
Keesokan harinya, setelah selesai sholat shubuh Balqsi dan Aksa langsung keluar kamar untuk membantu Aulia dan juga Zahra yang sibuk memasak di dapur.
"Bunda, Zahra." Ucap Balqis.
"Eh Balqis, kamu sudah bangun. Duduk sini.' Ujar Zahra ramah sambil mengelap kursi yang akan di pakai oleh Balqis dan juga Aksa.
"Sini duduk." Ujar Zahra sekali lagi.
Balqis dan Aksa pun duduk di kursi yang sudah di siapkan oleh Zahra.
"Mau minum apa? Kopi apa teh?" tanya Zahra.
"Teh aja tapi gulannya gak usah banyak ya. Soalnya suamiku gak terlalu suka yang manis manis." Jawab Balqis.
"Iya sudah bentar ya." Ujar Zahra sambil mengambil panci dan mengisinya dengan air. Ia juga menyiapkan beberapa gelas yang akan di gunakan untuk buat teh.
"Balqis sama Nak Aksa, nanti sarapan mau makan apa?" tanya Aulia tersenyum ramah.
"Apa aja bunda, tapi gak perlu repot repot. Kami bisa makan di luar." Jawab Balqis yang gak enak hati.
"Ngapain makan di luar sayang. Makan di sini aja sama kita semua biar rame." Ujar Aulia.
"Iya, kenapa harus makan di luar. Emang kamu gak kangen sama masakan bunda." Ucap Zahra.
"Kangen tapi aku gak enak karena ngerepotin kalian terus." Ujar Balqis mengutarakan isi hatinya.
"Gini aja deh, gimana kalau kamu bantu aku masak biar bunda bisa duduk santai." Ucap Zahra.
"Boleh juga." Ujar Balqis bersemangat sambil bangun dari kursinya.
"Tapi........" Belum selesai Aulia berbicara, Balqis pun langsung memotongnya.
"Gak papa bunda. Lebih baik bunda duduk santai aja biar aku sama Zahra aja yang masak." Ucap Balqis.
"Baiklah." Aulia pun menurut melihat Balqis yang sangat semangat sekali untuk membantu Zahra memasak sarapan pagi.
"Kita mau masak apa?" tanya Balqis.
__ADS_1
"Apa ya enaknya?" Zahra berfikir menu apa yang pas untuk hari ini.
"Sop ayam kayaknya enak." Ujar Balqis.
"Oke kita buat Sop ayam, Capcay, Sambal goreng kentang dan hati, Udang goreng asam manis, Sayur lodeh, Ayam kecap, Opor ayam, Sayur bening, Bakwan jagung dan Pepes." Ucap Zahra.
"Pepes apa? Pepes ikan, Pepes udang, Pepes ayam apa Pepes tahu?" tanya Balqis.
"Pepes ikan aja deh." Jawab Zahra.
"Oke ayo kita bertarung dengan alat alat masakan ini hehe." Ujar Balqis tertawa.
"Oke ayo." Ucap Zahra yang juga bersemangat. Setelah membuat teh dan menaruhnya di atas meja, Zahra dan Balqis pun segera membuat lauk pauk untuk sarapan pagi ini.
Saat mereka sibuk ini dan itu, Adzriel datang bersama Axel dan Alexa.
"Wau lagi rame rame lagi buat apa nih?" tanya Adzriel sambil duduk di kursi di sebelah Aksa. Sedangkan Axel dan Alexa duduk di samping Adzriel dan juga di samping Aulia.
"Ini lagi masak yank buat sarapan pagi." Jawab Zahra.
"Oh ya tehnya itu yang pakek gelas coklat punyamu soalnya kan kamu gak suka terlalu hambar." Ujar Zahra.
"Iya makasih yank." Ucap Adzriel tersenyum.
"Entahlah, aku masih bingung. Aku sih terserah Balqis aja." Ujar Aksa.
"Gimana Balqis, kamu mau gak tinggal di sini aja, gak perlu balek ke luar negeri. Bukankah Papa Deddy juga punya perusahan di Indonesia? Kamu dan suamimu bisa mengelolanya tanpa harus boleh balek ke sana ke mari. Kamu kan juga punya rumah di sini, rumah yang penuh kenangan antara kamu mama dan papa. Eman loh kalau lama gak di tempati bisa rusak. Dengan kamu tinggal di sini, kamu juga bisa bertemu bunda tiap hari. Emang kamu gak kasihan sama bunda yang selalu merindunkan kamu tapi kamunya jarang ke sini. Ini kalau bukan karena kamu lagi bulan madu mana mungkin kamu mau menginjakkan kaki lagi di negara ini." Ujar Adzriel.
"Masalahnya kalau aku tinggal di sini gimana dengan papa?" tanya Balqis sambil menoleh ke arah Adzriel dan setelah itu langsung fokus kembali memotong bawang merah.
"Aku rasa papa gak ada masalah yang penting kamu mau. Aku yakin kelak papa juga pasti akan pulang ke sini lagi." Jawab Adzriel.
"Tapi aku dan papa udah janji gak akan ganggu hidup kalian lagi." Ujar Balqis.
"Sudahlah lupakan masalah yang lalu. Yang penting ke depannya jangan di ulangi lagi. Aku gak mau hanya karena masa lalu keluarga kita jadi terpecah belah. Bagaimana pun kamu itu sudah aku anggap seperti adikku sendiri begitupun dengan Papa Deddy yang sudah aku anggap seperti papa kandungku sendiri." Ujar Adzriel.
"Baiklah nanti aku akan bicarakan lagi dengan suamiku dan juga papa serta dengan Papa dan Mama mertuaku. Bagaimanapun aku gak bisa ambil keputusan seenaknya." Ujar Balqis.
"Oke tapi aku yakin semuanya pasti setuju jika kalian tinggal di sini." Ucap Adzriel percaya diri.
"Iya ya." Ucap Balqis pasrah.
__ADS_1
"Ayo minum tehnya mumpung masih hangat." Ucap Aulia melihat Aksa yang masih belum menyentuh teh yang ada di depannya.
"Iya ayo minum, jangan malu malu. Anggap rumah sendiri." Ujar Adzriel.
"Iya." Aksa pun meminum teh yang di buat oleh Zahra tadi.
"Aby, aku mau nonton tivi." Ujar Alexa yang dari tadi diam.
"Iya aku juga." Ujar Axel.
"Iya sudah sana. Bisa kan cara ngidupin tivinya." Ujar Adzriel.
"Bisa dong." Ucap Axel.
"Iya udah hati hati." Ujar Adzriel sedangkan Axel dan Alexa sudah lari menuju ruang keluarga untuk nontoon film kesukaannya.
"Katanya Zahra hamil lagi ya?" ujar Balqis.
"Iya Alhamdulillah." Jawab Zahra malu.
"Kamu kapan?" tanya Adzriel.
"Entahlah." Jawab Balqis.
"Kamu ikut kb atau gimana?" tanya Zahra.
"Enggak, aku gak ikut apa apa." Jawab Balqis.
"Kalau baru nikah itu emang lebih baik gak usah ikut apapun. Karena ada temen bunda ikut kb gitu selama 2 tahun karena gak mau punya anak dan mereka ingin menikmati masa masa pacaran setelah menikah dan setelah 2 tahun, suaminya pengen banget istrinya hamil. DIa langsung berhenti Kb dan mulai ikut program kehamilan. Tapi sampai pernikahan mereka 25 tahun belum juga di karuniai seorang anak. dan mereka sangat menyesal kenapa dulu ikut KB dan minum obat ini dan itu untuk mencegah kehamilan.. Sekarang mereka hanya bisa pasrah karena sudah bingung dengan cara apalagi agar istrinya bisa hamil." Ucap Aulia yang ingat dengan salah satu temannya yang sampai sekarang belum punya anak.
"Iya bunda, aku juga takut kalau sampai gak punya anak. Makanya aku gak ikut apapun." Ujar Balqis.
"Syukurlah kalau gak ikut apa apa." Ucap Aulia tersenyum.
Setelah 2 jam memasak, akhirnya Zahra dan Balqis pun menyelesaikan tugasnya. Sekarang tinggal menaruhnya di meja makan dan setelah itu sarapan pagi bersama.
__ADS_1