
Meski aku mendengar aku pura-pura tidak tahu dan tidak mendengar. Bukan karena aku bodo amat dan tidak peduli, tapi aku ingin kejujurannya. Sudah 2 minggu Raka menjalani semua aktivitasnya.
Senin-Jumat Raka akan stand by di kantor papa di jam kerja. Senin-Kamis sepulang dari kantor papa akan langsung ke rumah sakit. Jumat dia akan mengajar kelas malam, begitu juga hari Sabtu dari pagi sampai sore dia akan mengajar. Di sisi lain aku senang karena tidak ada yang menggangu tidur malam ku. Tapi juga kasian melihatnya yang kelelahan.
"Hari ini papa dan mama balik dari Australia."
"Betah juga Mama di sana hampir sebulan."
"Terpaksa papa yang menahan di sana. Padahal mama pingin segera pulang membantu mempersiapkan pernikahan kita yang, yang tinggal 4 bulan lagi."
"Lalu bagaimana ceritanya papa ahkirnya mengijinkan pulang?"
"Papa mengucapkan ijab qobul di sana."
"Allhamdullilah ahkirnya mama papa bersama lagi."
"Karena itu mungkin aku akan mulai bekerja di rumah sakit juga."
Ahkirnya jujur juga kamu mas, tapi lama banget harus menunggu 2 Minggu.
"Kalau begitu lepaskan salah satu, fisik mu tidak akan kuat!"
"Iya sih aku sudah mencoba 2 Minggu, memang sangat berat. Bahkan membuat ranjang kita jadi dingin."
"Uhuk ukhuk ukhuk, mass!"
"Memang benar kan." Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku, melihatnya.
"Siapa yang akan menjemput mama dan papa di bandara ?"
"Sopir pribadi papa. Sebenarnya Kalau bukan mama aku tidak mau mengurus rumah sakit."
"Apapun alasannya kamu. Jika kamu sudah memutuskan lakukan dengan benar dan penuh tanggung jawab."
"Tentu, aku sudah mengajukan permohonan pengunduran diri menjadi dosen. Aku akan fokus di rumah sakit dan kantor papa."
"Sebenarnya aku sudah tahu dari awal, tapi aku menunggu kejujuranmu untuk bercerita."
"Aku kemarin belum bercerita karena ingin mencoba dulu. Jika aku cerita aku takut kamu langsung melarangku."
"Karena berat makanya kamu lepas ?"
__ADS_1
"Aku tidak mau istriku kesepian dan mencari kehangatan di luar."
"Aku masih bisa mengontrol diriku ya."
"Aku tahu itu, tapi aku yang tersiksa." Ucapnya bertepatan dengan bel apartemen berbunyi.
"Buka aja mas pasti itu Stevi, hampir setiap hari dia kesini mencari mu." Ucapku sambil tertawa kecil.
"Kalau begitu biarkan saja tidak usah di buka," ucap Raka yang merendahkan tubuhnya di sofa.
"Bener gak mau di buka,itu bel masih berbunyi terus lo?"
"Ini hari Minggu aku ingin menghabiskan seharian bersamamu. Setelah 2 minggu kehidupan kita hanya seperti orang asing." Ucapnya membuatku tertawa kecil.
Selamat 2 Minggu Raka akan berangkat kerja pukul 8 pagi dan pulang pukul 10, bahkan terkadang pukul 11 malam. Karena kecapean setelah sholat subuh Raka akan tidur kembali. Baru pukul 7 aku bangunkan untuk bersiap-siap kerja.
"Bagaimana kalau sekarang kita ke salon !"
"Dari pada ke salon Lebih baik kita olahraga yang menyenangkan, sudah 2 minggu Kita libur. Kamu ke salonnya besok saja, aku bosan kalau harus menunggu lama di salon." Ucap Raka membuatku melotot, olahraga yang menyenangkan katanya.
"Mas denger kita ke salon buat spa. Spa untuk kita berdua, biar otot-otot mas gak tegang."
"Bukan begitu mas!"
"Couple spa berupa pemijatan dengan wewangian minyak lavender yang bisa memberikan efek ketenangan bagi pasangan, selain itu juga bisa meningkatkan zat oksitosin pada tubuh. Adanya zat tersebut membuat perasaan, intim, dan romantis menjadi meningkat dalam tubuh." Ucap Raka membuatku langsung menoleh kearahnya. Terlihat Raka sedang memegang ponselnya, sepertinya dia baru mencari maksud spa pasangan dari internet.
"Intim dan romantis ya,aku mau kalau begitu ! Ayo berangkat !"
"Mas maksudnya aku itu otot-otot mu biar tidak tegang, bukan.."
Gimana sih jelasin biar dia paham,biar badannya seger setelah spa.
"Ayo berangkat ,biar nanti malam kita bisa praktek intim dan romantis."
Aku hanya pasrah saat Raka menarikku keluar.
"Kamu tahu tempat spa juga mas?" Tanyaku setelah sampai di ruko 3 lantai bertuliskan ' Beauty Healthy Family '. Raka hanya tersenyum dan menarik pinggangku, untuk berjalan masuk tanpa menjawab.
"Apa-apa jangan-jangan kamu sering menunggu para mantanmu di sini ?" Raka tidak menjawab semua pertanyaan yang aku Lontarkan membuatku dongkol bukan main.
"Mas!"
__ADS_1
"Selamat siang apa yang bisa di bantu?" Sapa resepsionis ramah dan malu-malu membuatku melotot.
Apa mantannya Raka suka ke sini juga, kok Raka tahu tempat kaya begini segala ?
"Kami mau paket Couple spa." Ucap Raka membuat wanita yang seumuran denganku tersenyum masam.
"Aku mau pelayanan yang super bagus,VIP ya!"
"Iya mas, mau pembayaran cas, kredit atau debit?"
"Debit." Ucap Raka sambil menyodorkan kartu debitnya.
"Hai Raka !" Teriak seorang perempuan berpakaian modis turun dari tangga.
Tunggu dulu bukannya dia Stevi, Raka sudah tahu tempat kerjanya Stevi. Apa mereka sering berbunga di belakangku, sampai tahu tempat kerjanya segala. Di apartemen aja nolak jika di samperin, sekarang malah nyamperin. Dasar lelaki sama aja buaya darat !
"Mau nganterin Kia. Ayo tunggu di ruanganku saja!"
Aku yang melihat interaksi mereka ada rasa gemuruh di hatiku, marah kecewa menjadi satu.
"Tidak. Aku tidak mengantarkan Kia, tapi kami mau paket Couple spa yang ada di sini !"
"Oo, tolong berikan yang terbaik."
"Aku sudah pesan yang terbaik kok,"ucap Raka.
"Ya udah mari aku antar," ucap Stevi sambil menarik tangan Raka. Jujur dadaku semakin bergemuruh melihat Raka yang hanya diam saat tangannya ditarik Stevi.
Aku terus diam sampai kami masuk ke ruangan, bahkan setelah Stevi pergi. Setiap Raka bertanya aku hanya menjawab singkat seperlunya saja. Bahkan saat proses pemijatan aku memilih pura-pura tidur. Sampai semua selesai dan kami pulang, kembali ke apartemen. Beberapa kali Raka menawarkan untuk jalan-jalan, tapi karena mood ku yang tidak baik aku memilih pulang.
"Ada apa?Jangan begini! Aku tidak akan tahu kalau kamu hanya diam?"
"Ketika wanita itu datang ke apartemen kamu berpura-pura menolaknya. Tapi gak tahunya kamu malah mendatanginya, pakai pegangan tangan segala. Sepertinya kamu sudah sangat mengenalnya, sampai tahu tempat kerjanya saja kamu tahu!" Ucapku panjang lebar dengan nada ketus.
"Haha aku suka melihatmu begini." Ucap Raka sambil menangkup wajahku, dan mencium seluruh wajahku.
"Apa sih cium- cium segala !" Ucapku sambil berjalan masuk ke dalam kamar, yang di ikuti Raka masih dengan suara tawanya.
"Aku suka kamu yang ahkirnya bisa cemburu !" Ucapnya membuat tubuhku menegang.
Cemburu. Aku cemburu tidak mungkin aku cemburu!
__ADS_1