
"Sudah sebulan menikah tapi masih perjaka, nasibmu ngenes banget mas!" Terdengar suara tawa Arvin menggelegar , membuatku mengurungkan niat yang hendak keluar dari kamar. Seminggu lagi acara pernikahan Cantika, membuatku kecapean membantu mengurus persiapan pernikahannya. Aku langsung tiduran saat pulang, lupa kalau hari ini weekend Raka pulang cepat dari kantor. Karena laper aku hendak makan setelah sholat ashar , tapi saat mendengar suara tawa Arvin membuat ku mengurungkan niatku.
"Bukan ngenes aku hanya memberikan dia kesempatan untuk menerima keadaan. Aku menikah dengan adik Lo buat sekali seumur hidupku, bukan mengejar kesenangan sesaat."
"Luh aku jadi terharu deh mas, tapi tidak kasihan itu burung kedinginan tiap malam,padahal sudah punya sarang ?" Terdengar Arvin berbicara dengan tertawa.
" Aku mencintai Kia , aku berharap Kia bisa membalas rasaku. Dan aku ingin melakukan yang pertama dengan cara spesial dan dengan orang spesial."
"Beruntungnya adikku kamu cintai mas, semoga Kia segera sadar."
"Tumben Lo main kesini Vin ?" Tanyaku setelah memutuskan untuk keluar dari kamar. Meskipun kami tidur bersama, aktifitas kami hanya berpelukan dan pegangan tangan. Ciuman pun sampai saat ini hanya sebatas pipi, itu pun Raka melakukan saat aku berpura-pura tidur.
"Pingin tahu lah adikku tinggal di mana, sudah sebulan kamu pindah."
"Lebay sering juga ketemu di kafe juga."
"Ini ni punya adik ketahuan banget kalau gak sayang kakaknya, di tengok bukan di kasih hidangan malah di katai lebay."
"Emang gw gak tahu Lo lagi galau, gara-gara Salwa mau di jodohkan."
"Ko Lo tahu sih,?" tanya Arvin heran.
"Tahu dong, calonnya aja gw udah tahu."
"Yang bener?"
"Iya kan kencannya di kafe."
"Duduk sini jangan berdiri aja!" Ucap Raka sambil menarikku hingga aku duduk di sampingnya.
"Hehe sebenarnya aku mau ke dapur lapar," ucapku sambil berdiri.
"Mau masak apa?"
"Yang simpel saja bikin omelette kali."
"Ya udah kamu duduk aja mas bikinin." Ucap Raka sambil berdiri lantas berjalan ke dapur, aku mengikutinya dan duduk di meja pantry dapur.
"Enak banget suami pulang kerja buatin makanan buat istri yang bangun tidur! Seharusnya kamu yang menyediakan minuman buat suami yang pulang kerja." Bisik Arvin di telingaku, sambil memperhatikan Raka yang sibuk di dapur.
"Kan aku gak nyuruh, Raka sendiri yang menawarkan diri hehe."
__ADS_1
"Adikku satu ini memang durhaka gak ketulungan, sudah kebutuhan biologis suami ga dipenuhi. Masih menjadikan suami babunya di rumah !" Mendengar ucapan Arvin , membuatku sepontan memukul bahunya kencang.
"Sakit tau,"ucap Arvin sambil mengusap bahunya. Membuat Raka menoleh kearah kami sekilas, sebelum melanjutkan pekerjaannya.
"Lo dengar gak gw nyuruh Raka masak buat gw, enggak kan. Jadi gw gak dosa ya."
"Tugas seorang istri itu melayani suami, melayani kebutuhan suami baik kebutuhan jasmani dan rohani dan itu mendapatkan pahala."
"Hmmm." Mendengar jawaban yang keluar dari mulutku,Arvin hanya menggelengkan kepalanya.
"Suda siap ayo makan bersama !" Raka menyiapkan omleet 3 piring untuk kami bertiga.
"Kayanya enak ya mas?"
"Makanya cobain masakan laki gw, tar kalau rasanya gak enak punya gw buat Lo aja!" Ucapku sambil melihat Arvin yang mulai memakan omleet nya.
" Bagaimana bisa di makan gak?" Tanyaku dan Raka hanya tersenyum mendengarnya.
"Sini kalau Lo gak mau buat gw aja !" Ucap Arvin sambil berusaha mengambil omleet ku.
"No aku juga lapar."
"Mas Lo kok mau saja sih punya istri yang durhaka begini. Bukannya makasih malah meragukan masakan suami." Dengus Arvin sambil melirikku.
"Kalau urusan perut aku percaya Kia ahlinya, dia kan banyak belajar masak dari nenek. Tapi sayangnya belum bisa ngurusin yang di bawah perut ya mas?"
"Haha dasar kamu !" Suara tawa Raka membuatku sedikit berpikir, 'bawah Perut '.
"Sialan Arvin otak mesum." Teriaku sambil memukul bahunya.
"Buset dari tadi ko main pukul sih. Bener kan , kamu belum bisa mengurusi yang di bawah perut suamimu kan?" Ucap Arvin santai sambil tersenyum jahil.
"Pulang sana deh Lo,menggagu ketenangan gw aja!"
"Udah-udah ayo makan jangan berantem." Kami bertiga makan dengan tidak bersuara, tapi mataku dan mata Arvin saling melirik sinis.
"Kia nanti malam mau ikut mas ga ?"
"Kemana?"
"Futsal pertandingan dosen melawan anggota BEM universitas."
__ADS_1
"Ikut aja, dari pada bengong di apartemen sendirian malam Minggu lagi. Awas banyak daun muda di kampus , diambil suamimu nangis kamu nanti." Lagi-lagi ucapan Arvin membuatku kesal.
"Bener Lo mahasiswa sekarang nekad Lo,"bisik Arvin .
"Arvin jangan jadi provokator ya," tegur Raka.
"Haha habis istri mu ini kadang begok mas,"cengir Arvin .
"Arvin nyebelin sana pulang, tapi cuci piring dulu !"
Arvin langsung tertawa dan pamit pulang meninggalkan piring kotor.
"Sudah taruh saja nanti mas yang nyuci piring !"
"Mas sudah masak, sekarang giliran aku yang mencuci piring." Ucapku sambil berdiri dan membawa piring kotor ke dapur.
"Tapi banyak Lo yang kotor, bekas masak tadi belum mas cuci."
"Cuma masak omleet doang kotorannya tidak banyak!" Ucapku bertepatan dengan sebuah tangan yang memegang spon cuci piring, yang juga ku pegang membuat tubuhku seketika kaku.
"Biar adil kita cuci piring bersama !" Ucap Raka di telingaku membuat bulu kudukku lansung berdiri. Satu persatu piring kotor di bersihkan pakai spon cuci piring, tanganku hanya mampu bergerak mengikuti gerakan tangan Raka. Bahkan saat kami membilas piring aku juga seperti robot, mengikuti semua gerakan yang di lakukan oleh Raka.
"Bernafas sayang,"bisik Raka.
"Bernafas lah kalau gak bernafas mati aku." Ucapku berusaha tenang, padahal jantungku berdegup dengan sangat kencang.
"Tapi aku tidak bisa mendengar suara nafas mu, hanya bisa mendengar suara detak jantung mu." Ucap Raka membuat mukaku langsung memerah menahan malu.
"Aku hanya tidak terbiasa berdekatan dengan lawan jenis selain papa dan Arvin dengan posisi sedekat ini." Ucapku lirih sambil mengatur detak jantungku yang mulai tidak terkontrol. Apalagi aku bisa merasakan hembusan nafas Raka di leherku.
"Berarti kamu tidak pernah berpacaran ?"
"Bagaimana mau pacaran kalau aku selalu digosipkan pacaran dengan Arvin."
Hahaha suara tawa Raka pecah mendengar dengusan ku.
"Ternyata mencuci piring berdua menyenangkan ya!" Ucap Raka sambil mengeringkan tangan.
"Situ senang aku yang cepat mati, gara-gara jantungku tidak bisa berdetak dengan normal." Ceplos Ku spontan membuat Raka tertawa terbahak-bahak.
"Makanya kita harus mulai membiasakan sentuhan fisik, biar keintiman terjalin. Kalau sudah biasa jantung mu , juga akan biasa." Ucap Raka sambil menarikku untuk duduk dan Raka langsung merebahkan kepalanya di pahaku.
__ADS_1
"Aku ngantuk bangun kan kalau sudah mendekati magrib." Ucap Raka, membuatku hanya bisa diam. Aku hanya bisa menonton televisi, karena posisi ponsel ku yang terletak sedikit jauh. Jenuh menonton televisi membuat mataku lama-lama terpejam.