
Jika Alexa jatuh cinta dengan guru adiknya beda lagi dengan Axel yang jatuh cinta dengan Cleaning Service di kantornya.
Jatuh Cinta memang tidak ada yang tau kepada siapa kita akan melabuhkan hati kita. Bahkan awalnya Axel hanya tertarik dengan bawahannya itu karena ia selain cantik juga rajin ibadahnya. Kenapa Axel bilang seperti itu karena Axel beberapa kali melihat bawahannya itu sholat dhuhur di masjid terdekat yang tak jauh dari kantornya.
Dan sejak saat itu Axel mulai menaruh hati. Awalnya hanya sekedar kagum, namun makin ke sini rasa itu berubah menjadi rasa cinta.
Walaupun pakaian nya sedikit lusuh namun tidak mengurangi kadar kecantikannya.
"Sam, coba kamu cari tau tentang Cleaning Service itu? Semua detail tentang dia. Aku kasih kamu waktu 3 hari." ucap Axel kepada Sam, asistennya.
"Oke, perintah siap laksanakan." ujar Sam tersenyum, ia tau bahwa akhir akhir ini, Atasannya alias bos nya itu sering memperhatikan Cleaning Service yang selalu rutin memberikan ruangan atasannya itu dan seringkali membuatkan teh jahe setiap pagi karena Axel gak suka kopi. Dia lebih suka teh jahe karena bisa menghangatkan badan.
Hari ini setelah rapat pemegang saham, Axel males bekerja. Ia tidak bisa fokus bekerja karena fikirannya terus tertuju sama wanita Cleaning Service itu.
Ingin mendekat tapi gengsi, jadi ia hanya bisa diam memperhatikan wanita itu dari CCTV.
"Wanita yang sangat unik dan apa adanya." Gumam Axel tersenyum.
Namun saat Axel melihat CCTV itu, ia melihat wanitannya sedang di tindas oleh Cleaning Service yang lain. Yah memang ada 4 Cleaning Service di sana, dan wanitanya termasuk orang baru yang bekerja di perusahaannya.
Melihat wanitannya di tindas hanya diam aja, Axel pun segera lari menuju ruang kebersihan. Ruang kebersihan adalah tempat di mana mereka berkumpul dan menaruh semua peratalan kebersihan di sana.
Axel terus berlari hingga membuat orang di sekitarnya bingung, ada apa dengan atasannya, sampai lari lari seperti itu. Namun tak ada yang berani nanya ataupun mencegah.
Sesampai di ruang kebersihan, ia melihat wanitanya jatuh karena di dorong.
"STOP!!!" Teriak Axel hingga membuat mereka semua menoleh ke arahnya.
"Apa yang sudah kalian lakukan kepadanya. Hah!" Bentak Axel, ini pertama kalinya dalam hidupnya membentak seseorang.
Namun yang di bentak, tak bisa menjawab dan hanya menunduk saja.
"Kalian bertiga saya pecat. Keluar dari ruangan ini sekarang juga, dan jangan pernah sekalipun kalian datang ke perusahasan ini dan saya pastikan, setelah ini kalian tak akan mendapatkan pekerjaan di manapun kalian melamar. Saya juga akan membawa kasus kekerasan ini ke jalur hukum, sebagai buktinya adalah CCTV yang ada di sana." ujar Axel dengan suara datarnya sambil menunjuk ke arah CCTV yang ada di pojokk hingga membuat mereka bertiga tercengang karena mereka tak tau kalau di ruangan itu ada CCTV. Memang setiap ruangan ada CCTV nya yang langsung terhubung dengan ruangan Axel, hanya aja cctv itu sangaltah kecil hingga tak ada yang tau bahwa di perusahaan itu ada CCTV.
Axel bukan orang bodoh, bagaimana mungkin di perusahannya yang sebesar itu, gak ada CCTV nya, hanya saja. Axel gak suka memakai CCTV yang lumayan mencolok, ia lebih suka CCTV yang kecil yang kadang gak di ketahui oleh banyak orang.
"Maaf pak." ucap mereka bertiga sambil bersujud di kaki Axel. Namun Axel tak menggubrisnya. Ia menggotong wanitanya untuk masuk ke ruangannya.
Saat Axel menggotong Cleaning Service itu, semua mata mengarah padanya. Namun Axel cuek dan tak mau peduli bagaimana pendapat mereka. Toh ini adalah perusahaannya, jadi dia bebas melakukan apapun.f
"Sam, kamu urus mereka bertiga." ucap Axel dingin. Sam mengerti siapa yang di maksud atasannya itu, Sam pun segera bertindak sesuai keinginan Axel. Walaupun Axel gak bilang dia harus berbuat apa, namun Sam mengerti tanpa harus Axel jelaskan panjang lebar.
Saat ini, mereka berdua ada di ruangan Axel. Axel mengambil P3K, untuk mengobati luka wanitanya akibat di tindas oleh seniornya.
"Kamu itu kalau di di tindas sama mereka, melawan. Jangan diam aja." ucap Axel sambil mengobatinya.
"Kamu denger gak, apa yang saya omongin?" tanya Axel yang menatap ke arah wanitanya. Wanita yang memakaai hijab panjang namun aura kecantikannya seakan terpancar dari wajahnya. Wanita yang terlihat lembut dan polos
"Iya, tuan." jawab perempuan itu dengan suara rendah karena takut.
"Jangan saya panggil saya tuan, kesannya kog saya tua banget. Panggil mas, kakk atau apa gitu." ucap Axel kesal karena di panggil tuan.
"Iya, mas." jawab perempuan itu dengan nada bergetar.
"Siapa nama kamu?" tanya Axel dengan suara datarnya.
"Afifah, pak eh mas." jawab Afifah, yah perempuan yang kini sedang di obati itu adalah Afifah.
"Oh, berapa umur kamu. Kayaknya kamu terlihat sangat muda sekali." ucap Axel.
"18 tahun." ujar Afifah.
__ADS_1
"18, kamu baru lulus SMA ya?" tanya Axel.
"I..Iya mas." jawab Afifah.
"Santai aja, gak usah gugup, aku gak mungkin makan kamu. Aku ini masih suka makan sayuran." ujar Axel kesal karena Afifah merasa gugup padahal dirinya gak ngapa ngapain. Setelah selesai mengobatibanya, Axel menaruh P3K itu ke tempatnya.
"Kamu sudah makan?" tanya Axel karena melihat Afifah seperi orang lemas.
"Su...sudah pak." jawab Afifah.
"Hemmm mana mungkin jam segini, aku sudah makan. Aku harus irit agar bisa bayar kos. Gajian aja belum, tapi udah dapat siksaan kayak gini." gumam Afifah. Walaupun dia memakai hijab panjang tapi sebenarnya ia sedikit agak tomboi, hanya saja, menutuup aurat tetap ia lakukan karena itu adalah sebuah kewajiban baginya. Dan ia tak ingin orang lain melihat lekuk tubuhnya. Makanya Afifah selalu memakai pakaian yang longgar dan hijab yang panjang selain itu adalah perintah Allah, Afifah juga risih pakai yang ketat ketat hingga di liatin banyak para lelaki yang bukan mahromnya. Afifah tak ingin dirinya menonjol, ia ingin menjadi wanita biasa. Tak peduli bagaimanapun pandangan orang lain terhadap dirinya.
"Mana ada orang sudah makan tapi badannya lemas gini. Ayo ikut aku." ujar Axel.
"Aih, aku lupa. Tadi gara gara aku kesal, aku sampai menggendongnya. Kalau aby sama umy tau, bisa bisa aku di suruh menikah dengannya. Karena berani menggendong anak orang. Tapi tadi benar benar spontan. Kenapa aku baru ingat sekarang ya......aduh jika ada yang melapor ke umy dan aby, aku harus jawab apa nih." batin Axel, ia baru ingat tadi ia sudah menggendong Afifah karena rasa khawatirnya yang terlalu berlebihan, padahal sebelumnya ia gak suka di sentuh oleh lawan jenis, jangankan di sentuh, berdekatan aja gak. Tapi ini dengan entengnya Axel malah menggendong Afifah.
"Ikut kemana tuan, eh pak. Eh maksudku mas.?" tanya Afifah karena belum terbiasa lidahnya memanggil atasannya dengan sebutan mas, rasanya gak sopan dan geli di dengar oleh telingannya sendiri.
"Gak usah banyak tanya. Kamu jalan aja di belakangku." ujar Axel yang masih dengan suara datarr. Afifah mengangguk, dia hanya menuruti keinginan bosnya itu. Bos aneh menurut Afifah.
Mereka pun berjalan tanpa menghiraukan di sekelilingnya. Axel orang yang tak peduli selama dirinya melakukan hal yang benar, dan Afifah yang sedikit pemalu dan gak suka di perhatikan oleh banyak orang.
Afifah terus jalan menunduk hingga gak sadar ia menabrak Axel. Yah, Axel berhenti mendadak sedangkan Afifah jalan tanpa lihat ke depan, ia terus menunduk karena malu.
"Aw." ucap Afifah sambil memegang dahinya karena menabrak dada seseorang.
"Kalau lihat itu lihat ke depan, jangan lihat ke bawah. Cepetan masuk." ucap Axel.
"Maaf pak, eh mas." ujar Afifah. Ia lalu masuk ke dalam mobil yang sudah di siapkan.
"Siapa yang nyuruh kamu duduk di belakang, aku bukan sopir. Duduk di depan!" Perintah Axel.
"I..Iya mas." Afifah pun segera keluar dari dalam mobil dan masuk lagi, ia kini duduk di kursi depan, samping pengemudi.
Sepanjang jalan mereka hanya diam diaman, gak ada yang buka suara hingga akhirnya mereka tiba di depan resto. Axel segera memarkirkan mobilnya dan setelah itu turun dari mobil begitupun dengan Afifah. Ia juga segera turun dari mobil.
"Ayo masuk." ucap Axel tanpa memegang tangannya seperti pasangan yang lainnya. Kini Axel berusaha jaga jarak agar tak ada setan yang membuatnya hilaf seperti tadi.
Afifah tak menyahut, tapi ia berjalan di samping Axel dengan jarak yang gak terlalu dekat.
Mereka berdua memilih ruangan VVIP tempat biasa di mana keluarga Axel berkumpul jika ingin makan di resto. Omanya memang memberikan tempat VVIP agar tidak makan dan berbaur dengan yang lain. Omanya selalu memberikan tempat istimewa untuk keluarganya.
Afifah merasa gugup ini pertama kalinya ia masuk resto mahal di tambah lagi, ia duduk di ruangan VVIP membuatnya sangat gugup sekali.
Tak lama kemudian, pelayan datang dengan membawa menu makanan.
"Silahkan di pesan tuan muda, nona." ujar pelayan ramah karena ia tau kini laki laki yang ada di hadapannya adalah cucu dari pemili resto tempat ia bekerja.
"Sana, kamu ingin pesan apa?" tanya Axel sambil memberikan menu makanan kepada Afifah. Afifah mengambil buku makanan itu tapi karena melihat harganya yang agak mahal membuat Afifah diam, karena ia sekarang hanya membawa uang dua puluh ribu di sakunya dan itu gak cukup jika harus bayar makanan yang akan ia makan di resto itu. Lagian uang dua puluh ribu, itu buat bayar angkot ke kosannya dan juga buat makan siang dan makan malam. Yah walaupun gak cukup, harus di cukup cukupkan.
"Anu mas, saya masih kenyang. Mas aja yang pesan." ujar Afifah tersenyum.
"Pesan aja, aku yang traktir." ucap Axel yang mengerti bahwa wanita yang ada di depannya ini sedang tak ada uang.
"Eh, beneran?" tanya Afifah tak percaya.
"Iya, sana pesan buruan" jawab Axel. Afifah pun tersenyum bahagia, ia segera memesan makanan yang ingin sekali ia makan. Ia juga memesan dua minuman sekaligus. "Mumpung rezeki nomplok, harus di manfaatkan sebaik mungkin." gumam Afifah, yah kapan lagi bisa makan enak dan di traktir kayak gini.
Pelayan itu mencatat setiap apa yang di ucapakan oelh Afifah.
"Saya samakan aja dengan dia." ujar Axel yang ingin makan dengan menu yang sama seperti yang Aisyah pesan.
__ADS_1
"Baik, tuan, nona. Pesanan akan segera di antarkan." ucap pelayan itu ramah lalu ia pergi dari ruangan itu.
Setelah kepergian pelayan itu, Axel mengajak Afifah mengobrol sambil nunggu makanan datang.
"Rumah kamu di mana?" tanya Axel yang ingin mengetahui Afifah lebih jauh lagi, yah walaupun Axel sudah menyuruh Sam untuk mencari tau tentang Afifah, tapi paling tidak. Axel juga ingin tau jawaban Afifah yang keluar dari mulutnya.
"Saya gak punya rumah pak, eh mas maksudku, saya ngekos di jalan kandangan." jawab Afifah. Yang membuat Axel kaget, ia sangat tau kos kosan di sana, sangat kumuh tapi murah, hanya sekitar 300 ribu perbulan. Itupun kosan di sana gak aman, karena di sekitar sana banyak preman. Axel takut, jika Afifah tinggal di sana dan di apa apain oleh preman itu belum lagi udara di sana gak bagus, karena tempatnya yang sempit dan juga kumuh.
"Oh nanti pulang kerja, kamu jangan kemana mana ya, tunggu aku." ujar Axel..
"I..iya mas." jawab Afifah yang masih saja merasa gugup dan Afifah juga takut mau nanya, "Kenapa saya harus nunggu bapak, emang bapak mau nganterin saya sampai depan kos?" pengen rasanya Afifah nanya seperti itu hanya saja, pertanyaan itu hanya ada di dalam hatinya saja, dan gak bisa di ungkapkann.
"Kamu tinggal sama orang tua kamu di kosan itu?" tanya Axel.
"Saya gak punya orang tua pak, ayah dan ibu saya meninggal karena kecelakaan 6 tahun lalu. Saat saya baru lulus SD. Dan setelah itu, paman dan bibi saya mengusir saya dari rumah saya sendiri dan juga mengambil toko ayah. Kebetulan ayah jualan baju muslim di pasar, tapi di ambil juga sama paman dan bibi. Jadi sejak saat itu, saya hidup sebatang kara karena kakek dan nenek dari pihak ayah dan ibu juga gak ada. Saya cuma berusaha hidup sendiri dari mengamen. Lalu saya kumpulkan uang itu untuk daftar sekolah dan cari kosan. Walaupun saya kecil, namun saya berusaha untuk hidup mandiri karena sekarang semua itu tergantung saya pribadi. Tak ada yang bisa menolong diri saya kecuali saya sendiri karena semua orang seakan menutup mata dan gak mau membantu fakir miskin.
Dari uang mengamen itu, saya juga menabung agar saya bisa jual gorengan. Ya, saya jual gorengan setelah pulang sekolah sampai malam hari. Jualan keliling hingga rasanya kaki yang saya bengkak karena terus berjalan tanpa arah. Namun kini hidup saya sudah bahagia, saya bisa bekerja di perusahaan bapak, eh mas maksud saya walaupun hanya sebagai Cleaning Service. Tapi gajinya lumayan, rencanannya setelah gajian ini, saya mau cari kos kosan yang agak sedikit layak untuk saya tempati.
Dan mengenai tadi kenapa saya gak melawan saat di tindas, itu karena saya takut di keluarin dari pekerjaan saya jika sampai ada keributan. Cari pekerjaan sekarang, tidaklah mudah." ucap Afifah yang bercerita mengalir begitu saja. Afifah seperti sedang melepaskan rasa lelah dan rasa jenuh serta beban yang ia jalani selama ini. Entahlah, kenapa kepada atasannya inilah, Afifah bisa bercerita biasanya ia hanya memendam semua itu seorag diri.
"Hemm saya mengerti dan saya akan bantu kamu keluar dari semua kesusahan itu." ujar Axel tersenyum
Dan tak lama kemudian, makanan pun datang.
Pelayan itu menaruh makanan dan minuman di atas meja.
"Selamat makan." ucap pelayan itu ramah yang hanya di jawab dengan anggukan kepala oleh Axel.
Setelah pelayan itu pergi, barulah Axel dan Afifah makan.
"Kamu harus makan yang banyak biar gemuk. Walaupun kamu menutupi tubuhmu dengan baju longgar dan hijab panjang, tapi aku tau kamu sangatlah kurus. Jadi mulai sekarang, kamu harus makan banyak." ujar Axel.
"Iya mas." jawab Afifah. Afifah makan dengan sangat lahap, tak ada rasa sungkan atau gimana. Ini pertama kalinya Afifah makan enak seperti ini. Afifah makan tanpa menghiraukan Axel yang dari tadi menatapnya.
Melihat Afifah makan dengan lahap seperti orang kelaparan membuat ***** makan Axel berkurang apalagi tadi pagi dirinya juga sudah makan jadi perutnya masih kenyang. Jadi Axel hanya memperhatikan Afifah makan dengan sangat lahap.
"Kenapa mas gak ikut makan?" tanya Afifah setelah ia sadar dirinya sedang di perhatikan.
"Saya masih kenyang, tadi pagi saya sudah makan." jawab Axel.
"Kalau gitu, punya bapak buat saya aja." ujar Afifah. Yah dari pada mubazir gak di makan, mending buat Afifah aja buat makan nanti setelah dirinya pulang kerja. Lagian kita kan gak boleh membuang buang makanan.
"Emang kamu masih belum kenyang?" tanya Axel.
"Sudah tapi dari pada itu mubazir di buang, mending di bungkus aja buat saya makan nanti." jawab Afifah tersenyum.
"Oh, tapi yakin ini mau di bungkus? aku bisa memberikan kamu yang baru, tidak harus makanan sisa ini" tanya Axel.
"Yakin, sangat yakin. Lagian makanan ini belum mas sentuh masih bagus, bukan sisa. Jadi masih bisa di makan, apalagi makananya enak kayak gini." ujar Afifah tanpa malu malu meminta makanan di atas meja yang gak di makan.
"Iya sudah nanti saya akan memanggil karyawan buat bungkus makanan ini." ucap Axel tersenyum. Ia bersyukur bisa bertemu dengan Afifah. Wanita sederhana dan apa adanya serta gak suka buang buang makanan.
"Iya, makasih ya pak." ucap Afifah.
"Bukan pak tapi mas." ujar Axel.
"Iya mas, gak sadar tadi pas ngucapinnya. Maaf ya." ucap Afifah tersenyum.
"Gak papa santai aja." ujar Axel yang juga ikut tersenyum.
Setelah selesais makan, Axel dan Afifah pun langsung kembali ke kantor. Afifah juga membawa bungkusan makanan. Afifah bahagia karena uang dua puluh ribu di sakunya aman. Bahkan Afifah juga membawa makanan buat makan nanti sore. Siangnya gak usah makan karena masih kenyang.
__ADS_1