Cinta Dalam Diam

Cinta Dalam Diam
Axel Sedih Liat Afifah Terbaring Lemah


__ADS_3

Axel sampai di rumah sakit, ia segera menanyakan ruangan mana Afifah di rawat. Setelah tau, ia segera berlari ke ruangan yang ada di lantai dasar dan di ruangan VVIP nomer 5.


Memang tadi setelah dari ICU, Alexa langsung memindahkan Afifah ke ruangan VVIP karena Afifah sudah melewati masa kritisnya dan tinggal nunggu dia sadar aja.


Setelah menemukan ruangan nomer 5, Axel langsung membuka pintu itu.


"Alexa?" panggil Axel saat ada Alexa yang duduk di kursi samping Afifah yang masih belum sadarkan diri.


"Kak Axel." ucap Alexa sambil bangun dari tempat duduknya.


"Gimana keadaan Afifah?" tanya Axel.


"Dia masih belum sadar kak." jawab Alexa.


"Apa lukanya sangat parah?" tanya Axel.


"Iya tapi untungnya gak sampai mengenai organ-organ pentingnya. Afifah juga sudah melewati masa masa kritisnya. Dia belum sadar karena masih di bawah pengaruh obat. Kakak jaga dia ya, aku masih harus kerja lagi, gak enak sama yang lain." ucap Alexa. Axel hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.


Setelah itu Alexa segera pergi untuk bekerja lagi, tadi ia terpaksa meminta rekan kerjanya untuk menangani pasien yang lain karena Alexa harus menunggu Afifah sampai Axel datang.


Sedangkan Axel duduk di samping Afifah. Ia gak berani megang tangan Afifah. Axel hanya diam memperhatikan wajahnya yang sedikit pucat.


Hingga beberapa jam lamanya, Afifah tetap saja belum juga sadar sampai adzan dhuhur berkumandang. Axel segera ambil wudhu dan sholat di samping Afifah. Ia sholat dengan sangat khusu' sekali. Axel juga tak lupa mendoakan Afifah.


Selesai sholat, Axel juga mengambil Al-Qur'an yang kebetulan ada di ruangan itu. Axel membacanya dengan suara merdu.


Namun tak lama kemudian, Alexa datang membawa makanan dan minuman.


"Kak, makan dulu ya. Ini sudah waktunya makan siang." ucap Alexa.

__ADS_1


"Aku gak selera makan." ujar Axel sedih sambil menaruh Al-Qur'an nya di tempat semula.


"Kalau Kak Axel gak mau makan, maka aku akan bilang ke Afifah agar ia menjauhi kakak." Ancam Alexa yang membuat Axel mendesah, "Baiklah, aku mau makan."


Setelah itu mereka berdua pun makan di ruangan Afifah. Selesai makan, Alexa pamit mau jemput Ayunda di sekolahnya. Sedangkan Afifah, ia titipkan ke Dokter Andi.


"Kak, aku mau jemput Ayunda dulu ya." pamit Alexa.


"Iya." jawab Axel tanp menoleh ke arah Alexa. Axel hanya fokus menatap wajah Afifah yang masih memejamkan mata.


"Iya udah aku berangkat dulu, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Setelah itu Alexa langsung pergi menuju ruangan Andi untuk menitipkan Afifah, calon saudara iparnya.


Alexa mengetuk pintu ruangan Andi, namun gak ada jawaban. Hingga akhirnya Alexa membuka pintunya dengan perlahan. Namun Alexa mendapati Andi sedang tidur siang di kursinya. Alexa tau, Andi pasti capek banget karena sejak tadi pagi sampai jam 11 siang, Andi sibuk banget melayani pasien yang datang tiada henti.


"Alexa, kamu di sini?" tanya Andi terkejut karena gak biasanya Alexa mau pergi ke ruangannya.


"Iya, Dok. Maaf aku buka pintu gitu aja. Soalnya tadi aku udah ngetuk pintu beberapa kali tapi gaknada jawaban, jadi aku langsung masuk aja." Alexa menjelaskan karena takut Andi salah faham. Sedangkan Andi hanya tersenyum mendengarkan penjelasan Alexa.


"Iya gak papa, santai aja. Kamu ada perlu sama aku?"


"Iya, tadi pagi ada korban tabrak lari. Di ruangan VVIP nomer 5, dan sebenarnya dia sudah melewati masa kritisnya ninggal nunggu sadarnya aja. Saya minta tolong agar nanti Dokter Andi memeriksanya saat Afifah sadar nanti."


"Kamu mengenali pasien itu?"


"Iya dia calon saudara ipar saya. Orang yang sangat di cintai oleh Kak Axel."

__ADS_1


"Baiklah nanti aku akan ke sana untuk memeriksanya. Kamu sendiri mau kemana?"


"Aku mau jemput Ayunda, mau bawa ke sini pagi. Soalnya di rumah gak ada siapa-siapa. Aby dan umy belum pulang." jawab Alexa.


"Oh gitu. Oh ya aku mau nanya sesuatu boleh?"


"Mau nanya apa?"


"Tadi malem Edwin ke rumah kamu. Maksudku ngajar les adek kamu?" tanya Andi karena dirinya kemaren nelvon Edwin gak di angkat, chat gak di bales.Bahkan Andi ke kosan Edwin tapi gak ada orangnya.


"Enggak. Dia cuma chat gak bisa datang karena ada urusan. Dan setelah itu dia langsung Offline " jawab Alexa.


"Dokter Andi tau dia ada urusan apa?" tanya Alexa. Tadi pagi dia mau nanya masalah Edwin kepada Andi tapi malu dan sekarang, Andi membahasnya terlebih dahulu dan itu di manfaatkan buat Alexa menanyakan perihal Edwin.


"Enggak. Karena aku sendiri juga gak tau dia ada dimana. Aku nelvon gak di angkat, chat gak di bales. Bahkan aku ke kosan dia tapi dia gak ada." jawab Andi jujur.


"Oh gitu, kira-kira dia kemana ya?" tanya Alexa pada dirinya sendiri namun Andi masih mendengarnya.


"Kamu terlihat sangat khawatir sekali? Kamu menyukai Edwin?" tanya Andi.


"Enggak. Aku cuma bingung aja dia kemana? Soalnya Mas Edwin kan, guru lesnya Ayunda. Kalau dia ada urusan terus dan gak bisa di hubungi lalu bagaimana nasib adek aku. Apakah aku harus mencari penggantinya atau gimana?" Elak Ayunda karena ia tak mungkin menjawabnya dengan jujur bahwa Edwin sudah berhasil memporak-porandakan hatinya.


"Iya udah, aku jemput Ayunda dulu ya." pamit Alexa, ia ingin segera pergi dari ruangan Andi sebelum Andi bertanya lebih lanjut lagi.


"Iya, kamu hati-hati di jalan."


"Iya, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."

__ADS_1


Setelah itu, Alexa langsung pergi menjemput adiknya. Ia tak ingin adiknya menunggu dirinya terlalu lama.


__ADS_2