
"Aku kira makan malam semalam hanya dihadiri keluarga saja ma, aku tidak menyangka akan mengundang tetangga juga?"
"Tadinya mama juga berencana begitu, tapi papa mengusulkan untuk mengundang keluarga almarhum mama Satria. Jadinya mama mengusulkan untuk mengundang tetangga sekalian syukuran." Ucap mama sambil membersihkan ikan dan aku memotong sayuran. Raka dan papa sedang joging, sedangkan Satria dan Cantika belum nampak keluar dari kamar.
Meski ada asisten rumah tangga di sini, tetapi para asisten rumah tangga jarang sekali masak kalau tidak disuruh. Paling mereka masak buat diri mereka sendiri. Mereka hanya fokus pada kebersihan rumah dan sekitarnya.
"Kia bikinin 2 kopi, buat papa dan Raka."
"Iya ma." Setelah selesai membuatkan 2 kopi dan meletakkan di meja pantry. Aku kembali membantu mama memasak buat sarapan, sambil sesekali kami mengobrol.
"Lagi masak apa sayang ?"
"Ya Allah mas bikin kaget saja sih!" Kesalku dengan tingkah Raka yang tiba-tiba muncul dan langsung memelukku erat dari belakang.
"Hehe maaf ,wah wangi sekali !"
"Kia teruskan memasaknya ya, mama mau nyiapin baju buat papa dulu. Raka bantu menantu mama menyiapkan sarapan, jangan malah mengganggunya!"
"Siap mama ku sayang. Ini tinggal apa sayang ?"
"Sudah selesai tinggal nunggu cap cay Mateng udah selesai semua. Sekarang mas bawa kedepan semua yang sudah di siapkan mama!"
"Oke!"
Cuma 15 menit pekerjaan aku selesai semua, tinggal membersihkan area dapur dan mencuci perabot.
"Sudah selesai semua kan?"
"Sudah tinggal membereskan kekacauan !" Ucapku sambil memperlihatkan area dapur yang berantakan.
"Serahkan padaku!" Ucap Raka berjalan kearah interkom untuk menghubungi seseorang, seketika aku paham maksudnya.
"Kamu nyuruh bibi untuk bersihin semua ini?"
"Iyalah sekarang kita masuk kamar ?"
"Mau mandi dan siap-siap kerja ?"
"Iya tapi setelah olahraga !" Ucap Raka yang tiba-tiba menggedong ku dan berjalan ke tangga.
__ADS_1
"Olahraga apa ?" Tanyaku penasaran tapi setelah melihat muka mesum Raka, aku menyesali pertanyaan yang telah ku ucapkan.
"Jangan aneh-aneh Mas ini di rumah Papa dan Mama ."
"Apa kamu pikir Papa dan Mama tidak aneh di kamar ,seperti Cantika dan Satria." Ucap Raka sambil menyeringai dan begitu masuk kamar, Raka langsung mengunci pintu kamar.
"Mas!" Protes Ku saat Raka tiba-tiba melemparkan tubuhku di atas kasur.
"Aku juga mau seperti Satria dan papa yang sedang berkembang biak di kamar mereka masing-masing tanya." Seketika aku melotot mendengar ucapan Raka, berkembang biak di kira apaan.
"Sok tahu kamu mas!" Protesku tidak berlangsung lama karena mulutku keburu di tutup Raka dengan bibirnya.
Dasar player pandai sekali mempengaruhi orang dan membuat suasana menjadi panas dan tidak terkendali.
Setelah menuruti keinginan Raka, baru kami bergantian mandi untuk bersiap kerja di hari Senin.
"Gak ada hairdryer ?" Tanyaku pada Raka yang baru keluar dari kamar mandi.
"Coba aku tanya mama kalau gak Risma punya gak." Ucap Raka sambil memakaikan celana Kerjamu.
"Mas pakai kemeja kerjamu sekalian !" Ucapku saat melihat Raka hendak keluar dari kamar hanya menggunakan celana panjang, tanpa atasan.
"Memang kenapa ?" Tanya Raka sambil memicingkan matanya.
"Aku suka semua tanda ini,.tanda keganasan istriku saat berolahraga berdua denganku !" Ucapnya sambil tersenyum jahil, sebelum melangkah kakinya keluar.
Setelah menunggu Raka 10 menit baru dia kembali, dengan tangan kosong.
"Ga ada ?"
"Punya Risma rusak, mama tidak punyak. Jangan kuatir tidak perlu malu ada temennya, tadi Satria juga mencari apa yang kucari." Ucapnya sambil menyerahkan dasi untuk aku pasangkan.
"Tumben pakai dasi segala mas?"
"Mas mau ke rumah sakit dulu, hari ini ada rapat pemegang saham sayang. Sebenarnya aku malas datang kata papa aku harus melakukan demi istri dan calon anakku."
"Mas?"
"Ada apa sayang?"
__ADS_1
"Aku selama ini meminum pil pencegah kehamilan,aku belum siap punya anak. Maaf mas." Ucapku lirih. Raka hanya diam lantas duduk di pinggir ranjang dan menarikku untuk duduk di pangkuannya.
"Mas sudah tahu,mas pernah lihat ada di laci meja rias mu."
"Mas tidak marah?"
"Mas percaya kamu punya alasan sendiri mengapa menundanya !"
"Terima kasih tidak menghakimi aku."
"Apapun mas percaya sama kamu !"
Tapi aku yang masih tidak percaya padamu mas, meski pernikahan kita sah menurut agama dan negara. Aku masih takut mas pesonamu terlalu menyilaukan, banyak perempuan di luar sana yang mendambakan mu.
Setelah memberikan kecupan singkat Raka, mengajak aku untuk turun ke bawah bergabung dengan yang lain di meja makan. Dari atas tangga tempatku berjalan aku melihat meja makan sudah penuh dengan semua anggota keluarga.
"Benerkan kataku." Bisik Raka membuatku sedikit bingung.
"Apa yang beneran,?" tanyaku.
"Kok semua rambutnya pada basah ya? Untung pengering rambutku sedang rusak , jadi lihat yang basah-basahan." Suara Risma sambil tertawa kecil, membuatku sadar arah ucapan Raka tadi.
"Jangan-jangan pengering rambutmu tidak rusak ya?" Tanya Satria dengan mata menatap tajam kearah Risma.
"Bener ko mas rusak,"jawab Risma gelagapan.
"Awas kamu bohong."
"Kalau berani ngerjain kita, Aku dan Satria tidak akan pernah membantu mu jika kamu butuh bantuan !" Ucap Raka ikut mengancam Risma, sedangkan Risma ketakutan dengan ancaman kedua kakaknya.
" Sudah-sudah. Satria tolong sampaikan kepada Nini, mulai hari ini papa lepaskan tanggung jawab papa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Nini."
"Iya pa nanti kebutuhan Nini aku yang akan penuhi," jawab Satria.
" Pa! Aku tidak masalah papa masih membantu Nini," ucap mama.
"Ma ini bukan masalah uang, tapi papa hanya ingin menjaga hati mama." Ucap papa sambil mengusap punggung tangan mama.
"Bener ma, jika papa masih berhubungan dengan Nini. Itu sama saja membuka peluang buat Tante Rumi masuk dan merusak rumah tangga mama lagi."
__ADS_1
"Aku setuju dengan ucapan Raka ma, aku akan menanggung Nini tapi tidak untuk Tante Rumi dan anak cucunya. Jika mereka mau uang mereka harus kerja, jangan hanya meminta." Ucap Satria aku dan Cantika hanya saling melirik untuk berkomunikasi. Dari sorot mata Cantika sepertinya dia juga tidak terlalu mengenal keluarga almarhum mama Satria.
Setelah ucapan Satria tidak ada lagi obrolan lagi, sampai semu selesai dan kami satu persatu pamit untuk mulai aktivitas kami.