bilang gila karena teriak dan tiduran di atas pasir. Meski terasa dingin karena aku cuma memakai celana selutut, tapi aku merasa nyaman. Aku pejamkan mataku menikmati semilir angin pantai malam hari, dengan di temani suara deburan ombak.


Aku tidak tahu apa ini yang disebut takdir , selama kerja di kantor papa hanya kemarin aku lembur. Yang langsung berakibat fatal. Andai aku tidak lembur, andai aku tidak pulang bersama Raka atau andai aku tidak menghindari hujan di hotel melati. Apa semua ini tetap terjadi, apa ini yang disebut takdir. Tapi kenapa harus sebuah aib. Aku tidak pernah seperti anak metropolitan yang lain, yang suka dugem, clubing, bahkan pacaran saja aku tidak pernah. Tapi kenapa sekarang semua orang melihatku sebagai perempuan tidak baik.


Kia terus sibuk dengan pikiran dan perasaannya,sambil memejamkan matanya. Sampai tidak terasa air matanya menetes,dan ada sebuah tangan yang tiba-tiba menghapus air matanya. Secara spontan Kia langsung memelintir tangan orang tersebut, tanpa melihat pelakunya.


"Ampun Kia sakit,"teriak Raka membuatku langsung melihatnya kesal.


"Lagian siapa suruh iseng ?" Ucap Kia yang sekarang sudah duduk, dengan posisi kaki di tekuk.

__ADS_1


"Hehe maaf ."


"Sama siapa ke sini, bukannya tadi di rumah ?"


"Tu, kami di suruh mengikuti mu. Karena takut terjadi apa-apa dengan mu." Ucap Raka sambil menujuk Arvin dengan dagunya. Arvin berjalan kearah mereka sambil menenteng jagung rebus dan air mineral.


"Aku tidak akan berbuat yang aneh-aneh ya,"dengusku.


"Tidak aneh-aneh gimana,kata mas Raka kamu tadi hampir tenggelam begitu !" Kata Arvin sambil menyerahkan jagung rebus dari tangannya.


"Aku tidak ada niat ya, aku hanya pingin berendam. Setelah beberapa kali melakukan latihan pernafasan di air,aku merasa ngantuk."


"Dan akibatnya kamu hampir tenggelam, itu karena pikiranmu kosong !" Tegas Arvin kesal, meski dia tidak melihat Kia terapung.


"Sudah ,Kia dengerkan mas. Apa sebaiknya kita menikah saja ,toh papa kemarin sudah bilang kalau kita memang pacaran dan akan bertunangan. Kenapa tidak kita percepat dengan pernikahan saja !"


"Bener Kia, meski tidak bisa merubah pandangan orang. Tapi paling tidak bisa menutup mulut orang-orang julid itu." Ucap Arvin sambil mengusap kepala Kia yang bersandar di bahu Arvin.


"Apa menikah solusi yang terbaik,? tanyaku.


"Aku tidak tahu, tapi untuk saat ini itu yang terbaik. Aku yang mengajakmu jadi aku ingin bertanggung jawab."


"Aneh ya mas kita di hotel juga tidur terpisah,aku di ranjang mas di sofa. Tapi kenapa harus di suruh tanggung jawab segala kaya hamili aku saja." Ucapku miris dengan pandangan orang yang selalu menilai tanpa tahu kebenarannya.


"Lagian mereka saja yang bodoh, kalau mau ngapa-ngapain kenapa gak hotel bintang 5 sekalian yang aman." Ucap Arvin yang di benarkan oleh Raka.


"Sekarang Kia bagaimana, bersedia tidak anggap saja kita pacaran. Kita menikah tinggal bersama, tapi mas tidak akan memaksa kamu untuk melakukan tugas sebagai istri. Arvin sebagi saksinya, mas hanya akan melakukannya atas persetujuan dari Kia."


"Melakukan apa mas?" Tanya Arvin sambil nyengir.


"Pura-pura bodoh Lo,"ucapku kesal sambil memukul bahu Arvin. Apa Arvin tidak tahu aku saja malu mendengar ucapan Raka, kenapa dia malah memancing omongan kaya gitu.


"Aku ngikut," ucapku lirih setelah tidak ada suara diantara kami.


"Allhamdullilah terima kasih Kia."


"Ga usah peluk-peluk adikku belum halal."


"Maaf khilaf." Ucap Raka sambil nyengir.


Aku berharap keputusanku kali ini tidak akan pernah ku sesali. Aku berharap ini keputusan terbaik yang pernah ku ambil.

__ADS_1


__ADS_2