
Ara duduk termenung di sofa ruang tamu. Ditemani oleh gitar kesayangannya yang dia biarkan begitu saja. Pikirannya tak lagi menyatu dengan raganya.
Masih tentang Afi yang dia pikirkan dan lamunkan. Tentang pertanyaan Afi tadi pagi yang membuatnya gelisah tak karuan.
Apakah ada maksud tertentu dari pertanyaan itu? Karena ... Tak biasanya Afi bertanya begitu, apalagi seputar cewek.
"Kenapa Afi nanya cewek lebih suka bunga atau coklat, ya? Apa dia lagi naksir seseorang? Atau cuma pertanyaan iseng kayak biasa?" batin Ara dilema.
Ara memang mencintai Afi. Tapi, dia tidak ingin menjadi penghalang. Tak ingin menjadi seseorang yang dengan egoisnya melarang Afi tuk tidak jatuh cinta kepada wanita lain. Karena Ara sadar, Afi juga berhak bahagia, dengan atau tanpa dirinya.
Ara tahu, Afi juga mempunyai kehidupan pribadi, yang tidak semuanya boleh ia jamah. Namun, tak bisa Ara pungkiri, bahwa dia akan sakit jika nantinya Afi bersama dengan perempuan lain. Tapi, Ara bisa apa? Dia hanya gadis remaja yang memiliki rasa, rasa yang terpendam, yang dia tutup rapat-rapat tanpa ada orang lain tahu. Jadi, mau tidak mau, siap atau tidak siap, dia harus menerima semua resikonya.
Afi adalah cinta pertama Ara. Bagi Ara, cinta pertama memanglah ajaib. Bagaimana tidak, semakin dia berusaha melupakan dan menghilangkan perasaannya terhadap Afi, malah semakin kuat rasa itu bertandang.
"Ra. Bikinin abang teh, dong!" Ridwan, kakak Ara, datang menghampiri adiknya yang tengah sibuk dengan lamunannya. Bahkan, ucapan Ridwan pun tak ia gubris. Ara diam tak bergeming.
"Adek abang yang paling cantik, bikinin abang teh!" Ridwan meninggikan volume suaranya agar Ara mendengarnya. Namun, hasilnya tetap sama. Tak ada respon meski hanya sekadar anggukan.
Melihat sikap adek kesayangannya itu, Ridwan pun tersenyum jahil. Lesung pipi yang di miliki pemuda berkulit gelap ini nampak mulai terlihat jelas. Dia pun mengikis jarak yang tercipta antara dirinya dan Ara. Menggeser posisi duduk dan semakin mendekat ke arah Ara. Dan ....
"Ara! Ada kucing di sebelah kamu!" teriak Ridwan tepat di telinga kanan Ara. Dengan refleks, Ara pun terperanjat kaget.
"Aaaa ...!"
Ara yang memang phobia dengan kucing itu, langsung meloncat ketakutan ke atas shofa. Di situlah tawa Ridwan pecah.
Sementara Ara. Wajahnya nampak pucat seketika. Napasnya berderu cepat tak beraturan. Keringat dingin mulai membajiri tubuhnya. Bola matanya nanar.
Menyadari hal itu, tawa Ridwan pun juga terhenti dengan seketika, apalagi begitu melihat wajah sang adik pucat. Perasaan bersalah menyeruak saat itu juga.
Sadar bahwa dia hanya korban kejahilan sang Abang, Ara pun turun dari sofa dengan langkah sedikit gemetar juga dengan tatap mata yang mulai berkaca-kaca. Ridwan langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Ara yang masih mematung.
"Ara, kamu nggak apa-apa, 'kan?" Diraihnya tangan Ara yang dingin. Raut kecemasan terlihat jelas dari wajah Ridwan.
"Maafin Abang, ya!"
"Abang jahat." Ara berucap lirih, dengan air mata yang perlahan mulai membasahi pipinya. Ridwan langsung menarik pelan Ara ke dalam dekapannya. Menyalurkan kehangatan pada adik yang begitu ia sayangi.
"Abang minta maaf, Ra. Abang nggak ada niatan buat kamu jadi begini." Dielusnya pucuk kepala Ara dengan lembut. Tangis Ara tumpah dalam dekapan hangat sang kakak.
"Abang janji, nggak bakal kayak gitu lagi." Ridwan berucap penuh penyesalan.
Bagi sebagian orang kucing adalah hewan yang menggemaskan, lucu, bahkan cocok untuk dijadikan teman. Awalnya, Ara sependapat dengan pernyataan tersebut. Karena dia termasuk salah satu di antara banyaknya orang yang menyukai kucing. Namun, kejadian di hari itu, lebih tepatnya dua tahun yang lalu, membuat gadis berkulit putih mulus ini justru malah merasa sebaliknya.
Ya, dua tahun yang lalu. Saat Ara tengah bersepeda dengan Ridwan juga Afi. Mengintari taman kota yang masih terjaga keasriannya. Di situlah ia bertemu dengan kucing berwarna perpaduan antara orange dan putih.
Kucing yang Ara lihat kelewat menggemaskan itu memang benar-benar menarik perhatian. Tak hanya Ara, orang lain yang notabennya penyuka kucing pun pasti akan berpendapat yang sama.
Penuh antusias, Ara turun dari sepedanya dan menghampiri kucing yang tengah bersantai tersebut. Sementara Ridwan dan Afi masih bertengger di atas sepedanya memperhatikan Ara yang sedang asyik bermain dengan kucing.
Awalnya nampak baik-baik saja. Kucing lucu itu pun masih terlihat tenang bahkan seperti merasa aman Ara elus-elus.
Namun, beberapa menit kemudian, entah kucingnya yang terlalu sensitif atau memang merasa dirinya mulai terancam. Tiba-tiba dengan cepat, kucing tersebut menggigit pergelangan tangan Ara sampai berdarah.
Ara yang merasa kesal bahkan marah karena lengannya tergigit, lansung menarik ekor panjang kucing yang hendak pergi tersebut, dan dipukulnya kepala kucing itu dengan batu beberapa kali tanpa ampun. Alhasil, kucing menggemaskan itu pun mati mengenaskan, darah segar pun merembes keluar dari kepalanya.
Saat sadar atas apa yang sudah ia perbuat, Ara pun tertunduk tak berdaya. Merasa tak percaya dengan apa yang ia lakukan. Tangisnya pun pecah tak tertahan.
"Nggak seharusnya aku begini. Kucing ini nggak bersalah. Kenapa aku tega membunuhnya? Aku jahat!" Sesal, menyesakkan rongga dada.
Semenjak itulah, Ara phopia dengan yang namanya kucing. Merasa menjadi pembunuh yang dengan teganya memukul kucing tersebut sampai mati.
Kejadian yang sampai saat ini masih sangat membekas dan menyebabkan trauma yang mendalam bagi Ara. Apa lagi melihat wujudnya, mendengar namanya saja Ara sudah ketakutan.
***
Ridwan mengetuk pintu kamar Ara. Tapi, sedari tadi tidak ada jawaban. Semenjak semalem Ara memang tidak keluar kamar. Merasa khawatir dengan keadaan adiknya, Ridwan pun mengambil kunci cadangan dan membuka pintu kamar Ara.
Tampak Ara masih terbaring di atas kasur dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Ridwan pun mendekat ke arah Ara lalu duduk di sisi ranjang.
__ADS_1
"Ra. Bangun, Dek. Udah pagi. Nanti telat, lho, ke sekolahnya." Ara tetap diam tak bergerak.
"Adek abang yang paling cantik, bangun!" Tetap tidak ada jawaban.
Baru saja mengusap kening Ara, Ridwan merasakan panas menyengat telapak tangannya, membuat Ridwan mengernyit kaget.
Ditariknya selimut yang menutupi wajah sang adik, Ridwan dibuat terkesiap tatkala melihat wajah pucat Ara dengan bibir yang gemetar.
Meletakkan kembali punggung tangannya ke kening Ara, membuat rasa khawatir Ridwan semakin mendominasi.
"Ya Allah! Badan kamu panas, Ra." Ridwan berucap cemas. Tanpa menunggu lama, ia pun bergegas menuju dapur untuk mengambil air kompres. Namun, saat kakinya hendak melangkah ke kamar Ara, dari pintu utama, terdengar suara seseorang memanggil nama Ara.
"Itu pasti Afi!" tebak Ridwan. Dengan langkah cepat, Ridwan bergegas membukakan pintu. Dan benar saja, yang datang adalah Afi.
"Aranya udah berangkat belum, Bang? Soalnya aku teleponin beberapa kali nggak diangkat," tanya Afi, yang sudah siap dengan seragam sekolahnya.
"Aranya sakit, Fi." Mendengar jawaban Ridwan, Afi terperanjat kaget.
"Apa? Ara sakit, Bang?"
"Iya. Oh iya, boleh minta tolong nggak?"
"Boleh, Bang. Boleh." Afi menjawab cepat.
"Tolong kompresin Ara, ya! Abang mau bikinin bubur dulu buat Ara," jawab Ridwan.
"Iya, Bang. Biar nanti aku izin telat aja ke sekolahnya."
"Makasih ya, Fi. Ini kompresannya. Maaf udah ngerepotin." Tanpa menunggu lama, Afi pun langsung ke kamar Ara dengan membawa kompresan.
Afi mendekat ke arah Ara, dengan perasaan yang tidak karuan. Sama seperti halnya Ridwan, khawatir mulai menggerayanginya.
Duduk di sisi ranjang, menatap pilu sahabat baiknya yang tengah menutup mata. Afi tak bisa berucap apa-apa. Seakan ikut merasakan sakit yang diderita Ara.
"Kenapa kamu sampek sakit gini, sih, Ra?" lirih, Afi berucap. Tangannya dengan telaten menempelkan handuk kecil yang sudah ia basahasi dengan air ke kening Ara. Namun, saat tangan Afi hendak menjauh dari kening Ara, di luar dugaan. Ara malah menahan tangan tersebut. Hingga membuat Afi mau tidak mau membiarkan Ara mendekap erat tangannya itu.
"Sini, abang bantuin lepasin. Sekalian nanti abang ganti sama boneka itu. Kasian kamunya. Lagian, kan, kamu harus berangkat sekolah." Ridwan menunjuk boneka doraemon berukuran sedang yang berada di dekat kepala Ara.
"Nggak usah, Bang. Biarin aja. Kasian Ara, takut nanti malah kebangun." Afi menolak.
"Tapi kamu, kan, harus sekolah, Fi. Ini udah jam berapa coba?"
"Aku udah izin sama temen, Bang. Santai," ucap Afi.
"Izin nggak masuk sekolah?" Afi mengangguk.
"Cuma karena Ara sakit?" Lagi, Afi mengangguk.
"Ciye ... sampek segitunya," goda Ridwan.
"Apaan, sih, Bang. Ara, kan, sahabatku. Jadi buat hari ini, aku izin ke sekolahnya. Mau jagain Ara. Abang juga mau kuliah, kan, hari ini?"
"Oalah, iya. Untung kamu ingetin, Fi. Ya udah kalau gitu. Abang titip Ara, ya! Nanti kalau Ara udah bangun, kamu ambil aja buburnya di dapur. Setelah itu paksa Ara buat minum obat. Tau sendiri, Ara orangnya gimana."
"Siap, Bang."
"Makasih, ya! Kalau gitu abang mau siap-siap dulu." Afi mengangguk.
Ridwan dan Ara memang sering ditinggal berdua di rumah. Orangtua mereka memang sering pulang pergi ke luar kota. Tuntutan kerja. Hanya di waktu tertentu saja yang pulang. Jadi, ketika kondisi seperti ini, keberadaan Afi sangatlah membantu.
Ditinggal berdua, membuat Afi semakin dihantui rasa khawatir. Apalagi, panas di tubuh Ara tidak turun-turun.
Afi menghela napas berat. Memandangi wajah sahabatnya yang masih pucat. Bahkan, sudah kehilangan rona di wajahnya.
"Aku takut ...," Ara berucap lirih, dengan mata yang masih terpejam. Afi yang mendengar pun dibuat kaget. Dielusnya puncak kepala Ara dengan lembut menggunakan tangan sebelah kanan, karena yang sebelah kiri masih dalam dekapan hangat Ara yang tengah mengigau.
"Jangan takut, Ara. Ada aku di sini yang nemenin kamu," ucap Afi menenangkan.
Ara sakit karena dihantui oleh rasa bersalahnya. Lebih tepatnya karena trauma dan phobianya kepada kucing. Kejahilan Ridwan yang semalam membuat Ara langsung jatuh sakit. Mungkin bagi sebagian orang terdengar lebay dan berlebihan, tetapi memang begitulah kenyataannya.
__ADS_1
"Cepat sembuh ya, Ra. Aku sedih kamu begini," ucap Afi. Tanpa sadar, bahwa ternyata Ara mendengarnya. Namun, Ara enggan untuk membuka mata. Justru ia ingin tertidur lebih lama lagi. Karena, berada di dekat Afi membuatnya merasa nyaman.
"Biarlah begini aja," batin Ara. Semakin ia eratkan dekapannya.
***
Ara membuka mata yang sebenarnya terasa berat. Dilihatnya keadaan sekitar. Hingga pada akhirnya, pandangan matanya berhenti pada Afi yang tengah tertidur di kursi belajarnya. Menelungkupkan kepalanya ke meja.
Bagaimana bisa? Apakah Afi melepaskan tangannya ketika Ara sedang tertidur?
"Kasian Afi. Dia sampek tidur di situ gara-gara jagain aku. Pasti dia capek," ucap Ara pelan. Memperhatikan sahabatnya itu dengan penuh rasa sayang. Senyumnya tersungging mengingat kekhawatiran Afi padanya tadi pagi.
"Makasih, Fi. Kamu udah mau jagain aku," batin Ara.
Tak lama kemudian, Afi pun terbangun dari tidurnya. Menyadari sahabatnya sudah membuka mata, Afi pun segera bangkit dan menghampiri Ara yang masih terbaring lemah.
"Kamu udah bangun? Maaf, ya! Aku ketiduran," ucap Afi.
"Iya, nggak apa-apa. Justru aku yang mau minta maaf sama kamu."
"Minta maaf karena apa?"
"Karena udah ngerepotin kamu."
Afi tersenyum simpul mendengar perkataan Ara.
"Aku nggak pernah ngerasa direpotin, Ra. Kamu, kan, sahabatku yang paling cantik. Kalau kamu sakit, aku pun ikut sedih." Tatap mata Afi menyorot sendu. Menandakan betapa cemasnya ia melihat sahabatnya sakit.
"Gimana keadaan kamu sekarang? Ngerasa udah enakan?"
"Iya, aku udah nggak apa-apa, kok. Cuma agak pusing aja dikit."
"Kamu sakit karena apa? Perasaan kemaren masih sehat-sehat aja."
"Kalau aku bisa milih juga aku nggak mau sakit kali, Fi."
"Iya juga, sih." Afi terkekeh.
"Oh iya, aku ambilin bubur dulu ya, di dapur. Habis makan nanti minum obat. Nggak pakek nolak!"
"Makan buburnya iya. Minum obatnya nggak."
"Harus! Kalau nggak, aku nggak mau beliin kamu eskrim lagi nanti." Mendengar kata 'eskrim' disebut, mata Ara membulat penuh semangat.
"Beneran?" tanya Ara. Afi pun mengangguk yakin.
"Yang banyak ya, Fi."
"Iya, kalau udah sembuh nanti. Tapi, sekarang harus mau minum obat, ya!" bujuk Afi.
"Iya deh. Terpaksa."
"Dasar kamu, Ra. Giliran eskrim aja semangat banget!"
"Iya, dong. Aku tunggu, lho, ya! Awas aja kalau kamu ingkar janji."
"Iya, bawel! Ya udah, kamu jangan ke mana-mana. Aku mau ke dapur ambilin bubur buat kamu. Tapi, kayaknya agak lamaan karena harus aku angetin dulu."
"Siap, Tuan Bos."
Afi pun bergegas ke dapur. Meninggalkan Ara sendiri.
Jatuh sakit membuat Ara justru bahagia. Karena Afi dengan telatennya mau menjaga dan merawatnya. Apalagi mengingat Afi yang bela-belain izin demi dirinya.
Ara tidak tahu bagaimana ia tanpa Afi hari itu. Karena dia hanya tinggal berdua dengan Ridwan. Ridwan pun harus pergi ke kampus, karena saat ini Ridwan sedang sibuk-sibuknya mengurus skripsinya.
"Aku sayang kamu, Fi. Teteplah bersamaku. Meski kutahu, kamu hanya menganggapku sahabat terbaikmu. Tapi, aku sudah cukup bahagia."
Afi memang pandai membuat Ara bahagia. Kepeduliannya selalu mampu membuat Ara merasa nyaman. Diperlakukan seperti itu, rasa sayang Ara kepada Afi semakin berlipat ganda.
__ADS_1