
Aku diantar pulang oleh mbak Franda dan sopir. Saat aku sampai di rumah hanya ada seorang pelayanan yang ada di rumah. Aku langsung masuk ke kamar dan istirahat tanpa mengganti baju. Aku terbangun saat mendengar suara adzan ashar. Setelah sholat ashar aku baru turun, di ruang tamu aku melihat mama sedang mengobrol dengan tamunya.
"Mbak? Siapa tamu mama ?"
"Gak tahu, mbak baru lihat sekarang tamu ibu. Kia mau di buatkan sesuatu ?"
"Gak usah mbak Kia cuma mau minum air putih saja."
"Ya udah mbak ke belakang, kalau mau apa-apa panggil saja."
Aku hanya mengangguk sebelum berjalan untuk mengambil buah di dalam kulkas.
"Eh anak mama sudah bangun." Ucap mama yang sudah duduk di sampingku.
"Tamunya sudah pulang ma?"
"Sudah, tamunya nyariin Kia ingin melihat keadaan Kia."
"Siapa ?" Tanyaku sambil menautkan kedua alisku ke atas. "Mama Raka."
"Hah ! Yang bener ma, mau ngapain?"
"Menanyakan kondisi kesayangan mama, papa juga sudah kasih tahu apa yang terjadi."
"Maafkan Kia ya ma, sekarang Kia nurut dengan keputusan mama dan papa." Ucapku lirih sambil menunduk kepalaku. Mama tidak menjawab tapi bangun dan langsung memelukku.
"Ini bukan salah Kia, segala sesuatu kadang di luar kendali Kita. Mama percaya Kia tidak ada niat untuk membuat kekacauan."
"Kia hanya kesal karena mulut mereka ma,"ucapku sambil menangis.
"Sudah tidak apa-apa." Ucap mama sambil memelukku dan mengusap punggungku, membuatku merasa mendapatkan perlindungan.
Aku akui salah telah main banting orang, tapi aku juga manusia yang ada saatnya lepas kendali seperti tadi.
"Mama mandi dulu, habis ini Kia bisa cerita apapun kepada mama." Aku hanya mengangguk , setelah mama pergi aku duduk rebahan di kursi malas yang ada di dekat kolam renang.
Suasana sepi membuat pikiranku jadi traveling ke mana-mana. Hingga saat melihat air yang jernih timbul pikiran untuk merendam tubuhku dan otak biar gak pusing memikirkan masalah yang menimpaku. Dengan pakaian yang masih melekat celana hotpants dan kaos oblong, Aku masuk ke dalam air kolam menenggelamkan diri selama 2 menit lalu keluar, ambil nafas dan masuk lagi keluar lagi. Entah sampai yang ke berapa saat tiba-tiba pikiran jadi terasa kosong. Aku seperti orang tidur di atas kasur balok es.
"Kia!!" Teriakan seseorang dan tanganku yang tertarik ke atas, membuatku sedikit kaget hingga aku merasa dipaksa untuk minum air kolam. Aku merasa badanku ada yang mengakat, dan suara jeritan mama membuatku langsung membuka mata.
"Ya Allah Kia, apa yang kamu lakukan nak!"
Ugh ugh ugh "Apa yang terjadi ?" Tanyaku sambil melihat sekeliling, nampak papa dan mama terlihat cemas, serta Raka yang bajunya juga basah menatap kuatir kearah ku.
"Apa yang Kia lakukan ?" Tanya mama , bukannya menjawab pertanyaanku malah balik bertanya.
__ADS_1
"Lihat air kolam jernih Kita tiba-tiba ingin berendam, menenggelamkan kepala biar sedikit adem. Tapi setelah beberapa kali melakukan pelatihan pernapasan di air tiba-tiba aku meresa ngantuk. Kia merasa tidur di atas balok es yang dingin,tapi nyaman."
"Ya Allah Kia kamu tenggelam badanmu mengapung, seperti orang bunuh diri!" Ucap Raka membuat kepalaku pusing.
Aku tenggelam, aku bunuh diri tidak mungkin ! Aku tidak mungkin melakukan itu, aku punya agama aku punya tuhan."
"Kia, Kia!" Suara Raka , mama dan papa terdengar mulai hilang saat aku merasa mataku mulai berat untuk di buka. Badanku terasa lemas,mataku susah untuk dibuka. Tapi aku masih bisa mendengar semua suara dan merasakan saat badanku di bopong di bawa ke kamarku.
"Ayo kita keluar biar mama mengganti baju Kia. Kamu sebaiknya juga ganti baju, papa akan ambilkan bajunya Arvin buat kamu ganti!"
"Baik pa."
"Mas jangan lupa hubungi Fino atau Cantika,suruh kesini!"
"Iya."
"Apa yang kau lakukan sampai begini. Pasti kamu terbebani dengan berita yang beredar."
Aku merasakan badanku hangat saat mama membalurkan minyak kayu putih ke seluruh tubuhku. Mataku perlahan aku buka,"Ma!"
"Iya sayang, apa yang Kia rasakan ?"
"Ngantuk ma,Kia capek."
"Badan Kia tidak ada tenaga buat digerakkan ma."
" Tidak apa-apa, Kia harus percaya apapun yang terjadi papa, mama kami semua ada buat Kia. Jangan merasa malu, jangan merasa bersalah segala sesuatu pasti ada hikmahnya."
Aku hanya mengagukkan kepalaku, hingga pintu kamarku terbuka.
"Apa yang terjadi ?"
"Raka dan Fian menemukan Kia mengapung di dalam air. Tapi Kita bilang saat di berendam dia merasa ngantuk,lau tertidur di balok es yang nyaman." Jelas mama yang masih bisa aku dengar dengan jelas.
"Dia hanya shock, tidak apa-apa. Apa yang Kia rasakan ?"
"Ngantuk om."
"Ya udah sekarang Kia tidur, ya istirahat."
"Iya om."
"Ayo kita bicara di luar." Ucap om Fino sambil merangkul mama ke luar kamar, habis itu aku langsung tertidur.
"Bagaimana Kia,?"tanya Fian yang berjalan diikuti Raka.
__ADS_1
"Kita bicara sambil duduk."
Setelah duduk semua, Fino memperhatikan Raka sebelum mulai bicara. "Apa kamu siap membantu ponakan ku untuk bangkit menghadapi tekanan dari masyarakat ?"
"Siap om."
"Secara fisik badannya tidak apa-apa hanya lemas, mungkin karena kehilangan nafsu makan. Tapi ucapan-ucapan yang di dengarnya memberikan tekanan tersendiri buat Kia, jika masalah ini di biarkan aku kuatir stres berat berujung depresi."
"Ya Allah,"ucap Alfi sambil menangis.
"Merasa sedih, murung, suasana hati kosong dan perasaan gelisah. Kehilangan energi, perasaan letih, lemah, lesu. Perubahan nafsu makan. Itu yang sekarang dialami Kia dan itu mengarah ke depresi. Sebisa mungkin jangan biarkan dia sedih, ajak dia bicara biar pikirannya tidak kosong. Usahakan untuk tidak mendengarkan kalimat-kalimat yang memojokkan nya, atau membuat suasana hatinya buruk."
"Tadi di kantor Kia habis membanting seorang karyawan laki-laki karena ucapannya yang merendahkan Kia."
"Terus apa yang terjadi pa?"
"Dia bukan karyawan papa, tapi papa sudah langsung menemui pimpinannya. Pimpinannya mempersilahkan untuk di proses secara hukum."
"Pa bagaimana kalau kami menikah saja, tidak perlu resepsi mewah yang penting sah di mata agama dan negara."
"Aku setuju usulanmu,"ucap Fino.
"Assalamualaikum!" Ucap Arvin sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
"Walaikumsalam."
"Wah ramai pada ngumpul tumben ni, ada apa?" Ucap Arvin sambil duduk di samping Raka.
"Papa dan mama setuju, sebaiknya kamu segera pulang dan bicara dengan kedua orang tua mu. Mengenai masalah tuntutan biar Ari yang urus."
"Baik pa,aku pulang dulu." Setelah mengucapkan salam Raka langsung keluar.
"Ada apa pa, tuntutan apa ?"
"Kia tadi membanting seorang lelaki dan berujung Raka menghajar lelaki itu sampai babak belur."
"Tunggu sebenarnya apa yang terjadi?"
"Nanti kamu akan tahu,aku pulang dulu. Ini vitamin dan obat penenang dosis rendah tebus di apotik. Jangan di berikan kalau kondisi Kia baik-baik saja cukup vitamin. Tapi kalau terlihat gelisah, pandangan kosong dan susah tidur baru berikan !"
"Pa,ma apa yang terjadi ?" Tanya Arvin setelah Fino pergi.
"Nanti mana ceritakan,mama mau lihat kondisi Kia dulu."
"Papa ikut ma,Arvin sebaiknya kamu ke apotik tebus obat !" Ucap Fian sambil menyerahkan resep obat ke Arvin , sebelum mengejar Alfi.
__ADS_1