
Karena masalah di kantor kemarin , hari ini aku putuskan untuk tidak masuk kerja. Karena itu meski sudah jam 8 pagi aku masih belum mandi. Semalam mas Ari, mbak Franda, Raka dan mas Zain juga mengirim pesan ke aku tapi aku cuekin.
"Kok belum mandi sayang ? Gak berangkat kerja ?"
"Gak ah ."
"Kenapa cerita dong ke papa ?"
"Pasti mas Ari sudah cerita apa yang terjadi !"
"Tapi papa pingin denger langsung dari kamu, cerita fersi kamu bukan Ari ?"
"Kesal aja sama semua karyawan papa."
"Katanya anak papa gak mau ambil pusing dengan omongan orang ? Ko sekarang malah gak mau kerja ?"
"Saat mereka menjadikan aku bahan gosip, aku bisa aja cuek pa. Tapi saat mereka berani ngomong di depan ku dengan nada kencang. Aku gak terima orang tua ku saja tidak pernah betak aku kok."
"Terus mau adek apa sekarang ? Apa perlu orang yang bentak kamu papa pecat ?"
"Gak perlu dia juga punya keluarga yang harus di nafkahi, jika di pecat nanti gimana Keluarganya makan. Lagian ini bukan 100 persen salahnya. Kami hanya saling emosi karena ulah orang lain."
"Terus sekarang adik mau papa beri sangsi pada siapa ? Orang yang telah membentak adek, apa orang yang membuat salah paham ?"
"Ya yang sengaja memfitnah dan membuat salah paham ini lah pa!"
"Kalau begitu Kia harus ikut papa ke kantor !"
"Gak mau."
"Kenapa gak mau,?"tanya mama.
"Gara-gara kemarin pasti sekarang semua orang sudah tahu kalau aku anak papa !"
"Kalau tahu kenapa ? Bagus dong mereka tidak akan macam-macam sama adik lagi!"
"Malas ma menghadapi orang-orang bermuka dua."
"Terus adik hari ini mau ngapain,?" tanya mama.
"Ikut mama saja ke kafe ?"
"Ya udah sana mandi, nanti pelanggan mama kabur semua ngecium bau adek yang belum mandi !"
"Mama ! Meskipun adek gak mandi adik tetap wangi ya!"
"Haha sana mandi !"
"Kerja di kafe gak kaya di kantor papa,jam 9 sudah harus ada di kantor. Di kafe aku bisa berangkat ja 11 dari rumah."
__ADS_1
"Karena itu adek suka kerja di kafe, lebih santai ?" Tanya papa yang langsung aku anggukin.
"Semua pekerjaan ada kekurangannya dan kelebihannya adik!"
"Ya aku tahu, dikafe gajinya tidak Segede di kantor. Tapi tidak terlalu di pusingkan laporan dan proposal."
"Kalau semua orang berpikir seperti kamu perusahaan papa gak maju-maju Kia." Ucap papa sambil menggelengkan kepalanya.
"Kia itu anak siapa sih pa? Jangan-jangan tertukar waktu di rumah sakit pa,?" ucap Arvin.
"Enak aja, memang situ ga bisa liat muka ku mirip siapa !"
"Bukan masalah mirip siapa? Mama waktu muda bisa buka kafe dan sekarang punya beberapa cabang. Papa bisa mendirikan 2 perusahaan saat muda, bahkan satu dengan modal keluarga. Lah kamu tidak hanya tidak ada bakat bisnis,tapi kaya tida ada niat buat maju!"
"Aku bukannya tidak ada niat untuk maju. Sekarang tanpa aku maju saja aku udah bisa makan kenyang, beli baju ko. Tar kalau aku ikut maju kasihan yang lain gak ada kesempatan buat maju dong." Ucapku sambil berjalan menuju kamar ku.
"Dia terlalu santai tidak ada ambisi," ucap Alfi.
"Semoga dia dapat suami yang bisa membantu mengurus bisnis papa."
"Terus kalau Kia dapat suami yang bisa meneruskan bisnis papa. Bagaimana dengan bisnis kafe mama, siapa yang nerusin kalau Kia ga mau?"
"Sepertinya kalau kafe dia mau deh ma,"ucap Arvin .
"Sebenarnya kalau Kia mau dia bisa dan mampu,tapi sayangnya dia tidak terlalu berambisi. Buktinya dia bisa bongkar korupsi di perusahaan papa yang sudah berjalan hampir setahun. Padahal Kia hanya sekali lihat laporan keuangan !"
"Bener kata Arvin pa, apalagi selama ini Kia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan ayah dan ibu. Yang selalu menerapkan pola hidup sederhana, tidak berlebihan."
"Pak di depan ada mas Ari dan temannya !" Ucap bibi menghampiri Fian dan keluarganya yang lagi sarapan.
"Suruh ke sini saja bi, biar sarapan sekalian !"
"Baik bu!"
"Papa yang nyuruh kesini,?" tanya Alfi.
"Tidak,papa rasa ada kaitannya dengan yang terjadi kemarin deh ma!"
Nampak Ari masuk di ikuti Zain dan Lando.
"Arvin kenalkan ini Zain dan ini siapa ya Ar?"
"Ini Lando bagian finance,"ucap Ari.
"Kalian sudah sarapan,?" tanya Alfi.
"Sudah bu!" Jawab mereka kompak.
"Ya udah ngopi saja kalau begitu,biar di buatkan bibi."
__ADS_1
"Karena kalian tidak mau sarapan. Bagaimana kalau kita ngobrolnya di belakang saja biar santai!"
"Boleh pak,"jawab Ari yang langsung mengikuti Fian dan di ikuti oleh yang lain.
"Ada apa ini pagi-pagi kesini, bukan menunggu saya di kantor ?"
"Begini pak saya mau minta maaf atas ucapan saya kemarin,"ucap Lando.
"Kamu takut saya pecat gara-gara masalah kemarin ya?"
"Jujur iya pak, karena saya harus memberi nafkah buat keluarga kecil saya dan orang tua saya juga." Ucap Lando sambil menunduk.
"Kia itu anak perempuan saya yang tidak pernah saya bentak, karena itu dia marah bukan karena gosip yang beredar. Tapi tidak terima kalau ada yang membentaknya."
"Maaf,"ucap Lando lesu. Fian hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
"Tapi waktu saya memberikan tawaran buat memecat orang yang telah membentaknya , dia malah menolak." Terdengar helaan nafas lega Lando dan Zain.
"Kata Kia 'Gak perlu dia juga punya keluarga yang harus di nafkahi, jika di pecat nanti gimana Keluarganya makan. Lagian ini bukan 100 persen salahnya. Kami hanya saling emosi karena ulah orang lain.' Jadi kamu tenang saja, Kia hanya emosi sesaat."
"Terima kasih pak !"
"Tidak usah kwatir, wajar kamu marah dengan apa yang tidak kamu lakukan."
"Terima kasih sekali lagi, pak."
"Ayo di minum kopinya, masalah ini sebaiknya Zain yang selesaikan mengingat ini terjadi di divisi mu. Ini sebenarnya bukan masalah besar. Diana hanya malu karena posisinya di turunkan, tapi dia lupa dia sendiri yang memilih bertahan di perusahaan dari pada masuk bui."
"Apa boleh saya pecat dia saja pak, ini kan bermula dari dia,?" tanya Zain.
"Pastikan dulu kalau kamu pecat berdampak pada kehidupan keluarganya!"
"Diana hanya hidup dengan papanya dan adiknya yang masih kuliah. Saya dengar dia juga harus jadi tulang punggung keluarga pak !"
"Baiklah saya rasa kalau Diana tahu Kia anak saya dia sudah tidak akan berbuat aneh-aneh lagi. Lagian Kia juga mau kerja sama mamanya di kafe, dari pada di kantor !"
"Nanti kalian semua temui saya di kantor setelah jam istirahat aja Diana juga ! Sekarang lebih baik kalian habiskan kopinya dan kembali ke kantor."
"Iya pak!"
"Papa kenapa gak pecat saja dia pa?" Tanya Arvin setelah semuanya pergi.
"Dia bekerja untuk membantu papanya menghidupkan Keluarganya. Jika papa pecat bagaimana adiknya kuliah, disini dia yang salah bukan keluarganya."
"Lebih baik papa beri kesempatan buat dia untuk lebih berhati-hati menjaga tingkah lakunya. Jika dia masih ingin bekerja. Karena jaman sekarang mencari pekerjaan itu susah."
"Papa dan mama terlalu baik,"ucap Arvin .
"Jika papa pecat, bisa saja. Tapi jika dia mau berubah kenapa tidak di beri kesempatan."
__ADS_1