
Cuaca tidak lagi bersahabat. Kabut hitam lebih mendominasi langit pagi.
Rara yang sudah siap dengan seragam putih abu-abunya menuruni tangga dengan langkah cepat. Menghampiri sang kakak yang sedang sarapan di meja makan.
"Udah sembuh, Dek? Kok, udah mau sekolah aja?" tanya Ridwan.
"Udah, Bang. Kelamaan di rumah nggak enak. Bosen," jawab Ara.
"Jaga diri baik-baik, ya! Kalau udah ngerasa nggak enak, langsung izin pulang."
"Iya, Bang. Ya udah, Ara berangkat dulu, ya!" Ara mencium punggung tangan Ridwan.
"Loh, nggak sarapan dulu, Ra?"
"Nggak sempat, Bang." Ara pun melenggang pergi. Nasi goreng yang sudah tersedia di meja makan pun tak ia sentuh apa lagi dimakan.
Ara harus cepat-cepat berang karena jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit. Jika waktu yang mepet itu masih ia gunakan untuk sarapan, tentunya ia akan terlambat ke sekolah.
***
Pagi ini Afi tidak ada kabar. Kesal bercampur khawatir menyatu dalam diri Ara. Khawatir karena kemarin Afi sempat mengeluh pusing. Kesal karena dihubungi sedari tadi subuh tak kunjung ada respon.
Ke manakah Afi? Apakah ia sakit?
Kekesalan Ara semakin berlipat ganda kala ia menerima ceramah gratis dari salah satu guru killer karena keterlambatannya pagi itu. Dan sebagai hukumannya dia harus membersihkan toilet sepulang sekolah nanti. benar-benar menyebalkan!
Ara berjalan gontai melewati koridor sekolah. Wajahnya yang terlihat masih pucat itu nampak kusut dan ditekuk.
Namun, langkahnya terhenti seketika tatkala dalam perjalanan menuju kelas, Ara tak sengaja melihat Afi tengah bersama perempuan lain memasuki ruang kepala sekolah.
Sungguh, kekesalan Ara semakin meningkat sepuluh kali lipat dibanding sebelumnya. Bahkan, cemburu pun tak mampu terelakkan. Dengan mudahnya, rasa itu menyelinap dan mulai mengusai jiwanya.
Siapa perempuan itu? Kenapa terlihat begitu akrab dengan Afi? Apakah perempuan itu alasan kenapa Afi tidak menjemput Ara? Apakah karena perempuan itu juga Afi tidak ada kabar pagi ini? Atau jangan-jangan ... perempuan itu yang disukai oleh Afi? Pertanyaan-pertanyaan itu secara beruntun terlintas di pikiran Ara.
Ara hanya bisa memandang kejadian tak mengenakkan itu dari kejauhan. Dengan rasa cemburu yang sudah memanas.
"Ada apa dengan hari ini? Kenapa semua nyebbelin?!" batin Ara.
***
Semenjak hari itu ... sikap Ara mulai berubah. Hari di mana luka menggores hati Ara dengan mudahnya. Seakan menjauh dari sahabat yang ia cintai dalam dalam diamnya selama ini.
Perubahan sikap Ara tersebut begitu terasa. Afi pun bingung bin heran dengan semua itu. Tak ada sapaan, tak ada senyuman apa lagi guyonan seperti biasanya. Hanya tatapan sinis yang Afi dapatkan tiap kali bertemu. Cemburulah penyebab semua perubahan itu.
Ara sadar tak seharusnya ia begitu. Namun, rasa itu hadir dengan sendirinya tanpa ia undang. Sangat tidak mengenakkan memang. Tapi, Ara pun bingung harus bersikap bagaimana.
Ya, begitulah efek samping dari rasa yang terpendam. Tak berani berterus terang. Yang kadang mampu membuat sang pelaku seperti orang gila. Senyum-senyum sendiri bahkan merasakan sakit seperti yang dirasakan oleh Ara.
"Ara, tunggu!" Panggilan itu menghentikan langkah Ara selama beberapa detik. Saat dia tahu Afi mengejarnya, dia pun melanjutkan langkahnya bahkan lebih cepat dari sebelumnya.
"Ra, tunggu!" Akhirnya, Afi berhasil meraih tangan Ara. Hingga langkahnya pun kembali terhenti.
"Kamu kenapa, sih, Ra? Kok, aneh banget? Sikap kamu beberapa hari ini buat aku bingung." Afi berucap tanpa melepaskan genggaman tangannya. Namun, bukannya menjawab, Ara malah lebih memilih untuk diam dengan ekpresi wajah pasif.
"Ra. Jawab, dong! Aku punya salah apa sama kamu sampai kamu berubah kayak gini sama aku? Apa karena kemaren aku nggak jemput kamu? Nggak ngangkat telepon kamu? Iya?!"
Ara melepaskan genggeman tangan Afi secara paksa. Dan berniat pergi dari hadapan Afi. Namun, Afi menahannya.
"Apa lagi, sih, Fi! Aku mau ke toilet, kenapa? Kamu mau ikut?" Ara berucap penuh penekanan. Yang hanya dibalas dengan tatapan tajam dari mata sipit milik Afi.
Entahlah, tatapan tajam yang tersorot dari mata Afi membuat Ara mengernyit kaget. Bisa jadi, ini adalah kali pertama Afi menatap Ara begitu. Dari dulu, tatapan Afi selalu menyenangkan.
Apakah Afi marah? Sudah keterlaluankah apa yang dilakukan Ara selama beberapa hari ini? Sebisa mungkin, Ara menahan airnya agar tidak meluruh. Karena ia tidak ingin terlihat cengeng di depan Afi. Lagipula, Afi mana peduli? Mengingat perempuan yang bersamanya waktu itu. Dia pasti pacarnya!
Dalam situasi seperti ini, ingin rasanya Ara membuang segala rasanya terhadap Afi. Karena ia sadar itu hanya akan menyiksa dirinya. Namun, semua itu seakan menjadi hal yang mustahil dilakukan mengingat cintanya yang begitu dalam kepada Afi.
Tadinya Ara berniat untuk ke kantin, bukan ingin ke toilet seperti yang dikatakannya tadi kepada Afi. Namun, melihat tatapan mata Afi tadi, membuatnya jadi tak selera makan. Rasa lapar yang melanda pun hilang tak tersisa.
***
__ADS_1
Ara duduk seorang diri di tempat favoritnya. Tempat yang penuh dengan bunga-bunga indah bermekaran dengan sempurna. Lokasinya tidak jauh dari rumahnya. Sekitar 10 menit sampai dengan berjalan kaki.
Tentu masih berkutat dengan kegelisahannya yang semakin menjadi. Tentang Afi yang masih bertahan di tahta teratas dalam benaknya. Kenapa sesakit ini?
Entahlah, kapan rasa itu akan berujung, dan berhenti menyiksa hati. Memendam rasa yang sudah tidak tahu bagaimana caranya menyikapi. Benarkah apa Ara lakukan? Menjauh dan selalu menghindar dari Afi?
Angin malam menyapa Ara sendu. Membuatnya semakin terbawa suasana. Dalam keadaan sepi begitu, sebenarnya Ara justru merindukan Afi. Rindu keseruan yang mampu ia cipta, juga rindu tawanya.
Tapi ... ke manakah Afi? Bukankah ia selalu ada untuk Ara? Apalagi, saat Ara sendiri di tempat favoritnya, Afi biasanya datang tanpa terduga.
"Sebenarnya aku rindu kamu, Fi. Tapi, aku benci hadirmu saat ini." Tanpa sadar, ucapan Ara didengar oleh Ridwan, kakaknya.
"Bukannya udah tiap hari ketemu? Kok, masih rindu aja?" Suara Ridwan membuat Ara sedikit kaget. Ridwan pun melangkah mendekati adiknya yang tengah dirundung kesedihan itu. Duduk di sebelahnya dan menatap lekat netra Ara yang mulai berembun.
"Abang udah kayak kunti tau nggak?! Datang tiba-tiba tanpa diundang." Ara berusaha mencairkan suasana.
"Mana ada kunti cowok," ucap Ridwan. Mengikuti alur suasana yang berusaha Ara ciptakan.
"Abang pengecualian!" Ara memanyunkan bibir mungilnya.
"Setahu abang, yang datang tanpa diundang pulangnya tak diantar itu jailangkung, bukan kunti."
"Kalau jailangkung datang tak dijemput, bukan datang tanpa diundang," ucap Ara kelewat pintar.
"Bedanya?"
"Bedalah. Dijemput itu pakek kendaraan, kalau diundang ya pakek undangan." Dalam kondisi hati sedih pun, Ara masih sempat-sempatnya ngelawak. Membuat Ridwan akhirnya tersenyum lalu mengacak puncak kepala Ara kelewat gemas.
"Abang! Rambutku jangan diacak-acak. Nanti nggak cantik!" Ara berucap sembari merapikan rambutnya yang agak berantakan.
"Tetep cantik, kok. Malah makin cantik."
"Ngacok!" sahut Ara cepat.
"Hehe." Ridwan terkekeh.
"Lagian Abang ngapain di sini?" tanya Ara.
"Kayak baru pertama kali aja. Ara, kan, udah sering ke sini, Bang."
"Iya, Ara. Abang paham. Tapi, nggak sampai semalam ini juga." Mendengar kalimat yang diucapkan Ridwan, Ara pun dengan segera melihat jam tangan yang melingkar di lengannya. Begitu melihat jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat sepuluh menit, matanya membulat kaget.
"Hem, baru sadar, kan, kalau ternyata udah hampir larut malam?" Ara terdiam. Kembali menyibukkan pikirannya. Memikirkan Afi menghabiskan waktu sampai selama itu? Tapi, kenapa rasanya sangat singkat? Aneh!
"Woi!" Ridwan menepuk pundak Ara. Membuat Ara akhirnya terbangun dari lamunannya.
"Kenapa bengong?" tanya Ridwan. Ara menggeleng.
Ridwan meraih kedua pundak Ara. Menghadapkan Ara kepadanya. Ditatapnya mata Ara dalam-dalam. Sepertinya Ridwan menyadari bahwa adiknya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Kamu kenapa?" tanya Ridwan. Ara diam.
"Jawab, Ara. Kamu kenapa?" Ara tetap diam.
"Kamu ada masalah? Kalau iya, cerita ke abang. Jangan dipendam sendiri."
Ara mengembuskan napas berat. Merasa bingung harus dengan kalian apa ia menjawab pertanyaan kakaknya itu.
"Ara nggak apa-apa kok, Bang." Kalimat itulah yang akhirnya terlontar dari bibir Ara.
"Bohong! Abang kenal kamu bukan hanya satu dua tahun, Ra. Abang tau betul gimana kamu. Sekarang kamu jujur sama abang. Ada apa? Soal Afi?" Ridwan bertanya serius.
Mendengar nama Afi disebut, Ara memalingkan wajahnya dari Ridwan. Menyingkirkan tangan sang kakak dari bahunya.
"Afi udah punya pacar, Bang," jawab Ara lirih.
"Tau dari mana?"
"Liat sendiri. Afi sering bareng cewek itu. Bahkan, beberapa hari yang lalu, dia janji mau jemput Ara tapi malah nggak dateng. dihubungi juga nggak bisa. nyampek sekolah, tau-tau itu bocah malah sama cewek, anak baru kelas sebelah kayaknya."
__ADS_1
"udah pasti, kalau itu ceweknya Afi?"
"Ya, pastilah, Bang. Kalau bukan pacar mana mungkin sampek segitunya!" Mendengar jawaban Ara, Ridwan malah senyum-senyum. membuat Ara mengernyit bingung.
"Abang, kok, malah ketawa, sih! Ada yang lucu?"
"Ada," jawab Ridwan dengan masih ada sisa tawanya.
"Apanya yang lucu?"
"mukamu. Orang kalau lagi cemburu mukanya bisa dibuat lucu juga, ya?"
"Cemburu? Siapa yang cemburu?" Ara berubah sewot.
"kalau bukan cemburu, apa namanya, Dek? Afi deket sama cewek lain kamu malah nggak suka. padahal belum tentu itu cewek beneran pacarnya Afi."
"Abang sok tau! Orang Ara liat sendiri, kok. Kalau bukan pacar mana mungkin Afi kayak gitu."
"kayak gitu gimana?" Ridwan memang suka menggoda Ara. Jadi tak heran jika adik kesayangannya itu dibuat mati gaya olehnya.
"au' ah! Abang nyebbelin! Intinya Ara nggak cemburu, titik!"
"Ciye ... yang lagi terbakar api cemburu. Pantesan, betah banget di sini sampai lupa waktu. Dasar, bocah! Lagi galau curhatnya malah sama bunga, bulan, dan bintang. Kenapa nggak sekalian aja sama rumput yang bergoyang," ucap Ridwan.
"Sekali lagi Abang bilang Ara cemburu, Ara nggak mau pulang!" ancam Ara.
"Eh, jangan gitulah, Ra. Nanti kalau kamu kenapa-napa, abang yang dimarahin papa mama nanti."
"Bodo' amat!"
"Lagian, kalau kamu emang kamu nggak cemburu, terus kenapa kamu kesel kayak gini kalau Afi deket sama cewek lain?"
Ara menatap lekat mata Ridwan. Lelaki yang begitu ia sayangi itu juga menatap Ara. Seakan ingin menemukan jawaban yang sejujurnya dari sorot mata adiknya.
Saat ini, rasanya Ara tidak mungkin berterus terang tentang apa yang ia rasakan terhadap Afi selama ini. Selain karena malu, dia takut abangnya akan marah.
"Ra. Rasa suka, sayang, dan cinta itu adalah suatu hal yang sangat wajar. Manusiawi namanya. Nggak peduli mau ke sahabat, orang yang baru ditemui, atau apalah itu semacamnya. Asal, jangan sampai nyiksa diri."
"Ara cuma nggak mau ganggu Afi aja, Bang. Takut pada akhirnya persahabatan Ara sama Afi malah ngerusak hubungannya sama pacarnya. Abang tau sendirilah, Ara sama Afi kayak gimana. Kalau nanti pacarnya Afi marah dan salah paham, gimana?"
"Cinta datang bukan sebagai perusak, Ara. Kalaupun Afi emang udah punya cewek, ikatan persahabatan kalian juga nggak boleh renggang, apalagi rusak. Lagian, abang kok nggak yakin, ya, kalau Afi punya pacar?"
"kenapa nggak yakin?"
"Ya, nggak yakin aja. Karena kalau emang iya, pasti dia curhat sama kamu sebagai sahabatnya."
"Udahlah, Bang. Biarin aja. Ara juga nggak apa-apa."
"Saran abang, ya. Mending kamu cari tau dulu, deh! Itu cewek siapa, datangnya dari mana. Daripada kamu cuma nebak-nebak doang. Kan, belum pasti. Takutnya malah jadi salah paham nantinya."
Sebenarnya benar apa yang dikatakan Ridwan. Tak seharusnya Ara menyimpulkan sesuatu yang belum pasti kebenarannya. Tapi, memang begitulah cinta. Menyisakan tanda tanya dan harus dicari jawabannya.
***
Afi melangkah ragu, mendekat ke arah pintu berwarna coklat di depannya. Sejenak Afi terdiam, mencoba meyakinkan niatnya untuk menemui Ara malam ini.
"Jam segini pasti Ara udah tidur," gumamnya.
Afi menarik panjang napasnya, lalu mengetuk pintu yang ada di depannya tersebut. Sekali dua kali diketuk, tak ada jawaban.
"Assalamu'alaikum. Ara! Ini aku, Afi." Beberapa kali dicoba, hasilnya tetap sama.
Afi mulai pesimis. Pintu Tersebut belum terbuka juga.
"Perasaanku nggak enak, Ra. Aku ke sini buat mastiin kalau kamu dalam keadaan baik-baik aja," batin Afi, sambil terus mengetuk pintu.
"Ah, dasar bodoh! Ya, jelaslah nggak bakal dibuka. Ara juga udah pasti tidur jam segini. Tapi, aku belum bisa tenang sebelum aku mastiin Ara baik-baik aja." Afi berucap pada dirinya semdiri.
Gelisah, khawatir, dan takut seakan membaur menjadi satu. Entah kenapa, Afi merasa begitu cemas. Perasaannya semakin tidak karuan. Apalagi mengingat sikap Ara yang mulai berubah akhir-akhir ini. Semua itu membuat Afi menjadi semakin bingung. Merasa mulai kehilangan sahabat terbaiknya.
__ADS_1
Afi sudah berusaha menghubungi Ara sedari sore, tetapi tidak aktif. Itulah yang membuat Afi akhirnya nekad datang ke rumah Ara meski jam sudah menunjukkan pukul dua belas lewat sepuluh menit.
"Aku nggak tau harus apa kalau kamu giniin aku, Ra. Kenapa kamu menjauh? Kenapa kamu berubah? Apa salahku? Aku berharap, kamu baik-baik aja. Dan besok, kamu akan kembali menjadi Ara yang aku kenal," batin Afi. Memandangi jendela kamar Ara dari kejauhan.