
Hari itu Ariani sedang berkunjung ke rumah orangtuanya. ia pergi bersama Aska diantar sopir. Petra sudah berangkat kerja pagi-pagi karena ia harus meninjau lapangan untuk pembangunan proyek baru milik Admaja Group.
sementara ibu pergi dengan temannya. di rumah tinggal Bram, Maura dan bibi Nam. Bram berangkat siang sekaligus menunggu Hyuk dari luar kota. Bram masih bermalasan di kamarnya, ia terlihat tiduran di sofa. tanpa Ariani dan Aska ia terasa sepi sekali. Bram berniat menyusul mereka nanti sepulang kerja. Maura yang tahu keadaan ia segera memanfaatkan situasi untuk menggoda Bram
Maura pergi ke lantai atas, ia berjalan menuju kamar utama yaitu kamar Bram dan Ariani. bibi Nam sedang sibuk di dapur sehingga tidak mengawasi gerak gerik Maura. pintu kamar Bram memang jarang terkunci kecuali malam. Maura tiba-tiba masuk ke kamar utama. ia melihat Bram tiduran di sofa dengan mata terpejam. Maura berjalan berjingkat, mendekat pada Bram. memandangi wajah tampan sempurna di hadapannya. hidung mancung, bibir tipis, bulu mata lentik, dagu dan bentuk rahang yang sempurna. kulit wajah yang putih dan sedikit kehijauan di bagian dagu. rupanya Bram baru saja bercukur. Maura sibuk menghayal sembari menatap ketampanan Bram. Maura mengambil sedikit tempat di sofa itu dan ikut berbaring di samping Bram. Bram yang kaget langsung bereaksi. ia membuka mata dan refleks menggulingkan tubuh Maura dengan sebelah kakinya.
"Kau!". Bram jengkel sekali kenapa ia bisa melihat Maura di kamarnya.
"Kakak ku mohon, aku mencintaimu kak, apa sedikit pun kau tak tertarik padaku?". Maura memasang wajah mengiba.
"Bibi Nam!". Bram berteriak dengan suara baritonnya. Bibi Nam dan dua orang pelayan tergopoh menuju kamar utama. karena panik Maura malah menyobek bajunya dan mengobrak abrik rambutnya sendiri. Bram tahu yang di lakukan Maura.
"Kau sedang memperagakan trik murahan rupanya?". Bram menyeringai.
"Bibi Nam kaakak melakukan ini pada ku". Maura berlari bersembunyi di balik punggung bibi Nam. bibi Nam hanya diam, ia hafal betul tuan mudanya dan ia juga tahu gadis itu licik seperti ular. Bram tidak perlu menjelaskan apapun pada Bibi Nam, pasti bibi Nam sudah tahu semua.
Hyuk datang ia meletakan tas kerjanya dan bergegas mendekat.
"Hyuk seret dia keluar!".
"Baik tuan".
Hyuk menarik lengan Maura dan membawanya ke ruang tengah. ia tidak peduli Maura berteriak seperti orang gila.
"Akan ku adukan kalian pada ayah ku, keluargamu berhutang budi pada ayah ku!, pasti ia tidak akan tinggal diam kalian memperlakukan ku seperti ini!". Maura berteriak histeris.
__ADS_1
"Laporkan pada ayah mu, aku mau lihat apa ayah mu memang benar-benar paman ku Hasim atau bukan". Tantang Bram.
Seketika wajah Maura memucat. ia bergegas pergi ke kamarnya. Bram segera menuju kamarnya untuk mandi dan berangkat bekerja karena Hyuk sudah tiba.
Hyuk ke dapur di temani bibi Nam. ia membuatkan Hyuk teh madu dan roti kacang.
"Apa yang di lakukan gadis gila itu?, dia pikir di rumah ini tidak ada cctv". Bibi Nam jengah dengan tingkah Maura.
"Tujuannya ingin membuat tuan Bram dan nona Ariani bertengkar". Gumam Hyuk.
"Dia tidak tahu seperti apa tuan muda". Kata bibi Nam sambil membayangkan watak Bram selama ini. Bram termasuk orang yang kaku, angkuh dan suka seenaknya. ia tidak akan menggubris gadis seperti Maura.
"Aku curiga jangan-jangan ia bukan anak tuan Hasim".
"Sepertinya begitu bi, tapi aku belum cukup bukti untuk membuat tuan Bram menendangnya".
Bram dan Hyuk berangkat menuju gedung Admaja Group. ada Keara sedang menunggu di lobi. Hyuk menghentikan langkahnya memandang sejenak gadis itu yang terlihat lengkap dengan tas kerjanya.
"Aku yang memanggilnya kemari". Kata Bram tanpa menoleh pada Hyuk. ia sudah bisa membaca seribu pertanyaan dari sorot mata Hyuk.
"Untuk apa tuan?".
"Kita butuh publikasi untuk proyek yang Petra tangani. Keara sekarang memegang salah satu majalah bisnis".
Sepertinya kau sengaja tuan. lagi pula banyak majalah bisnis ternama tapi kau sengaja memilih yang Keara bekerja disana.
__ADS_1
Sekretsris tuan Bram menghampiri Keara dan mengajaknya bertemu Petra di ruang kerjanya. Petra baru saja kembali dari lapangan setelah meninjau proyek barunya. sementara tatapan Hyuk lekat memandang Keara, gadis itu terlihat gugup bertemu Hyuk. ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Hyuk bergegas masuk ke dalam lift menuju ruang kerja Bram.
Di ruang kerja Bram, Hyuk terlihat tidak seperti biasanya. ia lebih gelisah padahal ac di ruangan itu dingin dan sejuk. ruang kerja Bram sudah di atur dengan suhu udara yang akan membuat nyaman. jadi Bram tahu alasan Hyuk gelisah. sudah pasti gadis itu, Keara.
"Kau mau melihat Petra di interview olehnya?".Suara Bram mmebuyarkan kegelisahan Hyuk.
"Tidak tuan".
"Kalau begitu berhenti gelisah dan kerjakan pekerjaan mu".
"Saya tidak gelisah tuan". Bram menyeringai mendengar jawaban Hyuk barusan.
Hyuk ingin sekali tahu apakah Petra masih menggoda Keara atau tidak, ia benar-benar penasaran apa yang sekarang dilakukan dua orang itu di ruangan Petra. rasanya Hyuk ingin berjalan ke ruangan Petra dan menendang pintunya.
"Ada apa?!". Suara Bram terdengar jengah.
Hyuk menyadari dirinya ternyata benar-benar berjalan hampir membuka pintu ruang kerja Bram. ia hampir saja melabrak Petra dan Keara di ruangan sebelah. menyadari kebodohannya Hyuk segera berhenti.
"Saya akan ke toilet tuan".
"Kau pikir di ruangan ku tidak ada toilet khusus?".
"Maaf tuan itu untuk anda saya tidak berani memakainya".
"Bagus ku kira kau akan melabrak Petra di ruang kerjanya, pergilah ke toilet dan cepat kembali".
__ADS_1
Hyuk melangkah pergi. tentu saja ia tidak ke toilet melainkan mengintip ke ruang kerja Petra. ia pergi ke bagian cctv dan meminta ruang kerja Petra di pantau. tidak ada yang berani bertanya untuk apa, karena Hyuk adalah orang penting di Admaja Group bahkan lebih penting kedudukannya di bandingkan Petra.