
"Kamu baru pulang main futsal ?" Tanya mama begitu kami sampai di rumah mama , rumah mamah bukan rumah mewah seperti rumah papa Raka. Tapi disini terasa nyaman dan susana adem, karena di depan rumah banyak di tumbuhi tanaman.
"Iya ma terus langsung ke sini!"
"Kalau begitu sana mandi, kasihan menantu mama dekat kamu yang bau."
"Henteu, kuring tetep seungit sanajan kuring henteu mandi."(Tidak ya, aku tetap wangi meski tidak mandi.) Ucap Raka sambil berjalan masuk meninggalkan aku dan mama, yang masih duduk di bangku teras rumah.
"Mama suka memelihara tanaman ya?"
"Hanya untuk mengisi waktu luang. Sibuk apa sekarang Kia?"
"Bantu mama ngurus kafe, adik mas Raka tidak tinggal di sini sama mama ?"
"Dia mah sesuka hatinya, mama membebaskan dia untuk tinggal di mana saja !"
"Berati mama sendirian dong?"
"Kalau malam iya, tapi kalau siang banyak teman." Ucap mama sambil tersenyum tipis, mama punya usaha butik yang di bantu 2 Karyawannya.
"Kebaya kemarin yang aku pakai pasti buatan mama sendiri ?"
"Iya pas tidak, mama buatnya ngebut itu. Begitu Raka bilang mau nikah mama langsung menjahit baju untukmu. Mana mama tidak tahu ukuranmu dan baru sekali bertemu. Membuat mama was-was tidak akan muat."
"Pas ko ma. Bukannya mama dulu seorang perawat ya?" Karena setahuku dari Cantika, mama Raka itu perawat yang merawat mama Satria saat di vonis kanker.
"Kalau jahit mama belajar dari orang tua mama yang seorang penjahit. Terus saat sudah ada anak-anak baru mama belajar bikin pola."
"Boleh dong ma di ajarin menjahit kapan-kapan ?"
"Tentu rumah ini selalu terbuka kalau kamu mau berkunjung ke sini, atau mau belajar."
"Wah seru ni, lagi bahas apa?" Ucap Raka yang baru muncul dengan penampilan yang sudah segar dan wangi. Raka membawa secangkir kopi hitam, sepertinya dia biasa bikin sendiri. Raka duduk di sampingku setelah menaruh kopinya di meja.
Kami tidak menjawab hanya saling melirik sebentar,"Tapi jangan tanggal merah karyawan mama pada libur."
"Tidak ada rencana buka butik ma?"
"Hanya ngerjain pesanan aja mama sudah keteter,apalagi buka Butik bisa kelelahan mama." Ucap Raka sambil memelukku dari samping dengan dagu di taruh di pundak ku.
"Satria kesini ga ma, seminggu lagi kan dia mau menikah ?"
"Satria sudah telpon Mama makanya mama pulang kesini , Satria meminta mama untuk mendampingi papa di pelaminan."
__ADS_1
"Gak marah nenek dan Nini nya?"
"Mama gak tahu ,mama di undang ya datang tar kalau di usir ya tinggal pulang ko repot." Dari ucapan Raka aku bisa mengambil kesimpulan mama tidak akrab dengan mertuanya, atau ada masalah.
"Memang kenapa Nenek dan Nini harus marah ?" Tanyaku yang penasaran, Neneknya Raka dari papa aku sudah ketemu waktu ke makan malam dulu. Bule yang fasih bahasa Indonesia, itulah kesanku bertemu dengannya, meski bisa di bilang orangnya tidak ramah.
"Papa itu nama aslinya Alexander Wilson, karena menikah dan pindah kewarganegaraan dia memutuskan ganti nama menjadi Rudyatmo. Setelah mama Satria meninggal papa di jodohkan dengan adik mama Satria, karena takut Satria di bawa ke Australia."
"Sedangkan kakek nenek Raka juga menjodohkan dengan wanita asli Australia , tapi mas Rudy menolak karena sudah nyaman dengan Indonesia dan agama yang dianutnya." Ucap mama menyambung cerita Raka, yang sempat berhenti karena Raka meminum kopinya.
"Karena itu mama memilih mama yang tidak ada kaitannya dengan orang tua papa dan mertuanya. Yang ahkirnya jadi bumerang buat rumah tangga papa dan mama."
" Karena sejatinya menikah itu tidak sekedar menyatukan 2 orang, tapi juga menyatukan keluarga yang berbeda. Membangun rumah tangga tidak hanya butuh cinta tapi juga restu orang tua. Mama harap cuma mama yang mengalami kegagalan, jangan anak-anak mama. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, selesaikan dengan kepala dingin dan jangan mudah terprovokasi." Ucap mama sambil berdiri.
"Mama tidur dulu sudah jam 10 malam. Kamu sih datangnya sudah malam."
"Ya udah sana masuk aku mau pacaran sama mantu mama."
"Dasar mesum,"ucapku karena malu.
"Gak usah malu,"ucap mama sebelum berjalan masuk.
"Kamu buat kopi sendiri ?"
"Mama dan papa menikah karena amanah mama Satria. Juga karena mereka saling mencintai, tapi ternyata cinta mereka tidak kuat menghadapi cobaan."
"Mereka bercerai karena apa ?"
"Karena salah paham dan papa yang mudah terprovokasi oleh nenek dan Nini Satria."
"Kok gitu ?" Tanyaku penasaran dengan melihat kearahnya. Hingga wajah kami jadi sangat dekat hanya berjarak sejengkal.
"Jaman dulu tidak ada ponsel, hanya ada telpon rumah. Mama yang mendapatkan kabar kakaknya kecelakaan langsung pulang tanpa ijin dengan papa. Seminggu mama kembali ke rumah papa, papa menyambut dengan kemarahan dan mengucapkan talak kepada mama. Mama yang merasa bersalah hanya diam tanpa pembelaan."
"Kenapa papa langsung marah dan mengucapkan talak, tanpa bertanya alasan mama pulang ?"
"Kan aku sudah bilang papa itu mudah terpengaruh, seperti Satria. Nenek bilang mama pergi dengan lelaki meninggalkan Rahmat sendiri di rumah. Papa percaya karena mama membawa semua perhiasannya." Ucap Satria tersenyum getir.
"Padahal mama membawa perhiasannya untuk di jual supaya bisa meringankan biaya rumah sakit mas nya. Kebetulan yang jemput mama adalah tetangga paman yang kebetulan ke Jakarta mengirim barang ke Jakarta."
"Terus papa tahunya bagaimana ?"
"Sebulan pasca bercerai,Rahma yang tahu papa menceraikan mama langsung menangis dan marah sampai sakit mencari mama. Dari sana Rahma cerita. kalau dia tidak di tinggal oleh mama, tapi Rahma gak mau ikut karena mama pulang hanya untuk menengok paman yang kecelakaan."
__ADS_1
"Setelah itu baru papa mencari mama dan ahkirnya tahu cerita sebenarnya!" Tebakku yang dijawab anggukan oleh Raka.
"Terus kenapa bercerai ?"
"Papa sudah mengucapkan talak dan mendaftar gugatan cerai ke pengadilan. Meski papa minta maaf dan menarik gugatannya, mama tidak mau balik. Aku sendiri tidak menyalahkan mama, selama 18 tahun berumah tangga mama selalu sabar di perlakukan buruk sama nenek dan Satria karena hasutan Nini. Jadi saat papa mengucapkan talak, semacam mama terlepas belenggu."
"Jadi status mama dan papa sekarang, bagaimana ?"
"Secara agama sudah bercerai karena papa sudah mengucapkan talak. Tapi secara negara belum karena papa sudah menarik gugatannya."
"Kasihan mama ya."
"Tidak aku lebih suka mama yang sekarang."
"Kok begitu kan status mama jadi tidak jelas ?"
"Paling tidak mama tidak mendapatkan tekanan dari nenek dan Nini. Dengan status yang masih menjadi istri papa, bisa mama gunakan untuk menolak para leleki yang berusaha mendekati mama."
"Tapi kan jadi bahan omongan istri tapi tinggal terpisah dengan suami."
"Ya bagaimana salah papa juga yang asal ngucapin talak. Karena itu mama berpesan padaku jangan pernah asal mengucapkan, karena kata talak bisa menghancurkan keluarga bahagia."
"Memang Satria dulu kenapa tidak suka dengan mama."
"Satria mengagap mama selingkuhannya papa dan menyebabkan kematian mamanya."
"Tapi kenyataannya kan ?"
"Satria baru tahu setelah papa mengucapkan talak dan Satria melihat rekamedi mama kandungnya." Ucap Raka memotong ucapanku, dan menaruh mukanya di dadaku. Membuatku geli sekaligus merasakan glenyeran aneh dalam tubuhku.
"Kisah hidup mama ternyata berat ya."
"Hmm."
"Mas!" Saat ak merasakan kaosku basah.
"Empuk kaya squisi."
"Mass!"
"Ga usah malu ,mas mau ke kamar mandi dulu untuk menjinakkan ular mas dulu." Ucap Raka sambil mengakat tubuhku dari atas pangkuannya.
Membuatku merasa kasihan,tapi aku juga masih belum berani menyerahkan ke pada Raka.
__ADS_1