Cinta Dalam Diam

Cinta Dalam Diam
Zahra Hamil Lagi


__ADS_3


Keesokan paginya, Zahra bangun tidur tapi ia merasa mual mual dan pusing. Adzriel yang tidurpun segera bangun dan menghampiri sang istri.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Adzriel.


"Entahlah akhir akhir ini aku sering kali mual dan pusing." Ucap Zahra sambil memegang kepalanya.


"Iya sudah sekarang kamu cuci muka dulu setelah itu aku akan mengantarkan kamu untuk periksa." Ucap Adzriel. Zahra pun hanya mengangguk, ia gak jadi mandi. Ia hanya cuci muka dan sikat gigi setelah itu, ia ambil wudhu dan sholat shubuh, selesai sholat ia pun segera memasang jilbab dan juga cadarnya.


Adzriel sendiri, ia segera mandi dengan secepat kilat lalu segera mengambil wudhu dan sholat shubuh, selesai sholat. Ia pun segera menghampiri sang istri.


"Masih kuat gak jalan yank?" tanya Adzriel.


"Iya." Jawab Zahra tersenyum.


Saat baru saja berjalan beberapa langkah, Zahra pingsan. Untunglah Adzriel dengan sigap memegang tubuh istrinya itu. Adzriel segera memanggil bundannya.


"Bun, bunda." Ucap Adzriel sambil menggendong istrinya.


"Iya nak, ada apa?" Tanya Aulia sambil berjalan ke arah putranya.


"Loh kenapa dengan Zahra nak?" tanya Aulia kaget melihat Zahra yang di gendong oleh Adzriel.


"Bun, aku akan ke rumah sakit. Aku titip Axel dan Alexa ya bun." Ucap Adzriel.


"Kamu hati hati ya dan nanti kabari bunda jika ada apa apa." Ujar Aulia.


"Iya, bun. Pasti." Ucap Adzriel yang langsung berjalan ke arah garasi.


"Pak, tolong antarkan saya ke rumah sakit terdekat ya." Pinta Adzriel ke pak sopirnya yang baru saja selesai sholat.


"Iya tuan." Ucap Pak sopir itu. Ia pun segera masuk ke dalam mobil menggunakan sarung dan baju koko serta peci warna putih yang masih melekat di kepalanya.


"Agak cepetan ya pak." Ujar Adzriel panik.


"Iya tuan." Ucap Pak Sopir.


Pak Sopir segera menambah kecepatannya karena memang hari masih pagi sehingga tidak banyak kendaraan yang lewat. Dua puluh menit kemudian, mereka pun sudah sampai di rumah sakit.


Adzriel segera menggotong istrinya masuk ke dalam.


"Dok,,,dok...." Panggil Adzriel.


"Ada apa?" tanya salah satu dokter perempuan yang kebetulan lewat di depannya.


"Istri saya dok pingsan. Tolong." Pinta Adzriel. Dokter itu dengan sigap mengambil brangkar yang berada tak jauh dari tempatnya.


"Taruh sini pak." Ujar Dokter itu. Adzriel pun segera menaruh istrinya di atas brangkar dan setelah itu, ia pun membantu sang dokter untuk mendorong brangkar itu masuk ke ruangan.


"Pak, silahkan Anda ke Administrasi dulu ya biar saya bisa segera menangani istri bapak." Ujar Dokter itu ramah. Adzriel pun tak banyak bicara, ia segera lari ke ruang administrasi dan setelah itu, ia pun kembali ke ruangan. Dokter itu pun segera memeriksa Zahra dan setelah itu, Dokter itu meminta Adzriel untuk masuk ke dalam ruanganya.


"Gimana dok, ada apa dengan istri saya?" tanya Adzriel hawatir.


"Bapak tenang aja, istri bapak gak kenapa napa kog." Jawab dokter itu tersenyumm.


"Gak papa gimana, dia pingsan loh dan sudah beberapa hari ini ia seringkali mual dan pusing." Ucap Adzriel.


"Itu wajar pak bagi seorang istri yang lagi hamil muda." Jawab Dokter itu.

__ADS_1


"Hamil?" tanya Adzriel tak percaya.


"Iya istri bapak hamil 3 minggu. Tolong di jaga baik baik ya pak soalnya kehamilan istri bapak agak lemah. Saya akan memberikan resep beberapa vitamin dan obat anti mual. Nanti tolong tebus di apotik ya pak." Ucap Dokter itu lembut.


"Baiklah, terima kasih ya dok. Apakah istri saya boleh pulang hari ini?" tanya Adzriel tersenyum bahagia karena bentar lagi ia akan mempunyai anak lagi dan rumahnya pasti akan tambah rame.


"Boleh. Nanti jika istri bapak sudah siuman, ia boleh pulang." Ujar Dokter itu.


"Baiklah, kalau begitu. Terima kasih ya dok. Saya akan kembali ke ruangan untuk menemui istri saya." Ucap Adzriel tersenyum.


"Iya, silahkan." Ucap Dokter itu.


Adzriel pun kembali ke ruangan di mana istrinya di rawat.


"Sayang, aku gak  menyangka kita akan segera mempunyai anak lagi. Aku benar benar gak menyangka aku akan memberikan adik untuk Axel dan Alexa dalam waktu yang sangat singkat ini padahal rasanya aku baru kemaren bertemu denganmu dan kedua buah hati kita tapi Allah langsung memberikan kita titipan lagi. Semoga mereka semua menjadi anak yang sholeh dan sholehah." Ujar Adzriel sambil mencium kening istrinya yang masih belum sadar.


Tiba tiba saja ia di kagetkan dengan suara hpnya yang berbunyi. Ia pun segera mengambil Hp nya yang ada di sakut bajunya dan segera mengangkatnya.


"Assalamu'aalikum." (Adzriel)


"Waalaikumsalam. Nak, bagaimana kabar Zahra? Apakah dia baik baik saja? Apakah bunda harus ke sana membawa Axel dan Alexa?" tanya Aulia hawatir.


"Bunda gak perlu panik, Zahra gak papa. Dia pingsan karena dia hamil bunda." (Adzriel)


"Hamil? Benarkah?" tanya Aulia tak percaya.


"Iya bunda, Zahra hamil 3 minggu." Jawab Adzriel tersenyum.


"Alhamdulillah, Allah memberikan kepercayaan lagi untuk kamu dan Zahra. Iya sudah kamu jaga baik baik Zahra ya. Oh ya kapan kamu pulang nak?" tanya Aulia senang karena mendapatkan kabar bahwa menantunya hami lagi.


"Sebentar lagi bunda, setelah Zahra siuman." Ucap Adzriel.


"Iya bunda."


"Iya sudah, bunda matikan dulu ya. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Setelah mematikan hp nya, ia pun menaruhnya kembali di saku bajunya. Namun tak lama kemudian, Zahra pun sadar.


"Mas......" Panggil Zahra dengan suara pelan.


"Iya sayang, ada apa?" tanya Adzriel sambil mengelus kepala nya Zahra.


"Aku ada di mana?" tanya Zahra yang masih bingung.


"Kamu ada di rumah sakit sayang, tadi kamu pingsan."


"Kenapa aku bisa pingsan mas?" tanya Zarha.


"Zahra, ada kabar bahagia yang harus kamu ketahui?" ucap Adzriel.


"Apa itu mas?" tanya Zahra penasaran.


"Kamu positif hamil dan usia kandunganmu sudah 3 minggu." Jawab Adzriel tersneyum.


"Alhamdulillah aku senang mendengarnya mas."


"Iya kau juga bahagia. Makasih ya, kamu sudah bikin aku jadi suami dan ayah yang paling beruntung dan bahagia di dunia ini." ujar Adzriel.

__ADS_1


"Aku yang berterima kasih mas, karena mas sudah setia berada di samping aku. Oh ya gimana dengan Axel dan Aelxa, aku harus pulang mas. Mereka harus sekolah dan aku belum menyiapkan baju mereka." ucap Zahra panik ketika ia ingat dengan kedua buah hatinya.


"Kamu tenang aja, di sana ada bunda." Ujar Adzriel.


"Tapi mas, mereka pasti bingung mencari kita." Ucap Zahra.


"Mereka sudah besar dan pasti mengerti. Bunda juga pasti akan menjelaskan ke mereka jika mereka tanya kenapa umy dan abahnya. Kamu santai aja, gak usah mikir yang berat berat. Kamu sekarang lagi hamil dan gak boleh stres." Ujar Adzriel.


"Iya mas, tapi kalau boleh, aku ingin pulang sekarang." Ucap Zahra.


"Baiklah, aku akan izin dokter dulu ya." Ujar Adzriel dan Zahrapun hanya menganggukkan kepala.


Adzriel pun segera mencari dokter yang tadi menangani Zahra. Dan setelah dokter itu mengizinkan Zahra pulang, Adzriel pun langsung menggotong istrinya menuju mobil.


"Mas, turunin aku. Malu di liat orang. Aku ini gak lumpuh dan masih bisa jalan." Ujar Zahra malu karena banyak yang ngeliatin.


"Gak usah malu, toh yang gendong kamu adalah suaminya sendiri. Jangan fikirkan apa kata mereka. Aku gak mau kamu kelelahan akibat jalan." Ucap Adzriel.


"Ya tuhann mas, aku gak mungkin lelah kalau cuma jalan menuju mobil."


"Sudahlah jangan protes. Aku seperti ini karena sayang sama kamu dan gak mau kamu kenapa napa." Ucap Adzriel.


Setelah sampai di mobil, Adzriel dan Zahra pun langsung masuk.


"Pak, ke apotik terdekat ya. Saya mau beli obat dulu." Ucap Adzriel ke sopirnya.


"Iya tuan." Ujar pak sopir itu yang langsung menjalankan mobilnya menuju apotik.


Setelah sampai di depan apotik, Adzriel pun segera turun.


"Tunggu di sini sebentar ya yank, aku mau nebus obat dulu." Ujar Adzriel.


"Iya." Jawab Zahra tersenyum.


Adzriel pun segera pergi ke apotik dan memberikan resep yang di berikan oleh dokter. Setelah mendapatkan obatnya, Adzriel segera membayar obat itu lalul pergi menuju ke mobilnya.


"Gimana lama gak?" tanya Adzriel sambil duduk di samping Zahra.


"Gak kog, cuma sebentar." Jawab Zahra.


"Jalan pak, langsung pulang ke rumah pak." Ucap Adzriel.


"Iya tuan."


Pak sopir itu pun hanya bisa menurut tampa bisa membantah apa yang di ucapkan oleh majikannya. Tapi walau Adzriel kadang sedikit keras tapi ia merasa bersyukur karena selama ini Adzriel selalu baik terhadapnya dan juga keluarganya. Adzriel juga sering memberikan uang bonus setiap mengantarkan ke sana kemari padahal itu adalah tugasnya dan ia sudah di gaji perbulan. Tapi Adzriel masih aja mau memberikan uang untuknya. Katanya untuk beli sesuatu jika tiba tiba pengen.


Dan pak sopir itu pun hanya bisa tersenyum dan menerima uang yang telah di berikan oleh majikannya itu.


 


 


 


 



 

__ADS_1



__ADS_2