Cinta Dalam Diam

Cinta Dalam Diam
Curiga


__ADS_3

Setelah dua jam tidur, akhirnya Afifah pun bangun juga dan ia langsung menghampiri Axel yang fokus dengan Hp nya.


"Mas?" panggil Afifah sambil duduk di kursi yang ada di ruang tamu.


"Sayang, kamu dah bangun?" tanya Axel yang memang gak menyadari kapan Afifah bangun, ya begitulah Axel jika sudah fokus kepada sesuatu, yang lain jadi terlupakan. Apalagi jika ia fokus kepada masalah pekerjaan, ia pasti akan memusatkan pikirannya karena Axel harus penuh ketelitian agar tak terjadi kesalahan walaupun hanya sedikit.


"Iya, kamu belum pulang?" tanya Afifah.


"Enggak. Kamu gimana sudah enak tubuhnya?" tanya Axel sambil mematikan HP nya dan menaruh nya di saku celana.


"Iya, Alhamdulillah sudah enak, enggak seperti tadi. Makasih ya sudah buatin aku teh dan menghawatirkan aku," jawab Afifah tersenyum yang sudah terlihat agak segar setelah bangun tidur.


"Iya sama-sama. Kamu itu calon istriku dan dengan hitungan hari, kamu akan resmi jadi istri aku dan kamu akan jadi milik aku seutuhnya. Lalu bagaimana mungkin aku tega membiarkan kamu sendiri dalam keadaan sakit seperti tadi. Aku harap kamu bisa jaga kesehatan kamu. Inget pernikahan kita sudah gak lama lagi. Kamu gak mau kan rencana pernikahan kita di undur lagi? Atau jika aku boleh ngasih saran. Kamu gak perlu lagi pergi ke pasar. Biar nanti kamu suruh orang aja buat jaga jualan kamu di pasar. Aku gak mau kamu kenapa-napa," ujar Axel yang memang sangat menghawatirkan keadaan calon istrinya itu.


"Baiklah, mulai besok aku gak akan kerja lagi. Aku akan menyuruh seseorang untuk menjaga toko bajuku di pasar," jawab Afifah tersenyum karena gak mau jika membuat Axel khawatir dengan keadaannya.

__ADS_1


"Syukur Alhamdulillah, aku seneng dengernya. Iya sudah kalau gitu, aku pamit pulang dulu ya," ujar Axel


"Iya, Mas Axel hati-hati dijalan, jangan ngebut ngebut," ucap Afifah penuh perhatian.


"Iya. Oh ya ini ATM ku, kamu pakai aja," ujar Axel sambil memberikan ATM nya kepada Afifah.


"Tapi ...."


"Terima aja, kamu ini kan calon istri aku. Password nya tanggal lahir kamu," kata Axel tersenyum. Memang beberapa hari yang lalu, Axel membuat ATM baru buat dia berikan kepada Afifah dan ATM itu sudah ia isi sebesar 100 juta.


"Iya, kamu pakai aja. Di habisin juga gak papa, kalau kurang aku tinggal bilang ke aku. Nanti aku transfer lagi," ujar Axel yang memang gak pernah perhitungan masalah uang.


"Iya," jawab Afifah tapi ia berjanji pada dirinya sendiri gak akan memakai ATM itu kecuali dirinya sudah resmi jadi istrinya.


"Aku pulang dulu. Assalamualaikum,"

__ADS_1


"Waalaikumsalam,"


Setelah itu, Axel pun pulang mengendarai mobilnya. Sepanjang jalan, Axel merasa tak tenang. Karena fikirannya memikirkan Afifah. Ia merasa ada yang gak beres. Bagaimana mungkin dirinya beberapa hari ini selalu mimpi bayi dan sekarang Afifah mual-mual. Bukankah mual-mual itu tandannya ia sedang hamil.


Axel pun meminggirkan mobilnya, dan ia langsung menelpon temannya untuk mencari tau semua aktivitas Afifah selama dirinya pergi keluar negeri. Ia juga menelpon orang suruhannya yang selama ini selalu ia bayar untuk menjaga Afifah secara diam-diam.


Axel akan menyelesaikan semuanya sebelum terlambat. Bagaimanapun ia gak akan tenang jika belum tau apa yang sebenarnya terjadi. Tapi hati kecilnya berbicara bahwa Afifah itu orang baik, sangat baik lalu bagaimana mungkin ia bisa hamil sedangkan selama ini, ia begitu pandai dalam menjaga diri.


Namun seseorang juga bisa berbuat kesalahan. Karena bagaimanapun Afifah adalah manusia biasa yang suatu saat juga bisa melakukan kesalahan yang sangat fatal.


Setelah menelepon temannya dan mengirim pesan kepada orang suruhannya untuk menceritakan semua aktivitas Afifah selama dirinya berada di luar negeri. Axel pun melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah.


Sambil nunggu orang suruhannya itu mengirim email yang ia minta dan menunggu temannya yang akan memberikan dirinya kabar bagaimana aktivitas Afifah selama ini.


Axel akan bersikap biasa, karena ia gak mau membuat keluarganya hawatir. Bagaimanapun ia akan menyelesaikan semua masalahnya sendiri.

__ADS_1


Axel cuma berharap, Afifah tak akan membuat dirinya kecewa.


__ADS_2