
Keesokan harinya, setelah selesai sarapan pagi. Axel dan Alexa pergi ke rumah Afifah. Di sepanjang jalan, Alexa lah yang menyetir karena Adzriel gak mengizinkan Axel menyetir dalam keadaan seperti itu.
Mata Axel seperti anak panda, karena gak tidur semalaman dan hanya menangis sehingga matanya agak bengkak dan ada lingkaran hitam di bawah matanya.
Alexa benar-benar sakit melihat keadaan saudaranya yang seperti itu. Alexa ingin segera cepat-cepat sampai ke rumah Afifah dan meluapkan amarahnya atas apa yang telah dia lakukan kepada saudaranya.
Sepanjang jalan, Axel hanya diam membisu. Dia tak berkata apapun. Alexa yang melihatnya, hanya bisa menangis dalam diam. Alexa menambah kecepatannya hingga dalam waktu 20 menit, sampai juga di depan rumah Afifah.
Axel dan Alexa turun dari mobil. Ia berjalan menuju rumah Afifah. Alexa mengetuk pintu rumah Afifah dan tak lama kemudian, Afifah pun membuka pintu rumahnya.
"Assalamualaikum," ujar Alexa. Walau ia lagi kesal, Alexa tak mungkin langsung masuk gitu aja tanpa mengucap salam.
"Waalaikumsalam, ayo masuk," ucap Afifah tersenyum Ia mengira Axel dan Afifah datang untuk menjemput dirinya. Afifah tak memperhatikan wajah Axel yang sudah acak-acakan tak seperti biasanya yang sangat terawat.
Axel dan Alexa duduk begitupun dengan Afifah.
__ADS_1
"Mas Axel kenapa?" tanya Afifah kaget setelah ia melihat wajah Axel yang seperti panda dan terlihat kusut banget.
"Itu karena kamu," jawab Alexa dingin.
"Maksud kamu?" tanya Afifah tak mengerti.
"Jangan pura-pura gak tau. Aku sudah tau semuanya. Kak Axel sudah menceritakan semuanya, bahkan Umy, Oma dan Aby juga sudah tau kamu hamil anak orang," jawab Alexa yang masih dengan suara datarnya sedangkan Axel memilih diam karena dia masih bingung untuk merangkai kata-kata. Mulutnya seperti kaku dan sulit untuk berucap.
"Maafin aku," ucap Afifah menunduk, ia gak menyangka Axel akan menceritakan aibnya kepada keluarganya.
"Aku mohon, jangan tinggalin aku mas," pinta Afifah dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.
"Maaf, tapi aku gak bisa sama kamu lagi. Hatiku terlalu sakit, lagian keluargaku juga tak merestui hubungan kita lagi," jawab Axel yang berusaha untuk mengungkapkan apa yang ingin ia ungkapkan.
"Aku gak mau, aku gak rela kamu bersama wanita lain," ujar Afifah.
__ADS_1
"Gak rela?! Kenapa baru sekarang kamu bilang gitu. Kamu gak rela aku bersama wanita lain tapi dulu aku lamar kamu, tapi selalu kamu tolak. Aku berusaha untuk bisa mendapatkan kamu, tapi kamu seringkali menghindar. Kenapa baru sekarang, kamu bilang seperti itu. Dulu kamu sok jual mahal, setelah kehormatan kamu di regut paksa oleh orang lain. Kamu datang padaku dan minta di nikahi. Bahkan sekarang kamu bilang, gak rela aku bersama wanita lain. Sebenarnya apa yang ada dalam fikiran kamu Afifah?
Kenapa kamu buat aku pusing dengan sikap kamu. Jika kamu memang mencintai aku, kamu pasti akan menerima lamaran aku. Jikapun kamu menolak dan fokus dengan cita-cita kamu, paling tidak kamu bisa jaga diri dan jangan sampai ceroboh memasukkan laki-laki lain di saat kamu sendiri. Karena laki-laki itu gak semuanya baik, laki-laki itu bisa memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Seharusnya kamu bisa jaga diri baik-baik, bukan malah seperti ini.
Dan aku minta maaf, memang benar aku masih mencintai kamu, sangat mencintai kamu. Tapi aku gak bisa menikahi wanita yang tengah hamil anak orang lain. Aku gak mau menjadi manusia munafik. Aku juga pengen punya istri, yang bisa jaga kehormatannya, yang masih suci dan juga wanita yang bisa membuat aku tersenyum.
Dari dulu saat aku mengenal mu, aku seringkali merasakan sakit hati, bukan kebahagiaan yang aku dapatkan tapi rasa sakit yang tak berkesudahan.
Mungkin sekarang sudah saatnya, aku mencari wanita yang memang bisa mencintaiku karena bagaimanapun ini menyangkut masa depanku. Aku juga ingin bahagia Afifah.
Mungkin memang kita tidak di takdirkan untuk bersatu. Bukankah jodoh itu sudah ada yang mengatur. Kamu jangan takut, jika kamu memang Jodohku, pasti kita akan bersatu. Tapi jika tidak, walaupun kamu berusaha nahan aku, tetap saja pada akhirnya aku akan menikah dengan wanita lain," ujar Axel menasehati.
"Baiklah, jika memang itu mau kamu. Aku minta maaf, jika selama ini aku seringkali buat salah, seringkali buat kamu kecewa. Maafin aku," ucap Afifah. Ia sadar bahwa dirinya tak lagi bisa memaksakan Axel untuk terus berada di sampingnya ataupun menikahinya. Afifah sadar, memang selama ini dirinya lah yang salah.
"Aku sudah maafin kamu. Aku juga minta maaf, jika aku ada salah dan buat kamu kecewa dan menangis," ujar Axel berusaha untuk tersenyum.
__ADS_1
Setelah maaf maafan, Axel dan Alexa pun pergi dari rumah Afifah sedangkan Afifah hanya bisa menitikkan air mata. Ia akan menjual rumah dan toko peninggalan kedua orangtuanya. Dia akan pergi keluar kota dan membuka usaha di sana. Dia akan pergi ke desa terpencil di mana tak ada orang yang mengenal dirinya.