
Sesuai yang di bilang Raka kalau aku akan tinggal bersama dengan Raka, di apartemennya. Maka dari itu setelah semuanya berangkat kerja, aku di bantu oleh mama menyiapkan baju dan beberapa perlengkapan ku. Tentunya dengan konsekuensi kuping harus panas, karena harus mendengarkan wejangan mama dari A sampai Z. Harus belajar bangun pagi, belajar memasak dan menyiapkan kebutuhan suami. Jika suami kerja sebelum ke kafe pastikan rumah dalam keadaan bersih, jangan meninggalkan rumah dalam keadaan berantakan. Semua di ucapkan mama tidak hanya sekali, tapi juga di ulang-ulang. Bahkan mama membekali aku beberapa makanan, takut di apartemen Raka tidak ada bahan makanan. Hari gini hanya dengan memegang ponsel makanan sudah di anter sampai depan rumah, ingin sekali aku bilang begitu tapi takut durhaka.
"Sepertinya mama antusias sekali mengusir' ku. Lihat tidak hanya pakean yang di siapkan, makanan juga. Seolah takut aku pulang dan meminta makan sama mama." Ucapku setelah Raka berhasil menyusun barang bawaan ku d bagasi. Raka pulang kerja saat jam makan siang dan langsung membantuku pindahan.
"Haha ga papa aku siap menampung mu ."Ucap Raka sambil tersenyum tipis.
"Kamu harus tahu mama sengaja mengusir mu, biar mama lekas dapat cucu." Ucap mama tenang membuatku langsung melotot mendengarnya.
"Doakan saja ma,"sambung Raka sambil tersenyum tipis.
"Mama nyebelin !" Ucapku langsung masuk ke dalam mobil.
"Lihat nak Raka, sifatnya masih kekanak-kanakan yang sabar ya menghadapi putri mama!"
"Insaallah ma, Raka akan selalu sabar menghadapi Kia."
Setelah Raka berpamitan dengan mencium punggung tangan mama, baru Raka masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya.
Aku kira Raka akan membawaku ke apartemennya yang letaknya satu lantai dengan Arvin. Ternyata ini apartemen yang berbeda, apartemen ini letaknya dekat dengan kantor Raka dan rumah sakit keluarga Raka.
Aku berjalan di belakang dengan membawa rantang makanan, sedang Raka berjalan di depan dengan membawa 2 koperku berukuran medium.
"No pin nya tanggal pernikahan kita, ayo masuk !" Ucap Raka sambil membuka pintu, setelah menekan tombol kunci.
Lumayan mewah untuk seorang asisten CTO di kantor papa, ini pasti fasilitas dari orang tuanya tidak mungkin cukup gajinya.
" Apartemen ini memang mempunyai 2 kamar, tapi sayangnya yang satu sudah aku gunakan untuk ruang kerja."
"Berati kita akan tidur satu tempat tidur,"tanyaku lirih Raka hanya mengangguk.
Aku kira akan tidur terpisah, seperti pernikahan yang di novel-novel.
"Tapi kalau boleh aku minta sebaiknya kita belajar bersama dan berbagi segala hal."
"Maksud ?"
"Kita belajar tinggal bersama, belajar berbagi ranjang yang sama belajar saling memahami dan menerima. Karena aku mau pernikahan kita langgeng tanpa ada perceraian, seperti kedua orang tuaku !" Aku yang sibuk mengatur detak jantungku, hanya bisa mengangguk tanpa melihat kearah Raka.
"Ini lemari bajumu di dalam sudah ada beberapa baju baru pemberian mama, aku harap kamu mau memakainya !"
__ADS_1
"Terima kasih."
"Jangan kaku,aku rindu kamu yang galak." Ucap Raka sambil menarikku duduk di dekat ruang ganti.
"Kenapa dari tadi saat ngobrol tidak mau melihat kearah ku? Hmmm, takut aku terkam?"
"Hah, memang situ serigala ?" Tanyaku spontannitas saat Raka menarik daguku hingga melihat kearahnya.
"Iya aku serigala yang siap menerkam mu, tapi karena aku masih bisa menahan jadi aku tidak akan menerkammu." Ucap Raka sambil mengacak-acak rambutku.
"Aku belum makan siang bisa siapkan makan untukku!" Aku hanya mengangguk dan langsung berdiri, diikuti Raka yang berjalan di belakangku.
"Aku sudah makan di rumah sama mama." Ucapku saat melihat tatapan Raka penasaran kenapa hanya ada 1 piring.
"Apa boleh aku bekerja?" Tanyaku sambil duduk di depan Raka."Aku bosan kalau tidak ada kegiatan apapun !"
"Kerja di mana?"
"Paling membantu mama mengurus kafe, aku bisa berangkat setelah kamu berangkat ke kantor dan pulang sebelum kamu pulang."
"Ya udah yang penting kamu enjoy, kalau kamu mau lanjut ke S2 juga gak apa untuk mengisi waktu luang mu!"
Mengisi waktu luang kok di suruh kuliah lagi, itu bukannya mengisi waktu luang tapi membuat kesibukan baru. Aku bukan Clara yang lagi patah hati dan butuh kesibukan extra padat untuk mengalihkan kesedihannya.
"Tidak ada hanya kalau kuliah lagi aku kayanya gak tertarik. Kalau boleh aku mau ikut kursus memasak, masak sudah punya suami gak bisa masak ?"
"Allhamdullilah ahkirnya kamu mengakui aku sebagai suami mu."
"Mau gak di akui bagaimana, tetanggaku dan semua keluarga sudah tahu semuanya. Meskipun mereka gak bisa datang ,tapi mereka semua tahu."
"Haha bener, tapi kamu belum menerimaku 100 %!"
Siapa bilang dari dulu ada namamu di hatiku, cuma mungkin sekarang porsinya lebih kecil. Jika dulu 50 % hatiku buat kamu, sekarang mungkin cuma 25 %.
"Aku tahu semua salahku, tapi jujur semua yang terjadi bukan aku sengaja."
"Gak usah di bahas aku akan memupuk kembali rasa itu buat mas, tapi beri aku waktu."
"Terima kasih."
__ADS_1
"Mas ga balik ke kantor ?"
"Tidak aku mau membantu istri mas membereskan barang-barangnya, kan baru pindahan."
"Lebay baju cuma sekoper aja ini." Ucapku sambil berdiri membereskan meja makan dan langsung mencucinya. Setelahnya aku menaruh semua makanan dari mama sesuai tempatnya.
Setelah selesai aku mencari Raka, yang sudah tidak ada di meja makan. Aku masuk ke dalam kamar sepi, tapi ruang ganti pakaian Nampak terang jadi aku langkahkan kakiku ke sana.
"Sudah selesai ?" Tanyaku saat aku lihat Raka menutup koper bajuku.
"Sudah." Jawab Raka santai membuat otakku langsung Travelling kemana-mana. Berati semua dalaman ku juga di rapikan sama Raka, Ya Allah malunya aku.
"Tidak perlu malu aku juga punya, cuma bedanya aku hanya punya 1 kalau kamu sepasang." Ucap Raka sambil berjalan melewati ku dan tertawa kecil.
"Raka otak mesum!" Teriakku yang langsung lari dan bahunya. Bukannya kesakitan Raka malah tertawa semakin kencang.
Raka merebahkan badannya di atas kasur dan aku duduk di pinggir ranjang.
"Ini." Ucap Raka sambil menyodorkan dompetnya.
"Buat apa ?"
"Ambil saja kartu mana yang mau kamu pakai untuk memenuhi kebutuhan pribadimu dan kebutuhan rumah!"
"Kamu punya tagihan bulanan gak,kaya tagihan apartemen atau mobil gitu ?"
"Tidak,aku lebih suka ngumpulin uang dulu baru beli. Termasuk apartemen ini."
"Ini apartemenmu, bukan punya orang tuamu?"
"Bukan. Ini apartemen pertamaku, waktu aku tinggal di apartemen depan Arvin apartemen ini lagi di renovasi."
"Ambil saja di situ ada 4 kartu, 1 kartu kredit pemberian dari papa tidak pernah aku pakai. Ada juga 1 kartu debit dari papa juga tidak pernah aku pakai. 2 lagi kartu dari penghasilanku sendiri."
"Kalau aku ambil yang dari penghasilan mas boleh ?" Raka langsung tersenyum dan melihat kearah ku, sebelum mengaguk.
"Tapi yang mana ?"
"Bank Mxxxri dan Bangk Bxx, semuanya kartu debit. Ambil saja semua !"
__ADS_1
"Kalau aku ambil semua mas pakai apa?"
"Pakai dari papa, lagian sejak aku umur 17 tahun tidak pernah aku pakai ko." Ucap Raka sebelum terjadi keheningan di antara kami. Setelah 5 menit tidak ada suara ahkirnya aku meliriknya, yang ternyata sudah tidur.