
Beberapa hari kemudian, Axel, Afifah, Alexa dan Andi pergi ke butik untuk memesan gaun pengantin. Yah mereka pergi ke butik yang di rekomendasikan oleh Aulia.
Tempatnya sangat luas, rapi, bersih dan juga wangi. Bahkan mereka sampai betah berlama-lama di butik itu.
Mereka memilih baju pengantin yang di pajang di butik itu namun karena gak sesuai yang di inginkan oleh Alexa. Akhirnya Alexa meminta untuk si buatkan aja sesuai rancangan Alexa sendiri.
Gaun yang Alexa pakai nantinya akan sama persis dengan apa yang di pakai oleh Afifah. Begitupun dengan Andi dan Axel.
Yang mengukur tubuh Afifah dan Alexa, seorang perempuan yang memang sudah profesional begitupun dengan Andi dan Axel, yang mengukur tubuh mereka adalah pegawai laki-laki yang juga sudah sangat terlatih. Karena butik itu akan selalu memberikan yang terbaik buat pelanggan nya. Maka tak heran jika harga baju di sana sangatlah fantastis.
Setelah selesai mengukur baju buat di pakai saat menikah nanti. Axel mengajak Afifah, Alexa dan juga Andi makan bersama sebelum pulang.
Mereka mampir di kafe, mereka duduk di ruang VVIP.
Tak lama kemudian, pelayan datang sambil membawa buku menu makanan.
"Aku pesan pisang goreng sama roti bakar aja," ujar Andi.
"Aku siomay sama Nachos," kata Alexa.
"Aku Onion Ring dan Chicken Fingers," ucap Axel.
"Aku Crispy Chicken sama Omelette Mie," ujar Afifah.
"Minumannya?" tanya pelayan sambil mencatat semua pesanan mereka.
"Aku ice blend strawberry javachip," ucap Andi
"Aku chocolate milkshake," jawab Alexa.
"Aku avocado juice," ujar Axel
"Aku french vanilla tea," kata Afifah tersenyum ramah kepada pelayan yang mencatat makanan dan minuman yang mereka pesan.
"Baiklah, 10 menit lagi, makanan dan minuman akan segera di antarkan," ujar pelayan ramah lalu pergi meninggalkan mereka berempat.
Sambil nunggu makanan, mereka pun saling ngobrol satu sama lain.
"Gimana jualan kamu Afifah?" tanya Alexa.
__ADS_1
"Alhamdulillah berjalan lancar," jawab Afifah tersenyum.
"Syukur Alhamdulillah," ujar Alexa senang mendengar jawaban Afifah.
"Gak nyangka ya, bentar lagi kita akan jadi saudara ipar," lanjut Alexa.
"Hehe iya," jawab Afifah yang bingung mau jawab gimana. Ia merasa sungkan berada di antara Axel, Alexa dan juga Andi.
Gak lama kemudian, pelayan datang membawa makanan dan minuman yang tadi mereka pesan.
Pelayan itu menaruh makanan dan minuman di atas meja, "Silahkan di nikmati," ujar pelayan dengan senyuman yang sangat ramah.
"Iya, terimakasih ya mbak," ujar Alexa yang tak kalah ramahnya.
Setelah pelayan pergi, barulah mereka menikmati makanan yang ada. Namun tiba-tiba Afifah merasa sangat mual sekali.
Huek ... huek ....
Afifah segera keluar pergi ke toilet dan memuntahkan makanannya. Entah kenapa Afifah merasa mual mencium makanan yang ia pesan. Padahal biasanya Afifah sangat menyukai makanan tersebut.
Axel segera menghampiri Afifah takut jika Afifah kenapa-napa.
"Enggak kog. Mungkin aku hanya masuk angin saja," jawab Afifah sambil berkumur-kumur.
"Kita pulang aja ya," ujar Axel.
"Tapi gimana dengan makanannya?" tanya Afifah.
"Biar Andi dan Alexa yang urus," jawab Axel.
"Baiklah. Aku juga ingin istirahat, rasanya tubuhku gak enak," ujar Afifah yang memang merasa pusing sekali.
"Bentar ya, aku mau menemui Alexa dan Andi dulu," ujar Axel yang langsung pergi menemui saudara kembarnya dan calon saudara iparnya itu.
Afifah mengangguk.
Andi segera pergi ke ruang VVIP tadi.
"Alexa, Andi," panggil Axel.
__ADS_1
"Ada apa kak?" tanya Alexa.
"Aku dan Afifah akan pulang lebih dulu soalnya Afifah lagi gak enak badan," jawab Axel.
"Oh gitu, iya udah gak papa kak. Salam ya buat Afifah, nanti makanannya biar aku yang urus," ucap Alexa tersenyum.
"Terimakasih ya,"
"Iya kak sama-sama,"
"Aku pulang dulu. An, aku pulang dulu. Maaf ya gak bisa nemenin kalian sampai akhir," ucap Axel tak enak hati.
"Iya gak papa santai aja," ujar Andi tersenyum.
Lalu setelah itu, Axel pun pergi menemui Afifah. Axel membantu Afifah pergi menuju parkiran di mana mobilnya berada.
Sedangkan Andi dan Alexa di dalam ruangan menikmati makanannya. Alexa juga meminta pelayan untuk membungkus makanan Axel dan Afifah karena jika di biarkan, nanti akan di buang oleh pihak kafe. Jadi sangat di sayangkan, jika makanan yang bahkan belum di sentuh harus di buang secara sia-sia.
"Mas, apa kamu gak curiga sama Afifah?" tanya Alexa setelah ia selesai makan. Namun mereka berdua gak langsung pulang. Melainkan masih duduk santai sambil ngobrol.
"Curiga? Curiga kenapa?" tanya Andi yang gak faham dengan jalan fikiran Alexa.
"Apakah menurutmu Afifah hamil?" tanya Alexa yang membuat Andi ketawa.
"Hahaha kamu lucu. Gimana ceritanya Afifah hamil sedangkan dia aja belum nikah," ujar Andi yang merasa lucu karena bagaimana mungkin orang bisa hamil jika dirinya belum nikah dan belum hubungan badan dengan orang lain.
"Soalnya beberapa hari terakhir, Kak Axel seringkali mimpi seorang bayi dan tadi aku lihat Afifah mual-mual saat mencium bau makanan, kayak orang lagi hamil," ujar Alexa.
"Jangan berfikir negatif. Gak baik. Aku juga pernah mimpi bayi kembar tapi bukan berarti kamu lagi hamil kan. Dan Afifah tadi mual, Ming karena sedang masuk angin saja," jawab Andi yang selalu berfikir positif.
"Hemmm entahlah aku bingung. Hanya waktu yang bisa menjawab semuanya," ujar Alexa menghela nafas.
Setelah selesai makan, Andi membayar semua makanan yang telah mereka pesan. Lalu mereka pulang, tak lupa Alexa membawa makanan yang ia bungkus tadi.
Karena mobilnya di bawa oleh Axel sedangkan tadi mereka ke sini numpang di mobil Axel. Mau gak mau akhirnya Andi dan Alexa terpaksa naik taxi. Di tengah perjalanan, Alexa meminta sopir taxi berhenti. Dan Alexa memberikan makanan yang ia pegang buat pengemis yang ada di pinggir jalan.
Setelah itu mereka lanjut lagi untuk pulang ke rumah Alexa karena mobil Andi ada di sana.
Tadi saat berangkat ke butik, tadinya Andi mau pakai mobil sendiri bersama Alexa tapi Axel meminta mereka untuk semobil dengannya dan juga Afifah. Hingga mau gak mau, Andi pun mengalah dan menitipkan mobilnya di rumah Alexa.
__ADS_1