
"Aku tahu tempat kerjanya Stevi di sana karena waktu kamu di Australi, dia pernah nebeng aku berangkat ke tempat kerja sekali?" Jelas Raka sambil memelukku dari belakang, dengan menikmati pemandangan malam ibu kota. Sesekali di ciumnya pucuk rambutku , seperti menghirup aroma rambutku.
"Itu spa milik mamanya, sekarang dia yang mengelolanya. Ada 3 cabang di Jakarta !" Jelas Raka lagi setelah tidak ada jawaban dariku.
"Sepertinya kalian sangat saling mengenal Mas, di apartemen saja jual mahal sok menolak kalau dia datang!" Ucapku jutek.
"Dia yang cerita mas hanya mendengarkannya. Dia yang bercerita sendiri ,mas juga tidak bertanya padanya!"
"Tapi mas diam saja waktu tangan mas di tarik olehnya. Bahkan sepertinya sangat menikmati, sampai gak sadar ada aku. Tidak usah alasan tangannya terlalu erat menarik kamu, ingat kamu cowok dia cewek tentunya tenaga mu lebih kuat darinya."
"Haha kalau itu mas sengaja diam , karena melihat mukamu yang masam. Mas cuma ingin mengetahui perasaan mu pada mas. Bukannya cemburu itu salah satunya tandanya cinta ya?"
"Aku tidak cemburu cuma kesal saja tidak di anggap sama kamu!"
"Apapun alasannya mas suka." Ucapnya sambil mencium pipiku.
"Awas kaya begitu lagi aku akan tinggalkan kamu, aku akan pergi dari sisimu!"
"Tidak akan berani lagi aku melakukannya. Meski aku belum tahu kadar cintamu,tapi aku sudah senang. Ternyata setelah spa badan jadi lebih segar dan wangi ya?"
"Iya tapi tangannya bisa di kondisikan tidak. Mass kenapa dilepas sih." Kesalku saat tiba-tiba Raka melepas kaos yang aku pakai.
"Adzan ashar masih 1 jam lagi, ayo kita keluarkan keringat dulu sebelum kita mandi sore." Ucapnya yang langsung menggendong tubuhku ke tengah kasur.
"Pasti beda kali ini setelah puasa 2 Minggu, karena mas sibuk dengan berkas-berkas kerja."
Bener beda sesuai kata Raka, karena aku merasa badanku remuk semua dikerjain Raka. Sampai aku harus mengancamnya supaya berhenti.
"Ini makan dulu biar ada tenaga," ucap Raka.
"Tenaga buat apa ? Apa belum puas kamu menyerang ku dengan brutal, apa gak lihat badanku merah semua !" Ucapku dengan suara menahan kekesalanku padanya.
Raka malah tertawa terbahak-bahak mendengarkan ucapanku. "Jangan berperang sangka buruk dulu kenapa sih, sayang! Tenaga buat berjalan ke kamar mandi dan mandi. Karena aku tidak yakin jika menggedongmu ke kamar mandi, tidak akan tergoda lagi. Ayo sini aku suapi dan pakai yang benar selimutmu, jangan membuatku khilaf dan menerkam mu lagi."
" Jangan gila kamu mas!"
"Makanya sini makan terus mandi, habis ini kita ke rumah papa."
__ADS_1
"Kenapa ?"
"Mama menyuruh kita makan malam bersama dengan yang lain juga."
"Apa untuk mengumumkan tentang rujuk nya mereka, yang telah mengucapkan ijab qobul ulang ?"
"Bisa jadi, ayo makan sayang!"
"Sebaiknya mas keluar biar aku makan sendiri kalau ada kamu , aku tidak bisa makan dengan tenang."
"Aku kan cuma mau menyuapi kamu!"
"Tapi terkesan aku seperti orang penyakitan."
"Haha bisa saja kamu, kalau kamu sakit tidak akan kuat menahan serangan ku."
"Maas ! Coba mas lihat, tubuh aku di lilit selimut persis seperti orang lagi sakit?" Sontak Raka tertawa dengan memperhatikan kondisiku.
"Haha bener juga katamu. Ya sudah kalau begitu aku ke ruang kerja. Kamu habiskan makananmu, aku tidak mau kamu terlihat lemas di depan mama. Bisa di kebiri aku." Ucap Raka sambil berdiri dan mengusap kepalaku sebelum pergi keluar dari kamar kami.
"Bisa tidak untuk tidak mengganggu ku!"
"Wangi mas suka, bagaimana kalau kita masuk ke dalam kamar lagi. Tidak usah ke rumah papa."
"Boleh dengan senang hati, nanti aku akan hubungi mama dan bilang aku di karang mas Raka ke rumah papa !" Ucapku sambil melepaskan pelukannya dan berjalan duduk di sofa, untuk memakai lotion setelah mengeringkan tangan.
Raka langsung mendengus dan menarik tanganku untuk berdiri. "Ayo kita berangkat sebelum aku khilaf menyerang mu lagi, yang berahkir tidak jadi pergi ke rumah papa." Aku hanya bisa tertawa melihatnya yang kesal.
Saat aku tiba di sana ada mobil catering yang lagi nurunin makanan.
"Bukannya kamu bilang cuma makan malam keluarga kenapa pakai jasa catering segala mas?"
"Mas juga tidak tahu , lebih baik kita tanya mama di dalam." Raka menarik pinggangku untuk berjalan di sampingnya.
Nampa di dalam rumah juga sudah mulai di tata rapi, sepertinya bukan makan malam biasa.
"Apa mama dan papa mau mengumumkan kalau mereka sudah rujuk kembali ?" Tanyaku sambil terus masuk ke dalam rumah, tapi tidak ada tanda-tanda mama dan papa berada di mana.
__ADS_1
"Aku rasa tidak, seolnya setelah ijab kabul papa langsung menelpon kami ketiga anaknya !" Karena setelah berkeliling aku dan Raka memutuskan untuk istirahat di kamar Raka. Setelah sholat magrib baru aku mulai melihat kedatangan mama dan papa, yang ternyata menjemput Risma di apartemen. Tapi tidak lama aku ngobrol mereka semua masuk ke dalam kamar untuk mandi.
Dugaanku bener habis isya saat aku turun rumah mulai ramai. Hanya Nini, Cantika dan Satria yang aku kenal selain mama,papa dan Risma.
"Siapa mereka mas kamu kenal ?"
"Yang sedang mengobrol dengan Cantika itu ,adik almarhum mama kandung Satria."
"Yang berusaha Nini jodohkan dengan papa ?" Tanyaku yang di jawab anggukan oleh Raka.
"Kalau lelaki yang ngobrol dengan Risma siapa, pacar Risma ?"
"Sepupu Satria. Terus yang digendong Nini ,anak kakak Lelaki yang ngobrol dengan Risma."
"Kenapa tidak kamu sebutkan namanya saja sih mas buat aku enak dengarnya."
"Mas malas untuk mengenal para penjilat seperti mereka." Ucap Raka dingin, aku hanya bisa menarik nafas panjang.
"Mas hargailah mereka sebagai sesama manusia !"
"Adik mama Satria jujur aku tidak tahu, aku hanya memanggilnya Tante. Punya 2 anak ,yang perempuan baru menikah lagi dan anaknya di tinggal dengan neneknya. Aku sendiri tidak tahu namanya dan yang lelaki kalau tidak salah namanya Galih. Sudah cukup tahu lebih baik kita menikmati makanan yang ada. Jika ingin menyapa,sapa saja para tetangga yang juga datang." Memang benar tidak hanya ada keluarga tapi juga para tetangga.
"Assalamualaikum semuanya." Ucap papa membuat perhatian kami beralih kepadanya.
"Walaikumsalam !"
"Maaf telah mengganggu waktu istirahat malam kalian semua. Semoga hidangan yang ada bisa memuaskan lidah saudaraku semuanya." Ucap papa sambil melihat kearah semua orang yang ada di ruang keluarga ini.
"Saya hanya ingin mengumumkan bahwa saya telah rujuk dengan istri saya. Mengenai ijab qobul sudah kami lakukan di Australi kemarin."
Terdengar suara pecahan gelas dari arah tempat duduk sepupu Satria dan Nini, yang tentunya juga ada adik almarhum mama Satria.
"Jadi mohon doanya untuk pernikahan kami ." Ucap papa tanpa memperdulikan kegaduhan yang ada.
"Selamat ya pak Rudy,"ucap seorang bapak-bapak yang ku tahu rumahnya berada tepat di depan rumah papa Raka.Setelahnya di ikuti semua yang ada di ruangan itu termasuk aku dan Raka. Kecuali keluarga dari almarhum mama Satria yang tiba-tiba pergi tanpa pamit.
Karena kelelahan aku pamit untuk tidur duluan di kamar Raka. Aku tidak tahu acara makan malam selesai jam berapa, karena aku yang pamit istirahat. Setelah mengucapkan selamat kepada mama dan papa.
__ADS_1