
Kai terburu-buru menjemput Deniz ke bandara, kali ini ia tidak mengajak Han. Kai mengemudikan mobil dengaan kecepatan diatas rata-rata. Suana kota yang panas dan para pejalan kaki terlihat ramai.
Kai menghentikan mobilnya di lampu merah. Ia menoleh ke kanan di sana ada sebuah toko bunga yang cukup besar. Seorang gadis dengan dress pendek berwarna krem terlihat sedang menata bunga di vas besar di depan toko.
Sesaat dunia Kai terasa berhenti, gadis itu tidak terlalu cantik tapi entah kenapa Kai tertarik melihatnya sedang menata bunga.
Lampu sudah berubah warna hijau. Kai melakukan mobilnya menuju bandara. Ia menambah kecepatan agar segera sampai.
Sesampainya di bandara Kali yang mengenakan kaca mata hitamnya mengedarkan pandangan. Hingga seorang pria muda berbadan tinggi melambaikan tangan padanya.
Pemuda itu jelas Deniz adiknya. Kai tersenyum mengamati Deniz yang berjalan ke arahnya sembari menarik koper besar.
Kau terlihat semakin mirip dengan papa.
"Kakak!" Deniz memeluk erat Kai yang menepuk bahunya.
"Berapa lama kau disini?" tanya Kai.
"Cukup lama mungkin satu bulan bisa lebih"
"Hei Kakak apa kau masih jomblo?"
"Pertanyaan macam apa itu?! kau jangan seperti mama"
"Mama? ada apa dengaan mama?"
Kai tersenyum dan menyalakan mesin mobil.
__ADS_1
"Tadi pagi mama sudah meributkan soal cucu"
"Hahaha! kakak sebagai anak yang berbakti seharusnya kau memang memberi mama cucu secepatnya!"
"Tutup mulut mu! kau pikir aku sempat? urusan perusahaan dan setumpuk bisnis papa membuatku tidak ada waktu mengejar wanita"
"Oh ...tapi papa dulu sempat mengejar mama"
"Itulah bedanya aku juga bingung"
"Aku ingin tinggal di rumah mu, bagaimana?"
"Deniz kau tinggal di rumah papa dan mama, bukaannya kakak tidak mengizinkan mu tinggal bersama kakak tapi papa dan mama kesepian"
"Jelas papa dan mama kesepian karena kau belum memberi mereka cucu!"
Kai geram dan menambah kecepatan mobilnya. Deniz tertawa senang mengerjai kakaknya.
"Anak mama!" Raya terlihat senang dan mencium kening Deniz. Deniz membungkukkan badannya dan memeluk ibunya.
"Dimana papa ma?"
"Papa sedang ke rumah kakek Bram"
"Hai ma" Kai memeluk ibunya.
"Wah mama masak banyak sekali, apa akan ada tamu?"
__ADS_1
"Benar keluarga Daniel akan berkunjung kemari. Oh ya Kai Sarah ikut kemari lho"
"Sarah?" Kai dan Denis saling pandang. Deniz mengerti jika ibunya sedang mengatur perjodohan untuk Kai.
"Sarah anaknya om Daniel yang cantik itu ma?" Deniz mengompori ibunya agar lebih semangat menjodohkan Kai.
"Iya benar sayang, bukankah dia cocok jika menjadi calon istri kakak mu?"
"Tentu saja ma, Sarah gadis yang cantik sudah pasti cocok dengan kakak"
"Sialan kau!" Kai menarik bahu Denis dan mrnjitak kepala adiknya yang kompor beleduk itu.
"Sudahlah kak terima saja bukankah Sarah gadis yang manis?"
"Memangnya kau sudah bertemu Sarah?"
"Belum tapi seingat ku dia manis dan cantik waktu masih kecil"
"Dasar sok tahu!" Kai kembali menyentil kening Deniz dengaan keras.
"Ma kakak menganiaya ku!"
"Kai hentikan pokoknya kau harus melihat Sarah dulu. Jadi jangan beralasan kau masih banyak pekerjaan"
"Tapi ma..."
"Ayolah kak kasian kan mama sudah mengatur pertemuan ini"
__ADS_1
"Sementara kalian makan malam, aku mau pergi bersenang-senang, mana kunci mobil" Denis merebut kunci mobil dari saku jas yang di kenakan Kai.
"Hei kau belum bertemu papa!" teriak Kai yang tidak di pedulikan Deniz.