
Sesampai di rumah, Andi langsung mandi dan setelah itu ia langsung pakai baju dan sholat Isya'. Karena ini sudah jam setengah 8 malam dan Andi belum sholat. Tadi di rumah Alexa, Andi hanya numpang sholat Maghrib saja.
Selesai sholat Isya', Andi masih menyempatkan waktu untuk mengaji walaupun hanya satu juz. Dan setelah itu, barulah ia menelpon ibunya.
"Assalamualaikum bu," ucap Andi setelah telephon nya tersambung.
"Waalaikumsalam. Tumben Nelpon ada apa le?" tanya ibunya yang memanggil anaknya dengan sebutan le atau nak.
"Gak papa Bu, pengen telephon aja. Kabar ibu sama ayah gimana?" tanya Andi yang gak enak jika langsung ngomong ke intinya.
"Alhamdulillah baik. Kamu sendiri gimana kabarnya?" tanya balik ibunya.
"Alhamdulillah Bu baik juga. Bapak mana, Bu?" tanya Andi.
"Lagi keluar le. Biasa ke rumah temennya lagi bahas pekerjaan sambil ngopi gratis," jawab ibunya. Yah memang itulah bapak, kalau sudah habis sholat Maghrib biasanya sering keluar ke warung atau ke rumah temannya. Nanti kalau sudah jam 9 malam, baru pulang.
Tapi gak sering juga sih. Paling dalam seminggu bisa tiga atau empat kali.
__ADS_1
"Oh gitu toh buk. Oh ya Bu, ada yang ingin omongin," ujar Andi yang mulai membicarakan inti dari obrolan tersebut.
"Mau ngomong apa. Dari tadi kan sudah ngomong," ujar ibunya.
"Bu, Minggu depan. Ibu, bapak, nenek, kakek, dan keluarga besar ke sini ya buk,"
"Ngapain?" tanya ibunya Aldi heran
"Aku dan Alexa mau nikah 3 Minggu lagi,"
"Iya gak lah Bu. Masak ia, aku mau hamilin anak orang sebelum nikah. Memang sengaja di percepat biar sama kayak Axel, saudara kembar Alexa. Dia juga nikah 3 Minggu lagi," jawab Andi
"Iya sudah, nanti ibu bicarakan lagi sama bapak. Tapi jika Minggu depan ibu ke sana. Pernikahan kamu kan kurang 2 Minggu lagi," ujar ibunya Andi.
"Iya Bu. Biar Ayah sama Ibu nginep di kontrakanku aja sedangkan yang lain nanti aku Carikan kontrak. Aku gak enak Bu, kalau datangnya pas sudah mau hari H. Nanti ayah sama ibu bisa bantu bantu mereka buat menyiapkan pesta pernikahan apalagi undangannya untuk ribuan orang tentu akan butuh orang banyak buat bantu bantu. Kasihan jika Aby sama Umy yang ngerjain semua berdua. Paling tidak, ayah sama ibu harus bantu mereka menangani agar pernikahan nanti bisa berjalan dengan lancar," ujar Andi yang kadang manggil ayahnya itu dengan sebutan bapak. Ya itulah Andi, kadang manggil orang tuanya sesukanya. Kadang ayah kadang bapak.
"Terus bapak sama ibu ke sana bawa apa?" tanya ibunya bingung.
__ADS_1
"Entahlah aku juga bingung Bu. Kata mereka, ayah sama ibu gak usah bawa-bawa. Karena mereka semua yang menanggung biayanya tapi aku juga akan menyumbang sedikit tabunganku buat biaya pernikahan,"
"Ya gak enak ibu le, kalau ke sana gak bawa-bawa. Gimana kalau ibu bawa makanan tradisional aja. Kue kering khas Situbondo," ucap ibunya.
"Baiklah terserah ibu enaknya gimana. Nanti ibu urus aja gimana enaknya. Ibu juga carilah bus yang enak dan nyaman karena ini kan perjalanan panjang. Nanti biayanya, aku semua yang nanggung," ujar Andi. Sebenarnya lebih enak pakai pesawat aja. Mereka bisa ke Jember terlebih dahulu atau ke Banyuwangi, baru setelah itu mereka naik pesawat ke Jakarta. Karena kalau naik bus atau kereta, lama di jalan.
Kalau Situbondo ke Jakarta, di Situbondo belum ada pesawat hingga mereka harus ke Banyuwangi atau ke Jember dulu baru bisa naik pesawat karena hanya di sana yang ada bandara nya.
Namun sayangnya ayahnya dan ibunya itu gak terlalu suka naik pesawat hingga mereka memilih untuk naik bus saja atau naik kereta.
"Baiklah nak, nanti ibu akan cari bus yang bagus," ujar ibunya.
"Iya sudah Bu, aku tutup dulu ya teleponnya. Salam buat ayah. Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
Setelah selesai telepon-teleponan, Andi pun menaruh Hpnya di atas meja. Sedangkan Andi ia jalan keluar rumah cari udara segar dan ia baru kembali ke rumah setelah dirinya merasa ngantuk.
__ADS_1