
Pulang kerja aku memutuskan untuk nongkrong di kafe mama, yang letaknya paling dekat dengan kantor.
"Ibu udah pulang mbak!"
"Aku tidak mau ketemu mama ko. Aku cuma mau nongkrong saja, buatkan aku lemon tea hangat,mei ramen pedas level 10 sama potato chips!"
"Siap mbak ,"ucap pelayan kafe bernama Sasa.
Setiap ada masalah biasanya aku curhat dengan Clara, tapi sekarang Clara jauh. Kalau ngobrol lewat ponsel tidak sepuas kalau ketemu langsung. Sejak kuliah temanku baikku cuma Clara, dengan yang lain sering nongkrong bareng tapi tidak begitu dekat. Mungkin karena Clara rumahnya dekat dan kami saudara sepupu, karena itu kami selalu bersama kemana-mana sudah seperti anak kembar.
"Ekhm ngelamun saja."
"Enggak cuma lagi nunggu pesanan. Kok kamu ada di sini?"
"Aku ngikutin kamu sejak keluar dari parkiran. Aku kira ada urusan di kafe, gak tahunya kamu malah duduk disini ."
"Misi!" Ucap Sasa sambil meletakkan pesanan ku.
"Mbak aku kopi latte satu ya!"
"Iya mas , ditunggu yah."
"Itu pesan kamu merah banget pasti pedes banget ?"
"Aku butuh asupan yang bisa membuatku berkeringat."
"Kalau mau berkeringat olah raga bukan malah makan pedas itu sama saja menyiksa pencernaanmu." Tanpa mendengar ucapan Raka aku langsung memakan makananku ,baru habis setengah porsi tiba-tiba Raka mengambil makanan ku.
"Kalau kamu mau pesan sana! Jangan makan pesanan ku,"kesalku. Aku berusaha mengambil pesananku tapi di cegah oleh Raka.
"Kasihanilah perut mu, kamu mau tau cara aku melampiaskan emosi ku." Aku tidak menjawab ucapan Raka, hanya menatap tajam kearahnya.
"Ayo sekarang ikut aku!"
"Kemana ?"
"Ikut aja, mana kunci motor mu?" Dengan malas aku menyerahkan kunci motor ku padanya. Raka berjalan kearah kasir dan memberikan kunci motorku pada bagian kasir.
"Ayo naik motorku saja."
"Cie cie mbak Kia,"ledek beberapa pegawai yang lagi berdiri di kasiran. Aku hanya melotot melihatnya, bukannya takut mereka malah tertawa membuatku semakin kesal.
"Pegangan biar ga jatuh!"
"Hmm."Karena aku tidak kunjung pegangan pada pinggang Raka. Raka menambah kecepatan motornya hingga membuatku terpaksa berpegangan pada pinggangnya.
"Jangan kencang-kencang !" Bukannya mendengar ucapanku Raka malah menambah kecepatan motornya, membuat badanku jadi menempel padanya dan berpegangan lebih erat. Mendekati magrib Raka menghentikan motornya di dekat musholla.
"Sebentar lagi adzan kita tunggu adzan, sekalian sholat magrib disini !"
__ADS_1
"Mau kemana sih?"
"Nanti kamu juga tahu." Ucap Raka sambil sibuk dengan ponselnya.
"Nanti orang tuaku mencariku."
"Tenang aku lagi mengirim pesan pada papa." Ucap Raka sambil menunjukkan ponselnya.
"Hah! Papa sejak kapan kamu panggil papaku papa?"
"Sejak hari ini, atas perintah papa langsung."
"Ih nyebelin."
"Haha ga papa latihan nanti pas jadi
Mantu beneran lidahnya sudah terbiasa."
Setelah terdengar adzan magrib kita sholat magrib berjamaah dengan warga sekitar.
"Lapar kan makan dulu di depan situ." Ucap Raka sambil menunjuk rumah makan Betawi, yang berada tepat di depan musholla.
"Kita mau kemana sih?"
" Kamu belum bisa menebak ?" Tanya Raka sambil memperhatikan sekitar.
"Wah matahari terbenamnya bagus juga,"ucapku saat melihat kearah pandangan Raka.
"Yap betul sekali ayo makan !"
Kami makan sambil menikmati suasana pantai yang mulai gelap.
"Kenapa kamu sekarang seperti menolak setiap kali aku dekat kamu?"
"Bukan menolak tapi aku cuma membentengi diriku, biar tidak jatuh."
"Emang kapan aku membuat mu jatuh ?"
"Apa mas gak merasa pernah memberikan harapan padaku ?"
Raka diam sesaat sebelum ahkirnya menggelengkan kepalanya.
"Sejak pertemuan kita di bangku kuliah, beberapa kali ucapanmu terkesan seperti berusaha mendekati ku!"
"Bukan terkesan mendekatimu ,aku memang berusaha mendekati mu. Tapi kamu selalu menghindar."
"Aku tidak menghindar,tapi menjaga hatiku. Aku beberapa kali melihat mas dekat dan beberapa kali jalan dengan Leora. Bahkan Leora sampai rela merayakan ulang tahunnya di kafe mama, hanya untuk membuktikan kedekatan kalian."
"Kedatanganku waktu itu di jebak, dia bilang cuma merayakan ulang tahun dengan makan di kafe ."
__ADS_1
"Aku juga pernah melihat Leora mas bonceng mesra !"
"Kamu kan tahu bagaimana kondisi motorku, ya pasti kalau aku bonceng pakai motor ku nempel!"
"Dasar lelaki mesum, sengaja beli motor kaya begitu biar yang di bonceng menempel kedepan ya?"
"Haha kamu kenapa bisa berpikir begitu !" Ucap Raka sambil tertawa ngakak, sampai meneteskan air matanya.
"Kenapa tertawa sampai begitu ?"
"Kamu lihat motorku itu emang di desain dari sananya memiliki tempat duduk sempit. Jadi kalau di naikin 2 orang pasti menempel. Dan aku beli bukan karena otak kotorku yang mesum. Dulu aku dengan Ardan dan Daru , berlomba untuk mendapatkan motor sport itu dengan uang dari keringat kita sendiri."
"Terserah kamu lah, apa pun alasannya hanya kamu yang tahu. Lagian tidak hanya dengan Leora, kamu pernah mengundangku untuk menghadiri acara wisudamu ingat ?"
Raka langsung mengaguk, "Waktu itu aku udah merasa bangga dan senang, tapi ternyata kedatanganku cuma untuk di kenalkan sama tunangan mu."
"Waktu itu aku mengundangmu, memang ingin mengenalkan mu dengan mama. Aku tidak tahu kalau Nadila datang dan langsung mengaku sebagai tunanganku. Padahal aku sudah menolak rencana nenek untuk menjodohkan kami."
"Terus sekarang apa dengan semua yang sudah kualami aku bakalan dengan mudah percaya pada ucapan mas?"
Terdengar helaan nafas kasar Raka, "Aku tahu susah buatmu untuk memberikan hatimu buatku, tapi biarkan aku menunjukkan keseriusan ku padamu."
Aku tidak tahu harus menjawab apa , karena itu aku memutuskan untuk tidak memberikan jawaban apapun.
"Pertama kali aku mengenalmu waktu aku masih kuliah dan kamu masih duduk di bangku SMP. Saat itu aku hanya menganggap kamu anak kecil yang yang punya daya tarik. Setelah pertemuan di bangku kuliah aku mulai merasakan, perasaan aneh saat bertemu dengan mu. Karena itu aku berusaha mendekati mu, tapi semakin dekat denganmu susah buatmu berjauhan. Saat itu aku sadar kalau aku sudah tertarik padamu."
Aku melihat ke arah Raka yang menundukkan kepalanya. Hingga terdengar adzan isya kami kembali ke mushola, dan berjamaah di sana.
"Mau pulang atau ke pantai ?"
"Pulanglah sudah malam, jangan sampai jadi berita gosip lagi ya!"
"Aku tidak menyesal karena dari berita itu kita jadi bertunangan. Padahal aku mau mengajak mu ke pantai,kamu bisa berteriak sepuasnya atau berlari sepuasnya di pantai !"
"Pulang yuk,gak usah bahas itu dulu." Ucapku mengalihkan pembicaraan, jika kamu terus di sini bisa-bisa obrolan kami jadi ke mana-mana. Kami pulang tanpa ada pembicaraan lagi, sampai kami tiba di rumah.
Papa, mama dan Arvin menyambut kedatangan ku dengan tatapan aneh.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
"Ada apa sih kenapa kalian melihat kearah kami dengan pandangan aneh begitu ?"
"Masuk dan duduk dulu!" Aku dan Raka langsung menuruti perintah papa.
"Lihat ini,!"ucap Arvin sambil menunjukkan ponselnya.
📷 Nampak fotoku dan Raka sedang duduk di kafe.
__ADS_1
📷 Fotoku naik motor Raka, kali ini gambar ku terlihat jelas.
Ya Allah gosip apa lagi ini?