Cinta Dalam Diam

Cinta Dalam Diam
131. Orang Tua Azkia


__ADS_3

Terlihat jelas mas Zain menahan amarahnya waktu keluar dari ruangan papa. Karena itu setelah Raka kembali ke meja kerjanya,aku langsung menemui papa untuk menanyakan apa yang terjadi.


"Zain tidak menyangka atas tindakan orang kepercayaannya tersebut, makanya dia sangat marah saat mengetahuinya. Secara gak langsung Zain merasa malu atas apa yang terjadi di divisinya."


"Apa tersangkanya sudah di ketahui ?"


"Setelah Zain meneliti hanya ada 2 tersangka, tapi Zain tidak yakin yang mana. Karena itu Zain akan menyelediki nya dan menangkap basah pelaku."


"Sepertinya bulan ini, bulan ini bulan yang tepat untuk menjebaknya. Mengingat bulan kemarin dia tidak beriaksi."


"Wah anak papa jiwa detektif nya muncul."


"Coba kalau dulu papa ijinkan aku jadi polwan, pasti bakatku tersalurkan."


"Bukan papa yang gak ngijinin, kamu saja yang gagal tes." Sinis papa membuatku langsung nyengir dan berjalan keluar.


"Pulang nanti mau bareng Raka atau papa ?" Tanya papa saat aku membuka pintu.


"Papa ada acara gak, kalau ga bareng papa aja"


"Gak , paling jemput mama doang!"


"Bareng papa saja,"ucapku sambil keluar dan meneruskan kembali pekerjaan ku, sampai jam pulang kantor.


"Maaf ya Raka hari ini Kia ada janji kencan dengan saya." Canda papa saat melihat Raka menghampiri kami.


"Ah kalau saingannya Om saya mundur teratur, menunggu jadwal kosong Kia saja." Ucap Raka membuatku melotot dan papa tertawa ngakak.


Apa mereka ini gila, apa mereka tidak tahu dinding di sini bisa mendengar. Ah gosip lagi gosip lagi, tinggal beberapa hari harus cuek saja.


"Kalian gak tahu apa dinding di sini bisa mendengar !"


"Kamu bukannya tidak peduli ya,?" tanya Raka.


"Ya meski aku tidak peduli bukan berarti, harus nambah gosip baru." Ucapku sambil menghentakkan kakiku karena kesal, sebelum berjalan meninggalkan papa dan Raka.


"Berjuang lah lebih keras, lama-lama dia juga luluh."


"Iya om."


Papa dan Raka terus ngobrol sama kami tiba di parkiran dan harus terpisah, baru mereka berhenti ngobrol.


"Perasaan adik sendiri dengan Raka bagaimana ?"


"Biasa saja."


Meskipun gw suka sama dia, sebagai seorang perempuan pantang buatku untuk bilang' aku suka dia'.


"Jika suka akui kalau suka, sebagai lelaki ada kalanya dia capek mengejar adik. Nanti adik yang nyesel Lo,"ucap papa sambil bercanda.


Apa papa tidak tahu Raka itu pernah bersikap sangat baik, hingga aku berharap lebih tapi berujung kekecewaan. Meskipun bukan salah Raka sepenuhnya, tapi aku masih ingat mengingat semuanya.

__ADS_1


"Kenapa bengong ?"


"Enggak, siapa yang bengong."


"Sana panggil mama!"


"Memang sudah sampai?" Ucapku sambil melihat kesekeliling.


"Kaya begitu di bilang bengong gak mau!"


"Apaan sih pa,"ucapku sambil berjalan keluar meninggalkan papa.


Setelah bertemu mama dan kembali ke mobil dengan mama, kami tidak langsung pulang karena mama mengajak kami belanja bulanan dulu.


"Kalau beli ikan itu pilih yang segar, tanda ikan segar itu matanya menonjol, insangnya berwarna merah, sisiknya lengkap, dagingnya kenyal, aromanya segar, dan ekornya padat." Aku hanya mengaguk saat mama mulai berceloteh,mengenai ikan segar, sayuran segar, buah segar dan haru bisa membandingkan harga.


"Papa mau lihat-lihat yang lain,"bisik papa padaku sambil menahan tawa. Aku dulu pernah komplain, mengapa harus memilih dan membandingkan harga. Mama akan bilang 'roda itu berputar. Kamu tidak akan tahu kalau Allah SWT sudah berkehendak , semua harta papa bisa diambil dalam sekejap.' Dan sampai sekarang setiap kali mama mengajak aku belanja,aku harus menebalkan telinga. Karena mama akan selalu membahas sayur, ikan dan buah tidak ada habisnya.


"Mama mau beli apa lagi?"


"Tinggal beli sabun ,sampo perlengkapan mandi emang kenapa ?"


"Buruan bau disini,"ucapku karena kami lagi di area ikan dan daging.


"Makanya lain kali pakai masker kaya mama."


"Ya udah sini masker mama buatku saja !"


Aku bisa bernafas lega setelah Mama pindah dari area ikan ke area buah dan sayuran.


"Kia lagi belanja juga !" Ucap Noval yang tiba-tiba menghampiriku, dengan pakaian seragamnya lengkap.


"Eh iya , mas Noval belanja juga ?"


"Nganterin Mama belanja bulanan,Kia sama siapa ?"


"Itu mama lagi memilih buah!"


Ucapku sambil menujuk kearah mama, dengan sopan Noval langsung mencium punggung tangan mama.


"Bagaimana kabarnya Tante ?"


"Baik, Noval sendiri bagaimana kabarnya ?"


"Allhamdullilah Tante baik."


"Noval mama cari-cari ko disini sih,"ucap mama Noval yang baru datang.


"Menyapa Kia dan mamanya ma." Mama Noval langsung melihat dari atas dan kebawah penampilan mama, yang sangat santai.


"Anda mama Kia,?" tanya sinis mama Noval.

__ADS_1


"Iya salam kenal." Ucap mama sambil menyodorkan tangan untuk berjabat tangan. Mama membalas jabatan tangan mama dengan, tatapan merendahkan.


"Bilang ke putri anda jangan mendekati anak saya, anak saya itu sudah saya jodohkan."


"Mama !" Tegur Noval dengan muka merah padam.


"Kenapa apa mama salah, kamu itu anak tunggal mama. Jadi kamu harus mendapatkan jodoh yang setara dengan kamu dan jabatan kamu!"


"Ma please Jangan bahas itu di sini. Aku yang nyamperin Kia dan menyapanya, bukan Kia!"


"Mama kan cuma memperingatkannya biar dia tidak berharap ,mentang-mentang kamu samperin nanti dia berharap kamu masih mengharapkannya!"


"Ibu tenang saja, anak saya akan saya carikan jodoh yang selevel dengan keluarga saya. Bukan dengan anak anda," ucap mama tenang.


"Apa anda tahu kelakuan anak anda di tempat magangnya?"


Mama hanya mengangkat alisnya mendengar pertanyaan dari mama Noval. "Anak anda itu suka menggoda CEO di tempat saya kerja, dia kan magang di tempat kerja saya. Memang sih CEO saya itu masih muda, masih gagah, masih ganteng tapi kan dia udah punya keluarga punya anak istri. Apa pantas anak anda menggoda istri orang."


Mama hanya tersenyum menanggapi ucapan Mama Noval, "Mama udah ya. Tante, Kia mohon maaf atas kalau mama saya." Ucap Noval tidak enak hati dengan ucapan mamanya.


"Anak saya itu urusan saya Anda tidak perlu khawatir!"


"Oh anda mendukung kelakuan anak Anda yang menggoda semua orang?"


"Mama please deh jangan bikin masalah di sini, Kia bukan gadis seperti itu Mama!"


"Kamu saja yang terlalu dibutakan oleh cinta ,kamu itu juga harus tahu kelakuan gadis yang kamu sukai ini!"


"Ada apa ini sayang ?" Tanya papa yang baru datang dan langsung memeluk pinggang mama.


"Selamat sore om, masih ingat saya?" Tanya Noval sambil mencium punggung tangan papa.


"Ingat, kamu kan teman Kia waktu di Malang."


Aku lirik mama Noval hanya diam membeku melihat papa.


"Udah selesai belanjanya ma?"


"Sudah ayo pergi!" Ucap mama yang langsung menggandeng tangan papa pergi, meninggalkan belanjaan dan aku.


"Dia..Dia?" Tanya mama Noval dengan tergagap. Aku langsung pergi mengikuti papa dan mama.


"Dia papa Kia ma,"ucap Noval yang masih bisa aku dengar.


"Kamu yakin?"


"Yakin, waktu nenek dan kakek Kia meninggal aku kan kesana. Aku sempat mengobrol ko." Itu kalimat terakhir yang bisa aku dengar dari percakapan mereka.


"Mati mama Raka, berati Kia anaknya dong?"


"Ya iyalah, pertanyaan mama aneh."

__ADS_1


__ADS_2