
Vita yang sudah sadar langsung teriak-teriak kembali setelah dirinya ingat. Dia sudah tak lagi sempurna. Vita terus saja menangis, menangis dan menangis.
Victor dan Victoria yang ada di sampingnya berusaha menenangkannya dan menguatkannya.
Victor dan Victoria memeluk putrinya bersamaan hingga Vita mulai tenang kembali. Victor menasehati Vita bahwa ini ada ujian baginya. Mereka berdua terus saja menasehati Vita hingga akhirnya tak lagi menangis dan berteriak. Ia hanya diam seribu bahasa.
Dan itu membuat hati Victor dan Victoria teriris melihat keadaan putrinya yang sekarang.
Andi yang ada di ruangannya, dia gak jadi pulang. Ia hanya mandi dan ganti baju di ruangannya. Untunglah di ruangan itu ada beberapa baju, kaos dalam, Celana dalam dan juga Celana panjang. Sehingga Andi gak perlu bingung pakai apa.
Dan untungnya juga di ruangannya ada kamar mandi walaupun kecil tapi cukup untuk dua orang dan di sana juga sudah lengkap ada sabun, sikat gigi, pasta gigi dan juga sampo.
Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi, Andi menyemprotkan parfum ke bajunya. Setelah selesai, barulah ia pergi ke kantin karena perutnya yang terasa perih. Andi hanya memesan nasi pecel dan air hangat. Setelah selesai makan, barulah dirinya kembali ke ruangan dimana Vita di rawat.
Saat ia memasuki kamar Vita, ia melihat Vita sudah sadar, hanya saja dirinya diam seribu bahasa.
"Siang Om, Tante. Maaf lama," ucap Andi ramah sambil tersenyum
"Iya gak papa Nak Andi, Santai aja," jawab Victor tak kalah ramahnya.
"Kalau Om dan Tante mau pulang dulu, gak papa. Biar Vita aku yang jaga," ujar Andi
"Emang nak Andi gak kerja?" tanya Victoria
__ADS_1
"Enggak Tante, aku sudah izin libur selama seminggu ke depan. Aku akan jaga Vita," jawab Andi
"Tapi apa gak papa Nak, kamu libur?" Victoria gak enak hati karena sudah mengganggu pekerjaan Andi.
"Gak papa Tante," jawab Andi
"Iya sudah kalau gitu, om dan Tante mau pulang dulu ya. insyaAllah nanti malem, om dan Tante ke sini lagi,"
"Iya om,"
"Kami pamit pulang dulu, Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
Setelah kepergian Victor dan Victoria. Andi mendekati Vita yang hanya diam seribu bahasa.
Andi meraih kepalanya dan menaruhnya di dada. Andi memeluknya dengan erat, tangan kanannya membelai rambut Vita yang sedikit berantakan.
"Terimakasih sudah menolongku dan Maaf gara-gara aku seperti ini," ujar Andi tulus sedangkan Vita hanya diam seribu bahasa.
"Kamu gak boleh kayak gini Bit, kamu harus kembali ceria. Hatiku sakit, melihat kamu seperti ini. Walaupun kamu tak lagi sempurna tapi bagiku kamu sangat istimewa. Kamu perempuan yang rela berkorban untuk orang yang kamu cintai.
Maaf karena selama ini, aku sering nyakitin kamu, mengabaikan kamu. Bahkan dengan teganya aku tunangan dengan sahabat kamu padahal aku tau, kamu sangat menyayangi dan mencintai aku. Aku tau itu berat buat kamu. Aku tau, setiap hari kamu merasa sakit lihat aku sama Alexa. Maafkan aku, maafkan aku yang terlalu egois hingga memikirkan bagaimana perasaan kamu.
__ADS_1
Tapi mulai sekarang, aku akan jaga kamu, aku akan melindungi kamu. Kita akan terus bersama hingga ajal menjemput kita. Aku janji, aku gak akan pergi dari kamu. Aku juga akan memutuskan pertunangan aku dan Alexa. Agar setelah ini, aku bisa ngelamar kamu." ucap Andi sambil terus membelai rambut Vita. Sedangkan Vita hanya diam seribu bahasa. Namun Vita sedikit merasa nyaman berada dalam pelukan orang yang ia cintai bahkan bisa mendengarkan detak jantung Andi. Hanya saja Vita belum mau untuk bicara.
Mata yang tadi hanya berupa tatapan kosong, kini sudah mulai bernyawa.
"Nanti jika kamu sudah sembuh dan boleh pulang, aku akan menginap di rumah kamu bersama kedua orang tua kamu. Aku akan minta izin ke mereka agar bisa terus jaga kamu. Hanya saja nanti jika aku sudah kembali bekerja, untuk sementara Mama kamu dulu yang akan jaga. Jika aku sudah pulang kerja, baru aku lagi yang akan jaga kamu. Untuk itu kamu harus cepat sembuh ya, biar kita bisa tinggal satu atap. Aku akan tidur di rumah kamu tapi aku akan tidur di ruang tamu atau di kamar yang kosong karena kita gak mungkin tidur satu kamar sampai kita sah sebagai suami istri." ucap Andi, walaupun ini berat tapi hanya kata-kata inilah yang bisa membangkitkan semangat Vita untuk bisa segera sembuh kembali.
Nanti setiap hari Minggu, aku akan mengajak kamu jalan-jalan. Aku akan buat hidup kamu lebih berwarna. Aku akan belajar menyayangi dan mencintai kamu seperti kamu yang sangat menyayangi dan mencintai ku." ujar Andi lagi yang membuat Vita sedikit senang dengan ungkapan hati Andi ya walaupun dia masih sangat sedih karena keadaannya yang seperti sekarang. Tapi ia merasa bahagia karena pengorbanannya bisa membuat Andi jatuh ke dalam pelukannya.
"Sekarang kamu makan dulu ya," ujar Andi melihat ada bubur di meja. Memang di rumah sakit ini, setiap pasien akan di beri makan 3x. Jam 8 pagi, Jam 1 siang dan jam 7 malam.
Dan Vita pun hanya menganggukkan kepala.
Andi mengambil bubur itu dan menyuapi Vita dengan sangat telaten.
"Kamu harus makan yang banyak, biar cepet sembuh. Aku gak mau lihat kamu sakit seperti ini," ujar Andi sambil terus menyuapi Vita.
Vita sangat bahagia, untuk pertama kalinya Andi mau memberikan perhatian kepadanya.
Setelah menghabiskan buburnya, Andi memberikan segelas air yang ada di atas meja.
"Ini kamu minum dulu," ujar Andi
Vita pun minum dengan gelas yang di pegang oleh Andi karena tangan kanannya yang sudah gak ada sedangkan tangan kirinya masih sedikit sakit karena ia terpental. Tapi untunglah hanya tangan kanannya saja yang di amputasi. Vita gak bisa membayangkan jika harus dua duanya yang harus di potong. Pasti akan membuat Vita susah melakukan aktivitas.
__ADS_1
Setelah selesai minum. Andi menyuruh Vita tidur tapi Vita gak mau. Akhirnya Andi menyalakan tivi yang ada di ruangan itu. Andi duduk di samping Vita. Mereka nonton bareng, Vita bersender di bahu Andi karena memang Andi duduk di brankar, dekat dengan Vita. Vita bersandar di bahu Andi dan Andi memeluk Vita, tangan kirinya merangkul Vita dari belakang. Sesekali Andi mencium kening Vita yang membuat Vita merasa nyaman dan bahagia.
Pengorbanan Vita begitu besar hanya ingin mendapatkan hal seperti ini. Vita berharap kelak Andi bisa menyayangi dan mencintainya seperti dirinya yang sangat menyayangi dan mencintai Andi.