Cinta Dalam Diam

Cinta Dalam Diam
147. SAH


__ADS_3

Aku tidak tahu apa yang terjadi, yang jelas seminggu ini aku mencari artikel tentang perkelahian di rumah makan tidak ketemu. Setelah semua keluarga bertemu maka diputuskan tidak ada acara tunangan, tapi kami langsung menikah secara agama dulu baru mengurus mendaftarkan secara negara. Mengenai resepsi pernikahan akan diselenggarakan setelah aku siap.


"Gw gak menyangka belum setahun gw tinggal Cantika sudah lamaran dan Lo sudah mau menikah saja." Ucap Clara di sebrang telpon.


"Coba kamu di sini kamu pasti akan tahu apa yang terjadi ?"


"Maaf aku tidak bisa menemanimu, pasti berat semua ini buat mu?"


"Awalnya iya, tapi sekarang aku berusaha untuk ikhlas menerimanya."


"Apa sudah bisa ?"


"Belum,aku masih belum siap untuk menikah."


"Kalau begitu batalkan dan kamu kabur saja ke sini."


"Durhaka banget gw jadi anak , bikin malu orang tua."


"Kenapa bikin malu,kamu kan cuma ijab qobul dulu bukan resepsi yang mengundang banyak orang. Ijab qobul paling juga keluarga inti kita dan keluarga inti Raka."


Apa aku kabur aja ya?


"Tapi kalau gw kabur berarti gw tidak bertanggung jawab dong."


"Ya enggak lah kamu kan cuma mengikuti kata hatimu."


"Dari awal waktu papa minta pendapat ku, aku sudah menyetujuinya. Jika dari awal aku gak siap seharusnya aku nolak dari awal bukan asal main kabur."


"Haha teguh juga pendirian mu?"


"Sialan Lo jebak gw."


"Selamat atas pernikahan mu, semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warohmah."


"Gw belum nikah ya masih besok."


"Ya gw ngucapin sekarang takutnya gw besok gak sempet telpon."


"Gak sempet memang mau ngapain ? Mau pacaran Lo sama bos lo?"


"Sialan bos gw sepupu gw sendiri kaya gw sama Lo."


"Kan tidak ada larangan nikah dengan sepupu sendiri, ingat sepupu itu tida ada hubungan darah !"


"Kalau gw nikah sama sepupu gw sendiri, keluarga gw itu-itu aja dong tidak berkembang."


"Lo aja yang berkembang biak!"


"Sialan Lo."


"Hahaha."


"Begitu dong tertawa, masak hampir sebulan setiap telpon gak pernah denger suara tawamu."

__ADS_1


"Maaf aku terlalu hanyut dalam masalah ku."


"Aku maklum. Sana tidur besok biar fresh masak calon pengantin terlihat gak seger."


"Oke gw tidur dulu, terima kasih sudah menghubungiku. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


Setelah telpon aku matikan,aku keluar untuk minum. Meskipun cuma ijab qobul tapi di rumah juga ada pengajian. Mama bilang ke tetangga, kalau resepsinya nanti setelah Cantika. Karena calon suamiku adik ipar Cantika.


"Bukannya pengajian sudah selesai dari tadi ya mbak, itu mama ngobrol dengan siapa mbak ?"


"Calon ibu mertua mbak Kia."


Ugh ugh ugh "Ko malah keselek sih mbak," ucap bibi sambil tertawa kecil.


"Kaget mbak."


"Kesini tadi bawa banyak bawaan!"


"Kan sesuai kesepakatan gak ada lamaran, kenapa membawa barang bawaan segala ?"


"Ya mana tahu mbak." Setelah minum aku segera kembali ke kamar. Karena tidak bisa tidur aku memutuskan membaca novel di aplikasi. Hingga suara ketukan pintu membuat ku menghentikan kegiatanku.


"Belum tidur ?"


"Belum ngantuk ma."


"Barusan mama Raka di temani adik Raka mengantarkan baju kebaya buat acara akad besok." Ucap mama sambil mengusap kepalaku.


"Sepertinya sama ya paling kebesarannya atau kekecilan sedikit itu wajar. Setelah diputuskan kalian menikah seminggu lalu, mama Raka bilang akan mencarikan baju buat ijab qobul kalian."


"Ma adik Ki masih takut ya?"


"Bismillahirrahmanirrahim pasrahkan sama Allah SWT. Tuhan yang menuliskan takdir seluruh umatnya. Niatkan untuk ibadah karena Allah, bukan karena musibah yang kamu alami."


Aku hanya diam mendengarkan semua ucapan mama, karena aku sendiri masih bimbang.


"Mau mama temani tidur di sini malam ini?"


"Dengan senang hati ma." Ucapku yang langsung membersihkan tempat tidurku.


"Sini mama peluk."


Aku mendekat dan masuk kedalam pelukan mama, sambil tidur aku memeluk mama.


"Jujur dari kecil kamu itu lebih dekat dengan nenek dari papa dan papamu. Itu yang kadang membuat mama terasa jauh dari mu. Apalagi kamu sering kabur tinggal di rumah nenek." Ucap mama sambil tertawa kecil dan mengusap kepalaku.


"Tapi mama bersyukur kamu masih sayang mama dan tidak meninggalkan mama. Jujur waktu kamu habis kecelakaan memilih tinggal di rumah nenek, mama merasa gagal."


"Maafkan Kia ma."


"Tidak apa-apa salah mama juga yang gak bisa sabar menghadapi mu. Tidak seperti ibu dan ayah yang selalu bisa sabar."

__ADS_1


"Ya wajar kakek kan pengajar ma."


"Meskipun pengajar kakek kan dosen bukan guru SD. Kalau dosen tahu sendiri gimana karakternya."


"Haha iya juga ya, kalau nenek emang sabar ya ma."


"Waduh mama ditunggu-tunggu gak tahunya malah tidur disini !" Ucap papa yang tiba-tiba muncul dengan membuka pintu kamarku.


"Ko papa ga ketuk pintu sih,?" tanya mama.


"Tadi mama mau ketuk pintu, sayup-sayup terdengar suara mama. Ya udah papa langsung masuk." Ucap papa yang sekarang tidur di sampingku juga.


"Aku seperti anak kecil tidur di apit papa dan mama."


"Anak kecil yang besok berubah menjadi wanita dewasa." Ucap papa sambil mencubit pipiku.


"Mama ga nyangka Kia besok akan menikah."


"Apalagi papa, ma."


"Ya udah batalkan saja!"


"Eh tidak bisa begitu sayang. Meskipun kita tidak mengundang banyak orang pernikahan itu sesuatu hal yang sakral. Jadi lakukan dengan hati ikhlas dan niatkan untuk beribadah kepada Allah SWT."


"Insaallah pa."


"Insaallah jika adik ikhlas Allah akan membalas dengan nikmat yang luar biasa. Asalkan adik ikhlas dan melaksanakan dengan niat baik. Percayalah Allah maha mengetahui yang terbaik untuk umatnya."


Aku mendengarkan semua nasehat papa dan mama sampai tertidur. Saat adzan subuh aku terbangun oleh mama, yang membangunkan aku untuk sholat subuh. Ijab qobul di adakan pukul 10 pagi, dilanjutkan dengan syukuran dengan mengundang tetangga sekitar.


"Wah mama ga nyangka baju kebaya pilihan mama mertuamu bisa pas begini."


"Ma kok Kia berdebar ya ma?"


"Itu wajar. Ayo kita turun acara ijab qobul segera di mulai." Ucap mama sambil menuntun aku untuk keluar.


Aku tidak berani mengakat kepalaku, sejak masuk ke dalam ruang keluarga yang sudah disulap menjadi tempat ijab qobul. Bahkan saat aku duduk di samping Raka jantungku berdetak lebih cepat dari tadi. Aku hanya menunduk sambil terus meremas kedua tanganku. Saking gugupnya aku sampai tidak mendengar waktu papa dan Raka mengucapkan ijab qobul. Aku dikejutkan dengan suara 'SAH' yang diucapkan secara bersamaan.


"Assalamualaikum my wife." Bisik Raka setelah aku mencium punggung tangannya, yang dibalas dengan Raka mencium keningku.


"Walaikumsalam." Ucapku sedikit gugup.


Setelah acara ijab qobul dan sungkem kepada kedua orang tua kami. Di lanjutkan dengan meminta doa restu sambil menyerahkan pelangkah , kepada Arvin dan Mas Satria.


"Sekarang sudah menjadi istri orang, jangan kekanakan lagi. Belajar bersikap dewasa. Selesaikan setiap masalah dengan kepala dingin, jangan suka ngambek." Ucap Arvin sambil tersenyum tipis dan memelukku.


"Emang itu semua sifatku ya?"


"Iya, makanya belajar di rubah dari sekarang. Gak lucu kalau punya anak tapi sifatnya masih kekanak-kanakan."


"Arvin !!"


"Haha itu buktinya langsung marah." Ucap Arvin sambil tertawa kecil, tapi matanya terlihat berkaca-kaca.

__ADS_1


Bismillahirrahmanirrahim mulai detik ini aku harus belajar memulai menjadi lebih baik lagi. Aku bukan anak kecil lagi , aku seorang istri,aku seorang menantu.


__ADS_2