
Berita Pagi
Caraka Tirta Rudyatmo, putra kedua Rudyatmo pemimpin Rudy group. Tertangkap keluar dari kamar di hotel melati pukul 3 pagi bersama seorang wanita.
Sampai saat ini belum jelas siapa wanita tersebut, wanita malam atau pacar nya pangeran Rudy group.
"Papa tahu Kia dan Raka di hotel melati cuma, berteduh dari hujan. Dan kondisi jalanan yang banjir membuat kalian pulang pagi. Tapi tidak pendapat orang di luar sana. Tadi pagi papa dan papa Raka sudah memutuskan supaya kalian bertunangan bulan depan."
"Tapi pak wajahku juga tidak kelihatan di gambar itu, kenapa harus tunangan segala !"Aku melirik kearah Raka yang hanya cuma diam.
"Kita tinggal di negeri yang menjujung tinggi norma dan agama. Kalian memang tidak ngapa-ngapain ,tapi pikiran orang sudah jelek itu bisa berpengaruh buat relasi bisnis papa dan papa Raka."
Papa menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya. "Memang sekarang wajahmu tidak terlihat, tapi apa kamu bisa jamin kalau para pencari berita tidak akan mencari informasi tentangmu ?"
Iya juga sih, para wartawan saja kadang rela tidur di dalam mobil hanya untuk mencari berita.
"Terserah hanya tunangan kan tidak untuk menikah ?"
"Iya kalau masalah nikah kalau kamu sudah siap itu bagus, habis kakak Raka nikah giliran kalian."
"Papa! Umurku itu baru 23 tahun ya, Arvin sana saja suruh nikah duluan yang sudah 25 tahun !" Ucapku sambil berdiri dan berjalan keluar meninggalkan papa dan Raka.
Sesampainya di luar aku melihat mbak Franda sedang sibuk mengoreksi berkas. Seketika aku teringat obrolan mbak Franda dan Safitri tadi pagi. Baru beberapa jam kenapa sudah heboh beritanya, padahal belum ada 2 X 24 jam.
"Mbak sudah lihat beritanya ?" Tanyaku to the poin, membuat mbak Franda sedikit kaget.
"Hehe iya. Kan setiap pagi laki ku baca majalah bisnis online. Habis baca dia langsung telpon pak Fian. Dari sana aku dengar semuanya, ceweknya kamu kan?"
"Iya semalam aku pulang kerja pukul 8 malam bareng Raka, karena hujan kami berteduh di hotel melati. Karena sampai pukul 10 malam hujan gak reda dan jalan arah ke rumah di tutup karena banjir, kami putuskan menginap."
"Kamu tidak perlu kuatir mukamu kan gak terlihat, yang terlihat jelas muka Raka. Aku gak nyangka Raka anak orang kaya ya?"
"Udah ah mbak mau kerja." Ucapku memotong ucapan mbak Franda, sekaligus mengakhiri obrolan yang bisa merambat ke mana-mana.
"Bekal ga ?"
"Gak !" Ucap sedikit berteriak karena jarak sedikit jauh.
"Makan siang bareng." Ucap mbak Franda dengan gerakan mulut pelan dan, dan suara lirih. Aku hanya mengangguk sebentar sebelum kembali ke meja kerjaku.
Pikiranku kacau bukan karena gosip, tapi karena ucapan papa tentang aku yang harus tunangan dengan Raka sebulan lagi. Meski begitu aku tetap berusaha bekerja dengan maksimal. Sampai jam istirahat tiba Lando menemui Zain di ruangannya.
__ADS_1
"Zain ada di dalam gak Kia?"
"Ada masuk saja mas!"
"Jika hari ini penggantiku di setujui Zain, besok aku akan memberi pengarahan buat penggantiku."
"Santai saja mas."
"Kamu gak istirahat ?"
"Iya bentar lagi."
"Aku masuk dulu ya?" Setelah aku mengaguk baru Lando masuk ke dalam ruangan Zain.
"Ayo sholat terus makan siang !"
"Mbak ga makan siang dengan mas Ari ?" Ucapku sambil berjalan mengikuti mbak Franda menuju mushola.
"Kan nemenin Pak Fian makan siang di luar dengan orang penting gitu katanya."
Setelah sholat dhuhur baru kami pergi makan siang bersama.
Ada Raka, Safitri, Bambang Zain,Lando , Pandu dan Diana. Waktu aku duduk Diana sempat tersenyum tipis padaku. Padahal hampir sebulan kerja di sini ,Diana selalu memandang ku dengan tatapan sinis .
"Franda Lo tadi bilang sudah tahu kalau Raka anak orang kaya, siapa yang kasih tau ?"
"Ada deh,"ucap mbak Franda menjawab Safitri dengan melirikku.
"Paling juga Mas Ari,"jawab Pandu.
"Kenapa Lo ga jadi dokter atau bekerja di rumah sakit saja,?"tanya Diana.
"Gak tertarik,"jawab Raka cuek.
"Terus cewek yang Lo gadeng itu siapa?" Kali ini Pandu bertanya dengan menarik turunkan alisnya.
"Ko kalau di lihat dari bajunya seperti kenal ya,?" tanya Zain.
"Kami cuma berteduh dari hujan deras, sama mengindari banjir." Jelas Raka dengan tenang sambil mengalihkan pembicaraan, tidak terpengaruh dengan tatapan teman-temannya.
"Sultan memang beda ya, berteduh saja di hotel, kalau kita di emperan toko." Ucap Pandu dengan bercanda.
__ADS_1
"Kebetulan pas hujan turun deras di depan hotel."
"Kebetulan di depan hotel melati, kalau kebetulan di hotel bintang 5 bisa khilaf Raka ditemani perempuan cantik."
"Kalau khilaf berati kalian harus siap-siap amplop buat kondangan." Ucap Raka yang di sambut gelak tawa, kecuali mbak Franda yang tersenyum misterius.
Sialan mulut Raka kalau berbicara tidak di filter dulu asal ceplos aja.
"Yakin Lo ga khilaf Ka? Kata bokap Lo itu calon tunangan mu, berati pacar Lo dong?" Ucap Bambang sambil menunjukkan ponselnya.
"Kata Lo Single ,wah diam-diam ternyata Lo menghanyutkan ya." Sambung Safitri tanpa memberi kesempatan Raka menjawab Bambang . Aku lihat Raka sempat melirik ke arahku sebentar, sebelum mengakat bahu dan menyeruput es kopinya.
"Pasti acara pertunangan kalian akan di gelar mewah. Undang kita-kita dong biar tahu pesta mewah orang gendong !"
"Ya betul itu siapa tahu kita bakalan ketemu jodoh kita di sana!" Ucap Diana menimpali ucapan Pandu.
"Kalau lamaran biasanya sederhana, kalau pernikahan baru ngundang banyak orang."
"Wah masih lama dong,"keluh Pandu.
"5 Bulan lagi kakakku nikah, jika kalian mau datang nanti aku undang." Ucap Raka santai membuatku membuat ku hanya bisa menggelengkan kepalaku.
"Kenapa Lo geleng-geleng kepala?" Tanya mbak Franda sambil berbisik pada ku.
"Karena kakak Raka menikah dengan kakak sepupuku,"bisikku.
"Yang bener Lo."
"Jangan kencang-kencang suaranya mbak !"
"Hehe maaf,aman mereka sibuk membaca artikel tadi pagi saat wawancara papa Raka." Ucap mbak Franda sambil melihat kearah yang lain, yang sibuk dengan ponsel dan makanannya. Kecuali Raka yang tersenyum misterius padaku, hingga membuatku merinding.
"Ayo balik tinggal 10 menit lagi jam istirahat kita,"ucap Bambang.
Kami berjalan meninggalkan kafetaria dan berpisah setelah keluar dari lift. Kami kembali menuju ruangan kerja kami masing-masing dengan sesekali mengobrol masalah pekerjaan.
"Sepertinya alam merestui keinginan ku, dengan mendekatkan kita tanpa perlu aku berusaha keras." Bisik Raka di belakangku sebelum berbelok menuju ke meja kerjanya.
"Selama papaku belum menjabat tangan mu di depan penghulu, semuanya masih bisa berubah." Ucapku sambil melihat kearahnya. Karena posisi jalanku dan Raka yang berada paling belakang, membuat yang lain tidak menyadarinya .
Tidak sulit untuk mencintai Raka secara fisik, tapi karena pernah sempat berharap lebih padanya dan berujung kecewa. Membuatku tidak berani menujuk kan perasaan ku,aku takut jika ditertawakan jika semuanya gagal. Cukup Clara yang tahu apa yang pernah ku alami.
__ADS_1