
Tidak ada percakapan di antara kami saat pulang, ini pertama kalinya aku melihat Raka marah.
"Apa aku bisa minta tolong padamu?" Ucap Raka memecah keheningan di dalam mobil.
"Minta tolong apa? Jika aku bisa pasti aku akan bantu!"
"Temenin Mama pergi ke Australia!" Ucap Raka bukan seperti orang yang minta tolong, tapi lebih tepatnya seperti perintah mutlak yang harus dilaksanakan.
"Baiklah aku akan temani mama."
"Terima kasih, jujur aku takut mama kerepotan. Apalagi mengurus nenek yang kesehatannya, terkadang bisa drop sewaktu-waktu."
"Emang Nenek suka sakit apa?"
"Di usia nenek yang menginjak 80 tahun, nenek sering sakit itu memang hal yang wajar. Tapi aku jujur takut jika mama disalahkan, mengingat pihak Nini tidak ada yang suka dengan mama."
Sekarang aku tahu sumber kecemasan Raka dan itu hal yang wajar.
"Baiklah aku akan temani mama, seperti mama aku akan mengagap perjalanan ini sebagai libur."
"Nanti aku akan hubungi Satria biar sekalian dia mengurus administrasi dan tiketnya. Terima kasih ."
"Aku istri mu ,jadi sangat wajar jika aku membantumu. Mama juga keluargaku, kamu tidak perlu mencemaskan itu." Ucapku yang di balas Raka dengan mengusap kepalaku lembut.
Sesampai di apartemen Raka langsung menghubungi Satria, sedangkan aku berganti baju dan rebahan di kasur. Entah berapa lama Raka berkomunikasi dengan Satria, yang jelas aku sudah tidur saat Raka menyusul ku masuk ke dalam kamar.
Saat aku terbangun sudah masuk waktu subuh, seperti biasanya aku dan Raka sholat subuh berjamaah habis itu aku memasak.
"Karena istriku sudah meluangkan waktunya untuk memasak, sekarang giliran aku yang mencuci baju dan membersihkan apartemen."
"Kamu tidak joging atau gym ?"
"Tidak aku bisa melakukan gym nanti pulang kerja."
Setelah semua pekerjaan selesai,aku menyiapkan baju buat Raka ke kantor dan sarapan.
"Aku sudah bilang Satria, hari ini Satria yang akan mengurus semuanya. Bagaimana dengan visa dan paspor mu, masih berlaku ?"
"Masih tapi di rumah mama papa semua."
"Ya udah sebelum berangkat kerja aku akan mampir ke sana."
"Aku ikut kalau ke rumah mama , aku mau ganti baju dulu. Kamu sarapan dulu aku mau mandi dan ganti baju."
__ADS_1
"Nanti ke kafe kamu bagaimana ?"
"Aku bisa berangkat sama Clara dan pulangnya seperti biasa kamu menjemputku ke kafe." Ucapku, karena Raka hanya mengaguk aku langsung pergi ke kamar. Setelah siap aku keluar, kulihat meja makan sudah bersih dan piring kotor juga sudah di cuci Raka.
"Ayo kita berangkat sekarang !"
"Perasaan setiap Minggu ke temu papa dan mama, tapi masih aja semangat ." Ucap Raka sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Waktu tinggal satu rumah sama mereka terasa biasa saja, tetapi begitu kita berbeda rumah ada rasa kangen."
"Tapi kemarin kita tidak ketemu 3 hari, kamu biasa saja. Tidak kelihatan kalau kamu rindu aku."
Sok tahu, kalau aku gak rindu. Aku tidak tidur dengan memeluk bantal bekasmu.
"Hehe ,"cengir ku.
"Sebelum berangkat ke Australia menemani mama, boleh aku minta hakku?"
"Boleh ?"Tanya Raka lagi kali ini sambil melihat kearah ku.
Dengan susah payah aku anggukan kepalaku, sambil menelan ludahku membayangkan yang akan terjadi nanti malam. Selama perjalanan di dalam mobil, tanganku selalu di gegam Raka. Meski terkadang akan di lepas sebentar, Raka sungguh memperlakukan aku seperti aku akan pergi lama saja.
"Kamu bisa langsung berangkat kerja jika buru-buru."
"Tidak apa-apa aku akan tunggu," ucap Raka memotong ucapanku.
"Berapa lama kamu akan tinggal di Australia ?"
"Aku kurang tahu ma, tergantung mamer aja aku mah!"
"Mamer ?"
"Mama mertua."
"Kamu itu ya, kualat kamu tar tau rasa!" Ucap mama yang ku jawab dengan tawa kecil.
"Mama sudah tahu kalau pernikahanku sudah terdaftar di KUA ?"
"Sudah sehari setelah kalian akad nikah, Raka langsung bilang ke papa dan mama sebagai orang tua kami sangat mendukung keputusannya."
"Aku malah baru tahu beberapa hari yang lalu."
"Kalau kamu sudah tahu maka saatnya kamu harus tunaikan kewajiban mu sebagai istri seutuhnya."
__ADS_1
"Hah mama tahu?"
"Mama cuma nebak tapi respon mu, membuktikan kalau tebakan mama benar." Aku hanya cemberut mendengar ucapan mama.
"Dosa bagi seorang istri menolak keinginan suami Lo,?" ucap mama sambil tertawa kecil.
"Apaan sih ma. Aku berangkat ke kafe bareng Clara jadi, sekarang aku mau ke rumah Om Fino !" Pamit ku sambil mencium punggung tangan mama.
"Alasan doang, sana kabur !"
Aku terus berjalan keluar tanpa menghiraukan ledekan mana, yang memang benar adanya .
Aku sangat senang waktu jam istirahat siang Raka menyuruhku pulang duluan, Raka bilang dia ada kerjaan yang tidak bisa di kerjakan esok hari. Sesampainya di rumah dan sudah selesai sholat isya, aku lanta pura-pura tidur.
Tapi baru 2 menit ak bermain ponsel,aku mendengar suara pintu di buka dari luar. Membantuku langsung menaruh ponsel dan pura-pura tidur.
Katanya lembur ko cepat banget pulangnya.
"Masih sore baru jam 8 masak sudah tidur aja." Ucap Raka sambil mengusap kepalaku dan mengecup kening kiu.
Aku bisa bernafas lega saat Raka menjauh dariku dan masuk ke dalam kamar kami. Tapi sayangnya hanya sebentar, belum sempat aku tertidur Raka Sudah datang dengan wangi sabunnya.
"Ayo kita pindah k, kamar," ucap Raka yang siap-siap menggedong ku.
"Sudah pulang mas,"ucapku pura-pura sambil mengucek mata.
"Sudah, ayo kita pindah ke kamar." Aku yang tidak mau di gedong langsung bangun dan berjalan ke kamar.
"Mass !"Kagetku saat tiba-tiba Raka memelukku dari belakang,saat sudah di dalam kamar kami.
"Kamu pura-pura tidurkan hmm?"
"Sok tahu kamu mas!"
"Aku tahu tidak ada orang yang bangun tidur jalannya seperti kamu," Ucapnya yang mulai mencium dan menjilat leherku dari belakang.
"Jad sekarang terima hukuman dari Ku." Ucap Raka sambil membuka kaosnya menyisakan celana boxernya. Membuatku langsung bergidik ngeri, tapi yang terjadi malah Raka merebahkan tubuhnya di sampingku dengan posisi tengkurap.
"Pijat aku dong, badanku capek semua !"
"Ayolah pakai kakimu juga tidak apa-apa." Ucap Raka saat aku hanya bengong, aku sudah berpikir yang tidak-tidak.
"Iya,"ucapku gugup.
__ADS_1
Hanya sekitar 10 menit aku memijat Raka, sudah terdengar dengkuran halus darinya.
Sepertinya dia sangat kecapean, tapi wajar sih , habis dari Surabaya dia langsung bekerja di kantor papa. Aku yakin di Surabaya dia pasti juga bekerja tidak mengenal waktu. Selamat tidur my husband, mimpi indah ya sayang Cup cup. Setelah memberikan kecupan pada Raka, aku ikut merebahkan tubuh ku di sampingnya menyusulnya ke alam mimpi.