
Di saat keluarganya lagi sibuk. Axel dan Afifah ngobrol bareng di taman belakang.
"Kamu gimana? sudah sehat kan?" tanya Axel.
"Alhamdulillah sudah sehat," jawab Afifah tersenyum.
"Kamu sebenarnya kenapa?"
"Aku gak papa,"
"Aku mohon kejujuran kamu. Kita ini sebentar lagi akan jadi suami istri. Aku ingin kita sama-sama terbuka satu sama lain. Bagaimanapun jika kita sudah menikah, kita gak boleh nyimpan rahasia. Jika ada masalah, kita pecahkan bersama. Apapun masalah itu dan seberat apapun masalahnya, kita akan hadapi bersama,"
"Tapi aku memang gak punya masalah dan aku gak menyembunyikan apapun dari kamu. Lagian jika aku menyimpan sesuatu, kamu pasti tau,"
"Kamu yakin? Gak menyembunyikan apapun dari aku?" tanya Axel lagi.
"Kamu itu kenapa? Kamu seperti sedang memojokkan aku. Kamu seperti sedang introgasi aku tentang sesuatu, yang aku sendiri gak tau, apa itu,"
"Baiklah. Aku minta maaf, aku salah," jawab Axel tersenyum.
"Kita jalan-jalan yuk," ajak Axel.
"Jalan-jalan kemana?"
"Aku punya tempat yang sangat spesial buat kamu,"
"Tapi aku gak enak. Di saat yang lain sibuk, kamu malah ajak aku jalan-jalan,"
__ADS_1
"Gak papa, santai aja. Aku akan bilang sama Aby dan Umy, kalau aku akan mengajak kamu keluar," ujar Axel tersenyum yang hanya di jawab anggukan kepala oleh Afifah.
Setelah itu, Axel pun mencari Aby nya yang ternyata ada di samping rumahnya dan sedang ngobrol dengan ayahnya Andi.
"Aby?" panggil Axel.
"Iya nak, ada apa?" tanya Adzriel sambil menoleh ke arah putranya.
"Aku mau keluar bareng Afifah,"
"Mau kemana?"
"Ke suatu tempat Aby. Rahasia," jawab Axel tersenyum.
"Iya sudah tapi jangan lama-lama ya,"
"Umy kamu lagi keluar bentar ada urusan," jawab Adzriel.
"Oh gitu, iya sudah. Nanti jika Umy cari aku, bilang aja, aku keluar bareng Afifah,"
"Iya, kamu hati-hati di jalan ya. Jangan ngebut ngebut,"
"Iya Aby, siap. Aku berangkat dulu,"
"Iya."
Setelah itu, Axel langsung mencium tangan Adzriel dan juga ayahnya Andi yang ada di sana. Tak lupa, Axel mengucap salam terlebih dahulu sebelum pergi.
__ADS_1
Axel menghampiri Afifah yang sudah menunggu dirinya. "Ayo," ajak Axel.
"Sudah ijin?" tanya Afifah.
"Sudah," jawab Axel.
Setelah itu Axel dan Afifah pun langsung berangkat menuju mobil yang sudah di siapkan.
Axel menyetir sendiri seperti biasanya. Di tengah perjalanan, Axel menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Kenapa berhenti?" tanya Afifah heran.
"Tutup dulu mata kamu," ujar Axel sambil memberikan kain penutup mata.
"Kenapa harus di tutup?" tanya Afifah tak mengerti.
"Karena aku mau ngasih kejutan buat kamu," jawab Axel.
"Baiklah," Afifah pun mengalah. Ia menutup matanya sendiri sehingga ia gak bisa lihat apa-apa selain kegelapan.
Setelah itu, Axel menyetir mobilnya kembali. Tak ada yang bicara, mereka memilih diam. Tiba tiba Axel, ia mengeluarkan air mata tanpa sepengetahuan Afifah. Axel terus menitikkan air mata karena hatinya yang terasa sakit dan seperti di tusuk oleh ribuan jarum.
Sedangkan Afifah sendiri merasa sangat bahagia karena Axel akan memberikan kejutan untuknya. Ia gak akan menyangka bahwa kejutan itulah yang nantinya akan menjadi malapetaka untuknya.
Kejutan itulah yang akan mengubah kebahagiaan Afifah menjadi tangisan karena kesalahannya yang tak termaafkan.
Afifah sudah membuat Axel kecewa, dan Axel tak bisa memaafkan seseorang yang sudah tega membohonginya dan memperalat dirinya.
__ADS_1
Axel merasa dunia ini begitu kejam. Namun Axel sadar, bahwa mungkin Allah sedang merencanakan sesuatu yang terbaik untuknya. Karena apa yang terbaik menurut Axel, belum tentu baik di mata Allah.