
Keesokan harinya, Axel mulai bertindak. Ia mencari CCTV di sekitar di mana Vita mengalami kecelakaan. Setelah mendapatkannya, Axel mulai melihat plat nomer sepeda motor yang menabraknya Vita.
Axel mencatat nomer itu. Lalu mengeceknya lewat online tapi gak ada. Ternyata Plat Nomernya palsu.
"Aneh, sepeda motornya bagus, bahkan keluaran terbaru tapi kenapa menggunakan Plat Nomer palsu ya?" gumam Axel.
"Bahkan ini harganya sekitar 30-40 juta," ujar Axel.
"Yang pasti, orang yang nabrak Vita bukan orang sembarangan. Dia dari kalangan atas. Dan kecelakaan itu memang di sengaja. Buktinya, dia memakai plat nomer palsu agar orang lain tak bisa melacaknya," ucap Exel dalam hati.
Ia butuh teman-temannya untuk bisa membantu mencari pelaku penabraknya. Kebetulan Axel punya seseorang yang sangat hebat dan gak bisa.di ragukan lagi.
Axel pun segera menelepon temannya itu.
[Assalamualaikum bro?] ucap Axel setelah telephon bersambung.
[Waalaikumsalam bro. Tumben Nelpon, ada apa?]
[Aku butuh bantuanku bro, untuk mengungkap sebuah kasus. Kamu ada waktu gak sekarang?]
__ADS_1
[Kalau sekarang aku gak bisa bro. Aku masih kerja, gimana kalau nanti malam aja]
[ Oke bro, ketemuan dimana?]
[Di resto aja, gimana?]
[Oke aku setuju,]
[Iya udah bro, udah dulu ya. Assalamualaikum]
[Waalaikumsalam]
Setelah mematikan teleponnya, Axel pun kembali ke kantor. Namun di jalan ia melihat Afifah yang lagi jalan kaki. Axel pun menghentikan mobilnya tepat di samping Afifah.
"Mau ngantar pesanan," jawab Afifah sambil menunjukkan kresek yang berisi baju.
"Iya udah masuk, aku antar," ucap Axel. Afifah mengangguk lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Axel.
Selama perjalanannya, mereka memilih diam.
"Belok kiri mas," ucap Afifah. Axel pun langsung membelokkan mobilnya sesuai arahan Afifah.
__ADS_1
"Nanti ada rumah cat biru. Berhenti di depannya, rumahnya di belakang rumah cat biru itu," ujar Afifah. Axel hanya mengangguk dan tak mengeluarkan suara.
Setelah sampai di rumah bercat biru, Afifah pun langsung turun dari mobil Axel, "Makasih ya mas," ujar Afifah. Dan lagi-lagi Axel hanya menganggukkan kepala. Setelah itu Axel pun lanjut pergi ke kantornya.
Jujur ia bahagia satu mobil dengan Afifah tapi Axel terpaksa mengubah sifatnya agar tak terlalu ketara kalau dirinya masih mencintai Afifah. Ia ingin Afifah memperjuangkan dirinya, seperti Axel yang dulu memperjuangkan Afifah.
Sesampai di kantor, Axel langsung di sibukkan dengan setumpuk pekerjaan yang akan membuat dirinya super sibuk. Dan Axel akan berusaha menyelesaikannya secepat mungkin agar nanti malam bisa bertemu dengan teman nya itu.
\=\=\=\=\=
Jam 5 sore, semua pekerjaan baru terselesaikan. Axel langsung pulang ke rumahnya. Sesampai di rumah, ia segera mandi lalu sholat Maghrib.
Selesai sholat, ia menghampiri Aby dan umynya yang lagi mengaji. Sebenarnya Axel tak enak mengganggu mereka tapi jika pergi dan gak pamit dulu, takutnya mereka khawatir.
"Aby, Umy aku keluar dulu ya," ujar Axel
"Emang mau kemana, Nak?" tanya Zahra.
"Mau ketemu teman di resto," jawab Axel.
"Oh gitu. Iya sudah, kamu hati-hati di jalan dan jangan ngebut ngebut," ujar Adzriel.
__ADS_1
"Iya, Aby. Aku pamit dulu. Assalamualaikum," ujar Axel sambil mencium tangan Zahra dan Adzriel.
Setelah itu, Axel pun pergi ke garasi untuk ambil mobilnya lalu ia pun pergi ke resto dimana ia berjanjian dengan temannya itu.