
Ara mengamati dirinya di cermin. Seulas senyuman mengembang di wajah ayunya.
Ara terlihat begitu cantik dengan balutan make up yang tertata rapi di wajahnya. Rambut panjang hitamnya yang tergerai lurus terlihat sangat elegan, semakin di permanis dengan jepitan berwarna merah cabe yang menghiasi rambutnya, senada dengan warna baju yang ia kenakan sore hari itu.
"Nggak sabar pengen ketemu Afi," gumam Ara.
Ya, alasan Ara kenapa dia berpenampilan lain dari biasanya karena dia diajak jalan-jalan oleh Afi naik sepeda mengelilingi taman kota. Sudah terbayang betapa menyenangkannya, bukan? Apalagi bersama orang yang begitu Ara cintai.
Ara menghampiri Ridwan yang duduk santai sembari sibuk dengan gawainyaa di ruang tengah.
"Abang Ridwan."
"Hem." Ridwan menjawab seadanya, tanpa melihat Ara yang sudah berdiri di hadapannya.
"Ara pamit mau keluar dulu, ya!"
"Mau ke ma ...." Ridwan tak meneruskan ucapannya. Matanya menatap takjub sang adik yang berpenampilan begitu cantik sore itu.
"Subhanallah! Cantik bener adek abang ini." Ridwan menggeleng-gelengkan kepalanya sembari memperhatikan Ara dari ujung rambut sampai kaki. Hal itu semakin membuat Ara tersipu malu.
"Jangan gitu lah, Bang. Kan, Ara jadi malu."
"Mau ke mana emangnya?"
"Mau jalan-jalan bentar, Bang."
"Sama siapa?"
"Sama Afi."
Mendengar nama Afi disebut, Ridwan tersenyum. Sepertinya dia mengerti bagaimana perasaan adiknya kala itu.
"Ciye ... yang mau jalan-jalan sama ... ehhemm," goda Ridwan, membuat Ara semakin dibuat salah tingkah.
"Apa, sih, Bang. Kayak baru pertama kali aja denger kalau Ara mau jalan-jalan sama Afi."
"Ya, jalan-jalannya emang bukan pertama kali. Cuma liat kamu berpenampilan gini pas lagi mau jalan sama Afi baru pertama kali ini kayaknya." Kelewat gemas, Ara mencubit lengan Ridwan.
"Aw! Sakit tau, Dek," ringis Ridwan sambil memegangi lengannya yang sakit.
"Biarin! Siapa suruh goda-godain Ara," sahut Ara memanyunkan bibir merah jambunya.
"Hehe. Eh, emang udah baikan sama Afi?"
"Udah, dong," jawab Ara semangat.
"Oalah, baguslah kalau gitu. Ya udah, sana gih, berangkat! Kasian Afinya kalau kelamaan nunggu."
"Oke, Bang. Ara berangkat, ya! Abang baik-baik di rumah."
"Siap Tuan Putri. Hati-hati di jalan, Ya! Sebelum maghrib udah harus nyampek rumah."
"Iya Abangku yang ganteng." Arapun meraih tangan kanan Ridwan dan mencium punggung tangannya.
"Ara pergi dulu, Bang. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Ara pun berlalu pergi.
"Bocah kalau lagi kasmaran begitu tuh. Ara ... Ara," ucap Ridwan.
***
Afi sudah bersiap-siap untuk berangkat. Kebetulan jarak antara rumah dan taman kota tak terlalu jauh. Keadaan alam yang memang sedikit mendung tak menyurutkan semangat dan niatnya untuk pergi. Karena dia tahu, Ara sudah pasti menunggunya.
Sambil bersenandung ria. Afi terus menggoes sepedanya. Entah kenapa dia terlihat begitu bahagia sore itu. Terbayang betapa cerianya Ara ketika bisa bersepeda bersamanya.
***
Ara sudah sampai ke tempat tujuan. Wajah sumringahnya terpancar begitu jelas.
Sembari menunggu kedatangan Afi, Ara pun memutar musik dari gawainya. dan ikut bernyanyi.
"Sesungguhnya dia ada di dekatmu, tapi kau tak pernah menyadari itu. Dia selalu menunggumu, untuk nyatakan cinta.
Sesungguhnya dia adalah diriku, lebih dari sekedar teman dekatmu, berhentilah mencari. Karena kau telah menemukamnya."
Lagu yang berjudul 'Akulah Dia' yang dipopulerkan oleh Grup Band ternama 'Drive' menjadi lagu favorit Ara. Sebuah lagu yang seakan menggambarkan suasa hati Ara selama ini.
Suara merdu Ara yang terdengar merdu pun seakan menghipnotis pejalan kaki yang lalu lalang lewat di hadapannya. Beberapa komentar positif terdengar dari mulut mereka. Ara yang memang dikenal ramah pun menanggapinya dengan senyuman juga dengan ucapan terima kasih.
Hampir satu jam sudah Ara menunggu. Namun, Afi tak kunjung datang. Wajah Ara yang tadinya sumringah perlahan mulai meredup. Senada dengan keadaan alam yang semakin tertutup kabut hitam.
"Afi mana, sih! Kok belum dateng-dateng juga. Mana kayaknya mau hujan lagi," gerutu Ara yang mulai bosan menunggu.
Ara mengedarkan pandangannya, mencari sosok Afi yang dinantinya dengan perasaan gelisah. Akahkah Afi kembali mengecewakan Ara? Kenapa tak juga terlihat batang hidungnya? Apakah dia sudah lupa bahwa dia menpunyai janji terhadap Ara?
Gerimis mulai datang menyapa, membasahi helaian demi helaian rambut Ara yang tergerai.
Perlahan, gerimis pun berubah menjadi hujan. Semakin deras dan semakin deras. Dilema kembali menggerayangi Ara. Haruskah dia bertahan dengan penantiannya, atau pergi tanpa Afi?
***
__ADS_1
Ridwan tampak gelisah, mondar-mandir seperti setrikaan panas, sambil terus mengarahkan pandangannya ke arah jendela.
Kegelisahan itu dikarenakan hujan di luar turun cukup deras. Sedangkan Ara tak kunjung pulang.
Ridwan beberapa kali mencoba untuk menghubungi Ara. Namun, tidak aktif. Hal itu membuat rasa khawatir Ridwan semakin memuncak.
"Ya ampun, Ra. Kamu kemana, sih! Udah tau hujan bukannya langsung pulang." Ridwan mengoceh sendiri, sambil terus melihat ke luar jendela.
Tak lama setelah itu, dia mengambil handphone yang berada di atas meja. Kembali menekan beberapa nomor menghubungi seseorang.
"Hallo, Fi. Rara sama kamu nggak?" tanya Ridwan pada Afi di balik telepon.
"...."
"Apa? Kok bisa, sih?"
"...."
"Ah, kamu emang nggak becus jaga Ara! Pokoknya kalau sampai terjadi sesuatu sama Ara, kamu adalah orang pertama yang bakal aku hajar." Ridwan langsung menutup teleponnya, tanpa mau mendengarkan penjelasan Afi di balik telepon.
"Kamu ke mana, sih, Ra?! Jangan bikin abang khawatir. Tau gini, aku nggak bakal ngizinin dia pergi tadi," ucap Ridwan pada dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, pintu utama terbuka. Menyadari ada orang yang masuk ke rumahnya, Ridwan menoleh cepat. Dan ....
"Ara!" Ridwan terperanjat kaget.
Ya, orang yang datang itu adalah Ara. Adik yang begitu Ridwan jaga dan sayangi. Dia datang dengan keadaan yang basah kuyup. Matanya terlihat sembab, dengan air mata yang mengalir deras dari bola matanya, membaur dengan air hujan yang membasahi sekujur tubuhbya. Ridwan pun langsung menghampiri Ara.
"Ya Allah, Ra. Kamu dari mana aja? Hujan-hujanan lagi!" tanya Ridwan cemas.
Ara hanya diam, menatap Ridwan nanar. Air matanya meluruh.
"Ra. Kok nangis? Kamu kenapa?" Ridwan bertanya khawatir. Namun, Bukannya menjawab, Ara langsung menghamburkan tubuh mungilnya dalam dekapan hangat sang kakak, memeluk Ridwan erat.
Tangis Ara semakin menjadi dalam dekapan Ridwan. Ridwan pun membalas pelukan adiknya tak kalah erat.
"Kamu kenapa, Ra? Kok, datang-datangnya malah kayak gini? Afi ngapain kamu lagi?"
"Ara sayang sama Afi, Bang. Tapi Afinya nggak. Dia udah buat Ara nungguin dia di taman. Dia udah ingkar janji." Ara berucap gemetar. Bahkan, mungkin tanpa sadar telah berucap begitu.
Ridwan mendesah. Seakan ikut merasakan apa yang dirasakan Ara.
"Kenapa Afi sering ngecewain Ara, Bang? Salah Ara apa?" Ara terus meracau. Membuat Ridwan bingung harus menanggapi perkataan Ara dengan kalimat apa. Dia hanya mengelus lembut rambut sang adik yang basah.
Di luar dugaan, Ara tiba-tiba saja jatuh pingsan, saat dirinya masih dalam dekapan Ridwan. Membuat Ridwan pun kaget bukan kepalang.
"Ya Allah, Ara! Kamu kenapa, Dek? Jangan buat abang makin panik." Ridwan menepuk pipi Ara. Wajah pucat Ara semakin membuat rasa khawatir Ridwan mendominasi.
***
"Kamu ke mana, Ra? Jangan buat aku semakin merasa bersalah." Afi mengacak rambutnya frustasi. Ucapan Ridwan terus terngiang di telinganya.
"Aku emang bukan sahabat yang baik buat kamu, Ra. Terlalu sering buat kamu kecewa. Bener kata Bang Ridwan, aku nggak becus jagain kamu. Kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu, aku nggak bakal maafin diri aku sendiri," batin Afi. Gelisah, khawatir, takut, semua menyatu menjadi satu.
***
Ridwan memandang wajah Ara yang pucat, dengan beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya.
Sudah satu jam setengah ara terbaring di bankar rumah sakit, tetapi matanya tak kunjung terbuka, masih tertutup rapat. Ridwan benar-benar dikuasai oleh rasa khawatir.
Deman yang tak juga turun, padahal berbagai cara sudah Ridwan lakukan, membuat Ridwan akhirnya membawa Ara ke rumah sakit.
***
"Fi! Tunggu!" teriak Nadia, teman sekelas Afi dan juga Ara. Afi yang tengah berjalan menuju kelas, akhirnya menghentikan langkahnya dan berbalik arah.
"Iya, ada apa, Nad?" tanya Afi begitu Nadia tiba di hadapannya.
"Kamu udah denger kabar belum soal Ara?" Cewek temben dengan rambut diponi itu berucap serius. Mendengar nama Ara disebut, Afi mengenyit kaget.
"Ara kenapa?"
"Dia sakit dari kemarin sore, dan sekarang ada di rumah sakit," jawab Nadia.
"Apa? Ara dirawat di rumah sakit?" Kaget bercampur cemas menyeruak seketika itu juga. Gadis yang memang dinanti kabarnya tiba-tiba sudah terbaring sakit.
"Iya."
"Kamu tau dari siapa kabar itu?"
"Dari kakaknya."
"Bang Ridwan? Kamu ketemu Bang Ridwan di mana?"
"Tadi di depan ruang kepsek."
"Kok, Bang Ridwan nggak ngomong ke aku, ya? Biasanya kalau Ara sakit, pasti Bang Ridwan ngasih tau aku," batin Afi heran.
"Emangnya kamu nggak tau, Fi?" tanya Nadia. Afi menggeleng.
"Lah, kok, bisa? Kamu, kan, sahabatnya Ara?"
"Hemmm, dari kemarin aku telepon Ara tapi nggak diangkat-angkat. Ya, udah kalau gitu, makasih ya, informasinya. Aku mau ke rumah sakit sekarang. Aku izin telat kalau gitu."
__ADS_1
"Ya, udah. Nanti aku bilangin sama Bu Sarah."
"Makasih, Nad." Tanpa banyak berucap, Afi langsung melenggang pergi.
***
Afi berlari dengan wajah paniknya. Kaget, sedih, takut, merasa bersalah, semua membaur menjadi satu dalam perasaannya.
Dia terus berlari sampai akhirnya berhenti tepat di depan ruang UGD. Khawatir semakin mendominasi begitu melihat seseorang yang terbaring lemah tak berdaya di dalam ruangan UGD tersebut. Tak lain tidak bukan orang itu adalah Ara.
Saat Afi hendak masuk ke dalam ruangan UGD tersebut, Ridwan datang.
"Mau ngapain kamu?" Mendengar suara yang datang tiba-tiba itu, Afi pun mengurungkan niatnya untuk masuk. Berbalik badan mengarah ke arah sumber suara berasal. Ditatapnya wajah sinis di hadapannya.
"Aku mau jenguk Ara, Bang," jawab Afi yakin.
"Buat apa? Ngapain? Mau bikin Ara sedih lagi, iya?!"
"Nggak, Bang."
"Terus? Mau bikin dia kecewa?"
"Aku nggak ada niat buat Ara sedih dan kecewa, Bang. Tapi--"
"Tapi apa? Kamu nggak sadar, Ara kayak gini sekarang karena siapa? Belum puas kamu nyakitin perasaan dia?" Perih! Ucapan Ridwan benar-benar menghujam jantung Afi. Rasa bersalah semakin merajai jiwanya.
"Kemarin Ara nungguin kamu di taman sampai kehujanan. Tapi kamu ke mana? Kalau emang nggak niat buat ketemuan sama Ara, nggak usah janjian!"
"Aku bisa jelasin semuanya, Bang. Abang dan Ara udah salah paham."
"Nggak perlu! Semuanya udah jelas. Sekarang aku minta kamu pergi dari sini!"
"Tapi aku mau ketemu Ara, Bang."
"Nggak usah! Aku nggak ngizinin kamu ketemu Ara." Tatap mata Ridwan yang sinis membuat Afi tertunduk pasrah.
"Pergi!" bentak Ridwan. Akhirnya, dengan berat hati Afi pun melangkah pergi dari hadapan Ridwan.
Afi berjalan ke luar rumah sakit dengan langkah gontai, tak ada semangat. Bagaimana cara agar dia bisa bertemu dengan Ara, sahabatnya?
"Aku khawatir, Ra. Semoga kamu lekas sembuh. Aku juga berharap, kamu mau mendengarkan penjelasanku nantinya," batin Afi. Air matanya pun luruh tanpa bisa dicegah.
***
"Bang ...," panggil Ara lirih. Ridwan yang tengah tadinya sibuk mengupas buah apel beralih fokus kepada adiknya yang masih terbaring.
"Iya, Ra."
"Selama Ara dirawat di sini, Afi datang tah?" Ara bertanya polos. Mendengar pertanyaan Ara, Ridwan mendesah berat.
"Ngapain nanyain dia, sih?" tanya Ridwan.
"Cuma pengen tau aja, Bang."
"Nggak ada! Dia nggak ke sini," jawab Ridwan berbohong. Membuat raut wajah sang adik berubah sendu.
"Udah deh, sekarang kamu fokus untuk kesembuhan diri kamu, nggak usah mikirin yang lain. Nih, makan buahnya!" Ridwan berniat menyuapkan potongan buah apel kepada Ara, tetapi Ara menggeleng cepat.
"Ara nggak mau apel, Bang. Apel nggak enak!" tolak Ara.
"Terus maunya apa?"
"Eskrim," jawab Ara yakin.
"Nggak boleh, Ra. Jangan dulu. Kamu masih sakit."
"Tapi Ara pengennya eskrim Abang."
"Mulai deh. Jangan dulu, ya! Nanti kalau sembuh abang janji bakal beliin kamu eskrim yang banyak."
"Abang sama aja kayak Afi. Janji-janji doang tapi nggak ada bukti." Ara merajuk.
"Afi lagi Afi lagi. Bedalah!" sahut Ridwan.
"Kalau nggak boleh eskrim, Ara minta pulang aja! Udah nggak betah di sini. Anyep!"
"Mintanya jangan aneh-aneh bisa nggak, sih, Sayang? Kamu itu belum sembuh, masak udah minta pulang."
"Rawat jalan, kan, bisa, Bang. Ara kangen rumah."
"Iya nanti. Abang coba bicarain sama Dokternya."
"Janji ya, Bang?"
"Iya, tapi sekarang makan dulu." Ara mengangguk pasrah.
Entahlah, dalam situasi seperti itu, Ara jadi teringat Afi. Rindu lebih tepatnya. Berharap Afi akan datang menemuinya.
Afi yang biasanya sigap membelikan eskrim kalau Ara minta. Selain Ridwan, Afi jugalah yang biasa memberikan ia semangat untuk lekas sembuh.
"Sebenarnya aku kecewa, tapi rindu juga. Rasanya nggak percaya aja kalau Afi nggak datang ke sini buat jengukin aku. Apa dia nggak tau, ya, kalau aku di sini? Ah, kenapa jadi mikirin dia, sih! Belum tentu juga dia mikirin aku," batin Ara.
Jangan lupa like dan komennya ya, guys! Kalau ada kritik dan saran, silakan sampaikan :)
__ADS_1