
"Aku mau mengantarkan Clara ke bandara habis ini?"
"Memang Clara mau pergi kemana ?"
"Kembali ke Singapura lah kan pendidikan S2 nya masih setahun lagi baru selesai."
Raka hanya mengaguk Sambil menyesap kopinya. "Bagaimana kalau resepsi pernikahan di percepat saja?"
"Mas mamaku dan mama mu sudah mempersiapkan 5 bulan lagi, jangan bikin mereka kelabakan dengan kelakuan mu."
"Kalau begitu aku akan bilang ke Stevi kalau kamu istriku!"
"Haha kamu tidak bisakah bersikap lebih tegas dengan Stevi, kamu bisa menolaknya dengan bersikap tegas padanya." Raka selalu mengeluh dengan sika agresifnya Stevi, meskipun Leora dan beberapa mantannya agresif tapi tidak ada yang seagresif Stevi.
Bahkan sudah seminggu hampir tiap malam Stevi ke sini, aku sebenarnya sudah muak melihatnya. Setiap dia kesini Raka akan masuk ke kamar atau masuk ruang kerjanya tanpa menemuinya. Bahkan saat pintu tidak kami buka ,dia akan masuk bersama kedatangan Raka esoknya. Membuatku menebak kalau dia memang sengaja menunggu kedatangan Raka.
"Aku hanya kasihan kalau harus bersikap kasar dengan perempuan itu."
"Ingat tegas dan kasar itu berbeda Lo, gunakan otak pintar mu untuk bisa membedakan itu. Masa lulusan S2 seorang dosen, wakil CTO dan calon wakil direktur rumah sakit besar masak otaknya tumpul."
"Siapa bilang otakku tumpul , otak ku yang kecil ini bisa mengeluarkan ide-ide cemerlang yang kamu tidak tahu."
"Kalau begitu tunjukkan,sini aku taruh piring kotor di wastafel karena aku mau ke bandara sekarang !"
"Aku ikut !"
"Kamu mau ikut ke bandara ?"
"Tidak! Aku cuma mau keluar bersama dengan istriku tersayang !" Ucap Raka membuatku memutar bola mata malas. Entah kenapa sejak aku memutuskan menerima Raka dan pernikahan kami, dengan memberikan kehormatan ku pada Raka menjadi pribadi yang berbeda. Tidak hanya mesum, tetapi juga manja dan alay menurutku.
"Hai selamat pagi Kia, mas Raka !" Sapa Stevi saat kami membuka pintu.
"Pagi!" Jawabku dan Raka yang langsung cemberut.
"Mau berangkat kerja mbak ?" Tanyaku basa-basi sambil berjalan ke arah lift.
"Iyalah kalau gak kerja gak bisa makan aku," candanya.
"Bisa saja kamu mbak."
"Mas Raka mau kerja ya? Bisa nebeng gak mobilku lagi di bengkel !" Aku hanya tersenyum tipis melihat kegigihan Stevi mendekati Raka. Aku tidak menyangka ternyata Stevi, punya tekad yang keras juga pantang menyerah.
__ADS_1
"Maaf aku mau mampir ke rumah orang tuaku untuk mengambil berkas buat melengkapi sarat nikah kami di KUA!"
"Mas mau nikah ? Dengan siapa?"
"Tentunya dengan wanita yang tinggal satu apartemen denganku. Tidak mungkin aku tidur dengan siapa ,nikah dengan siapa !"
Aku hanya bisa melongo dengan ucapan Raka, sebelum menarik nafas kasar mendengar ucapan Raka. Apa tidak ada cara yang lebi baik dalam mencari alasan. Kalau kaya begini kan terkesan kami pasangan kumpul kebo, punya suami dosen kenapa bisa jadi tumpul begitu otaknya.
"Kalian kumpul kebo?" Ucap Stevi sambil melihat kearah ku dan Raka bergantian. Bener Kan dugaan ku, dasar suami sableng.
"Wajar sih sekarangkan jaman modern, aku sendiri juga sudah tidak virgin."
"Uhuk ukhuk." Aku langsung batuk mendengar ucapan Stevi, sedangkan Raka malah melotot.
"Biasa saja kali gak usah kaget, seperti kalian aku juga sama. Tapi sayangnya kami putus, kekasihku lebih memilih menikah dengan sahabatnya. Berati dugaanku di awal kalau kalian kakak beradik salah dong?"
"Aku duluan !" Ucapku langsung keluar begitu lift terbuka. Tanpa menjawab pertanyaan Stevi, yang bisa berlanjut ke mana-mana jika di ladeni.
"Sayang tunggu !"
"Gila, gila gila." Ucapku begitu aku masuk ke dalam mobil di ikuti Raka.
"Aku ikut kamu saja dari pada harus bareng wanita gila itu. Aku yang bawa mobilnya awas." Kami langsung bertukar posisi di dalam mobil.
"Terus nanti kamu nebeng papa ke kantor ?"
"Itu lebih baik, aku rasa!"
"Aku kok jadi ragu kalau kamu itu dosen. Tidak ada dosen yang cara berpikirnya sempit seperti kamu! Bukannya cari alasan yang benar, malah membuat alasan yang menyesatkan."
"Tidak apa-apa semoga setelah ini Stevi bisa mundur teratur, setelah tahu kita mau menikah. Sesuai permintaanmu ,aku tidak mengungkapkan pernikahan kita !"
"Kalau dia semakin berani bagaimana ? Tidak masalah sebelum janur kuning melengkung, jika prinsip dia begitu bagaimana ?" Ucapku membuat Raka langsung menghentikan mobil kami.
"Hai mas bawa mobil yang bener dong masa berhenti mendadak!" Ucap seorang pengendara motor yang berada di belakang kami. Meski tidak sempat menabrak mobilku ,aku yakin dia juga terkejut dengan kelakuan Raka.
"Maaf mas maaf !" Ucap Raka sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di dada.
"Jalan mas!"
"Iya. Itu dulu istilah yang aku gunakan untuk mendekatimu. Kenapa sekarang kamu gunakan untuk Stevie?"
__ADS_1
"Aku kan bilang kalau," kesalku.
"Iya ya kamu kan tadi bilang kalau. Memang benar kata orang jatuh cinta kadang bikin bodoh dan sekarang aku mengalaminya." Ucapnya dengan cengengesan.
"Udah mas tutup mulutmu, ucapanmu cuma bikin aku emosi !"
"Emang apa salahku, kenapa kamu emosi ?"
"Mas bisa diam gak!"
"Haha iya ya sayang maaf mas hanya bercanda."
Daripada mendengar dan melihat Raka,aku sumpel kupingku pakai headset dan ku pejamkan mataku.
Aku menyanyi mengikuti alunan musik yang terdengar di headset ku, sambil menutup mataku. Sampai tiba-tiba aku merasakan ada yang mendorong kursi mobilku sedikit kebelakang. Saat aku membuka mata kulihat wajah Raka sudah di depan ku. Belum sempat aku menjawab Raka sudah melahap bibirku, mengeksplor seluruh isi di dalamnya sampai aku kehabisan nafas.
Plak" Aku nggak bisa nafas Mas!" Kesalku setelah ciuman kami terlepas dengan aku yang memukulnya.
"Salah sendiri nyanyi sendiri, aku di cuekin. Rapikan kembali lipstik mu yang belepotan sebelum keluar." Ucap Raka sambil tersenyum dan berjalan keluar sebelum mengambil tisu, yang ada di atas dashboard mobil.
"Raka mesum gak kenal tempat." Gerutuku sambil mengambil lipstik dari dalam tas kecil ku.
To. Clara ✉️
Gw di rumah papa mama, kalau sudah siap kabarin.
Setelah memasukkan ponsel ke dalam tas, aku segera masuk ke dalam rumah.
"Kamu sanggup kerja di 3 tempat sekaligus ?" Papa bertanya sama siapa ?
"Sanggup pa! Aku jadi Dosen hanya Jumat, Sabtu. Sedangkan untuk rumah sakit aku hanya belajar, buat berjaga-jaga. Seperti kaya sekarang papa yang tidak pulang-pulang dari Australia, atau kalau Satria ada kepentingan lain."
Raka mau kerja di 3 tempat sekaligus, kenapa tidak cerita padaku?
"Jangan capek-capek Mas, ntar calon ponakanku tidak jadi-jadi. Apa jangan-jangan kamu belum belah durian Ya? Makanya mau menyibukkan diri dengan pekerjaan?"
"Enak saja sudah ya, sebelum berangkat ke Aus aku sudah belah duren." Ucap Raka yang disambut tawa oleh papa dan Arvin.
"Assalamualaikum !" Ucapku sambil berjalan masuk seolah tidak mendengarkan obrolan mereka.
"Walaikumsalam!"
__ADS_1