
Saat ini Balqis, Axel dan Alexa pergi ke hotel milik Adzriel karena saat di lacak keberadaan Aksa ada di sana. Sesampai di hotel itu, semua karyawan menyambut kedatangan Axel dan Alexa dengan semangat karena mereka tau bahwa kedua anak ini adalah putra dan putri dari pemilik hotel tempat mereka bekerja sekarang.
"Tumben den Aksa dan non Alexa ke sini?" tanya resepsionis yang ada tepat di depan pintu karena memang meja kerjannya berada di depan pintu masuk. Sehingga semua orang yang baru berkunjung bisa langsung tertuju ke sana.
"Saya mau mencari keberadaan om saya." Jawab Alexa.
"Boleh saya tau nama lengkapnya?" tanya resepsionis itu ramah.
"Aksa Damian." Jawab Balqis.
"Bentar ya." Resepsionis itu mencari di komputer dan ternyata memang ada yang check ini tadi sore.
"Iya benar, dia memesan kamar tadi sore." Ujar resepsionis itu ramah.
"Boleh saya tau kamar nomer berapa?" tanya Axel.
"Nomer 107." Jawabnya dengan senyuman khas yang ia miliki.
"Oke, terima kasih infonya ya mbak." Ujar Axel dan Alexa bersamaan.
"Sama sama."
__ADS_1
Mereka bertiga pun segera pergi ke lantai dua , karena kamar nomer 107 itu ada di lantai dua. Setelah sampai di depan kamar 107, Balqis pun mengetok pintu itu 3x. Dan tak lama kemudian ada seseorang yang membukanya.
"Balqis?" Ucap Aksa, ia tak menyangka keberadaannya akan di ketahui secepat ini.
"Mas, kenapa mas menghindari aku? Kenapa mas? Aku nelvon dari tadi siang, gak di angkat bahkan aku sms gak di balas. Kalau memang ada masalah, ayo kita bicarakan berdua. Jangan seperti ini, jangan buat aku hawatir." Ujar Balqis sambil menitikkan air mata. Aksa pun yang melihatnya jadi tak tega, ia meraih Balqis dan memeluknya.
"Maafkan aku, aku hanya takut untuk pulang. Aku takut kamu akan mengusirku jika kamu tau apa yang telah aku lakukan tadi pagi." Ujar Aksa dengan suara gemetar, ada setitik air yang keluar dari kedua matanya.
"Aku sudah tau semuanya mas, dan mas gak salah. Ada seseorang yang menjebak mas." Ujar Balqis sambil melepas pelukan suaminya.
"Benarkah?" tanya Aksa tak percaya.
"Iya mas, dan itu adalah mantan pacar kamu. Dia menyuruh seseorang untuk menaruh sesuatu ke minumanmu mas dan setelah itu mantan pacar kamu datang dan membawamu ke kamarnya. Sedangkan kamu dalam keadaan tak sadarkan diri. Tapi kamu tenang aja mas, wanita yang sudah tega memberikan sesuatu ke minumanmu sudah di pecat. Tadi aku pergi menemui atasannya dan memberikan percakapan dia sama aku saat ada di ruang vvip." Jawab Balqis.
"Kamu tau dari mana semua itu dan kenapa bisa sampai kefikiran mau ke sana?" tanya Aksa.
"Terimakasih ya Axel, Alexa. Kalian memang keponakan om yang sangat baik dan pintar. " Puji Aksa.
"Sama sama om." Ujar Axel tersenyum.
"Om, aku capek berdiri terus di sini. Bolehkah aku masuk ke kamar om?" tanya Axel.
"Oh ayo, silahkan."
Aksa pun menyuruh istrinya dan kedua keponakannya itu masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Sayang, ada hal yang harus kamu tau." Ujar Aksa ingin berterus terang.
"Apa itu mas?" tanya Balqis. Aksa membuka baju yang ia pakai sehingga membuat Balqis, Axel dan Alexa terkejud.
"Ya Allah mas, itu kenapa?" tanya Balqis heran begitupun dengan Axel sedangkan Alexa memilih menutup matanya karena ia tak ingin matanya ternodai.
"Ini kerjaan wanita gila itu." Ucap Aksa sedih.
"Aku gak menyangka tante Inez akan melakukan hal seperti itu. Ya walau sebenarnya aku tau sih pekerjaan dia itu adalalh wanita panggilan." Ujar Axel tanpa sadar.
"Maksud kamu?" tanya Balqis dan Aksa bersamaan.
"Eh, apa?" tanya Axel yang gak faham dengan yang di tanyakan om dan tantenya itu.
"Kamu tadi bilang bahwa Inez itu wanita panggilan." Ujar Aksa.
"Hah? kapan aku bilang gitu?" tanya Axel yang gak tau menau karena tadi dia bicara tanpa sadar dengan ucapan yang terlontar begitu saja.
"Tadi kakak memang membicarakannya, lebih baik kaka jujur aja biar mereka berdua tau siapa tante itu." Ujar Alexa yang masih menutup kedua matanya dengan tangan mungilnya. Aksa yang melihat keponakannya tutup mata, akhirnya sadar dengan apa yang ia lakukan. Ia pun segera memakai bajunya kembali.
"Kamu boleh membuka matamu, om sudah pakai baju." Ujar Aksa. Naila pun membuka matanya dan melihat memang benar Aksa telah memakai baju yang sempat ia buka tadi.
__ADS_1