Cinta Dalam Diam

Cinta Dalam Diam
Cicak Di Atas Nasi


__ADS_3


 


Jam menunjukkan pukul 11 malam. Axel dan Alexa masih sibuk main game online.


"Ka, sudah jam 11 nih. Kita samperin pelakor itu yuk." Ajak Alexa


"Hemm oke." Axel pun mematikan game nya dan menaruh hp nya di saku celana. Dan setelah itu ia pergi bersama Alexa ke kamar belakang.


Axel membuka pintu itu dan betapa kagetnya dia melihat Inez jatuh pingsan.


"Al, panggil bibi. Dan suruh bibi ke sini untuk bantuin aku." Ujar Axel.


"Oke."


Alexa pun segera memanggil bibi yang kebetulan belum tidur di kamarnya dan sedang menonton tivi. Di kamar bibi emang ada tivi agar bibi bisa nonton tivi jika semua pekerjaaan sudah terselesaikan.


"Bi, boleh aku minta tolong." Ujar Alexa.


"Minta tolong apa non?" tanya bibi


"Ayo bi, ikut aku." Ujar Alexa. Sang bibi pun ikut Alexa, ia berjalan di belakangnya.


"Bi, tolong bantuin aku angkat tante ini ya." Ujar Axel saat ia melihat saudara kembarnya dan juga sang bibi udah datang.


"Oh oke, deh." Sang bibi pun dengan sigap langsung membantu mereka tanpa bertanya ini dan itu.


Bibi, Axel dan Alexa berusaha untuk menggotong inez menuju kamar yang tak terpakai.


"Makasih ya bi, sudah bantuin kami." Ujar Axel setelah mereka berhasil membaringkan Ines di atas kasur yang ada di salah satu kamar yang gak kepakai.


"Iya sama sama den, kalau gitu bibi pamit ke kamar lagi ya." Ucap sang bibi ramah.


"Oh ya bi, silahkan." Ujar Axel dan Alexa bersamaan.


Setelah bibi itu pergi, Axel dan Alexa pun ikutan keluar dari kamar itu dan menuju kamar tamu.


"Aku gak menyangka, pelakor itu bisa pingsan juga." Ucap Alexa.


"Iya, aku juga gak menyangka. Sudahlah, gak perlu di bahas. Kita tidur yuk, aku udah ngantuk nih."


"Ayu kak, aku juga udah ngantuk banget."


Mereka pun tidur bersama di kasur yang sama, cuma bedannya di tengah tengah di kasih guling  sehingga mereka pun tak bisa menyentuh satu sama lain. Apalagi ukuran kasur juga cukup lebar.


 


 


 

__ADS_1



Keesokan harinya saat Inez bangun tidur, ia merasa sangat marah. Ia pun menghampiri Axel dan Alexa yang baru selesai mandi dan sekarang duduk santai di ruang tengah.


"Kalian itu gak punya otak ya, membiarkan aku terkurung di gudang sendirian." Teriak Inez dengan suara yang sangat tinggi.


"Kalau kami gak punya otak, gak mungkin kami membukakan pintu dan menggotong tante sampai kamar. Aku liat tante juga tidurnya sangat nyenyak sekali." Ujar Axel dengan nada santai.


"Nyenyak kamu bilang, aku ketakutan di sana seorang diri dan sampai jatuh pingsan. Kalian bilang itu nyenyak? Dasar anak kecil gak punya otak, taunya bikin rusuh saja." Ucap Inez meluapkan emosinya.


"Kalau kami gak punya otak gak mungkin kami bisa selalu mendapatkan juara satu dan bisa lompat kelas. Mungkin kami sangking pintarnya hingga kami bisa melabui orang bodoh yang ingin menghancurkan rumah tangga orang lain." Ujar Alexa yang gak terima di bilang gak punya otak.


"Kamu......." belum selesai Inez bicara, ucapanya pun di potong oleh kedatangan Aksa yang tiba tiba.


"Jangan berisik di rumah orang. Bersikaplah sebagai mana seorang tamu, ini bukan rumahmu. Lagian mereka masih anak kecil, tak sepatutnya kamu mengucapkan kepada mereka dengan perkataan kasar seperti itu." Ujar Aksa membela Axel dan Alexa.


"Tapi mas....."


"Sudahlah, kamu mau ikut makan apa enggak? Aku dan keluargaku sudah mau sarapan pagi." Ucap Aksa.


"Aku mau mas." Jawab Inez kegirangan.


Mereka pun makan bersama di ruang makan sedangkan Balqis memilih makan di kamarnya karena ia malas bertemu dengan Inez dan membuat moodnya jadi terganggu.


Saat makan, tiba tiba Alexa ingin di minum susu.


"Tante, bisa ambilkan aku susu di kulkas." Ujar Alexa.


"Tapi aku ingin tante yang mengambilkannya." Ujar Alexa dengan nada merajuk.


"Sana Nez, ambilkan. Kasihan Alexa." Ucap Aksa. Inez pun tak bisa berbuat apa apa, ia terpaksa memenuhi keinginan Alexa demi mencari perhatian Aksa. Inez bangun dari tempat duduknya dan pergi ke kulkas untuk ambil susu. Saat ia pergi, Axel menaruh cica yang sudah mati ke dalam makanannya dan menutupnya dengan lauk pauk. Untunglah Aksa tak melihatnya karena ia fokus makan sambil menunduk.


"Ini susunya." Ujar Inez sambil memberikan susu itu kepada Alexa.


"Makasih ya tante, tante baik banget deh, cantik juga." Ujar Alexa tersenyum. Inez tak menanggapinya dan langsung duduk untuk makan. Namun baru satu suapan, ia pun langsung menjerit.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa." Teriak Inez sambil berdiri menjauhi makanannya.


"Kenapa sih dari tadi teriak terus?" tanya Aksa kesal.


"Itu mas, di makananku ada cicak." Jawab Inez sambil terbata bata.


"Mana?"


"Itu." Ujar Inez sambil menunjuk ke arah piringnya.


"Bagaimana ada cicak mati di sini?" tanya Aksa bingung.


"Aku juga gak tau mas, tiba tiba ada gitu aja. Pasti ini ulah kalian berdua kan? Iya kan? Ngaku kalian?" Ucap Inez ke Axel dan Alexa.


"Kog malah nuduh aku sih, aku dari diam sambil makan. Kalau nuduh itu harus ada buktinya." Ucap Axel sinis.

__ADS_1


"Aku yakin ini pasti ulah kalian. Kamu sengaja kan tadi nyuruh aku ambil susu terus kamu taruh cica itu di makananku. Iya kan? Ngaku kamu?" Ucap Inez kepada Alexa.


"Sumpah bukan aku tan. Jangan nuduh sembarangan dong." Ujar Alexa, ia berani berkata sumpah karena memang kenyataannya bukan dirinya yang menaruh cicak itu melainkan saudara kembarnya. Jadi ia gak berbohon hari ini.


"Jika bukan kamu, pasti kamu kan?" Tuduh Inez kepada Axel.


"Sudahlah, gak perlu di perpanjang. Cuma masalah kayak gini. Kamu bisa ambil piring dan ambil nasi serta lauk pauknya lagi." Ucap Aksa karena males dengar keributan di pagi hari seperti ini.


"Tapi mas, aku sudah gak selera lagi untuk makan." Jawab Inez pura pura sedihh.


"Kalau gitu, silahkan kamu keluar dari rumah ini. Tadi malam janjinya kamu akan menginap satu malam aja kan? Sekarang sudah pagi jadi kamu gak punya alasan untuk berkata takut. Jadi silahkan keluar sebelum aku benar benar marah." Ucap Aksa.


"Baiklah." Ujar Inez pasrah karena ia pun butuh istirahat untuk mempulihkan tubuhnya yang rasanya sakit semua.


Setelah kepergian Inez, mereka pun melanjutkan makanannya.


"Axel, Alexa. Om titip tante dulu ya. Om mau kerja. Nanti kalau ada apa apa, segera telvon om." Ucap Aksa tesenyum.


"Iya om, aku pasti akan menjaga tante Balqis dengan sepenuh hati." Ujar Alexa tersenyum.


"Terima kasih, keberadaan kalian di sini sangat membantu om dan tante."


"Santai aja om, selama ada kami. Semuanya beres." Ujar Axel tertawa.


"Baiklah, om berangkat dulu. Oh ya om sudah mentransfer uang ke rekening kalian masing masing." ucap Aksa.


"Tapi om........."


"Sudahlah, anggap aja itu rezeki kalian. Om juga ingin berbagi kebahagiaan untuk kalian. Sekarang istri om hamil dan tak lama lagi om akan menjadi seorang ayah. Dan itu hadiah terindah buat om. Jadi om ingin berbagi kebahagiaan untuk kalian berdua."


"Iya udah kalau gitu, makasih ya om."


"Iya sama sama. Om berangkat dulu."


"Hati hati om di jalan."


"Iya."


Setelah kepergian Aksa, seperti biasa Axel dan Alexa pergi ke kamar Balqis untuk menemaninya biar Balqis gak kesepian.


 


 


 



 


 

__ADS_1



__ADS_2