
"Bi', Ara udah berangkat?" tanya Ridwan pada pembantu barunya yang baru bekerja tiga hari di rumahnya.
"Sudah, Den. Baru aja," jawab perempuan paruh baya tersebut dengan sopannya.
"Tapi, dia udah sarapan, 'kan?"
"Belum, Den. Non Ara langsung berangkat tadi. Padahal, bibi sudah menyiapkan sarapan untuk Non Ara."
"Ya Allah. Ara kebiasaan banget deh! Berangkat sekolah nggak sarapan. Udah tau punya sakit magh juga!" Ridwan ngedumel sendiri.
"Tadi udah bibi tawarin buat bawa bekal. Tapi, Non Ara nggak mau, Den."
"Dia mana pernah bawa bekal ke sekolahnya, Bi. Ya udah, Bibi boleh lanjutin pekerjaannya, makasih, ya!"
"Baik, Den."
***
Ara berlari melewati koridor sekolah yang sudah sepi. Bagaimana tidak sepi, jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat lima menit. Itu artinya dia sudah terlambat lima menit.
"Ara, tunggu!" Seketika langkah Ara terhenti begitu mendengar suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya. Bukan Afi, melainkan Pak Hendra. Guru BP di sekolah tersebut.
"Aduh! Ketahuan deh," ucap Ara sembari menepuk jidatnya. Perlahan, dia pun berbalik arah. Dan benar saja, pria berperawakan tinggi dengan kumis tipis yang melintang bernama Pak Hendra berada di hadapannya dan menatap Ara tajam.
"Eh, Pak Hendra. Hehe, ada apa, Pak? Ada yang bisa saya bantu?" Ara nyengir seperti tak berdosa. Membuat Pak Hendra semakin dibuat geram.
"Sudah jam berapa ini?" tanya Pak Hendra.
"Jam tujuh lewat, Pak. Maaf, saya terlambat lagi. Jalanan macet." Ara berdalih.
"Mau jalanan macet kek, jalanan becek kek, atau apalah itu alasannya, kamu tetap akan bapak hukum!" tegas Pak Hendra, membuat mata Ara membulat sempurna.
"Dihukum, Pak?"
"Iya!"
"Tapi, Pak ...."
"Tidak ada tapi-tapian. Sekarang juga kamu ke lapangan, dan hormat pada bendera selama lima belas menit."
"Lima belas menit, Pak? Beneran? Tumben cuma bentar, biasanya juga sampai jam pelajaran pertama selesai."
"Iya, lima belas menit. Tapi ... jangan girang dulu kamu."
"Lah, kenapa lagi, Pak?" Wajah Ara yang semula berbinar, kembali tertekuk.
"Sepulang sekolah nanti, ada tambahan hukuman buat kamu! Yaitu, harus membersihkan toilet cewek!" Tanpa ragu, Pak Hendra berucap tegas. Ara yang mendengar pernyataan itu, terbelalak kaget.
"Hah?! Membersihkan toilet, Pak? Aduh! Kalau gitu saya mending dihukum berjemur dilapangan deh, Pak. Nggak masalah mau berapa jam juga." Ara mencoba bernegosiasi. Tapi, Pak Hendra tetap pada keputusannya. Akhirnya, mau tidak mau, Ara pun mengiyakannya.
Terik matahari menyengat kulit. Ara yang tengah berdiri di lapangan dan hormat pada bendera terlihat pucat. Keringat dingin sudah mulai membanjiri tubuhnya.
"Aku harus kuat, aku harus kuat!" Ara menyemangati dirinya sendiri.
Tak lama setelah itu, Afi datang menghampirinya. Seketika Ara tercekat, menoleh ke arah Afi yang tengah memandangnya dengan tatapan yang sulit ditafsirkan. Membuat Ara seakan mati gaya.
Ada apa Afi menghampiri Ara?
"Kamu kenapa, Ra?" tanya Afi.
"Nggak apa-apa," jawab Ara singkat, tanpa mengubah posisinya yang tengah hormat pada bendera.
"Semalam aku ke rumah kamu sekitar jam dua belas. Tapi, aku ketuk-ketuk pintu, aku panggil nama kamu, nggak dijawab. Kamu udah tidur atau emang sengaja nggak mau menemui aku?"
Mendengar pertanyaan Afi, Ara terdiam. Mengingat kembali ke mana dia semalam saat Afi bertandang ke rumahnya.
"Jelas nggak bakal ada. Aku, kan, lagi nggak ada di rumah," batin Ara. Tapi, rasanya tidak mungkin Ara berterus terang kepada Afi perihal itu. Karena apa yang dilakukan Ara semalam pun dikarenakan Afi. Lebih tepatnya, menenangkan pikirannya yang selalu dihantui oleh rasa cemburu.
"Salah kamu sendiri, bertamu ke rumah orang nggak tepat waktunya! Ya aku tidurlah kalau jam segitu," jawab Ara ketus.
"Kamu sakit, Ra? Kok, muka kamu pucat gitu?" tanya Afi begitu menyadari bahwa ternyata wajah Ara pucat.
__ADS_1
"Nggak! Aku baik-baik aja. Lagian, kamu nggak usah sok peduli, deh!"
"Kamu kenapa, sih, Ra? Kok, sikap kamu berubah gini sekarang. Aku punya salah sama kamu? Please, cerita! Biar aku tau, letak kesalahan aku itu di mana."
Entahlah, sebenarnya masalah mereka tidak terlalu rumit. Hanya soal rasa saja. Tapi ... ya, begitulah cinta, membingungkan dan juga kadang menyakitkan.
Menurut Ara menjauh dari Afi untuk saat ini adalah waktu yang tepat, daripada hatinya terus tersakiti melihat Afi bersama wanita lain.
Namun, semakin ia mencoba menjauhi Afi, selalu ada cara dan waktu tak terduga dirinya bertemu dengan Afi.
"Aku harap, kita jaga jarak aja mulai sekarang. Aku takut nantinya akan ada hati yang tersakiti." Ucapan Ara membuat Afi mengernyit heran.
"Takut ada hati yang tersakiti? Maksudnya? Kamu udah punya cowok, gitu?" Ara membulatkan mata mendengar pertanyaan Afi. Kenapa jadi terbalik begitu?
Ara berbalik arah, mengabaikan hukuman yang tengah ia lakukan. Menyingkat jarak yang tercipta antara dirinya dan Afi. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, jarak antara Afi dan Ara semakin dekat. Tatap mata mereka beradu. Saat bibir Ara mulai terbuka untuk menyampaikan maksud ucapannya, Pak Hendra datang membuyarkan suasana.
"Eh, kalian! Dikasih hukuman bukannya dijalani malah asyik ngobrol. Mesra-mesraan di lapangan lagi!" Suara garang Pak Hendra kembali menciptakan jarak antara keduanya. Merasa kikuk saat Pak Hendra datang dan berdiri di antara Afi dan Ara.
"Maaf, Pak," ucap Afi tertunduk.
"Dia yang gangguin saya, Pak," sahut Ara.
"Apa pun alasannya, kalian sudah membuat saya geram! Jadi, sebelum saya tambah marah, cepat kalian laksanakan hukuman yang tadi saya berikan!"
"Hukuman Ara saya yang tanggung bisa nggak, Pak? Soalnya kasian Ara. Dia lagi sakit. Bapak bisa liat sendiri, kan, mukanya dia pucat gitu." Perkataan Afi membuat Ara termangu. Sepeduli itukah Afi terhadap Ara?
"Benar begitu, Ara?" tanya Pak Hendra memastikan.
"Nggak, kok, Pak. Tapi ...." Ara menggantungkan kalimatnya.
"Tapi apa, Ara?"
"Bapak, kan, ngasih waktu hukuman ke saya hanya 15 menit. Dan sekarang waktunya udah habis, Pak. Jadi, kalau Bapak mengizinkan, saya mau masuk kelas," jawab Ara sopan.
"Ya, sudah. Kamu boleh masuk!" titah Pak Hendra.
"Terima kasih, Pak. Kalau gitu, saya permisi," pamit Ara.
***
Ara melangkahkan kaki dengan malas menuju toilet. Dengan ember juga alat pel yang sudah dipegangnya. Kepalanya berdenyut nyilu. Rasanya seperti tertusuk seribu paku. Ya, itu dikarenakan Ara yang memang belum makan sedari pagi.
Dengan gerakan malas, Ara pun memulai mengerjakan hukuman yang diberikan oleh Pak Hendra. Merasa ragu, bisakah Ara membersihkan semua toilet tersebut? Mengingat kondisinya yang benar-benar kurang fit.
Ingin rasanya Ara pulang, merebahkan tubuh mungilnya di atas kasur empuknya. Namun, apalah daya, hukuman tetaplah hukuman yang harus dia jalani apa pun kondisinya.
Semakin dipaksakan, rasanya semakin menyakitkan. Keringat dingin mulai menghinggapi tubuh Ara. Kepalanya semakin sakit terasa. Bahkan, pandangannya pun mulai kabur, keadaan sekelilingnya terlihat berputar-putar dan bercabang.
"Ya Allah. Kepalaku kenapa sakit banget begini, ya?" Sambil memegangi kepalanya, Ara berucap lirih. Rasanya Ara sudah tak kuat lagi berdiri. Kakinya seperti sudah tidak sanggup lagi menopang tubuh mungilnya.
Perlahan, tubuhnya pun mulai kehilangan keseimbangan. Hampir saja ia terhempas ke lantai kalau saja tidak ada orang yang sigap segera menangkap tubuh mungil dari belakang. Dalam keadaan setengah sadar, Ara bisa merasakan bahwa dirinya tengah berada dalam dekapan seseorang.
"Ya Allah, Ra. Kamu kenapa? Kamu nggak apa-apa, 'kan?" tanya seseorang itu cemas. Yang tak lain orang itu adalah Afi.
Perlahan Ara mencoba membuka matanya secara sempurna. Dilihatnya wajah cemas Afi meski masih samar-samar. Ara pun langsung kembali ke posisi semula. Dan menyingkarkan tangan Afi dari tubuhnya.
"Kamu sakit?" Afi bertanya khawatir. Namun, Ara menggeleng. Di depan Afi, Ara berusaha terlihat kuat seperti sedang baik-baik saja.
"Nggak usah geleng-geleng, Ra. Aku tau kamu nggak lagi baik-baik aja. Muka kamu pucet gitu. Lagian, kan, udah kubilang dari tadi pagi, kamu istirahat aja di UKS. Jangan maksain sekolah kalau lagi sakit." Ara terdiam, memegangi kepalanya yang terasa masih pusing.
"Kamu pasti belum makan, ya?" Ara tetap terdiam.
"Ya, udah, gini aja deh. Aku anterin kamu pulang, Ya?"
"Aku masih ada kerjaan,"jawab Ara agak cuek.
"Kamu bersiin toilet ini karena dapat hukuman dari Pak Hendra, 'kan?" Kali ini Ara mengangguk.
"Kalau gitu, biar aku yang kerjain!" Afi mengambil alat Pel yang sudah terjatuh ke lantai. Namun, Ara menahannya.
"Jangan, nggak usah! Kan aku yang di hukum, bukan kamu."
__ADS_1
"Kata siapa?"
"Kata akulah."
"Aku juga dihukum suruh bersiin toilet sama Pak Hendea, karena tadi pagi aku datengnya juga telat."
"Ya, udah kalau gitu, kerjain aja kerjaan kamu. Biar aku ngerjain kerjaan aku. Kan, toiletnya luas."
"Terus, aku bakal ngebiarin kamu ngerjain semuanya dalam kondisi kamu yang kayak gitu?" Afi berucap serius. Hingga membuat Ara terdiam. Menatap mata Afi dalam-dalam.
"Ra, kali ini aja, dengerin aku. Aku nggak mau kamu kenapa-napa. Jadi please, biarin aku ngerjain semuanya, kamu istirahat aja, ya!" Sorot mata penuh ketulusan terpancar jelas dari mata Afi.
"Kamu masih peduli sama aku?" tanya Ara.
"Pertanyaan apa itu? Jelaslah aku peduli." Afi menjawab dengan yakin.
Lagi dan lagi. Mereka beradu tatap.
"Aku minta maaf, Ra."
"Buat?"
"Aku nggak tau apa salahku sama kamu. Tapi, aku tau, kamu kayak gitu juga pasti ada alasannya. Oleh karena itu, aku minta maaf. Untuk segala hal yang kulakuin hari ini, kemaren dan hari-hari sebelumnya yang mungkin nggak kamu sukai. Hingga buat kamu menjauh dari aku." Afi diam sejenak, lalu kembali melanjutkan ucapannya. "Maaf karena jika aku udah buat kamu menunggu, buat kamu kesal, dan udah buat kamu kecewa. Kamu mau maafin aku, 'kan?"
Ara tersenyum mendengar semua perkataan Afi. Ara bisa merasakan ketulusan dari tatap mata Afi. Entahlah, ucapan Afi seakan merontokkan ego di hati Ara.
"Iya, aku maafin. Maafin aku juga, karena udah bersikap cuek ke kamu selama ini." Ara menjawab tanpa ragu.
Afi mengacungkan jari kelingkingnya, dan Ara pun mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking milik Afi. Pertanda bahwa mereka sudah baikan.
"Ya, udah, kamu istirahat dulu di sana, biar aku aja yang ngepel."
"Kasian kamunya kalau kayak gitu. Lagian aku udah sehat, kok," ucap Ara.
"Nggak boleh! Kamu sakit, Ra. Jadi harus istirahat!"
"Kok, maksa, sih?" Senyum mengembang di wajah pucat Ara.
"Iya, kali ini aku maksa!" tegas Afi. Ara mengangguk.
"Ya, udah, yuk! Aku anter kamu ke sana," Afi memapah Ara menuju kursi panjang sebelah kanan toilet. Lalu didudukkan di sana. Sedangkan Afi mengambil alih tugas Ara yang sempat terhenti.
"Afi ...," panggil Ara.
"Iya," sahut Afi.
"Makasih, ya!" Senyuman yang diberikan Afi kepada Ara sudah cukup menjadi jawaban atas ucapan terima kasih Ara kepadanya.
Ara memperhatikan Afi dari kejauhan. Sakit yang dirasa tadi seakan terobati dengan sikap dan perlakuan Afi kepadanya. Senyuman manis terukir indah di wajah cantik Ara. Kebahagiaannya yang tak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata. Seakan melupakan kecemburuan yang sempat menciptakan jarak antara dirinya dan Afi.
"Aku sayang kamu, Fi. Lebih dari yang kamu tau," batin Ara.
Cinta memang benar-benar ajaib. Mampu mengubah suasana hati. Dari yang sedih menjadi senang, dari yang bahagia menjadi kalut, bahkan, bisa juga menyebabkan gila.
Ara tidak tahu, sampai kapan rasa itu akan bersemayam dalam hatinya. Mungkin bisa selamanya, selama ia masih tetap bisa marasa nyaman berada di dekat Afi.
Jika mencari yang tampan, mungkin akan banyak yang Ara temui di luaran sana. Pun, juga dengan kaya, tak terhitung berapa jumlahnya.
Mengingat wajah Ara yang cantik, pasti tidak akan sulit mencari yang yang jauh lebih tampan. Tapi, Ara lebih mengutamakan rasa nyaman. Jika rasa nyaman sudah didapat, selebihnya akan mengikuti.
Dan Afilah yang bisa memberikan rasa nyaman itu. Apalagi saat Afi memberikan perhatian kepadanya, membuat Ara semakin merasa sayang.
Meskipun ia tidak tahu, bagaimana perasaan Afi yang sebenarnya. Apakah ia hanya menganggap Ara sahabat, atau malah lebih, seperti yang dirasakan olehnya? Semuanya memang masih menjadi rahasia.
Cinta berhak memilih. Jika Ara memilih mencintai Afi, maka Afi pun sama. Dia juga berhak memilih, kepada siapa cintanya berlabuh.
Cinta tidak harus memiliki, dan Ara pun menyadari akan hal itu. Jadi, seperti apa pun perasaan Afi terhadapnya, dia harus siap menerima. Syukur-syukur kalau terbalaskan. Akan semakin melengkapi kebahagiaan Ara tentunya.
"Aku nggak berharap banyak, Fi. Cukup aku bisa sering bersama kamu. Karena kamu bisa buat aku nyaman dan aman. Aku pun nggak berharap kamu juga mencintaiku. Menjadi sahabatmu aja udah lebih dari cukup buatku. Semoga rasa ini ada untuk selamanya." Ara berucap dalam hati.
Like and koment ya, guys! Biar jadi penyemangat buat next episode ;)
__ADS_1