
Setelah menempuh perjalanan berjam-jam, akhirnya ia sampai juga di rumah yang sudah di siapkan oleh Zahra dan Adzriel. Di sana juga ada pembantu yang menyambut kedatangan Afifah.
Pembantu itu menyambut kedatangan Afifah dengan sangat ramah dan penuh hormat.
Afifah melihat pembantu itu dengan tersenyum ramah, Afifah senang karena ia gak tinggal sendirian di rumah yang cukup besar ini.
Pembantu itu juga kelihatannya sudah berumur sekitar 40 tahunan dan terlihat sangat cekatan. Afifah tersenyum karena Adzriel dan Zahra menyiapkan pembantu sesuai keinginannya.
Afifah melihat rumah yang ia tempati, semuanya terbuat dari kayu jati.
Terlihat unik dan menarik. Lagi-lagi rumah ini sesuai dengan apa yang menjadi impiannya selama ini. Mempunyai rumah yang berbahan kayu jati dan seperti rumah modern.
Afifah masuk ke dalam rumah dengan di ikuti pembantu yang kini akan melayaninya 24 jam.
Saat Afifah masuk ke dalam rumah, ia melihat ruangan yang sangat mewah. Afifah gak menyangka akan mendapatkan fasilitas sampai semewah ini. Afifah tadinya hanya berfikir rumah biasa, tapi siapa sangka kalau rumah yang di siapkan sangat mewah seperti ini.
Afifah pun melihat ruangan itu satu persatu.
Setelah puas lihat-lihat ruangan, Afifah pun duduk di sofa untuk melepas rasa lelah. Bik Surti segera menyiapkan minuman buat Afifah.
Afifah bahagia dengan kehidupannya yang sekarang, rumah seperti yang dia ia impikan, pembantu yang sangat baik, dan jauh dari warga.
__ADS_1
Sehingga Afifah akan merasa aman, tanpa harus memikirkan bagaimana ia harus menjawab saat orang lain menanyakan ayah dari anak yang ada dalam kandungannya.
Saat sang bibi, sibuk menyiapkan minuman. Afifah pergi ke samping rumah, dimana di sana ada ruangan seperti garasi. Afifah melihat di sana ada dua kendaraan yang di simpan untuk dirinya jika ingin kemana-mana.
Afifah akan mencoba sepeda motornya nanti sore sekalian jalan-jalan sekitar sini. Afifah juga mau melihat usaha yang juga. sudah di siapkan oleh Zahra dan Adzriel yang katanya gak jauh dari sini.
Afifah akan mengajak Bik Surti karena hanya dia yang tau dimana tempatnya.
Setelah puas lihat kendaraannya, Afifah pun kembali ke tempat semula. Duduk santai sambil nonton tivi.
Afifah belum pernah sebelumnya hidup seperti ini. Dulu ia hidup dalam kekurangan dan tinggal di kontrakan sempit bertahun-tahun. Tapi kini ia punya segalanya tanpa harus bekerja keras.
Ia bisa menikmati semua fasilitas yang di berikan oleh Adzriel dan juga Zahra.
Afifah akan selalu mendoakan Axel. dan juga keluarganya agar mereka bisa selalu di berikan kebahagiaan karena mereka layak untuk hidup bahagia.
Saat Afifah memikirkan Axel dan keluarganya, Bik Surti datang membawakan minuman dan juga beberapa makanan ringan yang ia buat.
"Ini non, minumannya," ujar Bik Surti.
"Iya Bik, terimakasih ya," ujar Afifah.
"Sama-sama non," jawab Bik Surti tersenyum.
__ADS_1
"Bibik, duduk sini aja. Temani aku ngeteh sambil makan cemilan ini. Gak enak kalau minum teh dan makan cemilan seorang diri," pinta Afifah.
"Iya non," jawab Bik Surti tanpa membantah.
"Bibik orang mana?" tanya Afifah ingin tau
"Saya orang Magelang Jawa Tengah non," jawab Bik Surti.
"Kenapa bisa sampai di sini bik?" tanya Afifah.
"Saya bisa ada di sini karena Tuan Adzriel yang membawa saya ke sini untuk menjadi asisten Non Afifah," jawab Bik Surti.
"Bik Surti gak punya keluarga di Magelang?" tanya Afifah.
"Gak ada non. Saya ini anak tunggal, suami saya meninggal. Sedangkan saya gak punya anak. Kedua orang tua saya juga sudah meninggal saat saya masih muda. Selama ini saya bisa bertahan karena Tuan Adzriel dan Nyonya Zahra yang membantu ekonomi saya. Mereka itu orang baik non, Mereka selalu membantu siapa saja yang kesusahan," jawab Bik Surti tersenyum mengingat betapa banyak kebaikan yang sudah di berikan oleh Adzriel dan juga Zahra. Dulu saat suaminya sakit keras, mereka jugalah yang membiayai rumah sakitnya yang sampai puluhan juta. Hingga akhirnya suaminya meninggal setelah dua bulan berada di rumah sakit.
Dan setelah itu, Adzriel dan Zahra lah yang selalu mengirim uang setiap bulan untuk menghidupi dirinya sampai sekarang.
Afifah terharu mendengarkan kisah Bik Surti.
"Mulai sekarang Bik Surti boleh menganggap saya sebagai anak Bik Surti. Karena saya sendiri juga sudah gak punya orang tua. Dari kecil saya hidup sebatang kara," ujar Afifah yang menitikkan air mata saat ingat bagaimana kehidupannya dulu.
Mereka pun saling curhat satu sama lain. Afifah menganggap Bik Surti sebagai mana ibunya begitupun Bik Surti yang menganggap Afifah sebagai anaknya.
__ADS_1