
Bram duduk di meja kerja sambil tertawa dengan kebodohan Hyuk. selama ini bahkan Hyuk lebih kaku darinya. tapi ketika menyangkut gadis itu Hyuk terlihat konyol.
"Suruh Hyuk segera kembali". Bram menelpon staf bagian keamanan. ia tahu pasti Hyuk pergi ke ruangan itu untuk memantau apa yang terjadi antara Petra dan Keara.
Hyuk datang ke ruangan Bram, pura-pura Biasa saja.
Lihat dirimu kau sama bodohnya dengan ku. Bram.
"Sudah kau lihat mereka?".
"Saya dari ruang keamanan tuan, ada cctv yang sepertinya rusak". Hyuk berkilah. jangan sampai Bram tahu, ia akan sangat malu. pikirnya.
"Ayo kita pulang sebelum Maura membuat kekacauan karena Ariani akan pulang lebih awal dari rumah orangtuanya".
"Baik tuan".
Hyuk segera melupakan tentang Keara dan Petra. ia fokus pada Maura, tadi pagi saja gadis itu berani membuat keributan. dan Hyuk masih tidak habis pikir kenapa data diri Maura sulit di akses, seperti memang ada yang sengaja melindunginya. Hyuk berfikir Maura salah satu utusan lawan bisnis Admaja Group.
__ADS_1
Hyuk memarkirkan mobilnya. Ariani sudah menyambut di depan. tak nampak Maura disana.
***
Di rumah utama sebelum Bram pulang.
Ariani pulang lebih awal karena Bibi Nam menelponnya. ia sudah mendengar semua tingkah Maura dari bibi Nam. Ariani Geram, ia sudah menduga dari awal ada yang tidak beres dengan Maura. ia terlalu kentara dalam mendekati Bram. bahkan ia tidak memandang Ariani sebagai istri Bram.
"Aku mengerti bi, bibi jangan khawatir. aku tahu siapa suamiku".
Ariani mendatangi Maura dan menanyakan perihal ia menggoda suaminya. tapi ibu membelanya. Ariani malas berdebat dengan ibu mertuanya jadi ia tidak memperpanjang dan memilih kembali ke kamarnya.
***
Bram mengecup kening Ariani dan merangkul bahu istrinya itu sembari bejalan menuju kamar mereka. Maura yang mengintip terlihat kesal dengan perlakuan Bram pada Ariani.
Jika aku ingin menakhlukan Bram pertama yang ku lakukan adalah menyingkirkan Hyuk. lelaki itu kokoh dan sulit untuk di singkirkan. ia bahkan menakutkan dengan gayanya yang sedikit sekali bicara. Maura.
__ADS_1
Selama bertemu Hyuk Maura bahkan belum pernah melihat lelaki itu tersenyum. kerjanya seperti robot yang selalu berada di belakang Bram.
"Sayang aku sudah dengar semua dari bibi Nam". Kata Ariani yang mengikuti Bram duduk di sofa. Bram merebahkan dirinya di sofa panjang dan cukup lebar itu. ia berbantalan tangannya menengadah memandang langit-langit kamarnya. ia sedang memikirkan cara menyingkirkan Maura. tapi terlebih dulu ia harus tahu gadis itu adalah sepupunya atau bukan. sementara paman Hasim sulit di hubungi setelah berkirim email tempo hari.
Ariani ikut rebahan di samping Bram. ia berbantalkan lengan Bram.
"Ceritakan padaku bagaimana di rumah orangtua mu tadi".
"Seperti biasa ibu menyiapkan hidangan banyak, Wisnu juga di rumah. Aska terlihat sengan bermain dengan kakeknya".
"Maaf aku belum sempat menyusul".
"Tidak apa-apa sayang, lain kali kita pulang bersama".
Bram memeluk tubuh Ariani dan ia memejamkan matanya. tapi pikirannya terus berjalan memikirkan cara untuk mengusir Maura tanpa menyakiti hati pamannya. Bram memerintahkan Hyuk untuk menyadap ruangan di sekitar lantai bawah rumah itu. ia ingin melihat gerak gerik Maura ketika dirinya tidak di rumah.
"Hyuk pasang penyadap di setiap sudut di lantai bawah, aku ingin tahu apa yang dilakukannnya ketika kita tidak di rumah".
__ADS_1