
"Kita pakai mobil kamu ya ke pasar." ujar Axel.
"Lah, emang mobil kakak kemana?" tanya Alexa
"Tadi kan jam setengah dua aku jemput Ayunda. Terus setelah itu, aku langsung memasukkan mobilku ke bagiku saat sampai rumah." jawab Axel.
"Terus kakak dari rumah ke kantor, naik apa?" tanya Alexa.
"Naik taxi." jawab Axel.
"Kenapa naik taxi?" tanya Alexa tak mengerti.
"Kan kita mau keluar sekarang, mau pergi ke pasar. Jika aku ke sini naik taxi, lalu kita ke pasar gak mungkin kan naik mobil sendiri sendiri." ujar Axel.
"Tapi kan mobil kakak bisa taruh di parkiran VVIP dan aku rasa itu sangat aman." jawab Alexa.
"Jika aku naruh mobilku di parkiran VVIP kantor terus aku pakai mobil kamu ke pasar lalu pulang ke rumah. Terus besoknya saat aku kerja, harus naik taxi lagi gitu? Kan mobilku ada di parkiran kantor? beda jika aku naruh di rumah, nanti setelah dari pasar, kita bisa langsung pulang. Besoknya aku kerja, gak perlu minta antar kamu ataupun naik taxi. Karena mobil ku sudah aku taruh di garasi rumah." jawab Axel.
"Hehe iya juga ya. Tapi bentar ya, kamu tunggu di sini." ujar Alexa.
"Kenapa?" tanya Axel bingung.
"Gak papa, tunggu aja bentar." ucap Alexa.
Alexa menaruh tempat makanan punya Edwin di bawah kursi agar gak ketahuan Axel. Tadi pagi kan saat Alexa mengantar Ayunda ke sekolahnya. Alexa bertemu dengan Edwin dan Edwin ngasih sesuatu buat Alexa.
Dan tadi pagi sampai rumah sakit, Alexa memakannya karena ia penasaran dengan sesuatu yang di buat oleh Edwin dan ternyata rasanya enak banget. Setelah selesai makan dan menghabiskannya tanpa sisa, Alexa menaruhnya di kursi depan samping kanan.
Tempat bekalnya itu akan ia kasih ke Edwin nanti malam karena nanti malam, Edwin pasti akan datang ke rumahnya untuk mengajari adiknya. Karena Edwin adalah guru lesnya.
Jika Axel masuk ke mobilnya, dan liat tempat makan itu. Alexa mau jawab apa, untuk itu sebelum masuk. Alexa menaruhnya di bawah kursi dan Alexa yakin, Axel tak mungkin liat ke bawah kursi.
Apa kata saudara kembarnya jika dia sampai tau, dirinya di kasih sesuatu oleh guru dari adiknya.
Setelah merasa aman, Alexa pun menyuruh Axel masuk ke dalam mobilnya.
Mereka pun berangkat, Axel yang mengemudi karena Axel yang tau tempat pasar yang akan di tuju.
Sepanjang jalan, Alexa gak berhenti nanya ini dan itu.
"Kak, sebenarnya apa sih alasan kakak pergi ke pasar? Aku rasa tujuan sebenarnya bukan beli baju, Iya kan kak? Kita sudah lama bersama, dan aku bukan anak kecil yang bisa di bohongi." ujar Alexa berharap agar saudara kembarnya itu mau jujur.
"Kamu pengen tau apa pengen tau banget?" goda Axel sambil fokus nyetir.
"Pengen tau banget. Ayolah kita ini kan saudara kembar jadi harus saling terbuka." ucap Alexa.
"Baiklah aku akan cerita tapi kamu juga harus cerita tentang cowok yang kamu suka saat ini." ujar Axel
"Iya aku janji kak." ucap Alexa tersenyum.
"Sebenarnya aku ke pasar ngajak kamu karena ingin bertemu Afifah." ujar Axel.
"Afifah itu siapa kak?" tanya Alexa.
"Dia itu dulu adalah pegawai ku." jawab Axel.
"Pegawai? Dia asisten kak Axel?" tanya Alexa.
"Bukan. Dia hanya bekerja sebagai Cleaning Service." jawab Axel.
"Terus jika dia bekerja di perusahaan kakak, kenapa kakak malah mencarinya di pasar?" tanya Alexa tak mengerti.
__ADS_1
"Karena sekarang, Alexa bekerja di pasar. Jualan baju muslimah." jawab Axel.
"Oh berarti wanita yang bernama Afifah itu sudah gak kerja lagi di kantor kak Axel?" tanya Alexa.
"Enggak, dia sudah berhenti." jawab Axel.
"Kakak menyukai Afifah?" tanya Alexa
"Iya, sangat suka sekali." jawab Axel.
"Apa yang Kak Axel suka dari dia?" tanya Alexa.
"Dia wanita yang sangat pintar dalam menutup auratnya. Dia sangat rajin dalam hal ibadah. Dia baik, dia cantik, dia lembut, dia bukan type orang pendendam, dia suka tersenyum, dia ramah, dia seseorang yang tidak mudah menyerah, dia selalu berjuang dan bagi aku dia berbeda dari wanita kebanyakan." jawab Axel.
"Sejak kapan kakak menyukainya?" tanya Alexa.
"Sudah lama. Waktu itu aku hanya sekedar mengaguminya saja. Karena aku melihat, dia seringkali rutin sholat di masjid bahkan di saat semuanya menyibukkan diri dengan alat make up nya tapi dia berbeda. Ia sibuk mendekatkan dirinya dengan Tuhannya.
Dari rasa kagum itu, mulai menjadi rasa suka. Mungkin aku seringkali memperhatikannya lewat CCTV.
Aku menjadi sangat dekat dengannya saat dia di bulyy." ujar Axel
"Di bully sama siapa kak?" tanya Alexa.
"Sama pegawai ku juga, sesama Cleaning Service." jawab Axel.
"Terus apakah dia melawannya saat ia di bully?" tanya Alexa.
"Enggak, dia gak melawannya sama sekali. Dia memilih diam walaupun dia di sakiti dengan kata-kata bahkan ia juga di sakiti secara fisik." jawab Axel.
"Aish, apakah dia terlalu polos sampai gak bisa melawannya?" tanya Alexa geram.
"Jika dia takut di pecat. Kenapa dia malah berhenti dari pekerjaannya dan memilih jualan baju di pasar?" tanya Alexa tak mengerti.
"Panjang sekali ceritanya. Awalnya dia takut di pecat karena mencari pekerjaan saat itu susah banget apalagi dia hanya anak tamatan SMA. Dia juga butuh uang buat bayar kos kosannya dan juga untuk menghidupi dirinya kembali. Namun sekarang sudah berubah, dia sudah mendapatkan hartanya kembali. Jadi sekarang dia bisa tinggal di rumahnya dan juga mengelola usaha ayahnya." jawab Axel yang membuat Alexa masih belum faham juga dengan apa yang di jelaskan oleh Axel.
Akhirnya Axel pun menjelaskan lebih detail lagi dari awal sampai akhir. Dan Alexa menjadi pendengar setia tanpa berbicara sepatah katapun sampai Axel selesai bercerita.
Setelah 10 menit cerita, akhirnya Axel pun selesai juga menceritakan dari A sampai Z. Dan Alexa pun mengerti dan sangat faham apa yang di rasakan oleh Axel saat ini dan Alexa pun juga seperti bisa merasakan apa yang di rasakan oleh Afifah.
Jujur, setelah mendengar semuanya. Alexa jadi kasihan kepada Afifah, ia gak menyangka hidup Afifah sampai seperti itu. Kehilangan kedua orang tuanya dan juga kehilangan hartanya. Bahkan bertahun-tahun hidup sendirian dan juga berjuang sendiri agar bisa sekolah dan bertahan hidup.
Bahkan jika Alexa jadi Afifah mungkin ia tak mampu menghadapinya.
"Andai aku jadi Afifah, aku pasti udah nyerah duluan. Aku bersyukur karena hidupku sangat sempurna. Mempunyai kedua orang tua yang masih lengkap, mempunyai oma, mempunyai saudara kembar, punya adik. Punya harta yang sangat berlimpah. Punya adik perempuan yang sangat cantik bahkan aku merasa selama hidupku, aku bahagia sekali.
Bahkan aku bisa belajar tanpa memikirkan masalah biaya. Aku sekolah dengan tenang, aku belajar dengan baik hingga aku bisa loncat sekolah dan bisa lulus S2 di usiaku yang masih sangat muda. Bahkan kini aku sudah jadi dokter, saudara kembarku jadi CEO dan punya beberapa perusahaan, abyku juga, omma juga. Hanya umy aja yang gak bekerja karena aby gak mengizinkan untuk bekerja. Lagian uang aby banyak, jadi kalau cuma memenuhi kebutuhan keluarganya, sudah lebih dari kata cukup jadi buat apa bekerja. Lagian umy hanya ingin fokus untuk menjadi istri, menantu dan ibu yang baik untuk keluarganya.
Aku juga gak pernah kekurangan kasih sayang, aku juga bisa mendapatkan apa yang aku inginkan karena aby dan umy akan selalu menuruti keinginan ku. Namun Afifah, ia kehilangan kedua orangtuanya saat ia baru saja lulus SD karena kecelakaan yang di sebabkan paman dan bibinya yang sangat jahat. Bahkan Afifah juga di usir dari rumahnya sendiri dan pergi tanpa membawa uang sedikitpun. Di usia dia yang masih kecil, dia pasti merasa sangat kesulitan namun ia berhasil melalui semua itu.
Tapi aku sangat bersyukur sekali, karena kini paman dan bibinya Afifah sudah di penjara seumur hidup. Semoga setelah ini, Afifah bisa hidup bahagia. Dan aku harap, Kak Axel bisa berjodoh dengan Afifah." gumam Alexa.
"Kenapa bengong?" tanya Axel
"Gak papa kak." jawab Alexa tersenyum.
"Sekarang gantian kamu yang cerita." ujar Axel.
"Baiklah aku akan cerita. Apa yang ingin kakak tau dari aku?" tanya Alexa.
"Orang yang kamu cintai saat ini? Siapa?" tanya Axel sambil terus fokus menyetir. Jujur ini adalah obrolan yang sangat panjang sejak lulus SMA karena setelah lulus SMA, mereka jarang sekali ngobrol berdua
__ADS_1
"Edwin." jawab Alexa.
"Siapa dia?" tanya Axel.
"Orang yang pernah datang ke rumah kita." jawab Alexa
"Siapa yang pernah datang? Aku gak tau." ujar Axel.
"Dia guru les Ayunda." jawab Alexa.
"What? Kamu serius?" tanya Axel kaget.
"Iya." jawab Alexa.
"Sejak kapan?" tanya Axel.
"Beberapa hari yang lalu." jawab Alexa
"Kalian ketemu di mana?" tanya Axel.
"Di sekolah Ayunda, saat aku mengantarkannya. Aku bertemu dengannya. Dan saat pertama kali aku bertemu dia, aku langsung jatuh cinta padanya." ujar Alexa.
"Apakah Ayunda tau masalah ini?" tanya Axel.
"Iya dia tau, bahkan dia yang berusaha mendekatkan aku dengannya karena dia tau aku suka sama Edwin dan ia fikir Edwin pun juga menyukaiku. Makanya ia meminta aby untuk memanggil Edwin sebagai guru lesnya. Padahal kita tau sendiri, Aby punya tempat les yang bahkan muridnya sudah ribuan. Guru les yang profesional. Bahkan aku juga selalu menemani Ayunda tia malam untuk mengajari semua mata pelajaran yang gak ia bisa. Tapi Ayunda masih memaksa aby untuk memanggil guru Edwin agar menjadi guru lesnya. Dan kamu tau kak, alasan Ayunda sebenarnya?" tanya Alexa.
"Pasti dia ingin mendekatkan kamu dengan Edwin?" tebak Axel.
"Iya kak Axek benar, dia ingin Edwin menjadi kakak iparnya." jawab Alexa.
"Aku gak menyangka, kamu bisa mencintai dia. Guru adik kamu sendiri." ujar Axel tertawa.
"Aku pun juga tidak mengerti, bagaimana bisa aku mencintainya. Yah sama seperti kakak, kenapa kakak mencintai wanita yang saat itu hanya bekerja sebagai Cleaning Service?" tanya Alexa.
"Karena aku mengagumi semua yang ada padanya." jawab Axel.
"Iya dan setelah itu kakak mencintainya, bukan? Lalu apa alasan kakak bisa jatuh cinta padanya, aku rasa banyak orang yang jauh lebih baik dari Afifah." ujar Alexa.
"Iya kamu benar, entahlah kenapa. Dari awal, hatiku seakan tertarik padanya." ucap Axel.
"Ya itulah yang aku rasakan kak, saat melihat Edwin pertama kali." ujar Alexa.
"Hehe aku gak menyangka. Saat ini kita sudah mempunyai orang yang sudah memikat hati kita." ucap Axel.
"Iya, aku pun juga tak menyangka kak. Tapi jujur, alu takut ketahuan Aby. Aku takut Aby mengetahui apa yang aku rasakan. Aku takut Aby menyuruhku untuk menikah dengannya. Karena jujur, aku masih belum siap jika harus menikah. Aku masih ingin menikmati kesendirian ku. Aku masih ingin fokus dengan karirku." ujar Alexa
"Sama, aku pun juga merasakan hal yang sama. Tapi aby sudah tau apa yang aku rasakan. Jujur, aku takut jika Aby menyuruhku menikah dengannya sedangkan aku belum siap jika harus membina rumah tangga. Aku masih ingin sendiri dan bersenang-senang dengan temanku. Aku juga ingin fokus mengejar karirku. Tapi masalahnya, aku juga gak bisa jauh-jauh dari Afifah karena rasanya aku tersiksa. Tersiksa saat aku gak bisa melihat wajahnya, tersiksa saat aku gak bisa bertemu dengannya walaupun hanya satu hari.
Afifah seakan sudah menempati ruang yang khusus di hati aku sehingga aku gak bisa berpaling dengannya." ucap Axel.
"Iya kak, jatuh cinta itu memang menyenangkan tapi juga menakutkan. Aku juga setiap kali bertemu dengan Edwin, rasanya dag dig dug dar, seakan-akan aku sedang sakit jantung tapi aku merasa nyaman berada di dekatnya. Tapi aku takut ketahuan aby dan menyuruh aku menikah dengannya namun gak bertemu dengan dia sehari, rasanya kangen banget hehe." ucap Alexa tersenyum.
"Kayaknya apa yang kita rasakan sama dan nasib kita pun juga sama." ujar Axel.
"Iya, apa karena kita kembar ya sampai nasib yang kita alami juga sama?" tanya Alexa.
"Entahlah, aku gak tau." jawab Axel.
Mereka terus berbincang hingga tak lama kemudian, mereka sudah sampai di pasar tradisional.
Axel pun segera memarkirkan mobilnya. Dan setelah itu, ia turun bersama Alexa dan masuk ke dalam pasar.
__ADS_1