Cinta Dalam Diam

Cinta Dalam Diam
Jawaban Atas Masalah Yang Datang


__ADS_3

Hanya satu hari dirawat, Ara akhirnya diizinkan pulang, memilih untuk dirawat jalan karena Ara merengek minta pulang.


Tiga hari sudah Ara tidak masuk sekolah karena demam yang melanda. Ditambah lagi sakit batinnya karena sikap Afi akhir-akhir ini yang membuatnya kacau. Cintanya kepada Afi sangatnya menyiksa. Andai saja dia bisa membuang segala rasa itu, mungkin itu akan lebih baik.


Sebenarnya, selama Ara sakit, Afi selalu datang ke rumah sakit juga ke rumah Ara. Namun, Ridwan selalu melarangnya untuk bertemu dengan Ara.


Ara pun mengetahui akan hal itu, karena setiap kali Afi datang, Ara selalu memperhatikannya dari jendela kamarnya. Ara tak bisa berbuat apa-apa, saat Ridwan dengan kekehnya melarang Afi bertemu dengannya. Karena Ara merasa, Ridwan sudah nalakukan yang terbaik untuk melindungi adiknya.


***


Afi duduk termenung di sofa ruang tamu. Pikirannya masih tertuju kepada Ara.


"Apa yang harus kuperbuat? Supaya Bang Ridwan dan Ara mau dengerin penjelasanku. Mereka udah salah paham." Pikiran Afi benar-benar kalut. Kesalah pahaman itu semakin membuat semuanya jadi runyam.


Saat itu juga, Putri, adik kandung Afi datang menghampiri.


"Kakak kenapa? Masih kepikiran kak Ara?" tanya Putri menatap sang kakak sedih.


"Iya, Put. Kakak bingung harus gimana lagi. Setiap kali kakak mau menemui Ara, Bang Ridwan selalu nggak ngizinin," jawab Afi tak bersemangat.


"Jadi ... Kak Ara belum mau maafin Kakak?" Afi mengangguk.


"Kak ... Putri rasa, Kak Ara sekarang hanya butuh waktu untuk tenang, nanti kalau semuanya udah tepat, baru kakak jelasin ke Kak Ara. Putri akan coba bantu, kok." Putri tersenyum, memberikan semangat kepada sang kakak. Afi pun menatap Putri lembut, dengan senyum yang akhirnya mengembang di wajah tampannya. Putri pun memeluk Afi erat. Menyalurkan kehangatan untuk kakaknya yang tengah dirundung kesedihan.


"Maafin Putri ya, Kak. Gara-gara Putri, Kak Ara jadi marah sama kakak." Dalam dekapan sang kakak, kalimat penyesalan itu terucap. Afi membelai lembut rambut Putri.


"Bukan, ini bukan salah Putri. Ara hanya salah paham. Lagian, udah kewajiban kakak buat jagain Putri. Kan, Putri adek kakak," ucap Afi.


Mendengar ucapan Afi, Putri semakin mengeratkan pelukannya. Merasa sangat beruntung karena mempunyai kakak seperti Afi.


Ya. Putri adalah saudara Afi. Gadis yang beberapa hari lalu Ara lihat bersama Afi masuk dalam ruang Guru.


Putri adalah adik kandung Afi yang memang baru pindah dan tinggal bersama Afi baru dua minggu ini. Dia adalah penyebab kecemburuan Ara.


***


Merasa sudah lebih baik, Ara pun memutuskan untuk kembali masuk sekolah. Bukan Ara juga namanya kalau tidak keras kepala. Meski Ridwan melarangnya masuk sekolah, tetapi tetap saja berangkat. Ketinggalan banyak pelajaran membuatnya akan kesulitan untuk menyusulnya. Itulah alasan andalan Ara.


Ara berjalan melewati koridor sekolah. Namun, dari arah berlawanan, Afi datang bersama dengan Putri. Melihat hal itu, Ara langsung membalikkan badan, berniat menghindar dari Afi.


"Ra, tunggu!" Afi berlari mengejar Ara, dan langsung menghadang jalannya. Melihat Afi ada di depan wajahnya, Ara lantas membuang muka.


"Aku minta maaf, Ra. Waktu kita janjian di taman, nggak ada maksud aku buat ingkar janji sama kamu," ucap Afi, tetapi Ara tetap dengan ekspresi datarnya. Bahkan, terkesan cuek. Tanpa ada niat untuk berucap sepatah kata pun.


"Ra, sampai kapan, sih, kamu diemin aku? Aku minta maaf soal yang kemarin. Tapi tolong, dengerin dulu penjelasan aku."


"Penjelasan apa lagi? Hah?! Aku rasa semuanya udah jelas, Fi. Kamu emang nggak ada niat buat nemui aku, 'kan?"


"Nggak gitu, Ra. Kemarin aku nggak dateng itu karena--"


"Karena dia?" Ara memotong perkataan Afi dan menunjuk Putri yang berdiri mematung memperhatikan keduanya.


"Maksud kamu apa, Ra?" Afi mengernyit bingung.


"Iya, 'kan? Karena cewek itu 'kan, Kenapa kamu nggak dateng? Sama kayak waktu itu! Kamu nggak jemput aku, kamu nggak ada kabar, karena kamu sibuk dengan cewek itu." Ara meluapkan segala emosinya yang sudah tidak mampu lagi ia tampung.


"Kok kamu ngomongnya kayak gitu, sih, Ra. Dia itu a--"


"Ah, udahlah. Urusin aja tuh cewek kamu. Nggak usah kamu urusin aku," ucap Ara kembali memotong perkataan Afi.


Ara benar-benar tidak bisa menahan kekesalan dan kecemburuannya. Setelah mengucapkan kata-kata itu, ia pun berlalu pergi dari hadapan Afi. Emosinya kali ini benar-benar tak terbendung. Bahkan baru kali ini Ara semarah itu kepada Afi. Afi pun hanya bisa menatap kepergian Ara. Tanpa mampu mencegah.


***


Putri berjalan dengan langkah malas. Perasaan bersalah masih bersarang dalam benaknya. Meskipun dia tahu Ara hanya salah paham saja. Namun, jika kesalah pahaman itu dibiarkan berlarut-larut, maka semuanya akan terasa makin rumit. Melihat Afi yang cukup tersiksa dengan semua itu, membuat Putri juga ikut bersedih.


"Put, Putri!" Teriakan itu seketika juga menghentikan langkah Putri. Setelah ia berbalik badan, ternyata yang memanggilnya itu adalah Nabila, teman sekelasnya. Nabila pun menghampiri Putri yang terlihat tak bergairah itu.


"Ada apa, Bil?" tanya Putri.


"Kamu kenapa, sih, Put? Kok, kusut gitu mukanya?" Nabila balik bertanya.


"Hmmm, aku lagi bingung."

__ADS_1


"Bingung kenapa?"


"Tentang hubungannya Kak Afi sama Kak Ara."


"Iya, aku liat akhir-akhir ini hubungan mereka kayak agak renggang gitu. Padahal, kan, sebelumnya kakak kamu sama Kak Ara udah kayak Upin Ipin aja, yang selalu bareng."


"Nah itu dia. Ternyata kamu juga menyadari hal itu?"


"Iya. Kelihatan banget, Put. Emangnya mereka kenapa? Ada masalah apa?"


"Entahlah, aku juga bingung ngejelasinnya ke kamu kayak gimana. Tapi yang pasti, masalah mereka hanya salah paham aja."


"Salah paham gimana?"


"Kak Ara kayaknya nyangka aku ini ceweknya Kak Afi. Padahal, kan, aku adeknya."


"Ya Allah, kasian, ya! Semoga masalah mereka cepet kelar deh. Kayak ada yang kurang aja kalau mereka jauhan kayak sekarang."


"Iya, coba aja Kak Ara mau dengerin penjelasan Kak Afi, mungkin masalah itu udah kelar. Aku kasian sama Kak Afi. Di rumah dia selalu uring-uringan. Kepikiran masalah itu."


"Kamu nggak coba jelasin ke Kak Ara gitu?"


"Udah, tapi Kak Ara nggak mau dengerin."


"Ya, udah kalau gitu. Kamu yang sabar ya, Put. Harus tetap semangat. Ditekuk gitu nanti imutnya ilang, lho." Hibur Nabila yang berhasil menyunggingkan senyum simpul di wajah Putri.


Dan ternyata, tanpa mereka ketahui, Ara mendengar pembicaraan mereka. Hingga tanpa ia sadari, air matanya perlahan jatuh membasahi pipinya.


"Jadi cewek itu adeknya Afi? Ya ampun, aku udah salah paham."


Ada lega yang dirasakan oleh Ara, karena ternyata Afi tak seburuk yang Ara sangka. Tapi ... rasa bersalah lebih mendominasi.


Cemburu benar-benar sudah membutakan mata hatinya. Ara harus minta maaf!


***


TING TUNG.


Suara bel memecah kesunyian yang sedari pagi tercipta di rumah itu. Lebih tepatnya rumah Afi dan Putri.


"Kak Ara?!" Putri membulatkan matanya, seperti tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ya, Ara datang berkunjung ke rumahnya.


"Assalamu'alaikum," ucap Ara. Senyumnya tersungging begitu manis.


Melihat senyuman tulus yang mengembang di wajah Rara, Putri semakin heran dibuatnya.


"Apa ini pertanda kalau Kak Ara udah nggak marah lagi?" batin Putri.


"Wa'alaikum salam, kak," ucap Putri kemudian.


"Afinya ada?"


"Ada kok, kak. Ada. Silakan masuk! Kak Afi ada di dalam," jawab Putri bersemangat. Ara pun masuk ke dalam rumah tersebut mengikuti Putri.


"Kak Afi. Liat dong, siapa yang dateng, coba?" ucap Putri.


Pandangan mata yang sedari tadi terfokus pada gawai yang dipegangnya pun teralihkan ke arah Ara yang tengah berdiri di hadapannya.


Afi terkejut seakan tak percaya. Dia takut itu hanya halusinasinya saja, seperti sebelum-sebelumnya. Perlahan, dia bangkit dari duduknya. Semakin mendekat ke arah Ara. Dilihatnya gadis cantik di depannya itu dengan teliti.


"Ini beneran kamu, Ra?" tanya Afi.


"Iya, Fi. Ini aku."


"Aku nggak lagi halu, 'kan?"


"Nggak, kok."


Bahagia bukan main rasanya, melihat Ara yang benar-benar nyata adanya. Seulas senyuman manis terukir di wajah tampannya.


"Fi ... Aku minta maaf, ya!" ucap Ara kemudian. Wajahnya nampak sendu.


"Selama ini aku udah salah paham. Aku nggak tau kalau Putri ini sebenarnya adek kamu." Rara berucap dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


Afi tak henti-hentinya tersenyum, memandang Ara lekat.


"Ra. Aku nggak pernah marah sama kamu. Aku cuma pengen kamu bisa dengerin penjelasan aku. Biar nggak salah paham."


"Maaf, Fi."


"Nggak apa-apa, Ara. Justru aku yang merasa bersalah sama kamu. Maafin aku juga, ya!"


"Kamu nggak salah, Fi. Aku aja yang terlalu berlebihan."


"Kamu tau dari siapa kalau Putri adek aku?"


"Kemarin aku nggak sengaja denger pembicaraan Putri sama Nabila. Dari situ aku tau. Kalau sebenarnya Putri itu adek kamu," jawab Ara. Afi menoleh ke arah Putri yang tengah tersenyum ke arahnya. Seakan menjadi saksi kisah cinta dan persahabatan keduanya.


"Aku malu, Fi. Aku terbawa emosi, sampai-sampai aku salah ngira dan nggak mau dengerin penjelasan kamu. Sampai Bang Ridwan pun juga ikutan marah sama kamu. Aku minta maaf." Air mata yang tertahan di pelupuk mata, akhirnya tumpah dengan sendirinya. Membasahi wajah cantik Ara.


Afi mendekatkan tangannya ke wajah Rara. Diusapnya air mata itu dengan tangannya. Putri yang melihat pun seakan ikut terbawa suasana haru.


"Jangan nangis. Yang penting sekarang, kamu udah nggak marah lagi. Aku tersiksa didiemin kamu, Ra. Apalagi saat aku ke rumah sakit waktu kamu dirawat, rasanya aku nggak tega," ucap Afi.


"Jadi waktu aku dirawat di rumah sakit, kamu dateng?"


"Iya."


"Bang Ridwan nggak ngizinin kamu, ya, buat ketemu aku?" Afi mengangguk pelan.


"Udah aku duga," ucap Ara.


"Kamu jangan marahin Bang Ridwan, ya! Karena aku rasa, sebagai kakak dia udah ngelakuin hal yang bener."


"Iya, kamu tenang aja. Aku nggak marahin Bang Ridwan, kok."


"Ehheemm! Kayaknya Putri cuma jadi obat nyamuk, nih. Di antara dua nyamuk yang ada," goda Putri yang sedari tadi hanya diam.


"Eh, adek kakak yang paling cantik. Sini, Sayang," ucap Afi. Putri pun mendekat ke arah Afi dan Ara dengan senyuman yang terukir indah di wajah imutnya.


"Makasih, ya! Udah jadi adek yang paling baik, udah bantuin nyelesain masalah kakak juga." Afi mengelus lembut rambut adiknya itu.


"Iya, Kak, sama-sama. Putri ikutan seneng kalau kalian udah baikan kayak gini. Jangan diulangi lagi, ya!" Putri menatap Afi dan Ara secara bergantian.


"Iya," jawab Ara dan Afi bersamaan.


"Tapi ...." Ara menggantungkan kalimatnya, membuat Afi dan Putri saling pandang.


"Tapi apa, Ra?" tanya Afi.


"Iya, tapi apa, Kak?" Putri ikut bertanya.


"Kamu masih punya hutang penjelasan sama aku, Afi. Kenapa kamu nggak datang waktu itu ke taman? Aku nungguin kamu, tau! Sampai kehujanan."


Afi menarik panjang napasnya, dan mulai menceritakan kejadian beberapa hari yang lalu. Alasan kenapa ia tak datang menemui Ara di taman.


Hari itu, Afi memang sudah on the way ke tempat janjiannya dengan Ara. Ya, taman kota. Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi, dia melihat segerombolan preman sedang memalak Putri di tengah jalan.


Sebagai seorang kakak, tentu Afi takkan tinggal diam melihat preman-preman itu dengan bringasnya mengasari sang adik. Dia pun menghampiri mereka dengan tangan yang sudah mengepal.


Tuhan maha adil, Afi yang memang tidak begitu mahir ilmu bela diri, dengan ajaibnya, bisa menghantam dan menghajar preman-preman tersebut dengan kekuatan ektra. Hingga pada akhirnya Afi berhasil membuat mereka lari terbirit-birit ketakutan.


Menyadari bahwa lengan Putri terluka, Afi pun memutuskan untuk mengantarkan Putri pulang terlebih dahulu lalu pergi ke taman untuk menemui Ara walau sudah dalam keadaan hujan.


"Aku udah dateng, Ra. Ke taman. Cuma kamu udah nggak ada di sana. Kamu udah pulang, aku bisa memaklumi karena keadaannya memang lagi hujan waktu itu. Sekali lagi, aku minta maaf ya, Ra." Afi berucap tulus. Hingga membuat air mata Ara kembali meluruh bahkan semakin deras mengucur dari bola matanya.


Tanpa basa- basi, Ara pun langsung memeluk lelaki yang amat dicintainya itu. Tangisnya tumpah dalam dekapan Afi.


"Aku udah maafin kamu kok, Fi. Aku pun juga akan melakukan hal yang sama, jika aku yang berada dalam posisi kamu saat itu. Maafin aku juga, ya! Aku udah berburuk sangka sama kamu." Ara menumpahkan segala penyesalannya dalam dekapan ternyamannya.


"Iya, Ra. Udah, jangan nangis! Aku nggak mau liat kamu nangis kayak gini. Yang terpenting sekarang semua masalah udah selesai. Aku lega, nggak ada salah paham lagi di antara kita."


Ya, terjawab sudah semua kegelisahan dan tanda tanya Ara. Lega itu pasti. Bisa kembali bersatu dengan Afi adalah kebahagiaan yang tidak ternilai baginya.


Ada hikmah yang mampu mereka ambil dari permasalahan tersebut. Yaitu, belajarlah menyikapi masalah dengan tenang, tidak terburu-buru dalam menyimpulkan sesuatu. Karena apa yang dilihat dan didengar tak selalunya sesuai dengan kenyataan yang ada.


Cemburu boleh, tetapi usahakan jangan sampai membabi buta. Karena sesuatu yang berlebihan tidak baik pada akhirnya.

__ADS_1


Gimana, guys? lanjut tah? Semoga suka, ya!


__ADS_2