
Aku penasaran tapi aku gengsi untuk bertanya kepada mereka, aku tidak mau di bilang anak baru yang kepo. Karena itu saat jam istirahat aku langsung sholat dhuhur dan setelahnya langsung duduk manis menunggu Raka yang katanya mau makan siang bersama.
Sebenarnya mulutku sudah terasa gatal pingin bertanya tentang apa yang terjadi. Tapi aku bingung untuk memulai bertanya dari mana. Karena itu aku berharap Raka sendiri yang bercerita ke aku, tapi nihil sampai makanan habis Raka tidak membahas sama sekali .
"Kenapa ?"
"Ng.. Ngak apa-apa ko." Jawabku sedikit gelagapan.
"Tanya saja apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Tidak ada , kalau sudah selesai makan silahkan kembali ke tempat asalnya !"
"Haha ngusir kamu ?"
"Enggak!"
"Berati kamu tinggal beberapa hari kerja di sini ?"
"ko tahu,?" tanyaku heran .
"Arvin Pernah cerita, katanya kamu cuma mau 2 mingguan kerja di sini !"
Ah iya kenapa aku bisa lupa, dulu kan awalnya aku hanya mau seminggu
"Ah iya. Mulai Senin Mas Ari sama Mbak Franda udah kerja seperti biasa, maka aku harus kembali ke habitatku."
"Haha mau gak kerja di sini,ada lowongan tu?"
"Bagian apa cleaning service ?" Tanyaku pura-pura gak tahu apa yang terjadi.
"Jadi sekertaris Zain !"
"Memang ada apa dengan mbak Diana ?"
"Bias ada masalah pribadi!"
"Masak ada masalah pribadi, tapi kelihatannya Mas Zain sama Mbak Diana baik-baik saja selama ini?"
"Ya gak tahu juga,mas Zain kemarin cuma bilang ada masalah pribadi tanpa menjelaskan masalahnya apa !"
"Terus kalian gak pada penasaran ?"
"Enggaklah mungkin ada masalah dengan cewek Zain. Dulu kan cewek Zain pernah melabrak Diana, karena cemburu paling tidak jauh dari situ."
"Hah yang benar ?"
"Mau kisah seru lainnya di kantor ini, ganti in saja posisi Diana. Nanti pasti akan banyak cerita yang mengalir yang bakalan kamu dengar !"
Aku hanya mencibir sambil menghabiskan potongan buahku.
"Wah ada yang lagi pacaran nih?" Ucap Zain yang langsung duduk di dekat Raka.
"Doakan mas,segera menyusul mas Ari dan mbak Franda !"
"Apaan sih Lo," kesalku dengan ucapan Raka.
"Haha Kia yang manis seperti kucing,ternyata juga bisa galak ya?"
" Enak saja aku di samakan dengan kucing !"
"Kia mulai senin mas Ari dan Franda sudah mulai kerja normal ya?"
"Iya, Kenapa mas?"
"Mau gak jadi sekertaris mas?"
__ADS_1
"Untuk berapa lama seminggu atau 2 Minggu ?"
"Bagaimana kalau selamanya saja?"
"Enggak ah, kalau sementara sampai mas dapat sekertaris gak masalah. Tapi kalau selamanya gak mau aku !"
"Kenapa, kerja di sini enak Lo. Apa kamu sudah punya kerjaan yang lebih baik ?"
"Gak ada cuma sku harus mengurus kafe keluarga."
"Oke deh sampai aku mendapatkan sekertaris pengganti," ucap Zain sambil menyodorkan tangannya.
"Aku mau minta ijin mamaku dulu boleh ?"
"Oke aku tunggu jawaban mu besok, jadi nanti malam kamu bisa bilang ke orang tua mu!"
"Sip mas. Terus mbak Diana, bagaimana ?"
"Ada bagian staf administrasi yang lagi kosong, Diana akan mengisi posisi itu." Aku hanya tersenyum dan mengaguk, seolah baru tahu.
Jika aku menjadi Diana, pasti akan sangat malu. Di turunkan jabatan, gaji di potong setiap bulan. Tapi masuk penjara juga bukan pilihan yang tepat. Karena begitu keluar dari penjara tidak hanya nama baik keluarga yang tercoreng, tapi juga susah mencari pekerjaan.
"Ko bengong,?" tanya Zain.
"Enggak kok mas."
"Ya udah aku balik ke ruangan ku. Jangan lupa bertanya pada keluargamu, aku akan tagih jawaban mu!"
"Siap bis!"
"Ya udah gw balik dulu, masih banyak kerjaan yang harus aku selesaikan."
Aku dan hanya mengaguk sebelum mas Zain masuk ke dalam ruangannya.
"Emang ada rencana kamu ambil?"
"Lalu kenapa kamu memberikan di harapan, dengan kamu bilang akan memikirkan dulu itu sama saja memberikan harapan !"
"Ih kamu terlalu mendetail, aku itu harus membahas ini dengan papa dulu."
"Ya udah semoga Papa mendukung keputusanmu. Dan aku harap keputusanmu tetap bekerja di sini, supaya kita bisa saling bertemu tiap harinya."
"Ya udah gak usah bicara sama papa, langsung tolak aja!"
"Ih gak boleh bilang dulu sama papamu!" Ucap Raka sebelum pergi.
Aku bekerja seperti biasanya, hingga jam pulang kerja tiba.
"Ayo pulang !"
"Aku bareng papa,mas Raka duluan saja!"
"Tapi papamu sudah mengirim pesan padaku!"
"Kirim pesan apa?"
"Papa mu ga balik kekantor habis meeting langsung pulang !"
"Kok papa gak ngasih kabar aku ya?"
"Coba kamu cek ponsel mu!"
"Astaga batre nya habis,aku kok ga sadar sih." Keluhku sambil melihat muka Raka, yang tersemat tipis padaku.
"Makanya kalau dengerkan musik di cek dulu isi batre nya!"
__ADS_1
"Hehe maaf, Kamu duluan saja aku mau menyelesaikan ini dulu nanggung !" Aku kembali melanjutkan pekerjaan ku, setelah mengambil kabel buat menambah daya ponselku di ruangan papa .
"Aku sudah bilang iya dengan papamu, maka aku akan menunggumu sampai pekerjaan mu selesai ."
"Mungkin mas Raka harus menunggu sekitar satu jam Lo !"
"Gak masalah, menang kamu lagi ngerjain apa ?"
"Laporan buat persiapan papa besok meeting."
"Sini aku bantu biar cepat !"
" Mas bantu ngeprin semua semua file ini. Besok rapat Puku 9 pagi. Aku takut kesiangan, atau terjadi macet di jalan yang mengakibatkan aku terlambat ke kantor."
"Sini mas bantu!"
"Makasih mas aku bisa menyelesaikan laporan ku dulu." Waktu yang aku kira butuh waktu 1 jam, ternyata bisa selesai dalam waktu 35 menit.
"Makasih mas."
"Tidak gratis !"
"Eh minta balasan."
"Temanni mas makan , mas laper!"
"Oke kalau cuma makan,aku juga lapar." Ucapku yang disambut tawa, dan cubitan pipi oleh Raka.
"Mas ih di lihat orang tahu."
"Gak papa bukannya kamu sudah mengizinkan aku untuk masuk ke dalam hatimu sampai pernikahan Satria."
"Eh tapi waktu itu aku cuma diem ya ,nggak ngasih jawaban apa-apa!"
"Diam saat itu mas artikan iya." Ucap Raka sambil merangkul pinggangku untuk berjalan disampingnya.
"Belum sah tidak perlu terlalu nempel."
"Haha ,oke setelah resepsi Satria Aku akan segera melamar mu!"
"Emang kapan pernikahannya ?"
"Bagaimana sih kamu ,masa nggak tahu sepupunya mau nikah?"
"Hehehe, sejak malam lamaran Cantika sampai sekarang kami belum pernah ketemu karena kesibukan masing-masing."
"Tanyakan saja nanti pada Cantika !"
"Ekhm ekhm, di sini kantor bukan tempat untuk pacaran." Ucap Diana yang berdiri di belakangku, karena kami sama-sama mengantri lift.
Nampak Diana berdiri dengan membawa kardus besar yang berisi perlengkapan kerjanya.
"Mau ke mana Mbak bawa kardus segala?"
"Tidak usah berpura-pura tidak tahu. Karena aku sudah tahu kalau Zain memintamu untuk mengetikkan posisiku." Ucap Diana bertepatan dengan pintu lift yang menuju ke atas terbuka.
Salah lagi, ternyata. Padahal cuma mau berbasa-basi saja.
"Ayo mbak ?" Salah lagi.
" Aku mau naik bukan mau turun!" Ketus Diana, Raka tak banyak bicara tapi langsung menutup pintu lift. Tidak enak dengan penghuni lift yang sudah di dalam dan juga mau turun.
"Ga usah di dengerkan ucapan Diana,!" bisik Raka.
"Tidak akan , meski aku baru bekerja hitungan hari. Aku sudah tidak kaget dengan ucapannya yang ketus itu."
__ADS_1
"Well done my beloved."(Bagus sekali sayangku.)
Karena rasa malu aku menepis tangan Raka yang mengusap di kepalaku.