Cinta Dalam Diam

Cinta Dalam Diam
172. Salah Paham


__ADS_3

POV. Raka


Hari ini sungguh melelahkan,aku harus membantu papa untuk mengevaluasi kinerja semua karyawan rumah sakit. Padahal aku juga baru bergabung beberapa bulan, jadi belum terlalu mengenal semua karyawan di sini.


Evaluasi kinerja karyawan di adakan setiap 6 bulan sekali, supaya para karyawan akan lebih termotivasi menjadi pekerja lebih produktif untuk rumah sakit. Tidak hanya dokter semua karyawan juga melaluinya.


"Kenapa kamu mondar-mandir di sini?" Tanyaku pada Leora yang terlihat sedang kebingungan di depan ruangan seorang dokter senior.


"Mas Raka bisa tolong aku gak?"


"Tolong apa ?" Tanyaku sambil memicingkan mataku melihat kearahnya. Meski aku tidak suka dengan sikapnya yang terlalu agresif padaku, tapi dia yang seperti banyak pikiran membuatku merasa kasihan.


"Aku mau minta ijin 3-5 hari kerja pada dokter Rahardian, tapi aku takut tidak di ijinkan mengingat status aku yang masih dokter caos." Ucapnya sambil memilin jas dokter nya. Gadis ini bukan tipe gadis yang ramah , tapi kebalikannya angkuh dan sombong. Jika dia sudah mengucapkan kata tolong, berati dia sudah sangat terpaksa .


"Aku rasa kalau alasan mu masuk di akal dokter Rahardian akan memberikan ijinnya !" Karena setahuku Dokter caos itu selain susah mendapatkan cuti, tetapi juga tidak bisa cuti lama.


Bukannya menjawab dia semakin gelisah, membuatku penasaran. Tapi sepertinya Leora enggan untuk bercerita, mungkin karena ini lorong rumah sakit jadi dia tidak nyaman untuk bercerita alasannya. Mengingat banyak sekali tenaga medis yang suka berlalu-lalang di sini.


"Ya sudah aku tunggu di ruanganku!" Ucapku sambil berjalan mendahuluinya menuju ke ruanganku. Tapi ternyata dia tidak mengikuti aku, ya udah berati aku tidak perlu membantunya.


Ahkirnya aku meneruskan pekerjaanku untuk memeriksa berkas-berkas penting. Hari ini sungguh menguras tenaga, belum lagi sekertaris ku ijin anaknya sakit lagi. Membuat pekerjaanku menggunung dan harus aku selesaikan hari ini juga. Karena aku besok harus kembali bekerja di kantor papa Kia. Sebenarnya papa Kia membebaskan aku untuk fokus di rumah sakit. Tapi aku menyukai pekerjaan di kantor papa Kia karena sesuai posion ku.


"Mas Raka !" Panggil seseorang yang tiba-tiba masuk ke ruanganku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Bisa nggak sih sopan sedikit, ketuk pintu sebelum masuk !"


"Maaf habis di depan ga ada sekertaris mas Raka," ucapnya lirih.


"Ada apa? katakan alasannya, jika masuk di akal akan aku bantu mengurus ijin mu!"


"Aku harus ijin tidak bisa menjalani caos selama kurang lebih 3-5 hari, karena aku di suruh orang tuaku buat aborsi. Kecuali ada lelaki yang menikahi ku orang tuaku tidak masalah. Mas Raka bisa membantuku mengurus ijinku atau bisa juga membantu menikahi ku." Ucapnya lirih tapi masih bisa aku dengar dengan baik.


"Gila kamu!" Umpatku kesal , pernikahan aku saja 2 bulan lagi. Lagian aku bukan pria bodoh yang akan menukar istriku, yang susah payah aku dapatkan. Dengan seorang wanita yang suka mengobral tubuhnya , sampai hamil di luar nikah segala.


"Aku memang gila karena aku sedang hamil. Bahkan ke dua orang tuaku memaksaku untuk mengaborsinya!" Teriak Leora tidak kalah kencang, sambil meneteskan air matanya. Membuatku memejamkan mata menahan emosi. Aku berjalan ke depan mejaku dan bersandar pada meja kerjaku. Aku tatap tajam matanya dengan melipat kedua tanganku di dada.

__ADS_1


Sungguh aku tidak ingin membantu niat jahatnya, yang ingin membunuh calon anaknya. Tapi aku juga paham pasti berat buatnya hidup di negeri ini, hamil tanpa pasangan. Tidak hanya menghadapi cemooh tapi juga ketidak siapa pan seorang calon ibu, bisa mengakibatkan ibu membenci anaknya. Dan itu tentunya akan membuat sang anak tumbuh dengan tidak baik.


"Ya udah aborsi saja seperti perintah orang tuamu, supaya kamu bisa selesaikan caos mu tepat waktu. Nanti aku akan bantu masalah ijin mu biar dokter pembimbingmu tidak curiga !"


"Terima kasih mas Raka." Ucapnya Langsung berdiri di depanku dan langsung memelukku.


"Terimakasih, terima kasih." Ucapnya sambil menangis, aku tepuk-tepuk bahunya untuk menenangkannya.


"Kapan kamu mau ijin ?"Ucapku sambil melepaskan pelukannya. Aku tidak mau ada yang salah paham melihat posisi kami yang sedang berpelukan, bisa-bisa aku di kira ada hubungan dengan wanita ini.


"Aku tanya mama dulu, kapan mama membuat janji dengan rekannya yang akan mengantarkan kami."


"Ya sudah sebaiknya kamu pergi teruskan aktivitas mu, jangan sampai kamu ketahuan. Jika kamu ketahuan hamil saat caos kamu tentu tahu konsekuensinya !" Karena setahu ku peraturan di rumah sakit ini, anak caos belum boleh di ijinkan hamil. Mengingat kesibukan dokter caos, di takutkan akan membahayakan calon bayinya. Jadi bagi dokter caos yang hamil di sarankan mundur dan mengulang setelah melahirkan.


"Terima kasih mas! Aku akan menuruti semua keinginanmu karena telah membantuku!"


"Tidak perlu, sekarang pergilah! Aku harus meneruskan pekerjaanku!" Usirku, Leora tidak menjawab apa-apa tapi langsung berjalan keluar dan menutup kembali pintu ruang kerjaku.


"Apalagi ?" Tanyaku saat mendengar pintu ruang kerjaku ada yang membuka dari luar.


"Aku kira dokter caos tadi, ada apa Sat?"


"Di tunggu papa dan mama untuk makan siang bersama di ruangannya. Mana istrimu, jangan lupa ajak istri mi!" Ucap Satria sebelum menutup pintu.


Mengajak istriku, bukannya Kia di rumah sama mama. Tapi mengapa, Shiit."


Aku langsung berdiri dan berlari menuju ke ruang kerja Papa, setelah merasakan akan ada hal buruk yang akan menimpaku.


Aku langsung masuk tanpa mengetuk pintu, di dalam sudah ada mama, papa, Cantika dan Satria.


"Mama kesini bersama Kia?" Tanyaku langsung duduk di bersimpuh di depan mama.


"Iya, tadi Kia keluar mau memanggil mu secara langsung. Sekalian pingin tahu ruang kerjamu!" Jelas mama, membuat jantungku berdetak kencang dan pikiranku melayang kemana-mana.


Kenapa bisa begini, pasti Kia melihat yang terjadi. apa Kia salah paham saat aku memeluk Leora tadi?

__ADS_1


Aku tarik kasar rambutku saat merasakan Kia akan salah paham.


"Aku cari Kia dulu ma sepertinya dia salah paham denganku !" Ucapku sambil berdiri, tapi di cegah oleh mama.


"Jelaskan salah paham bagaimana, ingat 2 bulan lagi kalian menikah. Meski undangan belum di sebar, mama gak ma pernikahan kalian gagal ! Mama sudah terlanjur suka dengan Kia!" Tegas mama dengan menatap tajam kearah ku.


Jika aku bercerita dengan Mama maka waktuku akan terbuang, belum nanti jika mereka semua bertanya tentang hal-hal yang buat mereka penasaran.


 "Pa pinjam laptop,"ucapku sambil berjalan ke arah laptop papa. Secepat kilat aku tampilkan rekaman CCTV yang ada di ruanganku.


"Aku tegaskan, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan perempuan yang ada di gambar itu. Kami hanya sebatas kenal dan aku cuma menenangkannya , tidak ada maksud lain!" Ucapku sambil menyerahkan laptop papa ke pada mama sebelum berjalan keluar.


Aku berlari keluar mencari keberadaan Kia di setiap lorong rumah sakit. Sambil terus menghubunginya, tetapi sayanya tidak diangkat olehnya. Ketika sampai di bawah aku berlari ke parkiran, aku berharap Kia masih di dalam mobil.


Tapi tidak ada apa-apa mobil Kia kosong, tidak ada orang. Aku segera berlari ke ruangan ku dan mencari keberadaan Kia melalui ponselnya. Setelah berkutat dengan laptop ku selama 30 menit, aku menemukan posisi Kia berada. Ada nafas lega karena masih berada di dalam rumah sakit ini.


Dari titik yang ada seharusnya Kia masih ada di lobi rumah sakit, tapi saat aku di lobi tidak ada tanda-tanda Kia berada. Dengan mengandalkan titik yang ada aku telusuri keberadaan ponsel Kia.


"Cari apa mas?" Tanya seorang lelaki paruh baya seumur papa, mungkin penasaran melihatku mondar-mandir dari tadi.


"Saya sedang mencari perempuan ini fotonya pak, dari ponselnya saya lacak ada disekitar sini !"


"Dia siapa mas?" Tanya lelaki itu penuh selidik.


"Dia istri saya pak!" Ucapku mantap dan ini pertama kalinya aku mengakui Kia istriku di depan orang asing. Bodoh amat Kia bakal marah, aku hanya mau Kia. Aku tidak mau kehilangan Kia.


"Yang bener anda?" Tanyanya dengan menyelidik yang aku jawab dengan anggukan mantap.


"Tadi saya melihat dia menangis, membuat saya teringat anak perempuan saya. Jadi saya tanya ada apa? Dia bilang mau jual ponsel karena lagi butuh duit. Saya tebak pasti buat biaya rumah sakit. karena melihat ponsel mahalnya dan uang saya hanya 1juta yang ada di dompet. Saya sarankan untuk menjual di konter depan, tapi dia menolak dan bersedia menukar dengan uang 1 juta milik saya!" Jelas bapak itu membuat keyakinan pada diriku, semakin kuat bahwa Kia sudah salah paham.


"Saya akan beli lagi ponsel bapak 2 kali lipat, berikan rekening bapak akan segera saya kirim ke rekening bapak !"


"Tidak perlu mas, ambil saja ponselnya. Mas suaminya pastinya lebih berhak !" Ucap bapak itu, tetapi karena aku terus memaksa ahkirnya si bapak memberikan no rekeningnya. Dengan langkah gontai aku kembali ke ruangan ku.


Tapi begitu aku masuk ke dalam ruangan aku, aku disambut tamparan oleh papa !

__ADS_1


__ADS_2