
Hari ini akad nikah Cantika dan Satria yang di lanjutkan dengan resepsi pernikahan. Karena Clara yang lagi ujian, jadi saat hari H pernikahan dia baru bisa pulang. Karena itu di saat semua berkumpul di rumah om Fino aku malah berada di bandara menjemputmu Clara.
"Lo ko sendiri menjemput gw, mana laki lo?"
" Ada di rumah Lo lah. GW gak bilang siapa-siapa kalau mau jemput Lo ,kecuali papa yang kebetulan melihatku mengeluarkan mobil."
"Mampir ke apartemen Lo dong numpang mandi dan berdandan!"
"Oke, kita meluncur. Berapa hari kamu di sini ?"
"Mungkin seminggu. Gw belum ada rencana, gw udah berhenti kerja di kantor sepupu gw. Saat ini gw cuma fokus sama tesis dan kerja part time di kafe teman kuliah." Jelas Clara, membuka obrolan-obrolan Kami yang lain sampai tiba di apartemen.
"Lo mau mandi di mana ?"
"Emang ada beberapa kamar mandi ?"
"2, satu di kamar tidur kami satu di ruang kerja Raka."
"Di ruang kerja saja tapi temanin, ya!"
"Hmmm." Saat Clara mandi aku duduk di kursi meja kerja Raka, sambil membuka setiap laci. Entah mengapa ada rasa ingin tahu apa yang di simpan Raka, sampai aku menemukan buku nikah di laci paling bawah.
Buku nika siapa ini? Buku nikah ku, kapan Raka mendaftarkan pernikahan kami?
Aku baru ingat seminggu yang lalu Raka, memintaku untuk mendatangani berkas yang aku tidak isinya. Aku tidak sempat membacanya karena masih ngantuk waktu Raka menyodorkannya padaku.
"Lo kenapa ?" Tanya Clara yang sudah berdiri di depanku .
"Ini." Ucapku sambil memperlihatkan buku nikah.
"Bukannya kalian baru nikah sirih ya?"
"Iya , pernikahan kami rencananya baru di daftarkan sebelum resepsi dan perkiraan 6 bulan lagi."
"Sekarang rencanamu apa. Kalau gw boleh kasih saran jalani saja dulu, gw lihat rasa di hatimu belum terlalu hilang bisalah di pupuk lagi."
"Sok tahu Lo, ayo pulang !" Hanya butuh 15 menit dari apartemen Raka sampai di rumah.
"Dari mana dari tadi aku cari ga ada ?" Pertanyaan Raka menyambut kedatanganku.
"Aduh baru juga di tinggal sebentar sudah nyariin, kayak anak ayam di tinggal pergi induknya."
"Lo kapan datang ?"
"Baru di jemput bini mu." Ucap Clara yang langsung ku tutup mulutnya dengan kue yang kebetulan ku pegang.
"Sorry, selamat ya mas atau pak ni." Ucap Clara sambil tertawa kecil.
"Senyaman kamu tapi jangan pak deh, aku kan bukan dosenmu."
__ADS_1
"Mas sudah makan ?"
"Sudah tadi sama sepupuku yang lain."
"Gw mau mau ngucapin selamat buat pengantin dulu!" Ucap Clara yang langsung berdiri dan berjalan ke pelaminan.
"Pasti sebentar lagi heboh, Clara kan bilang baru bisa pulang besok."
"Tadi aku juga heboh."
"Heboh kenapa ?"
"Excited, my wife disappeared without a word."( Heboh, istriku menghilang tanpa kabar.)
"Is apan sih."
"Haha istriku malu,"bisik Raka.
"Ekhm ekhm pacaran aja, nanti om nikahkan sekalian kamu." Ucap om Wahyu, yang baru datang dan duduk disamping Raka dengan membawa makanan di piringnya.
"Wah dengan senang hati om,"jawab Raka.
"Kamu dan kakakmu satu keluarga, kalau mau nikah nunggu 4 bulan lagi, saat sudah pergantian tahun." Ucap om Wahyu yang terkenal sangat mematuhi adat Jawa.
"Bukannya pergantian tahun masih lama ya om,?" tanya Raka. Membuatku langsung menahan tawa dan berujung Raka yang harus mendengar ucapan om Wahyu, mengenai perhitungan tanggal bulan dalam hitungan Jawa. Buat kami keluarganya sudah tidak asing mendengarkan nya, berbeda dengan Raka yang nampak serius.
"Aku tinggal nikmati sampai kuping mu keriting," bisik ku. "Terus kan ngobrolnya Om aku masuk dulu !" Ucapku sambil tersenyum dan Raka melotot saat aku meninggalkannya berdua dengan om Wahyu.
"Lagi dengerin dongeng Om Wahyu."
"Haha ko bisa ?"
"Raka bertanya tentang pergantian tahun, yang menurut Om Wahyu 4 bulan lagi. Sedangkan di kalender masih lama."
"Haha dia kejebak. Tapi Om Wahyu meski sangat perhitungan dengan adat Jawa, anaknya malah nikah dapat bule semu ya."
"Iya ya, meski bule Malaysia."
"Sudah lama ya kita tidak bercanda begini."
"Bagaimana mau bercanda kalau kamu jaud di sana. Setelah selesai S2 mu segera pulang ya!"
"Aku masih takut untuk bertemu dengannya."
"Bagaimana kalau selama Lo di Jakarta kita liburan, mendaki gunung mungkin." Ucapku mengalihkan pembicaraan, tapi belum sempat Clara menjawab pemandangan di pelaminan membuat Clara lansung menunduk.
"Ada aku."
"Aku mau masuk dulu," ucap Clara meninggalkan aku sendiri.
__ADS_1
Ahkirnya aku berjalan kembali menemani Raka, yang sudah duduk sendiri.
"Keriting mas kuping mu?"
"Haha biasa saja, itu tidak seberapa. Sejak aku kecil sering mendengar ucapan yang kadang tidak ada manfaatnya, dari nenek dan Nini. "
"Apa mereka tidak suka pada mu?" Tanyaku hati-hati semakin aku mengenal Raka dan mamanya ada rasa bersyukur,karena keluarga kami yang sangat menyayangi satu sama lainnya. Meskipun terkadang ada cekcok sedikit dan jalan pemikiran yang berbeda.
"Sangat wajar jika mereka tidak menyukai ku, karena aku lahir dari wanita yang tidak mereka harapkan. Tapi aku bersyukur pernikahan kita meskipun masih di rahasiakan, mendapatkan restu kedua orang tua kita." Ucap Raka terhenti saat mengunyah kue yang aku bawa.
"Restu orang tua sudah ada, tinggal kita berjuang bersama membangun pondasi yang kuat untuk rumah tangga kita." Ucap Raka sambil menggegam tanganku.
"Ekhhm ekhm di genggam aja tangannya takut lepas ya?" Tanya seseorang yang baru datang dan langsung bergabung dengan kami.
"Hai Kia!"
"Hai mas, istrinya mas kok gak di kenalin ?"
"Wi, kenalkan pasangannya Raka."
"Dwi, istri mas Daru."
"Azkia mbak. Sudah berapa bulan mbak?"
"Baru menginjak usia 6 bulan."
"Ngidam nya aneh-aneh gak mbak?"
"Alhamdulillah tidak, cuma tidak mau makan nasi."
"Kalau begitu makannya roti dan dong kaya bule,"candaku.
"Buka roti dia malah makan ubi-ubian, Indonesia banget." Aku ngobrol dengan Dwi sedang Raka ngobrol dengan Daru.
"Cari siapa mbak ?" Tanyaku penasaran saat dia melihat ke sekelilingnya.
"Aku pingin ketemu mantan pacar mas Daru. Aku minta maaf atas keegoisan orang tua kami, yang memisahkan mereka !" Ucapnya lirih sambil menunduk.
"Mbak sudah pernah bertemu ?"
"Sudah saat pernikahan kami. Tapi aku tidak tahu namanya !"
"Wi ! Ayo pulang !"
"Balik dulu Kia."
"Iya mas, mbak." Setelah Daru dan istrinya pergi, Raka kembali duduk di dekatku .
"Aku bersyukur bisa menikah dengan orang yang kucintai. I love you Azkia." Ucap Raka Sambil mengecup tanganku.
__ADS_1
"Mas malu,"cicitku. Mendengar ungkapan cinta Raka saja jantung ku terasa mau lompat keluar, apalagi mendapatkan perlakuan Raka. Ya Allah bisa-bisa hatiku langsung luluh semua buatnya.