Cinta Dalam Diam

Cinta Dalam Diam
Inez Bergerak Cepat


__ADS_3


 


Setelah teror itu dan mengakibatkan Inez pindah rumah lagi, kini Inez melakukan hal di luar nalar. Ia bertindak cepat tanpa memikirkan panjang lebar. Inez mencari tau, aktivitas Aksa di luar sana. Setelah tau bahwa Aksa akan ada rapat penting di resto di hotel bintang 7, Axel pun tersenyum puas.


Inez pun langsung meluncur ke hotel itu dan memesan salah satu kamar yang tak jaruh dari resto tersebut. Resto itu ada di bawah, sedangkan kamar yang di sewa Inez juga ada di bawah tak jauh dari resto itu.


 


\================


Aksa sendiri setelah menginap di rumah Zahra, langsung pulang pagi harinya bersama Balqis, karena ia masih ada meeting jam 8 pagi. Balqis pun tak menolak, karena ia tau bahwa suaminya itu sibuk dan masih ada banyak hal yang harus ia lakukan.


Aksa dan Balqis pulang ke rumah terlebih dahulu dan setelah itu Aksa langsung mandi dan bersiap siap untuk berangkat kerja. Mereka berdua tak perlu sarapan pagi karena mereka sudah sarapan pagi di rumah Zahra dengan lauk pauk yang hampir memenuhi meja makan.


"Sayang, aku berangkat dulu ya." Ujar Aksa sambil mencium kening istrinya.


"Iya, hati hati." Jawab Balqis yang memang tak punya firasat apa  apa.


"Kamu jaga diri baik baik."


"Iya sayang."


"Kalau ada apa apa, segera telvon aku." Ucap Aksa, entah kenapa berat rasanya meninggalkan istrinya di rumah seorang diri dan hanya di temani oleh beberapa asisten rumah tanggannya.

__ADS_1


"Iya."


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Setelah Balqis mencium tangan suaminya, Aksa pun memeluk istrinya sebentar. Dan setelah itu langsung masuk ke dalam mobil. Ia mengendari mobil itu sendiri seperti biasanya.


"Ya Allah, lindungilah suamiku di manapun ia berada, jauhkan dia dari marabahaya." Doa Balqis dalam hati. Setelah memastikan suaminy pergi, Balqis pun langsung masuk ke dalam rumah.


Aksa sendiri, entah kenapa perasaannya gak enak, gak seperti biasa. Mungkin efek mimpi tadi malam. gumam Aksa.


Aksa menyetir dengan membaca istigfar sepanjang jalan. Ia berdoa tiada henti, hingga tibalah ia di depan hotel bintang 7, hotel paling megah yang ada di Jakarta. Aksa memarkirkan mobilnya di tempat parkir VIP. (VIP adalah singkatan dari Very Important Person atau artinya hanya untuk orang penting atau kalangan pejabat saja. Laser yang biasanya kita kenal sebagai sebuah kata ternyata adalah singkatan dari Light Amplifiation by Stimulated Emmission Radiation).


Setelah memarkirkan mobilnya, ia berjalan menuju resto yang sudah ia pesan jauh jauh hari. Saat sesampai di resto, ia duduk di tempat VIP yang sudah di sediakan oleh pihak resto. Hari ini ia bertemu dengan klien penting yang akan menanamkan modal di perusahannya.



 


Setelah dua jam akhirnya, klien itu pun pamit untuk pulang duluan. Sedangkan Aksa memilih untuk tetap berada di ruang itu untuk melepas lelah. Berat rasanya meyakinkan orang orang besar itu tapi Aksa berusaha untuk tenang dan santai. Aksa memesan satu minuman lagi, karena minuman yang tadi sudah habis total. Seseorang pun datang dan membawakan minuman, tanpa mikir dua kali. Aksa pun meminum minuman itu dengan sangat cepat hingga ludes. Ia harus segera menghabiskannya karena setelah ini ia harus kembali ke kantor. Namun setelah beberapa saat ia selesai minum, Aksa merasa kepalanya berputar putar, ia merasa pusing banget. Dan tiba tiba pingsan seketika. Sedangkan di ruang VVIP itu tak ada kamera karena memang ruang itu hanya di peruntukkan untuk orang orang besar atau pejabat atau para pengusaha dan biasanya mereka akan risih jika ada CCTV yang mengintainya.


Inez yang melihat itu hanya tersenyum, ia pun meminta salah satu pelayan untuk membukakan pintu itu, awalnya pelayan itu gak mau karena ia tak bisa membukakan pintu itu kecuali orang yang menyewa itulah yang membukakanya sendiri.


"Kamu gila ya, tunangan saya di sana lagi sakit dan kamu gak memperbolehkan saya masuk. Jika ada apa apa dengan tunangan saya, kamu harus bertanggung jawab." Ujar Inez dengan nada tingginya. Pelayan itu pun ketakutan dan akhirnya membukakan pintu.  Di sana, ia melihat Aksa sudah terkapar di atas meja.

__ADS_1


"Lihat, aku tidak berbohong kan? Dia sudah mengirimkan aku pesan agar aku segera ke sini dan Anda malah melarang saya masuk."


"Maaf saya tidak tau." Ucap pelayan itu sambil menundukkan kepalanya.


"Sudahlah, lain kali saya tak ingin hal seperti ini terulang lagi. Mingggir." Dengan susah payah, Inez pun mengangkat tubuh Aksa sendirian dan masuk ke dalam kamarnya. Untunglah jarak resto dan kamar yang ia sewa itu gak jauh, kalau jauh mungkin sudah remuk tubuh Inez dari tadi memapah Aksa sendirian. Setelah Aksa berada di kasur itu, Inez kembali ke ruang VVIP barusan dan mengambil berkas berkas dan juga tas milik Aksa. Lalu kembali lagi ke kamar miliknya.


Inez dengan hati hati membuka semua baju dan celana milik Aksa, lalu menyelimutinya dengan selimut. Inez pun melakukan hal yang sama, ia membuka semua baju yang ia pakai hingga tak ada kain yang melekat di tubuhnya. Dan setelah itu, Inez pun segera berbaring di dekat tubuh Aksa.


"Andai kamu mau menceraikan istrimu dan mau menikah denganku, mungkin hal seperti ini tak akan terjadi." Ucap Inez berbisik di telinga Aksa yang sudah tak sadarkan diri itu. Inez mengecup leher Aksa hingga ada beberapa tanda merah di sana. Inez juga mengecup dada dan perut Aksa hingga tanda merah itu semakin banyak lalu Inez pun tertawa seperti orang gila. Ia juga mengambil hp nya dan mengambil beberapa foto, ia juga membuat Aksa seolah olah sedang mencium dirinya. Setelah itu, ia pun mengirim foto itu di hp Aksa agar nanti di liat oleh Balqis. Inez sudah gak sabar melihat reaksi wanita itu.


Untunglah tubuh Inez juga mempunyai tanda merah karena ia sudah melakukannya dengan pria tadi malam. Dan setelah Aksa bangun, Inez akan bilang itu adalah perbuatan dirinya.  Inez tertawa lagi, ia tak menyangka akan mempunyai ide cemerlang seperti ini. Setelah itu, ia pun tidur sambil memeluk Aksa dengan erat.


 


 


 


 


 



 

__ADS_1


 



__ADS_2