
Setelah pulang dari rumah Vita, Angga langsung pulang ke rumahnya yang ada di Jakarta. Sedangkan Andi ikut Axel menemui Adzriel dan Zahra untuk melanjutkan pertunangannya dengan Alexa dan Andi akan menikahi Edwin dalam waktu dekat.
Jujur Andi takut, takut jika Adzriel dan Zahra menolaknya setelah sebelumnya Andi memutuskan pertunangannya dengan Alexa secara sepihak.
Andi hanya bisa mengucap basmalah di dalam hatinya, semoga Allah melancarkan segala urusannya.
Setelah sampai di depan rumah mertuanya, Andi dan Axel pun turun dari mobil.
"Gak usah gugup santai aja," ujar Axel tersenyum yang hanya di balas anggukan kepala oleh Andi.
Mereka berdua, langsung masuk ke dalam rumah karena memang rumahnya gak di kunci. Namun betapa kagetnya Axel saat ia melihat ada Afifah di rumahnya dan dia sedang mengobrol dengan Aby dan Umy nya
"Afifah, kamu kenapa ada di sini?" tanya Axel heran.
"Aku tadi pagi ke kantor kamu tapi kamu gak ada. Aku di kantor kamu seharian tapi kamu tetap gak ada. Akhirnya aku memutuskan ke rumah kamu. Maaf," ujar Afifah takut jika Axel marah.
"Kamu ada urusan sama aku sampai-sampai kamu cari aku?" tanya Axel sambil duduk di sofa begitupun dengan Andi.
"A ... aku ... aku cuma mau bilang ... aku gak mau kehilangan kami," ujar Afifah ragu.
"Hah?!" Axel tak percaya dengan apa yang di ucapkan dengan wanita yang ia cintai itu. Masalahnya selama ini Afifah selalu menolaknya dan kini ia datang hanya untuk bilang seperti itu bahkan di depan kedua orangtuanya. Sungguh Axel merasa ini seperti mimpi.
"Iya ... aku juga sudah bilang ke Aby dan Umy kamu kalau aku mau menikah dan kamu," ujar Afifah tersenyum.
"Kamu serius?" tanya Axel tak percaya.
"Iya aku serius, sangat serius," jawab Afifah.
"Tapi kenapa? Kenapa baru sekarang, kamu mau nikah sama aku? Kenapa gak dari dulu?" tanya Axel yang ingin tau alasan Afifah.
"Bukannya kamu tau mas, dulu aku juga punya rasa sama kamu. Hanya saja, aku belum siap untuk menikah," ujar Afifah lembut
"Sekarang kamu sudah siap, makanya cari aku?" tanya Axel
__ADS_1
"Sebenarnya belum siap mas, hanya saja aku gak mau kehilangan kamu lagi. Aku tersiksa saat kamu pergi ninggalin aku gitu aja setelah aku nolak lamaran kamu, kamu gak bisa aku hubungi. Semua sosial media kamu, di non aktifkan. Bahkan setelah kita bertemu lagi, sikap kamu dingin gak kayak dulu dan itu malah membuat ku tambah sakit. Aku sudah memikirkan ini dari kemarin, aku ingin mengungkapkan apa yang aku rasakan tapi aku cari kamu di kantor gak ada hingga aku terpaksa datang ke rumah kamu, tapi kamu nya tetep gak ada. Jadi aku ngobrol sama Aby dan Umy kamu," ujar Afifah yang dari tadi bilang kamu, kamu dan kamu bukan mas karena Afifah kesal seharian nunggu dan menunggu itu adalah pekerjaan yang sangat membosankan.
"Sudahlah nak, kamu terima aja Afifah. Kamu kan juga suka sama Afifah. Jangan semuanya di bikin rumit," ucap Zahra menasehati.
"Apa yang di katakan Umy kamu itu benar, kalian itu saling cinta. Mungkin sudah saatnya kalian bersatu dalam ikatan pernikahan," ujar Adzriel tersenyum.
"Baiklah, aku terima Afifah jadi calon istri aku," ujar Axel tersenyum karena akhirnya ia menang, ia berhasil membuat Afifah datang mencarinya dan meminta untuk di nikahi.
"Nah gitu dong, kalau gini kan enak," ujar Adzriel yang bahagia karena masalah putranya sudah seleksi.
"Oh ya Nak Andi, tumben ke sini?" tanya Zahra melihat mantan menantunya kini ada di rumahnya.
"Saya ke sini untuk menemui Alexa, Umy," jawab Andi.
"Tapi Alexa kan ada di Surabaya," ujar Adzriel
"Sejak kapan Alexa di Surabaya?" tanya Andi
"Aby, Umy. Sebenarnya aku ingin pertunangan ini tetap di teruskan," ujar Andi
"Terus bagaimana janji kamu ke Vita?" tanya Adzriel
"Aku sudah gak berurusan lagi dengan Vita karena kecelakaan itu di sengaja, Vita sendiri yang menyuruh seseorang untuk menabrak ku lalu Vita menolong ku agar aku punya hutang budi padanya," ujar Andi.
"Aby sudah menyangka, memang ada yang gak beres. Syukurlah semuanya sudah terungkap sekarang," ujar Adzriel yang memang sudah curiga tentang kecelakaan itu.
"Aby, apakah Aby dan Umy masih merestui hubunganku sama Alexa?" tanya Andi hati-hati.
"Tentu nak, kami akan selalu memberikan restu kepada kalian berdua. Tapi kembali lagi, semua keputusannya ada di Alexa sendiri," ujar Zahra tersenyum.
"Baiklah Umy, kalau gitu, aku akan ke Surabaya makam ini juga," ujar Andi.
"Mau aku anterin?" tanya Axel.
__ADS_1
"Enggak usah. Aku sendiri aja," ujar Andi.
"Tapi kamu naik apa?" tanya Axel.
"Aku naik bus," jawab Andi
"Baiklah, kamu hati-hati ya nak di jalan. Kalau sudah nyampek kabarin Aby dan Umy," ujar Adzriel.
"Emang kamu tau Alexa ada dimana? Surabaya luas lho," ujar Axel tersenyum.
"Oh ya, Alexa di Surabaya mana ya Umy?" tanya Andi
"Di hotel milik Axel, Surabaya barat," jawab Zahra tersenyum.
"Nanti aku kirimin alamat lengkapnya," ujar Axel
"Baiklah, kalau seperti itu. Saya berangkat dulu. Assalamualaikum," ujar Andi sambil membayangkan tas yang di isi baju dan perlengkapannya. Baju yang ia bawa dari rumah Vita. Baju yang ia ambil dari kontrakan dan di taruh di rumah Vita selama Andi tinggal di sana
"Waalaikumsalam," ujar mereka semua.
Setelah Andi pergi, tinggallah mereka berempat yang masih ada di ruang tamu. Axel, Afifah, Adzriel dan juga Zahra.
Mereka ngobrol tentang pernikahan Axel dan Afifah. Adzriel gak perlu melamar Afifah buat putranya karena Adzriel sendiri bingung mau lamar ke siapa mengingat ayah dan ibunya Afifah sudah meninggal.
Pernikahan Afifah dan Axel sudah di tentukan dan mereka akan menikah satu bulan lagi dan selama itu, Afifah akan tinggal di rumah mereka. Karena Axel takut Afifah kenapa-napa jika tinggal sendirian di rumahnya.
Toh di rumah itu Axel tidak tinggal berdua dengan Afifah, di rumah itu ada orang tuanya, Oma, adik, dan juga para asisten rumah tangga.
Afifah juga akan tinggal di kamar kosong yang gak di tempati namun kamar itu masih rapi karena selalu di bersihkan.
Axel bahagia setelah perjuangannya selama ini sampai ia rela pergi jauh keluar negeri akhirnya ia bisa bersatu dengan wanita yang ia cintai.
Jika Axel gak pergi, mungkin Afifah gak akan menyadari perasaannya dan mungkin ia gak akan takut merasa kehilangan Axel.
__ADS_1