
Pernikahan Cantika dan Satria di gelar cukup mewah di depan rumah Om Fino. Om Fino menolak saran keluarga Satria untuk menyewa hotel karena, jika pesta pernikahan di hotel terbatas oleh waktu. Jika di adakan di rumah tamu tidak akan di batasi waktu, bisa datang kapan saja.
"Kenapa tidak di hotel saja sih om,?" tanyaku.Kami sedang berkumpul melihat para warga dan pihak WO kerjasama untuk mendekorasi rumah dan halaman rumah serta pelaminan.
"Dengan acara ini Om bisa ngumpulin warga untuk bekerja sama. Jika di gedung mereka hanya akan datang makan pulang, jika begini kan terlihat warga kita kompak." Ucap Om Fino.
"Iya pak RW,"ucap papa dan beberapa saudara yang lain.
"Sekalian berbagai kesibukan dengan tetangga," canda adik Tante Indah.
"Habis Cantika siapa yang kira-kira mau nyusul ni?" Ucap Om Wahyu sepupu mama dan Om Fino.
"Masak Om gak lihat Kia suda ada bodyguard nya, ya pasti Kia lah bukan aku." Ucap Arvin membuatku spontan melotot kearahnya. Keluarga jauh belum ada yang tahu aku sudah menikah, papa dan mama sengaja belum memberi tahu takut mereka pada heboh. Heboh kenapa aku menikah secara mendadak dan tidak ada resepsi, dan hanya membutuhkan persiapan secara seminggu.
"Wah bibit unggulan juga pilihan mu ndok,"ucap Tante Windy.
"Kayanya mirip sama foto calon Cantika ya?"
"Ya mereka memang saudara satu Ayah beda ibu,"jawab Arvin .
"Nggak berkembang sekali kamu nduk cari jodoh mbok ya yang jauh dikit, itu calon mu kasih ke anak Tante aja." Ucap Tante Wiwit yang di sambut tawa dan sorakan yang lain. Tante Wiwid tinggal di Blitar, sedangkan anak perempuannya sibuk kerja menjadi pramugari internasional.
"Anakmu mu itu cantik mbak , pinter, mandiri gampang cari jodoh kalau dia mau,"ucap Tante Indah.
"Cantik dan mandiri itu kadang membuat para kaum lelaki minder,Tante." Ucap Arvin .
Obrolan mengenai seputar sepupu yang lain sudah biasa terjadi,jika semua berkumpul begini.
"Tu denger suamimu di minati banyak ibu-ibu buat jadi menantunya, buruan ikat suamimu biar tidak di ambil orang." Ucap Arvin lirih yang hanya ku tatap sinis.
"Emang Raka binatang peliharaanku apa, harus di ikat segala."
"Haha begok apa polos, di ikat pakai anak begok!"
__ADS_1
Ucap Arvin membuatku salah tingkah dan Raka hanya tersenyum tipis.
"Ayo mas sebaiknya kita pulang, Vin bilang mama aku pulang ke apartemen."
"Aku akan bilang mama kamu juga mau belah durian."
"Belah duren ?"
"Gak usah di dengarkan ucapan Arvin ." Ucap Raka sambil menarik tanganku pergi pelan-pelan, tanpa ada yang tahu. Besok adalah hari pernikahan Cantika, hari ini Raka menemaniku di sini. Karena besok Raka akan berada di pihak keluarga Satria. Dari pihak keluarga Raka yang tahu pernikahan kami hanya Keluarga inti saja.
Karena pernikahan ini sebenarnya untuk mengikat kami, biar kami masing-masing tidak mencari pasangan lain. Mengingat papa Raka juga sudah mengumumkan bahwa kami ada sepasang kekasih. Yang sebentar lagi akan bertunangan dan segera menyusul Satria untuk menikah.
Saat perjalanan pulang ke apartemen aku tertidur di dalam mobil Raka, mungkin karena sudah jam 11 malam juga karena aku cukup kelelahan hari ini. Saat aku bangun aku sudah berada di dalam kamar, sedang tidur di dalam pelukan erat Raka.
"Mas hmmm geli,"ucapku saat merasakan Raka sedang mengendus leherku. Ku lirik jam didinding masih pukul 1.30 pagi. Jujur aku sangat terganggu dengan kelakuan Raka, sedang aku sendiri tidak bisa memastikan apakah Raka dalam keadaan tidur apa tidak.
"Aku tidak bisa tidur dari tadi, aku berharap dengan mencium aroma tubuhmu aku bisa tertidur. Tapi yang terjadi aku malah sulit untuk tidur." Ucap Raka sambil tangannya membuat pola abstrak di perutku.
"Kalau begitu kita bisa ngobrol." Ucap Raka sambil bangun dan menyadarkan tubuhnya. Aku yang sudah terbangun jadi ikut duduk dan memperhatikan bajuku yang telah berganti dengan piyama.
"Mas siapa yang menggantikan bajuku ?"
"Disini cuma ada aku dan kamu, jika kamu tidur Menurmu siapa ?"
" Ya kamu mas." Ucapku sambil menunduk menahan malu.
"Mass!!" Teriakku terkejut saat tiba-tiba Raka mengakat tubuhku, hingga aku duduk di pangkuannya.
"Buatku ga masalah cuma buat mengganti baju aja, aku juga tidak macam-macam cuma mengganti bajumu dan membersihkan wajahmu. Tapi setelah selesai semua aku malah tidak bisa tidur." Ucap Raka sambil memegang daguku hingga aku tidak bisa berpaling dari wajahnya.
"Dan sekarang kamu menyeret ku hingga aku juga tidak bisa tidur." Raka hanya tersenyum tipis dan menarik tubuhku ke dalam dekapannya.
"Mass!"
__ADS_1
"Hmm."
"Maaf."
"Buat apa ?"
"Belum bisa menjalani pernikahan ini sewajarnya."
"Kenapa masih gak yakin ?"
"Itu salah satunya, tapi yang utama aku takut jika tiba-tiba kita berpisah. Pernikahan sirih tidak meninggalkan efek buat kaum lelaki jika berpisah, tapi tidak buat kami kaum wanita."
"Kenapa begitu ?"
"Seorang suka di pertanyakan kesuciannya, kegadisannya jika diawal menikah. Tapi di dalam pernikahan sirih tidak ada akte cerai, lelaki biasanya akan mengagap pasangannya perempuan yang tidak baik jika sudah tidak virgin. Sedangkan pernikahan sirih tidak punya akte cerai." Ucapku hati-hati .
"Jadi kamu takut aku meninggalkanmu setelah aku mendapatkan apa yang kuinginkan?"
"Aku hanya berjaga-jaga mengingat aku pernah jadi korban PHP Mas."
"Haha kamu masih ingat saja ya? Tapi jika aku sudah mendaftar pernikahan kita ke KUA, Bagaimana ?"
"Ya.."
"Apa kamu siap menjadi istriku sepenuhnya ?"
"Insaallah mas, Kia akan belajar menjalankan tugas sebagai istri yang baik."
"Terima kasih sayang ayo tidur." ucap Raka diahkiri kecupan di ubun-ubun ku. Sebelum merebahkan badannya dan kami kembali tertidur sampai menjelang suara adzan subuh.
Saat aku terbangun aku masih dalam posisi didekap Raka.
"Biarkan begini sebentar dulu! Jangan banyak bergerak aku takut ular ku terbangun ." Ucap Raka saat merasakan ada benda asing menekan pahaku bagian dalam.
__ADS_1