Cinta Dalam Diam

Cinta Dalam Diam
Membahas Masalah Bulan Madu


__ADS_3


 


Malam harinya saat Balqis, Aksa, Ezra dan Ayu sedang makan malam di rumahnya.  Mereka makan tanpa ada yang bersuara. Namun setelah selesai makan, Ezra meminta anak dan menantunya untuk pergi ke ruang keluarga. Mereka pun menurut dan tak membantah, mereka semua berkumpul di ruang keluarga.


"Nak, ada hal penting yang ingin papa bicarakan kepada kalian." Ujar Ezra memulai pembicaraan.


"Apa pa?" tanya Aksa.


"Papa, Mama dan Papa Dedi sudah memutuskan agar kalian segera berbulan madu dalam waktu dekat ini. Kalau bisa minggu depan kalian harus sudah berangkat." Jawab Ezra


"Tapi kenapa mendadak sekali pa bahkan aku sama Balqis aja belum membicarakan masalah ini." Ujar Aksa yang memang masih belum siap untuk bulan madu.


"Nak, dengarkan apa kata papa. Percayalah ini semua demi kebaikan kalian berdua. Mama juga gak bisa membiarkan kalian di sini terlalu lama karena banyak sekali bahaya yang mengintai kalian berdua. Untuk itu, mamaa dan papa ingin kalian segera berangkat ke sana dan tentu dengan waktu yang cukup lama juga." Ucap Ayu.


"Tapi ma, beri aku alasan kenapa dan ada apa biar aku gak mikir buruk lagi." Ujar Aksa.


"Nak, saat ini Inez lagi berusaha untuk bisa merayumu dan papa tau kamu masih mencintainya walau kau sudah di perlakukan buruk olehnya. Mungkin kau bisa mengelak dengan mengatakan bahwa kamu bisa jaga diri dan tak mungkin bisa masuk ke perangkapnya tapi nak, papa tau betul siapa kamu dan papa juga tau siapa Inez, dia bukan wanita baik baik dan dia akan menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkanmu kembali dan setelah itu memintamu untuk berpisah dengan istrimu dan kau mungkin tak akan sadar jika kamu telah tertipu dengan segala bujuk rayuannnya. Kau gampang percaya dengan perkataan orang lain tanpa mau mencari kebenarannya dan kamu juga gampang tersentuh lalu bagaimana mungkin papa membiarkan hal buruk terjadi. Papa dan mama sudah  banyak makan asam garam  jadi papa sudah pasti tau apa yang akan terjadi, untuk itu sebelum semua terjadi. Lebih baik papa dan mama serta Papa Dedi berusaha untuk mencegahnya.


Sekarang kamu sudah tau alasan papa, untuk itu jangan bantah omongan papa dan mama nak. Papa seperti ini bukan untuk mengatur hidupmu atau keluargamu melainkan hanya ingin melindungimu dan juga keluargamu agar tak berantakan. Papa tak ingin kamu menyesali sesuatu yang akan membuat hidupmu menderita." Ujar Ezra menjelaskan panjang lebar.


"Baiklah aku setuju sama ide papa. Terus aku dan Balqis mau bulan madu ke mana? Aku belum tau tempat yang pas untuk bulan madu kami." Ujar Aksa.


"Papa, Mama, dan Papa Dedi sudah memutuskan yaitu kalian harus berlibur dan bulan madu di Negara Indonesia." Ucap Ezra.


"Indonesia?" tanya Balqis tak percaya.


"Iya sayang, apa kamu keberatan?" tanya Ayu tersenyum.


"Eng...enggak ma, aku gak keberataan." Ucap Balqis gugup.


"Iya sudah kalau gak keberatan. Berarti kalian sudah siap kan untuk pergi ke Indonesia. Masalah tiket kalian jangan hawatir, papa yang akan mengurus semuanya. Dan masalah tempat tinggal, kalian akan tinggal di rumah Balqis. Bukankah Balqis punya rumah di Indonesia?" tanya Ezra.


"Iya pa. Dan rumah itu masih ada sampai sekarang karena papa tak mau menjualnya dan juga di sana masih ada beberapa asisten yang selama ini selalu menjaga rumah itu biar gak kotor dan rusak." Jawab Balqis.


"Bagus kalau gitu, jadi kalian cuma tinggal bawa badan aja ke sana. Masalah baju, kalian beli aja di sana biar gak ribet dan gak berat bawa ini dan itu." Ujar Ezra.


"Iya pa." Ucap Aksa dan Balqis bersamaan.


"Setelah ini kalian mau kemana?" tanya Ayu lembut.


"Entah ma, masih belum tau." Jawab Aksa.


"Kami mau jalan jalan ma." Ujar Balqis dan Aksa pun langsung menoleh ke arah istrinya.


"Kog gak bilang yank kalau mau jalan jalan?" tanya Aksa.

__ADS_1


"Hehe aku juga spontan, gak tau kenapa tiba tiba pengen aja." Jawab Balqis.


"Oh ya udah kalau gitu, aku mau ganti baju dulu dan setelah itu kita keluar." Ujar Aksa.


"Iya sudah jika kalian mau keluar hati hati di jalan. Jangan ngebut ngebut." ucap Ezra menasehati.


"Iya pa." Ujar Aksa. Aksa pun langsung pergi ke kamarnya untuk ganti baju sedangkan Balqis gak mau ganti baju dan hanya memakai pakaian yang tadi sore.


Setelah selesai ganti baju, Aksa pun segera mengahmpiri istrinya.


"Gimana penampilanku yank, bagus gak pakai ini?" tanya Aksa.


 



"Bagus kog mas, cocok sama bajuku sama sama hitam." Jawab Balqis tersenyum.



"Iya, ia sudah ayo berangkat. Ma, pa aku berangkat jalan jalan dulu ya." Ujar Aksa.


"Iya sayang, hati hati ya nak." Ujar Ayu.


"Iya ma, Assalamu'alaium." Ucap Aksa


Setelah itu Aksa dan Balqis pun pergi menuju mobil yang sudah di siapkan.


"Yank, kita mau kemana?" tanya Aksa setelah mereka berada di dalam mobil.


"Kita ke rumah papa ya mas." Jawab Balqis.


"Ngapain ke sana?" tanya Aksa.


"Ada hal penting yang ingin aku omongin sama papa." Jawab Balqis.


"Masalah bulan madu?" tanya Aksa.


"Iya mas, tapi bukan bulan madu nya yang jadi masalah tapi tujuannya itu lho mas ke Indonesia. Sejujurnya aku masih belum siap untuk ke sana lagi." Jawab Balqis.


"Kenapa?" tanya Aksa tak mengerti.


"Aku punya masa lalu yang buruk mas dan aku masih belum siap untuk bertemu sama mereka." Jawab Balqis.


"Mereka siapa?" tanya Aksa yang memang tak faham.


"Bunda Aulia, Mas Adzriel dan juga Zahra." Ujar Balqis.

__ADS_1


"Oh itu mantan suamimu kan yang Adzriel?" tanya Aksa.


"Iya mas." Jawab Balqis.


"Iya sudahlah santai aja, kan ada aku. Lagian jika memang kamu ada masalah sama mereka, ya harus hadapi bukan malah menjauh apalagi sampai menghindar. Jika kau terus saja menghindar maka sampai kapanpun tak akan selesai." Ucap Aksa.


"Tapi mas aku malu sama mereka." Ujar Balqis.


"Gak perlu malu sayang, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan sama seperti aku tapi kan yang penting kita mau berubah dan menyadari kesalahan kita. Dan jika kita merasa bersalah ya harus minta maaf, gak boleh malu." Ucap Aksa.


"Tapi mas, kesalahanku itu teramat besar." Ujar Balqis.


"Sebesar apapun, aku yakin mereka pasti akan memaafkan kamu. Percaya deh sama aku." Ucap Aksa.


"Kenapa  mas bicara seperti itu seakan akan mas tau betul dengan mereka." Ujar Balqis.


"Hanya insting aja sih hehe. Sudahlah tak perlu di fikirkan, santai aja. Oke." Ucap Aksa tersenyum.


"Hemm iya deh." Ujar Balqis pasrah. Memang susah menceritakan atau menggambarkan perasaannya kepada orang lain dan hanya Balqis yang bisa merasakannya seoranang diri.


"Ini jadi ke rumah Papa Dedy?" tanya Aksa.


"Jadi dong mas." Jawab Balqis tersenyum.


"Baiklah." Ujar Aksa lalu agak mempercepat jalannya karena memang jalannya agak sepi.


 


 


 


 


 


 


 


 



 


 

__ADS_1



__ADS_2