Cinta Dalam Diam

Cinta Dalam Diam
Curahan Hati Edwin dan Andi


__ADS_3

Sore harinya saat Andi pulang kerja, ia langsung pulang ke rumahnya. Sedangkan Alexa dan Ayunda di jemput oleh Axel.


Andi pulang dengan hati yang sangat bahagia karena hari ini Andi dan Alexa sudah tak lagi seperti dulu bahkan sebelum pulang Andi dan Alexa sempat mengobrol sebentar sambil nunggu Axel datang untuk menjemput mereka berdua.


Jika dulu Alexa selalu menghindar dan menjaga jarak tapi tidak dengan sekarang. Alexa sudah mau di ajak ngobrol berdua, yah walaupun ada Ayunda tadi. Tapi Ayunda hanya asyik ngemil dan main game hingga tak mengganggu pembicaraan Alexa dan Andi.


Namun Vita, ia berubah menjadi cuek dan dingin. Tapi Andi berharap, Vita bisa berubah seperti dulu lagi, yang hangat dan bersahabat.


Setelah mengendarai mobil hampir setengah jam, akhirnya Andi sampai juga di depan kontrakannya. Namun saat ia turun dari mobil, ia melihat Edwin yang duduk sambil menundukkan kepalanya.


Andi pun menghampiri Edwin.


"Kamu sudah lama di sini?" tanya Andi.


"Lumayan." jawab Edwin.

__ADS_1


"Ayo masuk." ujar Andi sambil membuka pintu rumahnya.


"Duduk dulu, aku mau naruh tas sama buka sepatu dulu." ujar Andi yang langsung buka sepatu dan kaos kakinya lalu menaruh sepatunya di rak sepatu. Andi juga masuk ke kamarnya, untuk menaruh jas putihnya sambil mengganti baju dengan baju biasa.


Lalu Andi mengambil dua gelas air Aqua dan membawanya ke ruang tamu.


"Maaf ya cuma ada air putih." ucap Andi sambil duduk di sofa.


"Gak papa, santai aja." jawab Edwin tersenyum.


"Oh ya kenapa kemaren kemaren ya kamu sudah di hubungi. Aku chat gak di bales, aku von gak di angkat, bahkan aku ke kosan kamu pun, kamunya gak ada. Kamu kemana?" tanya Andi.


"Emang kamu pamit mau kemana?"


"Aku mau pulang kampung." jawab Edwin.

__ADS_1


"Pulang kampung? Terus bagaimana dengan pekerjaan kamu?" tanya Andi.


"Aku sudah berhenti." jawab Edwin.


"Apa ini karena Alexa?" tanya Andi. Namun Edwin tak menjawabnya.


"Jika benar. Aku minta maaf. Sebenarnya dari awal aku tau, kamu menyimpan rasa sama Alexa. Tapi kamu mau mengalah demi aku. Aku juga yakin, sebenarnya kamu pulang kampung untuk menghindari Alexa. Walaupun aku sadar ini gak adil buat kamu, tapi aku mengucapkan terima kasih. Terimakasih karena kamu mau melepas Alexa buat aku." ucap Andi.


"Kamu sejak kapan tau kalau aku ada rasa sama Alexa?" tanya Edwin.


"Sejak di Mall. Saat itu kita sedang makan di resto dan bertemu dengan Vita dan Alexa. Lalu kita duduk di samping mereka, namun saat itu aku melihat tatapan kamu yang berbeda dengan Alexa. Begitupun dengan Alexa, ia seperti menaruh rasa sama kamu. Jujur aku cemburu, tapi aku berusaha menahannya dan aku tetep berusaha untuk bisa mencari perhatian Alexa setiap harinya. Hingga tadi pagi, Alexa mau memberikan aku kesempatan bahkan menyuruh aku untuk melamarnya. Aku tau dia mengambil keputusan itu, karena dia sedang di landa sedih, marah, kecewa sama kamu karena kamu meninggalkan dia gitu aja. Tapi walaupun begitu, aku tetep bahagia, bisa bersama dengan Alexa dan itu berkat kamu.


Terimakasih, terimakasih sudah berkorban untuk aku. Terimakasih untuk semuanya." ucap Andi sambil meneteskan air mata.


"Aku senang jika kamu bahagia. Bagaimanapun kamu itu adalah sahabat aku yang sudah aku anggap sebagai saudara aku. Selama ini, kamu sudah banyak membantuku dan mungkin saatnya aku mengalah demi kamu. Agar kamu bahagia bersama orang yang kamu cintai." ujar Edwin. Jika Andi menitikkan air mata karena rasa bahagia dan terharu, tapi beda dengan Edwin. Ia menitikkan air mata karena rasa sakit di hatinya. Rasa sakit karena harus merelakan orang yang sangat ia cintai demi sahabatnya sendiri dan rasanya itu sangat menyakitkan hingga rasanya membuat dada Edwin terasa sesak.

__ADS_1


"Aku harus segera pergi, karena ada seseorang yang menunggu ku. Kamu baik baik ya di sini. Jika ada apa apa jangan sungkan-sungkan hubungi aku." ucap Edwin yang langsung pergi gitu aja. Karena ia gak tahan, gak tahan untuk tidak menangis. Yah Edwin ingin pergi jauh ke tempat yang sepi, agar ia bisa menumpahkan rasa sakitnya dengan air mata. Edwin tak mungkin menangis di depan Andi karena itu sangat memalukan.


Sedangkan Andi, ia sebenarnya merasa bersalah sama Edwin. Bagaimanapun Edwin dan Alexa saling jatuh cinta. Tapi Andi juga gak bisa melepaskan Alexa gitu aja. Mungkin memang benar Andi egois, tapi hanya ini satu-satunya cara agar Andi bisa memilih Alexa seutuhnya dan selamanya sampai maut memisahkan.


__ADS_2