
Sebelum pulang, para orang tua membiarkan Axel dan Alesha untuk ngobrol berdua. Mereka ngobrol di ruang tamu sedangkan Adzriel, Alexa, Zahra, Adam dan Hawa pergi untuk makan bersama.
Axel dan Alesha hanya diam tanpa ada yang mau memulai duluan hingga lima menit kemudian. Axel pun memberanikan diri untuk membuka suara terlebih dahulu.
"Alesha yakin mau menikah sama aku?" tanya Axel.
"Iya mas," jawab Alesha.
"Emang apa alasan kamu mau menerima ku? Kamu belum tau siapa aku, bagaimana sifat ku dan yang lainnya," ujar Axel.
"Aku percaya dengan pilihan Aby. Aby gak mungkin menjodohkan aku dengan laki-laki yang kelak akan membuatku menderita. Apalagi Aby sama ayahnya Mas Axel sudah berteman dekat. Ayah nya Mas Axel adalah orang baik, tentu putra putranya juga orang baik," ucap Alesha menjelaskan panjang lebar.
"Tapi saat ini aku masih mencintai wanita lain?" ujar Axel mengungkapkan isi hatinya.
"Gak papa. InsyaAllah setelah kita berumahtangga, aku akan membuat Mas Axel melupakan wanita itu dan belajar mencintai ku. Aku akan berdoa agar Allah membukakan mata hati Mas Axel agar bisa mencintai istrinya. Bukankah Allah maha membolak-balikkan hati," jawab Alesha tersenyum.
"Kamu benar. Tapi melupakan wanita yang sangat di cintanya itu tak mudah. Apalagi itu cinta pertamanya?"
__ADS_1
"Aku yakin Mas Axel bisa melupakan wanita itu dengan seiring berjalannya waktu,"
"Apakah kamu mencintai laki-laki lain?" tanya Axel.
"Ada," jawab Alesha.
"Siapa?" tanya Axel penasaran.
"Ayahku. Dia adalah laki-laki pertama yang aku cintai. Dan yang kedua adalah suamiku nanti,"
"Kamu pernah dekat dengan laki-laki lain?"
"Apakah kamu akan mencintai ku?"
"Iya nanti, saat Mas Axel sudah sah jadi suamiku,"
"Apakah bisa mencintai laki-laki yang bahkan baru di kenalnya?"
__ADS_1
"InsyaAllah bisa. Karena aku mencintai suamiku karena Allah, bukan karena *****," jawab Alesha tersenyum manis.
"Jika kelak aku mengecewakan kamu?"
"Aku akan belajar untuk memaafkan," jawab Alesha
"Jika aku menduakan kamu?"
"Itu urusan Mas Axel sama Allah. Yang penting aku sudah mengingatkan. Dan Mas Axel juga pasti faham akan agama. Mas Axel pasti tau dan bisa menggunakan akal dan fikirannya apa yang seharusnya di jauhi dan mana yang harus di jalani. Mana yang haram dan mana yang halal. Mas Axel bukan lagi anak kecil.
Mas Axel juga pasti tau, manusia makhluk ciptaan Allah yang dibekali akal untuk berpikir, mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan semua anggota badan lainnya. Jika dalam hati seseorang telah terbesit sebuah keinginan untuk mengerjakan sesuatu walaupun pada jalan yang salah, maka secara otomatis akal lah nantinya yang akan membuat rancangan, bagaimana rencana ini bisa terlaksana," ujar Alesha yang menyentil perasaan Axel.
"Aku faham, terimakasih atas penjelasannya. InsyaAllah aku tidak akan seperti binatang, aku akan menggunakan akal dan fikiranku untuk terus berada di jalan yang benar. Tapi jika aku salah jalan, jalan bosan untuk terus mengingatkan aku,"
"Aku gak akan pernah bosan untuk mengingatkan Mas Axel agar terus berada di jalan yang benar. Aku harap jika kita memang berjodoh, kita bisa membangun keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah," ujar Alesha tersenyum.
"Aku semakin yakin untuk menikahi Alesha, ilmu agamanya sangat kuat, dia juga cantik dan terlihat sangat tegar dan sabar." gumam Axel dalam hati.
__ADS_1
Saat mereka asyik ngobrol, keluarganya pun datang.
Mereka sempat ngobrol sebentar dan setelah itu, Adzriel, Zahra, Alexa dan Axel pun pamit pulang.