
Aku merasa ada yang salah dengan respon tubuh ku. Aku merasa belum lama tertidur saat aku merasakan dingin di bahu atasku.
Ehh lenguhan ku terdengar di indra pendengaran ku sendiri,saat aku merasakan sensasi geli. Seperti ada rambut atau mungkin kumis yang menggelitik di area leherku dari belakang. Karena rasa kantukku aku mengabaikan rasa aneh itu, hingga rasa geli merambat ke area perutku. Aku merasa ada yang sengaja mengusap perutku dan menggesek rambut tipis ke leher belakang ku.
Ah pasti kelakuan Raka ini.
"Ngantuk mas.. Mas geli ah mas sudah." Ucapku sambil membalikkan badan menghadapnya, tapi yang terjadi di luar dugaan ku .
Raka langsung menyambut dengan ******* bibirku bukan ciuman lembut. Ciuman yang penuh tuntutan dan hasrat yang menggebu-gebu.
"Boleh ya?"
Karena keadaan sudah tidak memungkinkan untuk mundur, aku hanya bisa pasrah menerima dan mengikuti serangkaian serangan dari Raka. Hingga aku merasakan sakit saat sesuatu harta berhargaku di ambil Raka.
"Maaf,"ucapnya sambil mengecup keningku cukup lama. "Mas mulai ya?" Aku hanya bisa mengangguk sebagai jawaban, sebelum Raka bergerak dari frekuensi pelan ,sedang dan cepat. Hingga kita sama-sama kecapean, setelah semua selesai memuntahkan laharnya.
"Terima kasih sudah memberikannya kepada ku." Ucap Raka sambil mengecup bahu belakang ku. "Tidur lah yang nyenyak,"ucapnya lagi sambil mengusap kepalaku sampai aku tertidur.
"Dek bangun mandi sholat subuh!"
"Hmm jam berapa ?"
"Pukul 5 pagi." Ucap Raka yang tiba-tiba menggedong ku dan membawa masuk ke dalam kamar mandi.
"Masss!" Teriakku karena terkejut tiba-tiba di gendong olehnya.
"Aku tahu kamu pasti kecapean dan dari beberapa cerita, jika masih pertama suka sakit buat berjalan." Ucap Raka Sambil menurunkan aku di pinggir bathtub dan mencium keningku sebelum keluar. Terlihat bathtub yang sudah penuh oleh air. Setelah aku selesai membersihkan diri ,aku keluar dengan kimono. Nampak sprei sudah di ganti Raka dengan yang baru juga.
"Ayo Subuhan dulu keburu siang!"
"Aku pakai Daleman dulu ya?"
"Tidak usah itu handuk kimono juga masih baru di pakai kan."
Ahkirnya aku hanya pasrah mengikuti kemauannya,kami sholat berjamaah dan berdzikir bersama selama beberapa menit.
Setelah selesai sholat aku berniat mengambil Daleman dan baju ganti, sebelum sebuah tangan melingkar di perutku saat aku membuka pintu lemari pakaian.
"Olahraga pagi yuk, sekali lagi.Tidak perlu memasak kita bisa dilevery atau sarapan di luar!" Ucap Raka sambil mencium leherku , dari ciuman berubah menjadi jilatan. Dengan kedua tangan yang sudah meremas 2 squisi dengan lembut dan pelan.
"Mass ah, apa mas tidak berangkat ke kantor ?"
"Ke kantor lah tapi ini masih terlalu pagi, jadi kita olahraga sebentar." Ucapnya sambil melepaskan tali kimono ku, sebelum menggedong ku kembali ke atas kasur.
"Lihat rambutku saja belum aku kering , sekarang sudah basah lagi karena keringat." Ucapku setelah mengikuti keinginan Raka untuk olahraga pagi.
"Haha tidak apa-apa, apa perlu aku bantu untuk mandi lagi ?"
"Gak usah aneh-aneh, bisa-bisa bukan mandi nanti ."
__ADS_1
"Tau gini rasanya kenapa tidak dari saja aku menikah dengan mu. Ternyata lebih nikmat dari pakai sabun."
"Mass!"
"Jangan teriak-teriak kamu nanti aku cium itu mulut yang hobi teriak-teriak."
Dengan spontan aku menutup mulutku, yang di sambut tawa renyah Raka.
"Mau sarapan apa ?" Tanya Raka sambil memegang ponselnya.
"Apa aja,"Ucapku sambil berjalan ke kamar mandi.
Ah Raka gila umpatku, saat melihat area leher ku yang merah semua. Jika tadi pagi yang merah hanya area dada ini lebih banyak lagi, sampai ke leher. Setelah 30 menit aku mandi baru aku keluar dengan pakaian lengkap.
"Kenapa sudah berpakaian lengkap tidak pakai kimono mandi lagi ?"
"Ga usah aneh-aneh deh mas !"
"Haha sini aku bantu mengeringkan rambut mu."
"Awas macam-macam !"
"Tidak akan, mas ada metting Pukul 10 pagi ini."
Ahkirnya Raka membantuku untuk mengeringkan rambutku sampai bunyi bel apartemen berbunyi.
"Ayo sarapan !"
"Sudahlah kalau belum kamu tidak akan aman."
"Raka mesum , penjahat kelamin!"
"Tidak apa-apa, haha sama istri sendiri." Aku melangkah ke dapur untuk menyiapkan piring dan minuman, sedangkan Raka ke depan mengambil pesanan.
Setelah selesai sarapan Raka baru bersiap untuk berangkat kerja.
"Kamu tidak berangkat kerja ?" Tanyanya saat melihatku rebahan di depan TV.
"Mungkin tidak bisa di bully habis-habisan aku sama Clara, jika dia memperhatikan jalanku dan melihat leherku." Bukannya kasihan Raka malah tertawa ngakak mendengarnya.
"Bagus kamu bisa istirahat, nanti malam kita kerja keras lagi."
"Apa jangan gila kamu mas!"
"Hah hitung-hitung buat stok sebelum kamu tinggal ke Australia 3 hari lagi." Seketika aku terdiam,aku baru ingat rencana untuk mengantarkan mama .
Setelah Raka berangkat kerja aku benar-benar istirahat. Aku tertidur sangat pulas dan baru terbangun saat waktu sudah menunjukkan pukul 12 lewat. Setelah sholat Dhuhur aku baru berangkat ke kafe, sesampai di sana Clara malah sudah pergi. Dari pesan yang dikirim mau menemani Tante Indah buat belanja.
"Hai Kia,"ucap seseorang yang baru masuk ke dalam kafe. Begitu masuk dia langsung menghampiriku yang sedang membersihkan meja yang baru saja di tinggalkan pembeli.
__ADS_1
"Assalamualaikum mas Noval." Jawabku sambil melihat kearah Noval beserta rombongan teman-temannya yang baru masuk.
"Hehe Walaikumsalam."
"Baru setahun pindah ke Jakarta sudah lupa salam ya mas." Ucapku yang disambut tawa renyah Noval dan beberapa temannya, kecuali perempuan satu-satunya diantara mereka.
"Bener mbak si Noval tidak hanya lupa mengungkapkan salam , tetapi juga sholat 5 waktu. Bahkan sekarang dia suka keluar masuk diskotik dan club' malam lo!"
"Hai mulutnya ya jangan suka fitnah !" Protes Noval pada ucapan temannya.
"Hello kita di sini mau makan dan minum ya bukan reunian !" Ucap perempuan satu-satunya yang dari tadi menampilkan wajah masam.
"Ekhhm ekhm ada yang cemburu ni, sebaiknya kita segera cari tempat duduk yang aman."
Setelah mereka mencari tempat duduk yang nyaman baru mereka memesan makanan dan minuman.
"Bukannya itu cewek yang foto berdua denganmu di atas motor mu ya ?"
"Iya dulu aku sangat berharap bisa memperistrinya, tapi sayangnya kami bagai langit dan bumi."
"Dia buminya kamu langitnya ,"suara seorang wanita sambil tertawa renyah.
"Kamu salah dia langitnya aku buminya."
"Yang bener bro."
Aku yang sayup-sayup mendengar obrolan mereka hanya bisa tersenyum. Aku tahu sejak mamanya tahu siapa aku, mamanya menyuruh mendekati ku lagi.
"Bukannya itu mantan mu waktu di Malang dulu ya?" Bisik Raka yang tiba-tiba muncul di belakang ku.
"Astaghfirullah bikin kaget saja. Orang baru datang itu ngucapin salam !" ketus ku sambil berjalan menuju ke ruang kerjaku.
"Assalamualaikum my wife."
"Walaikumsalam,"ucapku sambil mengambil tasku. " Ayo pulang nanti keburu magrib di jalan lagi."
"Dengan senang hati nanti malam olahraga lagi ya ?"
"Mass istirahat dulu kenapa !"
"Kamu bikin aku ketagihan !" Cengir Raka membuat ku refleks memukul bahunya.
"Mas Noval selamat menikmati, maaf ya aku pulang dulu ke buru magrib."
"Oya silahkan,hai mas Raka."
"Hai juga Noval."
"Kalah saing kamu bro, sepertinya dia orang berkelas di lihat dari apa yang dia pakai."
__ADS_1
"Haha mundur alon-alon Yo bro."
"Terdengar suara tawa mereka sebelum aku dan Raka bener-bener keluar dari kafe.